
"Sleding aja Ri!" seru Adiba.
"La Fachri. Afwan ana just kidding. No more. Dalem meniko nyuwun pangapunten. Suer!" Alam mengangkat tangan dengan dua jari yang ia acungkan. Lagi-lagi ia menggunakan bahasa campurannya.
"Itu bahasa, apa gado-gado sih!" Clara ikut menimpali. Ia pun tak mengerti ucapan Alam. Kecuali yang bahasa inggris.
"Maklum Clara. Alam ini ada darah Solo didirinya. Jadi, kalau bicara suka ada bahasa jawanya," ucap Salsa.
"Alam, aina daftari? Alladzi tastangir al amsi," pinta Fachri. Ia kemudian duduk disamping Clara.
Alam pun terlihat mengeluarkan buku catatan milik Fachri yang memang sempat ia pinjam.
"Hadza Fachri. Syukron katsir." Menyerahkan sebuah buku pada Fachri.
Fachri pun menerima buku itu lalu memasukkan kedalam tasnya.
" Astangir aidlon daftaruka Fachri. Uridu an aqro'a baitus syi'ri min Fachri Majnun," ujar Reza.
"La Reza. Yakfi. Kalian nanti malah menertawakan tulisanku."
"Kan kamu memang sudah kami sebut Fachri Majnun. Seperti penyair cinta sejati sang sufi."
" Takallam madza antum. Al an hiya habibatul qolbi. Laisat mar'ah al madli." Fachri menatap Clara yang ada disampingnya.
Ucapan Fachri semakin membuat para sahabatnya meronta meminta penjelasan. Benarkah Fachri sudah benar-benar keluar dari masa lalunya?
Setelah apa yang terjadi dimasa lampau. Sulit bagi para sahabatnya mempercayai apa yang dikatakan Fachri.
"Kamu jelasin kekita Ri! Siapa Clara?" pinta Fathir yang dari tadi sudah tak tahan ingin bertanya.
Fachri melebarkan bibirnya, tampak jelas rona kebahagiaan disana. Bukan lagi kesedihan.
"Hiya zaujati."
Semua memekik kaget. Yang benar saja! Fachri menikahi gadis SMA. Rasanya tidak mungkin bagi mereka. Itu mustahil.
"Serius kamu Fachri?" ucap Salsa
"Ini anak orang lho Ri. Jangan dimainin!" Adiba menimpali.
"Nanti kamu dimarahi kak Seto lho Ri!" Hasan juga ikut bicara.
Fachri malah tersenyum mendengar ucapan para sahabatnya yang belum percaya kalau gadis yang ia bawa adalah istrinya. "Aku serius. Mau bukti?" Fachri menghadap Clara lalu mencium keningnya.
Clara sendiri tampak terkejut. Tiba-tiba Fachri melakukan hal itu dihadapan para sahabatnya. Pasalnya ia tak tahu arti jawaban yang diucapkan suaminya.
"Hasan jangan lihat!" Reza menutup mata Hasan dengan kedua tangannya.
Begitu juga dengan Alam yang menutup mata Faathir.
"Jangan lihat Thir!"
Hasan dan Fathir mengibaskan tangan yang menutup mata mereka.
Adiba dan Salsa tak kalah kaget melihat adegan barusan.
"Kalian sudah percaya? Jadi jangan panggil aku majnun lagi. Karena aku sudah mendapatkan bidadariku," ucap Fachri sambil merangkul bahu Clara dengan santainya.
Tak ada yang menyangka bahwa gadis seperti Clara bisa merebut hati Fachri. Laki-laki yang terkenal dingin dengan perempuan. Ia hanya akrab dengan Salsa, sahabatnya sejak SMA.
Belum sempat mereka mengintrogasi Fachri lagi. Ada seorang mahasiswa yang menghampiri, memberi tahu Fachri bahwa pak Anwar menyuruhnya datang keruangan beliau.
"Ya sudah aku temui pak Anwar dulu," ujar Fachri sambil bangkit dari duduknya.
"Iya pergi saja Ri. Pasti kamu disuruh gantiin ngajar anak semester satu," ucap Hasan.
Ia paham kebiasaan pak Anwar yang meminta bantuan Fachri untuk mengajar bahasa arab anak semester satu.
"Salsa, tolong ajak Clara makan dikantin. Temani dia dulu sampai aku selesai," pinta Fachri.
