
Dengan sekuat tenaga Fachri berusaha melumpuhkan lawan-lawannya. Dulu ia boleh lengah tapi kali ini dia lebih waspada. Tenaga dalam yang dimilikinya sedikit ia gunakan. Setidaknya itu bisa meminimalisir rasa sakit jika terkena pukulan.
Segala jurus pukulan dan kuncian Fachri kerahkan untuk menandingi kekuatan para lawan yang berkali lipat dari dirinya.
Sesekali Clara berteriak histeris saat melihat Fachri terkena pukulan. Tapi ia tak berdaya dalam cengkraman pria bertubuh kekar yang enggan melepaskannya.
Pria itu tampak geram karena teman-temannya sudah terkapar tak berdaya lagi. Ingin ia membawa gadis dalam cengkramannya pergi. Tapi sialnya kunci mobil tak ada ditangannya. Kunci mobil dibawa salah satu temannya yang sudah dibuat Fachri tak berdaya.
Ia pun berteriak meminta kunci mobil. "Woy. . .! Lempar kesini kunci mobilnya?"
Saat seorang pria melempar kunci mobil, dengan cepat Fachri menangkap kunci yang sedang melayang diudara.
Gurat ketegangan tampak diwajah pria yang sedang memegangi Clara. Ditengah kepanikannya ia melingkarkan lengan kekarnya dileher Clara. Membuat gadis itu semakin tak berdaya. Rasa sakit menjalar kelehernya. Ia hanya bisa mendelik menahan sakit sambil mencoba menarik-narik lengan kekar yang membelenggu lehernya. Tapi tenaga jemari lentiknya tak membuahkan hasil. Terlalu kuat untuk dirinya. Sekedar mengeluarkan suara pun tak bisa.
"Serahkan kunci itu padaku, kalau tidak aku akan mematahkan leher gadis ini." Ancam pria yang menyandera Clara.
Kegusaran mulai menguasai jiwa Fachri, karena melihat gadisnya begitu tersiksa.
Sambil terus melangkah maju ia memberikan tatapan tajam.
"Jangan mendekat. . .! berikan saja kunci itu padaku." Sambil perlahan membawa Clara melangkah mundur. