
Di aula istana Aku terkejut ketika melihat Raja Tradem. Dia lebih gendut daripada Raja Bardansah. Tubuhnya hitam, seolah tidak terawat. Dia mengenakan pakaian penuh sulaman emas. Memakai cincin di kelima jarinya. Aku merasa Dia tidak tampak seperti seorang Raja, melainkan lebih tampak seperti badut istana. Tidak ada wibawa seorang Raja didalam dirinya. Di samping kiri kanannya ada dua wanita muda yang menemaninya. Wajah mereka tampak menderita. Tampaknya Mereka adalah wanita yang dijadikan pajak oleh desanya. Aku merasa kasihan. Masa depan mereka masih panjang tapi sudah dirusak oleh badut istana model Trandem ini.
Selain Raja Tradem, Aku menemukan ada lima menteri yang menemaninya, bersama wanita-wanita yang ditugaskan Raja untuk menemani menterinya. Mereka semua tampak mabuk, Padahal hari masih siang. Berbeda dengan Ratu yang kulihat sibuk berdoa memohon ampunan untuk negerinya. Raja Trandem justru bersenang-senang diatas penderitaan Rakyatnya.
"Jadi ini penghibur yang ingin bekerja di istanaku ?" Sambut Raja Trandem sambil melihatku dari ujung rambut sampai ujung Kaki. Sorot matanya seolah menelanjangiku. Membuatku risih.
Mata Raja Tradem merah karena pengaruh alkohol. Entah sudah berapa Dia habiskan disiang ini. Kenapa Dia tidak segera diberi penyakit agar Dia sadar kesalahannya.
"Terimalah hormat Hamba Baginda Raja" Kataku sambil berlutut, menahan godaan untuk memukulnya.
"Siapa Namamu ?"
"Hamba Orrie" Aku mengambil nama tengahku. Aku khawatir jika Dia mengetahui nama asliku. Dia akan mengenaliku.
"Orrie, Kau gadis yang cantik, Namun sayangnya Kau masih terlalu muda. Jika Kau benar ingin bekerja di istana ini Aku bisa membantumu. Tapi pertama-tama tunjukan dulu kemampuanmu yang membuatmu pantas untuk mendapat bantuanku"
"Baik Yang Mulia"
Aku berdiri ditengah Aula. Rafael berada tak jauh dariku. Rasanya ini sungguh memalukan. Aku ingin berhenti. Tapi jika tiba-tiba Aku berhenti, Aku khawatir mereka akan mencurigaiku. Pangeran Arana sedang menyelamatkan Ratu dan Putri Margitha. Sebisa mungkin Aku harus mengulur waktu.
Aku menganggukan kepada Rafael. Musik kemudian dimainkan. Aku mulai merentangkan tangan dan menari. Ucapan-ucapan tidak pantas terdengar mengomentariku, dari mulut Raja dan Para menterinya. Ingin rasanya Aku menyumpalkan segenggam cabe ke mulut mereka.
"Cukup" Raja menghentikan tarianku.
"Kau memenuhi syarat. Tapi ada satu permasalahan. Setiap wanita yang ingin bekerja disini, Harus mau menghangatkan ranjangku"
Apa ?
__ADS_1
Aku menatap ke arah Rafael marah.
Rafael memberikan kode agar Aku tetap tenang.
"Kau cukup cantik dan menggoda. Sayang sekali jika Kau hanya sebagai penghibur. Bagaimana Kalau Kau jadi wanitaku saja. Kau akan hidup dalam kemewahan di setiap jengkal tubuhmu"
"Ini merupakan penghormatan bagi Kami Yang Mulia"
"Yang Mulia apa saya diizinkan berbicara sebentar dengan rombongan saya ?"
Aku langsung menarik tangan Rafael ke pojok ruangan ketika Raja Trandem memberi izin "Apa maksudmu tadi ?" Bisikku langsung. "Kau ingin menjualku ?"
"Mereka tidak akan bertahan sebentar lagi, Aku yakin Raja tidak akan menyentuhmu. Kau cukup bilang kalian bersama semalaman. Aku Yakin Dia percaya"
"Kau gila. Aku tidak mau"
Aku mengernyit. Sekarang Aku sendiri. Aku tidak bisa berbuat apapun selain mempercayai Rafael. Aku kembali ke tengah Aula dengan Rafael disampingku.
"Bagaimana ?" Tanya Raja Trandem tidak sabaran.
"Kami setuju"
"Bagus, Kalian memang pintar"
Raja Trandem tertawa kegirangan sehingga membuat anggurnya tumpah ke bajunya akibat gerakannya.
Dia beringsut berdiri dengan langkah sempoyongan. Aku menahan mati-matian perasaan ingin melarikan diri ketika Raja Trandem mendekatiku. Bau alkohol tercium dari nafasnya, membuatku mual.
__ADS_1
Dua orang pengawal datang membantu Raja Trandem.
"Bawa Kami ke kamarku" Perintahnya. Dua orang pengawal itu memapah Raja Trandem. Kelihat jelas jika Dia sudah sangat mabuk. Aku mengikuti dari belakang sembari berharap semoga Pangeran Arana cepat datang membantu.
Kami memasuki kamar mewah yang penuh barang berharga. suasana kamar ini seketika mengingatkanku dengan Bangsawan Doldores. Bangsawan yang sering membully Bangsawan Dalto. Bangsawan yang kematiannya muncul di mimpiku.
Raja Trandem direbahkan ke atas tempat tidur. "Sini Gadis cantik...Ayo bermain bersama Raja" Igaunya disela mabuknya. Pengawal itu keluar begitu mereka memastikan Raja aman ditempat tidurnya. Pintu ditutup rapat.
Sekarang apa yang harus kulakukan ?
Aku tidak mungkin menunggu semalaman disini. Bagaimana jika Dia bangun dan kemudian menyerangku. Tapi, Aku mendengar suara penjaga bercakap-cakap diluar. Aku tidak bisa keluar begitu saja dari kamar ini.
Ditengah kebingunganku. Aku seperti mendengar suara berdesir. Tak lama sebuah tangan meraihku dari belakang.
Aku nyaris berteriak, Namun mulutku ditutup. Ketika menoleh, Aku melihat Pangeran Arana.
"Aku mengatakan Putri harus bertahan tapi bukan di dalam kamar Raja Trandem. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Putri. Kakak pasti akan membunuhku"
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Rafael menyetujui permintaan Raja Trandem"
"Aku tidak pernah percaya pada orang itu. Sekarang Ayo kita segera pergi. Ratu dan Putri Margitha sudah berada ditempat aman. Para pengawal sudah membawanya menuju perbatasan"
Aku merasa lega mendengarnya.
Aku ditarik Pangeran Arana menuju ke pintu rahasia. Kami memasuki lorong-lorong kecil yang lembab. Langkah kaki Kami bergema. Di belokan, Pangeran Arana membuka teralis besi. Dia menengok kebawah. Setelah memastikan aman, Dia meloncat turun ke bawah.
"Ayo Putri sekarang"
__ADS_1
Aku meletakkan kedua kakiku dengan posisi mengantung sebelum akhirnya meloncat turun. Pangeran Arana menangkapku. Kami berada di saluran pembuangan. Baunya minta ampun. Aku menutup hidungku.