
"Kak Fachri ngasal nih ngasih pertanyaannya!" Seru salah satu anak.
Fachri yang duduk didepan tampak begitu tenang. Pertanyaan yang ia berikan bukanlah asal-asalan. Itu bertujuan agar mereka berpikir kreatif.
"Kak Fachri serius ini ngasih pertanyaannya."
"Kak Fachri ngasih pertanyaan yang masuk akal dong!" seru Nizam.
"Ini juga masuk akal Nizam." Fachri memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya. "Baiklah Kak Fachri jelasin. Jawabannya adalah sholat maghrib. Kenapa sholat maghrib? Padahal rakaatnya saja hanya tiga bukan?" tanya Fachri. Sebenarnya itu bukanlah pertanyaan yang harus mereka jawab. Itu hanya sebagai penegasan.
"Iya Kak. Kenapa bisa begitu?" tanya anak lainnya.
"Kenapa bisa begitu? Ya bisa saja begitu kan memang begitu!" ucap Fachri bercanda.
"Kak Fachri kumat nih nyebelinnya!" Lagi-lagi Nizam yang berkomentar.
Fachri malah tertawa mendengar ucapan anak yang memang paling menonjol dari yang lain. "Ok. Kak Fachri akan menjelaskan. Ini serius ya anak-anak. Kenapa bisa jawabannya sholat maghrib? Hal itu bisa terjadi saat ada makmum masbuk yang datang saat imam duduk tahiyat awal atau tasyahud awwal. Kemudian ia mengikuti gerakan imam yang sedang tahiyat awal. Otomatis ia melakukan tahiyatnya yang pertama.
Kemudian saat imam berdiri untuk rakaat ketiga. Makmum masbuk tadi masih melakukan rakaatnya yang pertama. Lalu imam duduk lagi untuk tahiyat akhir. Itu tahiyat kedua yang dilakukan imam masbuk tadi.
Karena ia baru melakukan satu rakaat. Ditambahnya lagi rakaat yang tertinggal. Setelah rakaat kedua ia duduk lagi melakukan tahiyat awal. Berdiri lagi rakaat ketiga dan melakukan tahiyat akhir. Jadi, pada setiap rakaat yang dilakukan makmum masbuk, ada tahiyatnya. Sehingga jumlahnya empat."
Fachri diam sejenak memperhatikan raut muka anak-anak yang ada dihadapannya. Mereka masih mencerna penjelasan Fachri yang sedikit agak menguras pikiran.
Clara dan Randi saja sampai melongo mendengar penjelasan Fachri. Memang masuk akal sih. Tapi harus benar-benar dipahami.
Melihat anak-anak itu masih terlihat kebingungan, Fachri mencoba menjelaskan lagi dengan kata-kata yang lebih simple.
"Kalau kalian belum bisa memahami penjelasan tadi, Kak Fachri akan menjelaskan dengan lebih sederhana. Begini, saat imam sedang tahiyat awal. Lalu datang makmum dan langsung ikut dengan imam yang sedang tahiyat. Terus imam bangkit untuk rakaat ketiga, kemudian tahiyat akhir dan imam salam. Disini si makmum masbuk sudah melakukan dua tahiyat.
Kemudian ia bangkit lagi untuk mengerjakan dua rakaat lagi. Dan didua rakaat ini, ia masih harus tahiyat awal dan tahiyat akhir. Sehingga tahiyatnya makmum masbuk tadi ada empat. Kalian sudah paham?" tanya Fachri kemudian.
Dengan serentak mereka menjawab sudah paham.
"Kalau sudah paham, sekarang kita praktekkan. Ayo sekarang Nizam sama Kak Randi maju kedepan."
Randi terlonjak kaget. Bagaimana bisa dia mempraktekan apa yang dijelaskan Fachri tadi. Dia saja masalah agama masih cetek.
Berbeda dengan Nizam dengan percaya diri bangkit dari duduknya.
"Ayo Kak Randi maju kedepan. Kita praktekkan apa yang diajarkan Kak Fachri," ajak anak yang bernama Nizam. Ia menggandeng tangan Randi maju kedepan.
__ADS_1
Mau tak mau Randi menurut saja.
"Kamu mau malu-maluin aku didisini Ri?" bisik Randi.
Dengan santainya Fachri menjawab. "Hanya praktek saja Rand. Kan aku nanti yang mengarahkan. Jangan berlebihan begitu."
"Emang dasar ya kamu. Ada-ada aja kerjaannya," gerutu Randi.
"Ini bukan pekerjaan tapi pengetahuan."
Fachri segera menyuruh Randi berdiri sebagai imam dan Nizam sebagai makmum masbuk. Ia juga yang mengarahkan sekaligus memberi penjelasan pada setiap gerakan yang dilakukan.
Yang lain memperhatikan dengan seksama apa yang ada dihadapan mereka.
