
Sejak pulang dari rumah sakit, Clara selalu termenung. Ia tak banyak bicara seperti biasa. Steven juga sering mendatangi kamarnya untuk memastikan keadaan dirinya.
Perhatian sang ayah yang begitu besar membuat ia bimbang sendiri. Kalau dia memang bukan putri kandungnya, tapi dia mendapat kasih sayang seperti anak kandung. Ia bahkan mendapatkan semua yang ia mau.
Saat ini Clara sedang duduk diayunan yang ada ditaman. Pandangannya kosong. Menerawang jauh kedepan. Walau didepannya adalah bunga warna warni tapi pandangan Clara entah kemana. Pikirannya juga sedang tak bersahabat.
"Tumben sendirian aja Non." Randi datang menghampiri.
Clara hanya memandang Randi sekilas. "Bukan urusan lo juga." Pandangannya kembali lurus kedepan.
"Lagi galau kenapa sih Non?" Randi ikut duduk diayunan.
"Nggak," jawab Clara singkat.
"Saya itu berteman dengan Non sejak kecil. Saya sudah paham kebiasaan Non Clara."
"Kalau emang lo temen gue, kenapa lo nggak bisa jujur tentang apa yang lo tahu."
Randi langsung terdiam, ia tak akan bisa menjawab hal itu. Clara juga memandangnya dengan serius.
"Mukanya biasa aja kali Rand!" Clara mengusap kasar wajah Randi. "Gue cuma bercanda," ucapnya kemudian, dengan tawa yang dipaksakan. Ia pura-pura kuat.
Randi masih heran dengan tingkah Clara yang tiba-tiba berubah.
"Gue akan berdamai dengan hati dan pikiran gue sendiri. Semua ini hampir membuatku gila Rand. Aku tidak akan mendengarkan kata orang lain. Daddy adalah ayah terbaikku. Daddy satu-satunya orang tua yang kumiliki sekarang," ujar Clara sambil pandangannya beralih menerawang langit yang masih biru pagi itu.
Randi memandang Clara sambil memiringkan kepala sedikit. "Perasaan kemarin yang yang diobati leher Non dech. Tapi kepala Non ikut sehat juga sekarang. Mungkin leher Non perlu digesek lagi biar pikiran Non semakin jernih." Randi mengedipkan mata sambil tersenyum mengejek.
Clara hendak menendang kaki Randi, sayangnya Randi bisa menghindar.
"Nggak kena. Weeeeekkkk!" Randi malah semakin mengejek sahabat kecilnya.
"RANDIIIIII!!!!" teriak Clara.
"Kabuuuurrrr!" Randi turun dari ayunan dan berlari masuk melalui pintu dapur.
Clara tak mau kalah, ia mengejar Randi. Aksi kejar-kejaran pun dimulai. Dari dapur hingga keruang tamu. Bik Nani hanya menggelengkan kepala dengan tingkah putranya dan Clara. Mereka seperti mengulang masa kecil. Masa yang penuh dengan kejujuran dan kepolosan. Dimana anak-anak bermain dengan riang tanpa beban. Mengekspresikan apa yang mereka suka dan tidak.
Dan ketika dewasa, kita akan bermain dengan takdir kehidupan. Penuh dengan emosi dan air mata. Maka dari itu kita harus pintar-pintar dalam memainkannya. Kalau tidak, malah kita yang akan dipermainkan.
"Randi, berhenti!" teriak Clara.
Namun, yang dikejar tak mau berhenti.
Fachri yang baru keluar dari ruang kerja hampir tertabrak.
"Maaf Ri! Lagi dikejar anak singa," ujar Randi yang sudah menyenggol tubuh Fachri. Ia kembali berlari melewati ruang keluarga menuju taman belakang lagi. Karena kelelahan, Randi merebahkan tubuhnya diatas hamparan rumput.
__ADS_1
Dengan nafas tersengal-sengal Clara juga ikut merebahkan tubuh disamping Randi.
"Udah main kucing-kucingannya?" tanya Fachri yang berdiri didepan Clara dan Randi.
"Kamu tuch Ri kucingnya," ujar Randi.
"Yang pasti aku bukan kucing garong," ucap Fachri datar. "Ra, ayo ikut aku keluar! Kamu siap-siap dulu."
"Kemana Ri?"
"Kesebuah tempat makan. Reza dan yang lain minta aku mengadakan pesta kecil untuk pernikahan kita."
"Sekalian aja adain pesta resepsi Ri," sahut Randi.
"Belum waktunya Rand. Kalau Clara sudah lulus kuliah baru aku mau ada acara resepsi."
"Kelamaan dong Ri,"
Fachri tak menanggapi, ia lebih fokus pada Clara. "Ayo Ra kamu siap-siap dulu!" Fachri mengulurkan tangan pada Clara untuk membantu istrinya bangun.
