
Pagi itu dikediaman Steven terdengar suara musik yang sangat keras dari kamar Shafa. Entah kenapa sejak kepergian Fachri, ia meredam kesunyian jiwa dengan musik yang mewakili suara hatinya.
Sampai kapan aku bisa bertahan tanpamu Fachri?
Aku bukan wanita tangguh seperti yang kau kira
Aku hanya gadis kecil yang terlalu cepat untuk dewasa
Aku rapuh Fachri... Aku rapuh....
Tangis Shafa pecah tak terbendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya bersandar dipembatas balkon sambil bersimpuh dilantai memeluk buku Zahra-Akbar milik Fachri. Ketika membaca setiap goresan tangan Fachri, Shafa selalu lemah ia tak sanggup mengingat kenangan bersama suaminya.
Dua minggu ini ia mempertahankan air matanya agar tidak tumpah. Dia mencari pelampiasan lain agar pikirannya sedikit teralihkan. Hingga orang-orang disekitarnya juga kena imbas pelampiasan Shafa. Tapi nyatanya, dia adalah seorang wanita biasa yang juga punya air mata.
Randi yang baru pulang mengantar tuan Steven kekantor, segera menuju kamar Shafa. Ia langsung masuk. Jika mengetuk pintu pun akan percuma, suara musik yang keras akan menenggelamkan suara ketukan pintunya.
Sampai didalam, Randi langsung menangkap sosok Shafa yang menangis dibalkon. Setelah sekian hari Randi tak pernah melihat Shafa menangis. Hari ini gadis itu berderai air mata. Tanpa pikir panjang dirinya langsung memeluk Shafa agar gadis itu lebih tenang.
"Menangislah Non! Luapkan apa yang selama ini Non pendam,"ucap Randi sambil mengusap lembut rambut sahabat kecilnya yang berstatus anak majikan.
"Gue nggak kuat Rand, gue pengen nyusul Fachri. Gara-gara gue juga Fachri pergi. Gue hancur untuk yang kedua kalinya Rand. Gue nggak bisa lagi pura-pura tegar." Shafa berucap disela isak tangisnya dalam dekapan Randi. Ia bangkit dengan keadaan pikiran kacau, masuk kedalam kamar. Randi mengira Shafa akan kekamar mandi, tapi nyatanya Shafa malah mengambil benda tajam dari dalam laci. Mencoba melukai dirinya sendiri agar nyawanya melayang, kemudian ikut Fachri.
Dengan sigap, Randi segera merebut pisau yang entah kenapa ada dikamar Shafa. Melemparkan kesembarang arah yang jauh dari jangkauan Shafa.
"Jangan gila Non!" teriak Randi kemudian. Satu tamparan keras mendarat dipipi Shafa. Baru kali ini ia berani kasar.
"Apa iman Non Shafa selemah ini? Apa yang Non Shafa dapat dari bunuh diri? Hanya dosa yang akan menyiksa Non diakhirat. Fachri juga akan disiksa atas kelakuan istrinya yang seperti ini. Fachri pergi karena memang sudah waktunya dia kembali. Kita pun tak bisa mengubah takdir kematian seseorang." Randi berucap lagi dengan penuh penekanan.
Tubuh Shafa lemas seketika dan terduduk dilantai . Lagi-lagi dirinya hilang kendali. Bagaimana bisa ia berfikir dengan mengakhiri hidup akan membawanya pada Fachri. Justru perbuatannya akan menciptakan masalah baru.
Randi segera mematikan musik yang dari tadi masih menyala.
Dipeganganya kedua bahu Shafa. "Kalau Non Shafa tiada, bagaimana dengan tuan Steven? Pikirkan perasaan beliau juga. Demi menjaga dan melindungi Non Shafa dari paman yang serakah, tuan rela berpisah dari nyonya Olivia dan putranya. Beliau selalu memendam kesepiannya sendiri, tak ingin terlihat lemah didepan orang lain. Saat ini tuan Stev hanya mempunyai Non Shafa. Setidaknya pikirkan kebahagiaan tuan, Non."