"Beres Fachri."
"Maaf ya Ra! Aku harus pergi lagi," ujar Fachri sambil memegang kepala Clara yang masih duduk ditempatnya.
Senyum manis tersungging dari bibir mungil Clara. "Iya Fachri. Tidak masalah, teman kamu disini asyik-asyik kok. Jadi, aku tidak akan bosan disini."
Fachri melangkah pergi setelah mengucapkan salam pada mereka. Clara berpikir, mungkin ini kesempatannya untuk mencari tahu siapa Fachri sebenarnya. Ada banyak hal tersembunyi dari suaminya. Atau memang selama ini dirinya yang tidak pernah bertanya tentang kehidupan Fachri sebelum bertemu dirinya.
"Clara, sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Hasan.
"Baru sekitar dua bulan yang lalu," jawab Clara.
"Apa kalian sudah lama kenal?" kini Fathir yang mengajukan pertanyaann.
"Tidak. Aku belum kenal lama dengan Fachri. Hanya satu bulan sebelum menikah."
Jawaban Clara benar-benar mengejutkan mereka semua. Pertemuan yang singkat, bagaimana mereka bisa menikah secepat itu?
"Apa kalian sungguh-sungguh saling mencintai?" tanya Adiba.
Clara memberikan senyuman semanis mungkin. "Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Fachri sangat baik padaku, baru kali ini aku bertemu laki-laki seperti dia. Banyak kasih sayang yang ia berikan. Perhatiannya, tutur katanya, pesona Fachri yang meneduhkan memberikan aku jawaban. Bahwa aku mencintainya dan mungkin sebaliknya. Karena Fachri belum pernah memberiku kata cinta. Dia tidak pernah mengatakan itu padaku. Tapi segala perhatiannya yang mengatakan itu."
__ADS_1
"Semoga rumah tangga kalian selalu dinaungi dengan cinta. Aku sangat bahagia Fachri menemukan cintanya kembali," ucap Salsa.
Dari yang dilihat, Fachri memang akhir-akhir ini tampak lebih ceria. Ia bisa melihat kebahagian sahabatnya. Ternyata ini yang membuat Fachri kembali seperti dulu.
Salsa mengajak Clara kekantin sesuai perintah Fachri. Ketika Clara bertanya tentang Fachri, Salsa tidak memberikan jawaban yang ia inginkan.
"Aku bisa melihat kebahagiaan Fachri lagi karenamu Clara. Yakinlah Fachri pasti telah membuka hatinya hanya untukmu!" ucap Salsa sebelum mereka berpisah.
Clara tak sempat berucap lagi karena Fachri sudah semakin mendekat kearah dirinya untuk mengajak pulang.
Apa maksud perkataan Salsa? Clara belum mengerti.
Yang ia tahu selama ini Fachri tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Ia laki-laki tangguh dan selalu memberinya senyum manis semenjak sudah halal.
Lalu apa maksudnya bahwa Fachri telah membuka hati hanya untuk dirinya? Apa Fachri punya kekasih sebelumnya? Berbagai pertanyaan kembali meronta dalam pikirannya.
*****
Dalam perjalanan pulang, Clara tampak diam. Ia menyenderkan kepalanya dikursi mobil sambil pandangannya menerawang jalanan yang padat oleh lalu lalang kendaraan sore itu.
Fachri berpikir pasti Clara memendam keingintahuan tentang dirinya. Sedikit banyak para sahabatnya tadi menyinggung masalah pribadi dirinya yang belum diketahui Clara.
Sampai dirumah pun Clara masih tampak diam. Ia berseteru dengan pikirannya sendiri. Antara ragu dan ingin tahu. Takut kalau membuat Fachri tersinggung karena keingintahuannya. Ia merinding sendiri membayangakan sorot mata tajam Fachri saat marah.
Tapi ia sangat penasaran. Akhirnya Clara mengulur waktu untuk rasa yang menggelayuti hati dan pikirannya. Mencari waktu yang tepat untuk meminta penjelasan Fachri.
Malam hari Clara harus disibukkan dengan buku-buku sekolahnya. Senin ia harus ujian akhir semester.
Hari-hari berlalu begitu saja. Fachri juga sering dipanggil Steven keruang kerjanya pada malam hari. Mereka membahas tentang rancangan hotel yang sedikit lagi akan selesai.