"Aku nggak diajak nich!" seru Randi.
Fachri dan Clara yang sudah memijakkan kaki beberapa langkah, menoleh kearah Randi yang masih duduk direrumputan.
"Iya kamu boleh ikut. Nanti aku izinin sama ayah," ujar Fachri. Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya sambil merangkul bahu Clara.
"Gimana suasana hati kamu? sudah lebih baik?" tanya Fachri sambil berjalan.
"Sepertinya kalau kamu lagi sedih aku harus berlari supaya kita main kejar-kejaran dan mood kamu balik lagi."
"Kau sudah berlarian dalam hatiku Fachri. Aku sampai lelah mengejar kata cintamu yang tak kunjung terucap," celetuk Clara dengan santai.
Fachri tak merasa tersinggung. Ia malah mengecup gemas kepala Clara yang ada dalam dekapannya. Ia memang belum bisa mengucapkan apa yang ingin Clara dengar.
Sesampainya dikamar, Clara segera membersihkan diri.
Ia keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi dan handuk yang melilit kepalanya.
Clara sedang berdiri didepan lemari pakaiannya, bingung harus memakai apa.
Hal itu tak luput dari pandangan Fachri yang sedang duduk dimeja belajar istrinya, tangannya memegang pulpen dan buku Zahra~Akbar didepannya.
"Pakai pakaian yang menurutmu nyaman Shafa," ucap Fachri tanpa menoleh. Ntah apa yang ia tulis dibuku itu.
Clara pun segera memilih baju yang disuka. Pakaian yang sederhana. Celana hitam dan kaos lengan panjang berwarna merah. Kemudian memakai rompi tanpa lengan berwarna hitam yang panjangnya hanya sampai lutut. Rambut hitamnya yang bergelombang, ia gerai dengan indah.
Fachri menghampiri Clara yang sedang menyisir rambut. Ia bersandar dimeja rias sambil memandang wajah polos istrinya. Clara hanya memakai riasan tipis dan lip balm untuk melembabkan bibirnya. Clara memang bukan tipe gadis yang suka berdandan. Meskipun begitu kecantikan alaminya selalu terpancar.
__ADS_1
"Apa sih Ri? Lihatinnya gitu banget," ucap Clara yang tersipu dipandangi oleh suaminya.
Senyum tipis terukir diwajah laki-laki yang menatap bidadarinya. "Kamu cantik Shafa," ucapnya.
"Baru nyadar kalau aku memang cantik," seru Clara dengan wajah berbinar-binar menorehkan senyum pada laki-laki yang kini menjadi sandaran jiwanya.
Fachri malah mencubit gemas hidung Clara.
"Aaaaa.... Fachri! Sakit tau." Clara mengusap hidungnya yang merah.
"Sini aku obati." Fachri meraih tubuh Clara lalu mencium hidung yang tadi ia cubit.
Clara tak bisa berkata apa-apa. Ia terkejut dengan perlakuan Fachri. Kedua tangannya memegang dada. Hampir saja ia tak bisa bernafas. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat Fachri mencium hidungnya. Kemudian berdetak seperti gendang ditabuh.
"Kenapa?" tanya Fachri.
"Jantungku mau loncat Fachri!" ucap Clara yang masih memegangi dadanya.
"Sini aku tangkap kalau mau loncat." Fachri malah menanggapi ucapan Clara dengan merentangkan tangan.
"Apaan sih Ri?" Clara menurunkan tangan Fachri. Lalu kembali mengambil sisir dan bercermin.
Fachri membuka lemari baju mengambil selendang biru lalu memakaikan dileher Clara. "Buat nutupin luka dileher kamu," ucapnya.
Kemudian mereka berdua keluar kamar. Sebelum berangkat Fachri dan Clara berpamitan dengan ayahnya. Randi juga sudah menunggu didepan.
Ketiganya berangkat ketempat tujuan, menuju rumah makan yang sudah ditentukan oleh para sahabatnya.
"Leher Non udah beneran nggak apa-apa?" tanya Randi saat masih dalam perjalanan. Ia yang mengemudikan mobil.
"Udah enggak, gue kan cewek strong," jawab Clara membanggakan diri.
"Tau nggak artinya strong apaan?"
"Kuat lah Rand. Masa' nggk tau!"
"Salah Non. Strong itu artinya Stres tak tertolong ." Randi menyuarakan gelak tawanya.
"Sialan lo Rand." Sebuah majalah melayang kearah Randi yang sedang mengemudi.
Fachri hanya diam sambil melihat layar ponselnya. Sudah terbiasa dengan tingkah mereka. Dia pun senang melihat Clara bisa kembali ceria setelah insiden penculikan beberapa hari yang lalu.
.
.
.
__ADS_1
Thanks semuanya!
Tinggalkan like n komen kalian!😉