
Disebuah rumah yang terlihat sangat megah dengan taman bunga warna warni disampingnya. Rumah yang tampak damai dari luar, dari segi pandang penglihatan semata.
Tapi tidak didalamnya, tidak semua orang kaya merasakan kebahagiaan. Tidak semua orang kaya mempunyai keluarga yang utuh.
Mungkin itulah gambaran dari seorang Clara, gadis yang merasakan kesepian dihatinya. Hanya ada Randi sahabat kecilnya yang selalu menemani. Anak dari pembantu sekaligus pengasuhnya sejak kecil. Mereka berdua dibesarkan bersama, bahkan Clara sudah menganggap Randi seperti kakaknya sendiri, karena usia mereka terpaut 5 tahun. Walaupun status mereka adalah anak majikan dan anak pembantu, Clara tidak peduli. Yang terpenting Clara merasa ada teman dengan kehadiran Randi dirumahnya.
Malam minggu, sebenarnya Clara ingin pergi jalan-jalan, tapi tadi pagi ayahnya tidak mengizinkan Clara keluar. Saat itu, Clara sedang ada diruang santai.Ia mencari kaset film untuk ditonton. Setelah menemukan yang ia cari, Clara memutar film itu. Ya, film yang diputar Clara adalah film action, Mission Impossible. Salah satu film kesukaan Clara.
Saat Clara sedang serius menonton tiba-tiba. . . .
"Daaarrrrrrrr!!!" Randi yang datang dengan laptop ditangan kirinya mengagetkan Clara.
"Busyet dah Rend! kalau mau ngagetin bilang dulu napa," ucap Clara sambil memegangi dadanya yg masih dag dig dug. Sebungkus keripik kentang yang dipegangnya hampir saja lepas landas.
"Kalau bilang dulu namanya bukan ngagetin dong non." Randi pun duduk d lantai beralaskan karpet dan menaruh laptopnya diatas meja.
"Kalau gue jantungan gimana?"
"Tinggal diservis ajalah non," jawab Randi dengan entengnya.
"Terus jantung lo yang jadi serepnya." Clara memasang wajah kesal.
"Kalau gitu saya mau jadi zombi." Randi pun mendekati Clara sambil bergaya ala-ala zombi. "Non Clara...," ucap Randi dengan suara yang dibuat-buat seperti hantu.
Clara jadi merasa ngeri sendiri, didorongnya wajah Randi sampai terhuyung kebelakang.
"Nggak lucu tau."
"Lagian Non Clara serius amat nontonnya!" seru Randi kemudian yang sudah duduk dan membuka laptopnya.
"Lo nggak lihat apa adegannya lagi tegang gitu?" Clara kembali fokus dengan apa yang dilihatnya. Randi pun memperhatikan sekilas kearah layar televisi.
"Dari luar kelihatan ceweknya tapi jiwanya, jiwa action. Untung tuan melarangnya ikut les karate. Kalau iya, sudah habis aku sama Non Clara," gumam Randi dalam hatinya.
Hubungan Randi dan Clara memang terlihat sangat akrab. Tidak ada kecanggungan diantara mereka, lebih tepat seperti sahabat atau kakak adik, hanya status yang membedakan.
Randi mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Walaupun anak pembantu tapi tuannya tetap memperhatikan pendidikan Randi. Biayanya pun sepenuhnya ditanggung oleh ayah Clara. Setiap bulan Randi tetap mendapat gaji dari pekerjaannya menjadi sopir dan menjaga Clara.
"Yaaaaaaaaaaachhhh. . . . !" kini gantian Clara yang terlihat heboh. "Bang Ethan kok kalah sih!"
"Ya ampun Nooon. Jangan lebay! Namanya juga film Non, jadi ya banyak drama."
"Iya juga ya." Clara berfikir sebentar. "Tapi, kalau Bang Ethan kalah kan jadi nggak seru."
"Nanti endingnya juga bakalan menang non. Pemeran utama pasti menang," ucap Randi yang masih fokus dengan tugas kuliahnya.
Terdengar bunyi ponsel Clara. Ada panggilan masuk dari Aldi, kekasih Clara.
"Hallo Al ada apa?"
"Jalan yuk!" Terdengar suara Aldi yang mengajak Clara kencan. Tentu hanya Clara yang mendengar ucapan Aldi.
