Water Ripple

Water Ripple
16


__ADS_3

Kakiku terasa lemas. Aku jatuh terduduk di lantai. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apakah Ayah tau cinta Raja Garduete pada Mama ?. Apakah Pangeran Riana juga mengetahui kisah ini. Jika Iya, Bagaimana perasaannya ketika mengetahui Ayahnya masih mencintai wanita lain. Bukan ibunya. Bagaimana perasaan Dia saat Dia tau, Aku adalah calon ratunya. Apakah perlakuan Dia selama ini karena dendamnnya padaku.


Aku tidak bisa membendung air mataku yang Mengalir deras. Perasaanku menjadi campur aduk.


Ketika Aku sudah selesai menenangkan diri. Aku menghapus air mataku. Wajahku tampak sembab. Aku meraba-raba, mencari amplop lain didekatku. Amplop milik baginda Raja. Setelah berhasil menemukannya, Aku bangun. Berjalan dengan gotai menuju pintu keluar.


Dua orang penjaga terkejut ketika melihatku keluar. Lebih terkejut lagi ketika melihatku.


"Tolong berikan ini kepada yang mulia Raja Bardansah"


Penjaga itu ingin mengucapkan sesuatu. Tapi Dia urung. Dan akhirnya menerima amplop itu ditangannya. "Hamba akan segera memberikannya pada yang mulia" Katanya berjanji.


Aku menganggukan kepala. "Terimakasih paman"


Aku kembali memasuki kamar. Pintu tertutup dibelakangku. Aku berjalan menuju kotak-kotak yang masih ada dilantai. Berjongkok untuk merapikan sisanya.


"Putri, Baginda Raja ingin bertemu" Lapor seorang penjaga ketika Aku baru saja dari kamar mandi. Aku merasa tidak enak badan, dan mengeluarkan seluruh makan siangku di kamar mandi. Diluar salju turun. Gudukan berwarna putih memenuhi setiap tempat diluar sana. Hawanya terasa sangat dingin. Aku mengelap mulutku yang basah. Menganggukan kepala mengerti.


"Baginda berada di taman tengah dekat gazebo"


Aku melangkahkan kaki keluar kamar. Tanpa pengawalan. Sepertinya Raja memerintahkan para pengawal atau pelayan untuk membiarkan Aku sendiri. Jejak kakiku tercetak ketika melewati tumpukan salju.


Ketika berbelok di persimpangan, Aku melihat Raja berdiri didekat gazebo. Dia mendongak, menatap pohon didepannya. Pandangannya menerawang jauh. Kakiku terasa beku. Aku ingin berbalik pergi.


Alih-alih berpaling, Aku duduk di sebuah batu besar di taman. Sungai kecil disampingku membeku. Aku duduk dan membiarkan salju turun di badanku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah Aku punya keberanian untuk menemuinya.

__ADS_1


Entah berapa lama Aku berada di sana ketika seseorang menyelimutiku dengan mantelnya. Aku mendongak. Baginda Raja berada di sampingku. Mungkin Dia mencariku karena Aku tidak juga muncul. Dia menatapku penuh kesedihan.


"Disini dingin" Ujarnya lembut


Air mataku kembali mengalir. Aku menunduk. Butiran air mataku jatuh kepangkuanku.


"Mama...Dia memintaku untuk memaafkanmu..Dia...Dia tidak membencimu sama sekali" Aku menutup wajahku ketika tidak sanggup berbicara apa-apa lagi. Raja memelukku didalam dekapannya. "Kenapa...Kenapa Yang Mulia melakukannya...Kenapa..."


Dia tidak mengucapkan apapun. Aku menangis di dada baginda Raja. Kesedihan merambatiku.


Baginda Raja menungguku sampai Aku merasa tenang. Aku menghapus air mata di pipiku. Dia berdiri disampingku. Kembali menatap langit. Melihat foto yang kutunjukan padanya, Foto yang diselipkan Mama di suratnya.


"Aku mencintai Ransah" Bisik Raja sambil menerawang. "Terlepas Dia adalah Ciel atau bukan, Aku mencintainya. Dia adalah gadis yang hangat. Sepertimu"


Raja melihat kembali foto ditangannya. "Aku pikir saat Ransah ke dunia itu adalah kesedihan terbesarku, Tapi Aku salah.." Raja mengelus wajah Mama. "Tidak melihatnya, Tidak bertemu dengannya dan berakhir dengan kematiannya ternyata yang paling berat dalam hidupku"


Raja terdiam.


"Terimakasih Yuki, Sudah memberikan surat itu padaku"


"Semoga itu bisa membantu Baginda Raja"


"Bolehkah Aku mengambil ini ?" Tanya Raja sembari menunjukan foto di tangannya. Aku menganggukan kepala. Aku tidak membutuhkannya. Raja lebih membutuhkan foto itu untuk kenangannya.


"Terimakasih" Ujar Raja tulus. Aku berdiri. Memberi hormat pada baginda Raja. Kemudian berbalik pergi.

__ADS_1


Saat Aku menoleh kebelakang, Raja masih berdiri ditempatnya. Dia meletakan foto Mama di dadanya. Matanya terpejam. Seolah mengingat Mama dalam pikirannya.


Hari ini Aku melihat, Cinta yang begitu besar dari seorang laki-laki kepada wanita yang tak lekang oleh waktu, Tak terhapus jarak. Kesedihannya mengambarkan betapa besar cinta Raja pada Mama.


Ketika Aku berjalan kembali ke kamar, Pangeran Riana bersama dengan teman-temannya sedang berjalan diarah berlawanan.


"Yuki, Aku dengar Raja memanggilmu" Sapa Bangsawan Voldermon ketika Aku mendekat. Putri Marsha bergerak mendekati Pangeran Riana. Dia bersikap seolah Aku tidak ada.


"Ya.."


Bangsawan Voldermon menatapku menyelidik. Dia sepertinya melihat sisa-sisa air mata diwajahku. "Apa ada sesuatu yang terjadi ?"


"Hari ini Aku sangat lelah, Aku ingin segera kembali ke kamar" Kataku pelan. "Permisi"


Aku berjalan meninggalkan rombongan Pangeran tanpa melihat Pangeran Riana. Berjalan kembali menuju kamar. Namun, ketika Aku menoleh Aku menyadari Pangeran Riana sudah berada di sampingku. Dia mengikutiku, meninggalkan rombongannya. Aku menunduk, mengacuhkan keberadaannya. Ketika Kami sudah menghilang dari pandangan, Pangeran mencekal tanganku. "Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran dengan suara berat.


"Tidak ada apa-apa"


"Lalu kenapa Kau menangis ?, Apa yang Kalian bicarakan"


Aku menatap Pangeran sedih. "Apakah...Apakah Kau tau Mama dan Baginda Raja pernah menjalin hubungan ?" Tanyaku lirih. Pangeran diam. Dari ekpresinya Aku tahu, Dia sudah mengetahuinya. Sepertinya hanya Aku yang tidak tahu apa-apa.


"Darimana Kau mengetahuinya ?"


"Mama menulis surat untukku. Dia menjelaskan semuanya"

__ADS_1


"Lalu.."


"Dia menyuruhku memaafkan Raja"


__ADS_2