Water Ripple

Water Ripple
41


__ADS_3

Bagaikan di sambar petir Aku mendengarnya. Air mataku langsung tumpah mendengarnya. Kakiku terasa lemas. Orang yang paling kupercayai. Yang kuanggap sebagai pahlawanku, Ternyata tega melakukannya.


"Kau payah Pangeran, Aku sudah mengirimimu obat perangsang tapi Kau tidak menggunakannya. Ketika Yuki yang meminumnya Kau malah bersikap sok jagoan dengan menolaknya"


"Kau terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku Putri Marsha" Pangeran Sera menatap dingin pada Putri Marsha. "Tujuan kita sudah tercapai. Jangan coba mengangguku lagi atau Yuki. Sudah kukatakan Aku tidak akan bersikap toleran padamu. Buktikan saja jika Kau tidak percaya"


"Apa bagusnya Dia sehingga Kalian berdua begitu peduli padanya" Kata Putri Marsha kesal.


"Jelas, Jika dibandingkan dirimu, Kau ini tidak ada seujung kukunya. Riana tidak akan mengejar Yuki, Jika Dia wanita yang seperti dirimu"


"Apa maksudmu ?" Tanya putri Marsha dengan wajah kesal.


"Pergi sekarang juga, Jika sampai Garduete mengetahui hal ini apa Kau tidak berpikir Riana akan membencimu. Nyawamu akan terancam karena Kau juga terlibat dalam usaha pembunuhan anak perwaris tahtah"


Aku sudah tidak tahan lagi. Langkah kakiku terasa goyang saat Aku melangkah. Kebenaran ini terlalu menyakitkan. Orang yang paling kupercaya ternyata Dia merencanakan rencana jahat hingga membuatku kehilangan anakku.


"Benarkah apa yang kudengar tadi" Kataku ketika berada didekat mereka. Pangeran Sera berbalik dengan terkejutnya. Putri Marsha memandangku pucat pasi. Aku menatap keduanya, Tanganku gemetaran menahan emosi yang bergejolak. "Aku tanya apakah itu benar ?" Kataku lagi ketika Mereka hanya diam.


"Yuki dengarkan Aku dulu" Kata Pangeran Sera mencoba mendekat. Aku langsung menepis tangannya. Mundur untuk menghindarinya.


"Semua sudah jelas, Apa lagi yang harus kudengar"


Aku menangis tergugu. Pangeran Sera...Aku selalu mengangapnya penting. Alasanku belum bisa menerima lamaran Pangeran Riana waktu itu adalah karena Aku memikirkan perasaan Pangeran Sera. Aku tidak ingin melukainya. Aku terus memikirkannya bagaimana Aku tidak melukainya dengan keputusanku. Bagiku Dia adalah orang yang keberadaannya begitu penting untukku. Kesedihannya akan menjadi kesedihanku juga.


Setiap kesedihanku, Setiap penderitaanku Dia selalu bisa menjadi tumpahanku. Kehadirannya bagaikan bintang jatuh yang selalu membawa keberuntungan untukku. Entahlah, Apa jadinya Aku tanpa Dia. Tapi kini...Aku harus mendengar hal ini. Demi mendapatkanku Dia menyebarkan berita buruk mengenai kandunganku, Sehingga Aku harus kehilangan anakku. Demi itu semua Dia mengorbankan anakku.

__ADS_1


Padahal Dia tahu dengan jelas bagaimana kesedihan yang kurasakan saat Aku kehilangan anakku. Malam-malam yang kulalui dengan air mata. Dia bersikap seperti seorang penolong, padahal Dia sendiri yang menusukkan pisau di punggungku.


Kesedihanku bercampur dengan rasa kecewa. yang amat besar.


"Aku melakukan semua ini karena Aku mencintaimu. Tidak masalah jika anak itu bukan anak Riana Aku bisa menerimanya di sisiku. Tapi yang Kau kandung anak penerus tahtah kerajaan Garduete, Jika Kau sampai melahirkannya jalanku bersamamu akan berakhir. Aku terpaksa melakukannya Kau harus.."