"Sorry ya Al! gue nggak bisa keluar keluar malam ini," jawab Clara sambil menoleh kearah Randi dan Randi memberi tatapan tajam. Clara tau itu tatapan mengancam. Kalau ia nekat pasti akan diadukan pada ayahnya.
"Udah dulu ya Al. Kita ketemunya pas disekolah aja. Bye Aldi." Clara mengakhiri panggilannya, lalu mengetik pesan untuk Aldi.
"Nanti tunggu gue ditempat biasa Al. Kalau gue udah beresin Randi , gue kesana."
Clara melirik kearah Randi yang masih memperhatikannya.
"Apa lo lihat-lihat!" ucap Clara sok jahat, lalu ponselnya berbunyi ada pesan masuk.
"Ok." Balasan singkat dari Aldi
"Non jangan nekat keluar malam ini," ucap Randi dengan tegas.
__ADS_1
"Iya ya gue ngerti."
Clara melanjutkan menonton filmnya.Saat Clara melihat adegan Ethan yang dibius oleh musuhnya, dia seperti menemukan ide untuk bisa keluar rumah.
Lalu ia beranjak menuju dapur.
"Mau kemana non?"
"Ambil minum, gue haus."
Clara sudah berjalan menuju dapur, dilihatnya sekeliling. Bik Nani tidak ada. Mungkin kekamar atau dikamar mandi. Clara segera mencari kotak obat yang ada dilemari sebelah dapur. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Clara menuju meja makan. Ia memasukkan sesuatu kedalam teko air minum.
"Malam ini kalian pasti tidur nyenyak,"gumam Clara dalam hati.
Setelah itu Clara kembali dengan botol minum yang ia ambil dari kulkas.
Tak lama kemudian bik Nani memanggilnya untuk makan malam.
"Non makan malam dulu, bibi udah siapin."
"Iya Bi sebentar lagi."
Bik Nani pun kembali kedapur.
"Ayo Non makan dulu! Filmnya dilanjut nanti," ajak Randi.
Clara pun menurut, ia beranjak mengikuti Randi kedapur.
Dimeja makan sudah ada 2 satpam dan bik Nani. Mereka makan bersama. Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak ada ayahnya, Clara mengajak semua orang makan dimeja yang sama. Dirinya tak mau kesepian dimeja makan.
Saat semua orang minum air dari teko yang tadi ia beri obat tidur, hanya Clara yang minum dari botol yang tadi ia ambil.
Setelah Clara menyelesaikan makan, ia kembali melanjutkan nonton bang Ethan idolanya. Randi juga kembali membuka laptopnya.
"Ran liburan nanti ke Amerika yuk! Gue pengen ketemu Ethan Hunt."
"Sama aja Randi. Tom Cruise atau Ethan Hunt kan sama."
"Lagian nggak usah jauh-jauh lah non ke Amerika, ke Ameriki saja."
Sebuah bantal pun mendarat ke arah Randi.
"Kok malah nimpuk sih non." Randi mengambil bantal yang dilempar Clara, menggunakannya untuk meletakkan kepalanya.
"Lo tuch kalau diajak ngomong pasti nglantur."
Randi pun terlihat mulai menguap. "Kan biar Non Clara terhibur."
Clara pun merenungi ucapan Randi, memang benar selama ada Randi suasana pasti terasa rame walau hanya ada mereka berdua. Randi memang orang yang menyenangkan. Randi pun terlihat menguap lagi.
"Lo tidur aja Ran, udah ngantuk gitu kelihatannya."
"Iya nich Non, kok jam segini udah ngantuk banget. Nanti jm 10 bangunin ya Non! Saya harus jemput tuan." Randi pun beranjak menuju kamarnya.
"Iya Rand," jawab Clara singkat
Clara mulai cengar cengir melihat Randi, pasti semua orang sudah mulai ngantuk. Ia bergegas kekamar setelah mematikan televisi. Kemudian bersiap-siap pergi.
Dilihatnya 2 satpam yang sudah berlayar kedunia kapuk, mungkin juga akan tercipta danau didunia kapuk itu.
Clara mengeluarkan mobil sportnya dan meluncur pergi untuk menemui Aldi di sebuah cafe. Disana juga ada teman-teman Aldi, tapi bukan teman sekolah. Mereka berteman karena orang tua mereka teman bisnis.
"Clara sini!" Panggil Aldi saat melihat Clara memasuki cafe.
Clara pun menuju kearah Aldi dan duduk disamping Aldi.
__ADS_1
"Sorry ya Al, gue agak lama."