Saat berangkat sekolah, Clara masih sibuk dengan buku pelajarannya. Ia lebih fokus dengan ujian sekolah. Hingga sedikit melupakan rasa penasarannya. Mereka hanya saling berbicara seperlunya karena kesibukan masing-masing.
Pagi itu Fachri mengajak Clara dan Randi untuk jogging. Ia berniat mulai mengajari ilmu beladiri pada keduanya.
"Sekarang kalian berdua lakukan push up dan sit up!" perintah Fachri.
"Capek Fachri...," keluh Clara.
"Tidak ada yang boleh mengeluh. Kalau ingin bisa beladiri harus siap fisik dan mental. Cepat lakukan sekarang!" perintah Fachri dengan tegas.
"Tega kamu Ri," seru Randi.
Fachri hanya melotot kearah Randi. Tak memberikan toleransi ketika dia mendidik ilmu beladiri. Bahkan Clara mendapat perlakuan yang sama.
Setelah proses pemanasan selesai Fachri sedikit memberikan pengarahan. Clara dan Randi sudah letih karena belum terbiasa dengan latihan yang menurut mereka berat. Padahal itu baru pemanasan awal.
"Dalam ilmu bela diri kecepatan, ketepatan dan konsentrasi sangatlah penting. Besok kita akan mulai teknik dasar. Untuk hari ini cukup pemanasan saja. Agar otot kalian lebih siap untuk pelatihan selanjutnya. Bagi pemula seperti kalian yang belum menguasai ilmu beladiri, apa yang akan kalian lakukan jika mendapat serangan dadakan?" tanya Fachri diakhir kalimatnya.
"Kabur aja Ri," ujar Randi.
"Bertahan sebisa mungkin sampai mendapat pertolongan," ucap Clara.
"Ok." Fachri masih berdiri sambil memberikan pengarahan.
"Untuk pemula seperti kalian yang belum menguasai ilmu beladiri, yang pertama. Melawan sebisa mungkin. Biasanya orang yang mendapat serangan mendadak akan muncul naluri untuk mempertahankan diri. Gunakan benda disekitar yang bisa melukai lawan.
Yang kedua. Teriak minta tolong.
Dalam situasi terdesak usahan berteriak sekencang mungkin untuk meminta tolong agar orang disekitar menyadari ada orang yang dalam bahaya.
Yang ketiga. Lari sekencang angin.
Terkadang saat panik, energi akan muncul dengan sendirinya. Sehingga keluar kekuatan alamiah untuk berlari secepat mungkin agar selamat dari bahaya.
Dan yang keempat. Pasrah.
Bagi yang tidak bisa melakukan hal-hal diatas. Pilihan yang terakhir adalah pasrah. Pasrah bukan berarti menyerah. Itu cara terakhir agar kalian tidak mati konyol ditangan penjahat. Disituasi ini, percayalah pada kekuatan do'a. Yakin, bahwa pasti akan ada pertolongan yang datang."
Setelah selesai dengan penjelasan singkatnya tentang bagaimana melindungi diri, Fachri menatap Clara dan Randi yang hanya mendengarkan sambil memperhatikan dirinya.
"Kalian mengerti?" tanya Fachri dengan tegas
"Iya Fachri. Mengerti." Clara dan Randi menjawab serentak.
Kemudian Fachri merebahkan tubuhnya diatas tanah yang beralas rumput hijau. Ia ingin menikmati matahari pagi dan semilir angin yang menyejukkan.
"Ok Fachri, aku harus bersiap-siap mengantar tuan Steven kekantor," ujar Randi. Ia hendak berdiri. Namun, suara Fachri mengurungkannya.
"Ayah sudah berangkat kekantor bersama pak Andi. Jadi, kau tidak perlu repot hari ini," ucap Fachri dengan mata masih terpejam dibawah sinar matahari.
Randi hanya bisa mendesah heran. Tumben sekali tuan Steven kekantor dengan sekretarisnya. Mungkin mereka sedang ada urusan penting. Pikir Randi.
"Kamu tidak kekantor Fachri?" tanya Clara. Ia masih duduk berselonjor dengan kedua tangannya dibelakang sebagai tumpuan. Kakinya masih terasa pegal.
"Tidak" jawab Fachri singkat. Matanya terbuka dan duduk. "Hari ini kita bertiga akan jalan-jalan," ucapnya kemudian.
