
"Riana..." Putri Marsha muncul ketika Kami sama-sama terdiam. "Aku sudah mempersiapkan makan malam untuk kita"
"Kau sudah ditunggu" Kataku sambil berusaha melepaskan cekalannya. Namun Pangeran mempererat gengamannya.
"Pergilah Marsha. Aku sudah katakan Aku tidak ikut kalian" Kata Pangeran tegas sambil berjalan menarik tanganku mendekatinya. "Aku akan makan malam dengan Yuki". Tanpa menunggu balasan Putri Marsha, Pangeran sudah menarikku mengikutinya kembali ke kamar.
Musim semi mulai terlihat. Salju perlahan mulai memudar. Warna kehidupan sedikit demi sedikit menampakan diri, mengantikan warna keperakan yang menyelimuti permukaan bumi. Tapi walaupun begitu, Dinginnya masih terasa menusuk tulang. Aku bangun ketika hari masih terlalu pagi. Pangeran Riana tidur disampingku. Secara perlahan Aku mengangkat tangannya yang memelukku. Aku memakai sandal, turun dari tempat tidur. Berjalan menuju laci dan mengambil alat test kehamilan.
Aku sudah terlambat dua minggu.
Aku melirik kearah Pangeran Riana yang masih tertidur. Kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Aku berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkannya. Aku tidak mau dia bangun dan bertanya apa kulakukan di kamar mandi, Aku harap Dia tidak mengerti alat test kehamilan yang sedang Aku bawa.
Aku membuka bungkus alat didalam kamar mandi setelah menampung sebagian air seniku di sebuah wadah kecil. Dengan perasaan berdebar Aku menatap alat tersebut. Apa yang kulakukan jika Aku hamil. Usiaku masih delapan belas tahun dan Aku belum menikah.
Perlahan Aku mencelupkan alat tersebut ke dalam air seni sesuai petunjuk yang tertera. Ketika hitungan keduapuluh, Dua buah garis merah dengan cepat terbentuk. Berjajar sedemikian rupa.
Aku melihat alat tersebut. Jatuh terduduk. Tanpa sadar Aku memegang perutku.
Hamil..
Aku hamil, Anak dalam perutku ini, Anak Pangeran Riana. Apa yang harus kulakukan. Terdengar suara ketukan pintu. Mengagetkanku. Aku bergegas bangun dan merapikan alat tes. Membuangnya ke dalam keranjang sampah disampingku. "Sebentar" Teriakku ketika terdengar ketukan lagi.
Aku membuka pintu. Pangeran Riana berdiri didepanku sembari menatapku dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Apa yang Kau lakukan pagi buta begini ?" Tanyanya akhirnya.
"Aku...Aku hanya buang air" Kataku tergagap.
"selama ini ?" Tanya Pangeran tak yakin. Dia melirik ke dalam. Mencari sesuatu yang mencurigakan.
Apakah Dia tadi hanya berpura-pura tidur untuk mengawasiku ?.
"Perutku terasa tidak enak" Kataku beralasan.
Aku keluar kamar mandi dan berjalan menuju tempat tidur. Pangeran masih berdiri dipintu. "Aku akan tidur lagi" Kataku berusaha terlihat biasa saja.
Aku menarik selimut dan merebahkan diri kembali. Pangeran cukup lama berada di kamar mandi. Mungkin Dia memeriksa didalamnya. Kemudian Dia berjalan kembali ke tempat tidur dan kembali berbaring disampingku.
Pagi hari saat Aku terbangun, Pangeran sedang minum teh di dekat cendela. Dia sudah rapi. "Aku mau bertanya padamu" Tanya Pangeran ketika Aku turun dari tempat tidur.
"Apa ini ?" Pangeran menunjukan alat test kehamilan ditangannya. Aku bersyukur Dia tidak mengetahui alat apa itu.
"Aku sedang tidak enak badan, Itu alat untuk mengetest kesehatanku" Kataku berbohong.
"Jika Kau tidak enak badan, Aku akan menyuruh tabib untuk memeriksamu"
"Tidak perlu, Udara cukup dingin. Aku hanya tidak tahan cuacanya saja" Tolakku cepat.
__ADS_1
"Kenapa Pangeran masih berada diistana sepagi ini ?" Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Biasanya Dia sudah pergi dengan Putri Marsya yang mengikutinya kemanapun Dia pergi. Aku selalu tidak menemukannya di pagi hari.
"Sepertinya Kau lebih bahagia jika tidak melihatku" Kata Pangeran sinis.
Aku diam,tidak ingin berdebat dengannya. Pangeran melemparkan alat test kehamilan ke meja. "Bersiaplah, Kita akan makan pagi di taman" Katanya Akhirnya ketika Aku hanya diam tidak menangapi omongannya.
Setelah berkata seperti itu, Pangeran bangun dan berjalan pergi menuju meja kerjanya.
Kami makan pagi bersama teman-temannya. Rasanya sungguh menyiksa. Selain Aku harus menahan mati-matian perasaan mual yang mendera setiap mencium bau makanan. Aku juga harus melihat bagaimana kedekatan Pangeran Riana dan Putri Marsha. Kami duduk melingkari meja. Putri Marsha disebelah kanan Pangeran dan Aku berada disebelah kirinya. Bangsawan voldermon berada di sisiku yang lain. Tanpa segan Putri Marsha mengambilkan lauk untuk Pangeran Riana. Dia juga berani mengelus rambut pangeran dan menyelipkannya ke telinga Pangeran. Dia bersikap seolah Aku tidak ada dan melihat.
Putri Marsha tidak menganggapku.
Aku menyingkirkan udang bakar didepanku yang baru diletakan pelayan. Meletakannya di depan Bangsawan Voldermon. Baunya membuat perutku seolah diaduk dengan cepat.
"Bukankah Kau sangat suka makanan laut" Tanya Pangeran. Aku tidak sadar Dia ternyata memperhatikanku.
"Aku sedang tidak ingin makan makanan laut"
Pangeran mengambilkan sepotong daging didepannya. Meletakan ke piringku. "Apa Kau masih tidak enak badan ?" Tanya Pangeran lagi.
"Udara dingin selalu membuatku tidak baik"
Aku mengambil jeruk didepanku. Dan mengupasnya. Memakan salah satunya, berusaha bersikap acuh. Putri Marsha terus meladeni Pangeran Riana. Dia tampak seperti seorang istri yang baik. "Wajahmu pucat, Aku rasa Kau perlu banyak istirahat" Bangsawan Voldermon menimpali. Dia mengambil jeruk didepanku yang telah kukupas dan memakannya.
__ADS_1
Aku mendesah. Kenapa semua orang memperhatikan kesehatanku hari ini. Aku harus berhati-hati. Jangan sampai mereka tau Aku hamil. Aku belum siap memberitahu Pangeran Riana. Apalagi dengan Putri Marsha berada di sisinya. Aku tidak mau menjadi perusak. Keberadaanku disini tak lebih hanya Karena Aku adalah calon ratunya.
Dewa mewajibkan Pangerannya menikahi dan membuat calon Ratunya jatuh cinta padanya agar kesetabilan negeri dapat terus terjamin. Tapi Dia tidak wajib mencintai calon Ratunya. Sama seperti Raja Bardansah.