Shafa memeluk erat Randi. Menumpahkan airmatanya lagi. Ia terlalu larut dalam kesedihannya hingga lupa bahwa ayahnya juga membutuhkan dirinya.
"Jangan egois Non! Kita semua juga kehilangan sosok Fachri. Non Shafa harus bangkit demi tuan dan demi masa depan yang masih panjang. Ingat pesan Fachri! Non harus melanjutkan hidup meski tanpa dia. Saya yakin Non pasti bisa. Suatu saat nanti kebahagiaan Non Shafa pasti akan datang." Randi mengusap punggung gadis yang saat ini rapuh dalam pelukannya.
Setelah puas meluapkan emosi jiwanya dan merasa lebih tenang. Shafa melepaskan pelukannya. "Tumben lo bisa bijak kayak gitu!" ujar Shafa sambil mengusap air matanya dengan tangan.
"Itu tadi spontan lho Non. Gara-gara Non lupa diri, jiwa bijak saya meronta untuk keluar." Randi menuntun Shafa untuk duduk disofa.
"Biasanya kan lo kalau ngomong suka nyablak nggak karuan. Bikin gue emosi jiwa," ujar Shafa.
"Kalau nggak ada saya, mana seru dunia Non."
"Tetep serulah kalau ada Samuel. Dia kan sebelas dua belas sama lo. Sama-sama berisik." Shafa tampak murung lagi mengingat teman chatnya ysng sekarang tak pernah menghubunginya.
"Jangan bersedih lagi Non! Dan jangan pernah mencoba untuk bunuh diri lagi!" ujar Randi serius.
"Siapa juga yang mau bunuh diri," kilah Shafa lalu mengambil tisu mengelap wajahnya.
__ADS_1
"La itu tadi apa Non?"
"Owh... itu tadi setan mungkin yang mau bunuh diri," ucap Shafa cuek.
"Pura-pura amnesia. Setan pula yang jadi kambing hitam."
"Enakan dijadiin kambing guling kali Rand!"
"Kelon aja sono ama kambing."
"Lo aja, gue ogah." Shafa mengambil tisu lagi, kemudian mengeluarkan ingusnya. Hingga suaranya membuat Randi bergidik jijik.
"Dih, cantik-cantik jorok. Mandi sana Non!"
"Iya. Ini juga mau mandi." Shafa pun bangkit dari duduknya.
"Non...!" panggil Randi.
Shafa mengurungkan langkah kakinya. "Apa lagi Randi?"
"Maaf sudah menampar Non tadi!" Randi berucap dengan nada menyesal.
Senyuman tersungging dari bibir manis Shafa. "Thanks udah buat gue sadar dengan tamparan tadi."
Randi juga ikut tersenyum.
"Oh ya Non, pinjam ponselnya sebentar."
"Numpang kuota Non, saya lupa beli pulsa," kilah Randi.
Sebuah tangan sudah mengulurkan ponsel padanya. "Awal lo macam-macam sama ponsel gue."
"Iya tenang aja."
Shafa segera menuju kamar mandi. Sedangkan Randi segera mencari kontak nama diponsel Shafa. Setelah dapat, ia segera mencatat nomor yang ia cari. Randi pun keluar dari kamar Shafa untuk menghubungi seseorang.
*****
Guntur yang saat ini sedang berada diruang kerjanya bersama Samuel terkejut ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Panggilan itu diabaikan Guntur. Tapi, dipenelvon tak menyerah. Hingga membuat Samuel risih.
"Angkat saja kenapa sih Kak! Berisik ponsel lo."
"Nomor tidak dikenal Sam. Mungkin orang iseng." Guntur kembali fokus pada buku Samuel. Pasalnya, Samuel minta diajari kakak sepupunya tentang mata kuliah yang belum ia kuasai.