Rona gembira langsung terpancar dari wajah Clara. Begitu juga dengan Randi. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua.
Clara memekik kegirangan. Hari ini ia ingin bersenang-senang sepuasnya diluar.
Kemudian mereka bertiga masuk kedalam rumah. Membersihkan diri masing-masing.
__ADS_1
Clara dan Fachri saling bergantian untuk mandi.
Selesai mandi Clara memilih baju yang cocok untuk dirinya. Ia mengambil dress berwarna merah yang hanya selutut. Kemudian ia mengembalikannya lagi. Fachri lebih suka cewek yang tertutup. Coba dech aku pakai baju muslimah yang kemarin aku beli. Gumam Clara.
Lalu ia memakai baju berwarna kuning dengan lengan panjang. Bawahannya ia memakai celana jins biru. Lalu ia mengenakan kerudung yang warnanya senada dengan bawahan yang ia pakai.
Fachri yang baru keluar dari kamar mandi langsung terbelalak. Clara terlihat lebih cantik dengan kerudung yang ia kenakan. Ia berucap syukur dalam hati. Clara mau berusaha untuk berubah lebih baik.
"Aneh ya Ri aku berpakaian seperti ini," ucap Clara.
"Kamu cantik Shafa."
Pujian Fachri membuat Clara tersipu malu dan kemudian memperhatikan dirinya sendiri didepan cermin.
Fachri sendiri sudah siap dengan pakaian santainya. Lalu ia mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.
"Shafa ini buat kamu." Fachri menyodorkan kartu ATM pada istrinya.
Clara mengernyit heran. Kenapa Fachri memberinya kartu ATM.
"Aku tidak memerlukannya Fachri. Aku punya tabunganku sendiri dari daddy. Itu lebih dari cukup untuk keperluanku." Clara menolak halus pemberian suaminya.
"Ini adalah hakmu Shafa. Aku sekarang suamimu dan berkewajiban memberimu nafkah. Tolong bantu aku menunaikan kewajibanku dengan menerima nafkah yang aku berikan."
Clara terdiam sejenak. Masih mencerna perkataan suaminya. "Baiklah! akan kuterima Fachri," ucapnya kemudian. Tangannya menerima ATM dari Fachri.
"Terimakasih Shafa!"
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Fachri."
"Sama saja."
Mereka berdua pun saling melempar senyuman. Tak lupa Fachri juga memberi tahu sandi dari kartu yang ia berikan pada istrinya.
Keduanya pun keluar kamar. Randi juga sudah siap dibawah menunggu mereka. Ketika melihat penampilan Clara yang berbeda dari biasanya. Randi langsung melontarkan candaanya.
"Wah! Aisyahnya Fachri benar-benar sudah datang kesini."
"Jangan mulai dech Rand!" ucap Clara.
"Sudah ayo berangkat!" ajak Fachri.
"Kita nggak sarapan dulu ini Ri?" tanya Randi.
"Kita makan diluar saja Rand." Fachri dan Clara sudah masuk kemobil duduk dikursi belakang.
"Ini aku yang harus nyetir?"
"Ya iyalah Rand. Mau siapa lagi!" ucap Clara dari dalam mobil.
Randi pun menurut. Ia yang mengemudikan mobil.
.
.
.
~La Fachri. Afwan ana just kidding. No more. Dalem meniko nyuwun pangapunten. Suer!
Tidak Fachri. Maaf. Saya hanya bercanda. Tidak akan lagi. Saya minta maaf. Sungguh!
~Aina daftari? Alladzi tastangir al amsi.
Dimana bukuku? yang kamu pinjam kemarin.
~Hadza Fachri. Syukron katsir.
Ini Fachri. Terima kasih banyak.
~Astangir aidlon daftaruka Fachri. Uridu an aqro'a baitus syi'ri min Fachri Majnun.
Saya juga pinjam bukumu Fachri. Saya ingin membaca bait syair dari Fachri Majnun.
~Takallam madza antum. Al an hiya habibatul qolbi. Laisat mar'ah al madli.
Bicara apa kamu. Sekarang dia kekasih hatiku. Bukan perempuan yang dulu.
~Hiya zaujati
Dia istriku
.
Terima kasih untuk yang masih mau kasih jempolnya! 😉
Terimakasih atas dukungannya!
__ADS_1
Jika ada kesalahan mohon koreksinya!