Plak !!


Aku menampar Pangeran Sera. Pangeran menatapku sedih. Rasanya sakit sekali. Hatiku sangat sakit. Aku berbalik dan langsung berlari pergi.


Aku berlari cukup kencang.


Air mata terus membasahi pipiku. Aku sampai di gerbang utama, berbelok ke kiri tanpa berhenti. Penjaga penginapan melihatku dengan wajah heran. Aku tidak peduli, terus melanjutkan langkahku. Jalanan didepanku sangat sunyi. Semua orang sudah terlelap dalam peraduannya masing-masing.


Seseorang menarikku masuk ke gang kecil. "Lepaskan Aku...Lepas" Teriakku memberontak.


Aku membuka mata. Berhenti memberontak. Pangeran Riana berada di depanku. Dia menatapku cemas.


"Ada apa dengan dirimu ?. Apa yang terjadi ?" Tanyanya mengingatkanku kembali akan kesedihanku.


Aku kembali menangis. Air mata mengenangi mataku. Aku langsung memeluk Pangeran erat. Menangis di pelukannya. Pangeran tampak kebingungan, Tapi Dia membalas pelukanku. Menepuk punggungku lembut untuk menenangkanku.


"Bawa Aku pergi dari sini..Bawa Aku pergi dari sini Pangeran" Isakku didalam pelukannya.


Pangeran Riana membeli seekor kuda dan mantel untukku. Dia ternyata terus mengikutiku selama ini sembari bersembunyi dari Pangeran Sera dan kerajaan Argueda, mencoba mencari cara untuk bisa berkomunikasi denganku. Dia sedang mencari celah masuk ke penginapan ketika melihatku berlari ke jalan.

__ADS_1


Aku dinaikkan keatas kuda. Pangeran menyusul kemudian.


Langkah kaki kuda terdengar bersama desiran angin yang berhembus. Aku menyandarkan kepalaku dipelukan Pangeran Riana. Kami baru saja memasuki hutan ketika tiba-tiba Pangeran mengerang kesakitan. Aku terkejut. Ada darah mengalir di bahunya. Sebuah panah menancap di sana. Ketika menoleh kebelakang, Pangeran Sera dan pasukannya berlari mengejar Kami.


Panah itu di tembakan oleh Pangeran Sera.


Aku tidak percaya Dia melakukannya.


Pangeran Riana terus memacu kuda. Menahan rasa sakit di bahunya.


"Turun" Kata Pangeran ketika Kami semakin memasuki hutan yang lebat. Aku langsung mematuhi perintah Pangeran. Ketika Kami semua sudah di bawah, Tangannya mengenggamku. Menarikku untuk mengikutinya. Kami berlari menerobos semak-semak. Sementara di belakang Kami, Pasukan Pangeran Sera masih mengejar Kami.


Aku merasa hasilnya tidak akan baik jika Pangeran Riana tertangkap di wilayah Argueda apalagi Sekarang Dia sendiri tanpa perlindungan siapapun. Pangeran menghentikan langkahnya secara mendadak, Aku menabrak punggungnya keras. Ternyata Kami berada di atas air terjun yang cukup tinggi. Suara benturan Air terdengar cukup jelas. Pangeran menarikku dipelukannya ketika Pangeran Sera dan Prajuritnya berhasil menyusul Kami.


Kami terkepung.


"Yuki..kemari..Yuki" Panggil Pangeran Sera sembari mengulurkan tangannya.


Aku menggelengkan kepala menolak. Menggeser badanku semakin mendekati Pangeran Riana.


"Riana berikan Yuki padaku"


"Dia milikku. Aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun" balas Pangeran Riana tegas.


Pangeran Riana memalingkan wajahku kearahnya. Memelukku erat dari belakang. Bibirnya mencium bibirku. Kemudian...Aku merasakan sentakan yang cukup keras.

__ADS_1


Pangeran Riana menarikku, meluncur ke bawah menuju dasar air terjun


__ADS_2