"Iya nggak apa-apa. Gue juga baru, mungkin sekitar 45 menitan lah," ujar Aldi sambil melihat jam tangannya lalu tersenyum pada Clara.
"45 menit kok bilang baru sih Al."
"La mau gimana lagi Ra, lo kan susah kalau mau keluar rumah, jadi gue yang harus sabar nunggu."
"Thanks ya Al, udah mau ngerti posisi gue."
"iya baby, gue kan sayang banget ama lo," ujar Aldi yang kemudian mencium tangan Clara.
"Jangan sampai kejauhan Al sayangnya, ntar kalian kayak Romi and Juli," ucap salah satu teman Aldi.
"Iya Al, walaupun kisahnya romantis tapi sad ending." Yang lain menimpali.
"Kalian nyumpahin gue sama Clara nggak bisa bersatu gitu." Aldi mulai terlihat kesal dengan candaan kedua temannya.
"Lagian kalian pacaran tapi kayak lagi maen petak umpet, orang tua Clara nggak tau kan kalau kalian pacaran."
"Gue belum siap ketemu daddynya Clara."
"Bilang aja lo takut Al."
Semua pun jadi tertawa riuh termasuk Clara. Ya, memang selama ini Clara belum jujur pada ayahnya. Clara pun meminta Randi tutup mulut.
Obrolan mereka tak berlangsung lama karena Clara mendapat pesan untuk datang ketempat balapan.
"Al gue mau ketempat racing, lo ikut nggak?"
Racing adalah salah satu hobi Clara, dia sering ikut balapan liar. Walau ayahnya sangat menentang hal itu tapi nyatanya Clara tak pernah jera.
"Nggak ah Ra, gue ngeri lihat lo kebut-kebutan."
"Seru kale Al, memacu adrenalin."
"Itu menurut lo Ra, lagian mobil gue nggak semewah mobil lo, jadi minder kan guenya."
Pasalnya mobil yang digunakan Clara memang mobil sport dengan harga yang cukup fantastis, Audi R8 adalah mobil Clara. Harganya hampir mencapai 9M, apalagi mobil itu dipesan dengan warna khusus yaitu warna violet. Mungkin Clara terinspirasi dari film Bollywood Tarzan The Wonder Car.
"Ya udah gue cabut Al." Clara pun bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya.
"Hati-hati Ra!" teriak Aldi saat Clara sudah agak jauh. Clara menoleh dan hanya memberi senyuman pada Aldi.
"Kapan-kapan ajak Clara seneng-seneng ke club gue Al," ucap teman Aldi yang bernama Heru dengan nada agak nakal.
"Nggak lah Her, gue sayang sama Clara. Gue nggak mau mainin dia." Aldi menolak ajakan temannya, karena ia tau kemana arah ajakan itu.
"Ya elah Al, sekali kali bolehlah, pasti seru." Erik ikut membujuk.
"Lo pada mau ngajarin gue jadi cowok bejat." Suara Aldi mulai meninggi.
"Jangan munafik Al! Teman kita juga banyak yang gitu," ujar Heru.
"Gila ya lo pada!" Aldi pun pergi dengan perasaan kesalnya.
Pada dasarnya Aldi bukanlah cowok nakal seperti kedua temannya. Namun karena sering bersama mereka mungkin bisa saja suatu hari Aldi akan terpengaruh.
Ditambah lagi Clara adalah cewek favorit disekolah, walau pun terlihat tomboy tapi kecantikan Clara tak pudar. Banyak laki-laki yang mencoba menarik perhatian Clara dan Aldi lah yang dipilih untuk jadi kekasihnya.
Selain cantik, Clara adalah gadis yang jenius, diusianya yang baru 14 tahun, dia sudah duduk dikelas 1 SMA. Clara masuk kelas akselarasi atau yang sekarang disebut SKS 4 semester.
Dimata semua orang Clara adalah gadis yang sempurna. Bagaimana tidak, cantik, jenius dan terlahir dari keluarga yang kaya raya.
Tapi siapa yang tahu bahwa ada kehampaan dihati Clara, ada yang kosong disana. Berharap seperti teman-temanya yang mempunyai keluarga yang lengkap. Merasakan kasih sayang seorang ibu, ayah dan saudara. Tapi itu hanya harapan kosong. Ibu dan kakaknya pergi saat usianya 10 tahun dan ia tak tahu mereka kemana.
__ADS_1
Sedangkan sang ayah sibuk mengurus bisnis.