ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Hak atau Kewajiban


__ADS_3

Steven bergegas pergi meninggalkan kantor bersama Andi setelah mendapat kabar dari Fachri.


Dengan langkah cepat Steven memasuki rumah dan segera mencari putrinya.


Ketika mendapati putrinya baik-baik saja Steven merasa lega. Clara pun segera menghambur kedalam pelukan ayahnya.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa Clara. Daddy sangat takut mendengar kamu hampir diculik." Steven mengusap lembut kepala putrinya.


"Daddy tenang saja. Selama ada Fachri, aku akan baik-baik saja." Clara menenangkan ayahnya yang tampak khawatir.


Steven melepas pelukan putrinya. Ia perhatikan wajah dihadapannya, tentu saja Steven melihat ada lebam disana. Clara tak sepenuhnya baik-baik saja.


"Daddy akan membuat perhitungan dengan orang yang sudah membuatmu seperti ini Clara." Nada bicara Steven seperti mengancam siapa saja yang menyakiti putrinya. Dia saja tak pernah tega menyakiti Clara. Lalu tiba-tiba orang lain dengan mudahnya melakukan hal itu.


"Ini hanya luka kecil Dad. Jangan berlebihan."


"Tetap saja ini tidak bisa dibiarkan Clara. Sudah dua kali mereka mencoba menyakiti kamu. Daddy tidak akan tinggal diam." Steven menghela nafas. Lalu beralih menatap Fachri.


"Ayah ingin bicara sama kamu Fachri." ucap Steven. Kemudian ia bersama Andi menuju ruang kerja.


Fachri pun mengikuti langkah ayah mertuanya.


"Siap-siap Non dikelilingi para bodyguard bertubuh besar." Ucap Randi menakuti Clara.


"Bodyguard gue cuma Fachri. Udah Lo istirahat aja dikamar. Gue juga mau istirahat." Clara pun pergi menaiki anak tangga menuju kekamarnya.


Randi juga beranjak dari duduknya. Berjalan tertatih sambil memegangi perutnya yang masih nyeri. Lalu ia duduk dikursi meja makan yang disediakan khusus untuk para pelayan dirumah itu.


Sang ibu menatap iba keadaan putranya yang penuh luka. Lalu ia mengambilkan makanan dan menyodorkan pada putranya itu.


"Besok-besok minta Fachri ajari kamu ilmu beladiri. Biar nggak jadi kayak gini kalau dikeroyok." Bik Nani menuangkan air putih kedalam gelas dan meletakkannya didepan Randi.


"Iya Bu. Nanti aku bicara sama Fachri."


Randi melanjutkan menyantap makanan yang disediakan ibunya. Sambil memikirkan perkataan sang Ibu. Memang perlu juga ia belajar beladiri, setelah apa yang terjadi. Supaya dirinya bisa melindungi diri sendiri dan orang lain.


Fachri yang sudah selesai dengan urusannya. Menyusul Clara kekamar. Gadis itu tampak sudah rapi dengan kaos lengan pendek dan celana yang panjangnya dibawah lutut. Setidaknya lebih tertutup dari biasanya yang hanya memakai tanktop dan celana pendek diatas lutut.


Fachri mendekati Clara yang sedang duduk berselonjor bersandar ditepi ranjangnya. Tangannya sibuk memainkan ponsel.


"Sudah selesai Ri?" Clara menghentikan aktivitas jemari tangannya.

__ADS_1


Fachri hanya mengangguk. "Sekarang giliran kamu Clara." Ujar Fachri dengan suara hampir berbisik. Wajahnya sudah semakin mendekat kewajah Clara.


"M. . .Maksud kamu apa Fachri?" Suara Clara bergetar. Fachri semakin mendekatkan wajahnya. Keringat dingin mulai tampak dikening Clara. Rambut poninya sedang ia jepit kebelakang. Ia tampak gugup. Bayangan kejadian kelam kembali melintas.


Clara memejamkan mata. Tangannya meremas kuat kain sprei. Nafas mulai memburu dari hidungnya.


Fachri menyadari Clara masih menyimpan trauma. Kedua telapak tangannya menangkup wajah gadis dihadapannya yang semakin ketakutan. "Clara buka matamu. . .! Ini aku Fachri." Ucap Fachri dengan nada agak keras. Meyakinkan gadis dihadapannya. Tapi Clara tak juga membuka matanya.


"Buka matamu Clara. . .!" Fachri mengulangi kalimatnya. Terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Membuat Clara terlonjak kaget dan membuka matanya. "Tatap aku Clara. Aku ini Fachri. Bukan orang lain." Fachri semakin menegaskan ucapannya. Tangannya masih menangkup wajah Clara.


"Aku masih takut Fachri." Ucap Clara dengan mata yang tampak memerah. Meloloskan air matanya.


Fachri malah tersenyum. Lalu membawa wajah Clara menempel didada bidangnya. "Memangnya apa yang kamu pikirkan Clara? Aku tidak mungkin macam-macam denganmu." Fachri mencium puncak kepala gadis dalam dekapannya. "Kamu tidak perlu takut."


Clara mengangkat wajahnya dari dada Fachri. Menatap lekat wajah pria yang berstatus sebagai suaminya. Fachri mengerti tatapan Clara yang menyiratkan pertanyaan.


"Aku hanya ingin perlahan-lahan membantu melawan traumamu. Agar kau tidak terjebak dalam kejadian itu." ujar Fachri lembut.