"Sini gue aja yang angkat." Samuel meminta ponsel Guntur.
Setelah Samuel menerima ponsel itu. Ia menggeser ikon hijau dan menyentuh ikon loudspeaker.
Randi: Hallo Sam! Akhirnya kamu angkat juga panggilanku.
Samuel mengerutkan dahi heran. Ia seperti kenal suara itu.
__ADS_1
Samuel: Sorry! Elo siapa ya?
Randi: Ini aku Randi. Maaf jika mengganggumu. Tapi ini soal non Shafa.
Samuel: Shafa siapa maksud lo Rand?
Randi: Maksudku non Clara. Aku hanya ingin minta tolong jadilah teman chatnya lagi. Dia butuh sahabatnya saat ini.
Samuel memandang kearah Guntur yang tampak diam. Lalu terdengar lagi suara Randi yang menceritakan keadaan Shafa yang hampir melukai dirinya sendiri.
Samuel dan Guntur sangat terkejut mendengar penuturan Randi. Keduanya tak menyangka gadis yang selama ini dikenal ceria bisa melakukan hal bodoh.
"Lo tau kan Kak, apa yang harus lo lakuin," ujar Samuel setelah panggilan selesai.
Guntur menghela nafas pelan. Menyandarkan kepalanya disofa. "Aku masih belum bisa Sam. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Setelah sekian lama aku terbiasa tanpa menghubunginya, aku tak yakin bisa seperti dulu lagi. Satu tahun Sam, aku berusaha melupakannya."
"Tapi lo nggak bisa melupakannya kan. Dulu ada Fachri yang bisa membuat Clara bahagia. Maksudku Shafa," ralat Samuel. "Sejak kapan gadis nakal itu beganti nama? Banyak yang berubah sekarang," lanjutnya.
"Tadi kan Randi bilang itu nama kecilnya," sahut Guntur.
"Mungkin saatnya sekarang lo harus benar-benar masuk dalam kehidupannya. Dulu lo punya alasan mundur karena ada Fachri. Tapi sekarang nggak ada alasan buat lo untuk mundur," ujar Samuel bersungguh-sungguh.
"Masih ada alasan Sam. Fachri baru saja meninggal, bahkan belum 40 hari. Masa iya, aku harus mendekati istrinya."
"Lo itu udah dekat dengan Shafa jauh sebelum Fachri jadi suaminya. Masih ingat kan tadi yang Randi bilang! Shafa butuh orang yang bisa menghibur dirinya. Dan yang bisa jadi penghibur Shafa cuma ketengilan lo Kak." Samuel duduk bersedekap memperhatikan kakak sepupunya yang sedang dilema.
"Shafa kok nggak nyadar ya Sam, kalau yang selama ini chat an ama dia bukan lo."
"Itu karena kita berdua sama-sama tengilnya," ujar Samuel ngasal.
Guntur menjitak kepala adik sepupunya. "Kamu aja yang tengil, aku enggak."
Samuel meringis kesakitan karena ulah Guntur. "Trus kalau bukan tengil apaan Kak? Lo chat an ama Shafa udah kayak pelawak srimulat. Main tebak-tebakan gokil sampai Shafa sering mengirim emoji ketawa. Shafa itu tipikal cewek humoris Kak. Makanya dia nyaman sama lo."
"Au ah gelap." Guntur bangkit sambil melempar bantal sofa kewajah Samuel.
"Mau kemana lo Kak?" teriak Samuel ketika Guntur hendak keluar.
"Pulang," jawab Guntur singkat.
"Mentang-mentang kantor bokapnya, datang pergi seenak jidat sendiri," gerutu Randi. Ia pun merapikan buku kuliahnya dan segera berangkat kekampus.
.
.
.
.
Sampai disini dulu ya guys!
__ADS_1
Thanks atas dukungan kalian semua. Masih ada beberapa part lagi menuju season 2 yang nantinya dengan judul baru.