Setelah selesai, Fachri, Clara dan Randi berpamitan pulang. Dalam perjalanan pun banyak hal yang Randi tanyakan mengenai agama. Mulai ada ketertarikan dalam dirinya setelah apa yang ia dapat dari panti tadi.
Clara lebih memilih diam. Ia memejamkan mata, pura-pura tidur. Padahal pikirannya penuh dengan rasa penasaran yang selama ini ia pendam. Semakin hari semakin banyak kejutan yang ia dapat tentang suaminya.
Entah karena badannya terlalu lelah atau pikirannya yang lelah. Akhirnya Clara benar-benar tertidur dalam mobil.
Sesampainya dirumah, Fachri membopong istrinya kedalam kamar. Randi segera naik keatas lebih dulu untuk membukakan pintu.
Fachri segera beranjak meninggalkan Clara menuju balkon. Disana ia duduk bersimpuh dilantai dengan lutut ia tekuk didepan dada. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya sendiri. Mencoba menahan air mata yang melesat tanpa ia pinta. Tangis Fachri pecah dengan sendirinya. Ia memukul lututnya yang tak berdosa. Mencari pelampiasan karena ia sendiri tak tahu harus berbuat apa dengan hatinya yang tiba-tiba kembali rapuh.
Ia kira luka lamanya sudah sembuh. Nyatanya sakit itu tetap membekas dalam hatinya. Bahkan tak kunjung kering. Meski ia sudah menemukan tempat berlabuh yang lebih indah.
Ia sendiri tak mengerti dengan hatinya yang terkadang susah diajak berkompromi. Ia tak ingin lagi mengingat masa lalu. Tapi kenapa setiap kali teringat wajah dari masa lalunya ia merasakan sakit yang sangat.
Hingga membuat dirinya merasa malu pada Tuhan. Bukannya menangis karena dosa ia malah menangis karena teringat masa lalunya.
Malam itu tak ada yang tahu bagaimana Fachri berperang melawan gejolak hatinya sendiri. Hanya malam yang semakin sunyi menjadi saksi betapa hancurnya Fachri karena masa lalu itu. Ia tak pernah menunjukkan kerapuhannya. Berbagi kesedihan pada istrinya pun ia tak sanggup.
Tak sanggup membenani cintanya dengan kesedihan yang datang tanpa diminta. Hanya Tuhan yang ia jadikan tempat bersandar dan berkeluh kesah.
Air mata terus mengalir, bagaimanapun kuatnya seorang laki-laki. Pasti ia akan mengeluarkan air mata saat hati sedang rapuh. Bukan ia yang meminta tapi, hatilah yang membuat air mata keluar sebagai bukti kelembutan hati itu sendiri.
*Wahai hati. . .
Izinkanlah dia yang menghapus lukamu
Biarkan senyum manjanya sebagai penghapus lara
__ADS_1
Jadikan tutur kata dan canda tawanya sebagai pelipur lara
Biarkan ketulusan sinar matanya menjadi pengobatmu
Wahai hati. . .
Kan kuukirkan namanya untukmu
Kan kusemaikan benih cinta hanya untuknya
Kutitipkan kerinduan tak terkecuali padanya
Biarkan dirimu melebur bersama hatinya*
Perlahan Fachri bangkit, ia berjalan menuju kamar mandi. Membasuh sisa air mata. Lalu berwudlu. Menunaikan kewajibannya yang sempat tertunda.
Dalam doanya Fachri meminta kebahagiaan untuk Clara yang sudah menjadi bidadari hatinya. Meminta agar kesedihan istrinya akan berganti dengan kebahagiaan. Seperti dirinya yang mendapat kebahagiaan setelah melewati kesedihan dimasa lalu. Dan kebahagiaan itu adalah Shafa Fikriatuz Zahra. Yang namanya ia sebut dalam ikrar janji suci pernikahan.
Tak lupa Fachri juga melantunkan kalam yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Setelah itu ia mencium kening Clara dengan lembut. Lalu berbaring disamping istrinya. Memeluk dari belakang bidadari yang sudah damai dalam tidurnya.
Disitulah ketenangan Fachri, dia temukan kedamaian hatinya dalam diri Clara. Dirinya hanyut dalam indahnya dawai cinta yang kini melambai-lambai. Seakan mendapat tiupan angin cinta dari sang mahabbah.
Masa lalu hanyalah masa lalu. Sebuah masa yang akan menjadi pembelajaran untuk melangkah kemasa depan. Tak perlu melupakannya, jadikan dia sebagai pengalaman yang berharga.
Sesekali kita perlu menengok kebelakang (masa lalu). Mungkin disana masih tertinggal seberkas cahaya yang bisa menuntun kita menuju jalan yang lebih terang.
Semoga hati kita selalu dinaungi cinta dari sang maha cinta!
.
.
.
.
Thanks untuk like dan komen dari kalian!
Part kali ini lebih pendek dari biasanya. Saya lagi pulkam. Bantu emak bapak panen.😅😅😅
Tetap semangat menjalani hari-hari kalian para readers.
__ADS_1