Clara mengusap air matanya dengan punggung tangannya. "Aku. . . aku bisa melawan traumaku sendiri Fachri. Perlahan itu juga akan hilang." ucap Clara agak ragu. Ia sendiri tak yakin bisa dengan mudah keluar dari bayangan kejadian yang sudah merenggut kehormatannya. Menyisakan cahaya kelam dijiwanya. Membuat dirinya sempat terpuruk dan kehilangan akal sehat hingga melakukan percobaan bunuh diri. Fachrilah yang saat itu menjadi secercah harapan yang membuatnya bangkit lagi.


"Iya Clara. Aku lupa siapa dirimu. Kau adalah gadis cerdas, tentu kamu bisa menghadapi semuanya sendiri bukan. Aku rasa aku tak diperlukan lagi." Fachri memalingkan wajahnya. Pura-pura memasang wajah kecewa. Ia merubah posisi duduknya menyamping. Ingin tau reaksi Clara yang tadi pura-pura tegar. Padahal jiwanya masih terbelenggu oleh masa yang kelam.


"Baiklah. Lupakan masalah tadi. Aku juga hanya sedang menggodamu." Fachri berucap lagi dengan menghadap Clara. Tangan kokohnya memegang lengan gadis dihadapannya dan memberi pijatan ringan.


"Apa kau benar-benar akan memijatku seperti Randi tadi?" Tanya Clara. Walau ia tahu kemungkinan besar itu yang akan dilakukan.


Fachri mengulas senyum tipisnya. "Hanya pijatan ringan saja Clara. Agar ototmu tidak terlalu tegang. Tadi kau pasti sekuat tenaga berusaha melawan mereka sebelum aku datang. Dan kau pun berhasil melukai mereka." Tangan Fachri masih terus memijit lengan Clara.


Kini ia memutar badan Clara memunggunginya. Memberi tekanan kecil dibagian punggung dan bahu.


"Aku hanya berusaha melindungi diri sebisaku, tapi tetap saja tenagaku tidak cukup kuat."


"Itu sudah cukup bagus untuk pertahanan diri. Mencoba melawan sekuat tenaga dan sebisa mungkin melukai lawan." Hening sejenak. Fachri menarik leher Clara kesamping kiri dan kanan. Hal itu membuat Clara berteriak kesakitan.


Teriakan demi teriakan mulai menggema dikamar itu. Fachri masih melanjutkan kegiatannya.


Hingga orang-orang dibawah saling memandang diselimuti rasa penasaran. Terkecuali Randi yang sudah bisa mengira apa yang dilakukan Fachri. Seperti apa yang dilakukan pada dirinya.


Steven dan Andi masih sibuk diruang kerja, hingga tak begitu terdengar suara Clara.


Tak berselang lama Fachri turun kebawah. Menuju dapur dan meminta Bik Nani menyiapkan makanan untuk Clara.

__ADS_1


Setelah siap, ia membawanya keatas. Didalam kamar, Clara tampak sudah duduk dimeja belajarnya. Sibuk dengan buku pelajaran sekolahnya.


Fachri meletakkan nampan berisi makanan dihadapan Clara.


"Makan dulu Ra. Belajarnya dilanjut nanti."


"Yang nanti makannya. Aku dikejar deadline ini. Semua tugas harus aku kumpulkan besok." Ujar Clara tanpa menoleh. Jemarinya sibuk dengan pulpen yang mengisi jawaban dibuku tugas.


Fachri kembali meraih nampan berisi makanan yang tak disentuh gadisnya. Meletakkannya dimeja lain dan hanya mengambil piring makanan. Kemudian mengambil kursi untuk duduk disamping gadis yang sedang sibuk dengan tugasnya.


"Ra menyuapi anak kecil itu hak atau kewajiban?" Tanya Fachri sambil memotong lauk dipiring dengan sendok.


"Ya kewajiban lah Fachri." Jawab Clara santai.


"Kamu salah. Yang benar itu Hak." Fachri menyodorkan sendok berisi makanan didepan mulut Clara.


Hal itu membuat Clara mengernyit heran. Apa sih sebenarnya maksud Fachri?


" Ayo buka mulut. Haaaaakkkk. . . !" Ucap Fachri kemudian. Mulutnya juga ikut terbuka memperagakan kata "Haaaakkkk" seperti seseorang yang membujuk anaknya ketika susah makan.


Clara dibuat tersenyum oleh tingkah Fachri. Ia pun membuka mulut menerima suapan makanan dari Fachri.


"Bayi besar yang pintar. . .!" Ujar Fachri karena bujukannya berhasil.


"Kenapa aku jadi bayi besar sih. Aku kan memang sudah besar. Tapi bukan bayi lagi." Sanggah Clara saat makanan dimulutnya sudah tertelan.


"Ya tidak kenapa-napa. Kamu memang seperti bayi besarku, yang harus aku jaga dan aku rawat. Yang harus disayangi sepenuh hati."


Clara merasa senang mendapat perlakuan manis dari Fachri. Ia seakan seperti bunga yang selalu dihujani dengan kasih sayang. Hingga bisa tumbuh berseri-seri menebarkan keindahan.


Fachri terus menyuapi Clara hingga makanan dipiring jadi tandas. Setelah itu Clara melanjutkan kegiatannya. Fachri pun mulai sibuk juga menyelesaikan skripsinya yang hampir sempurna.


.


.


.


*Setiap orang punya jatah gagal. Maka habiskan jatah gagalmu selagi masih muda.


~Dahlan Iskan*~

__ADS_1


__ADS_2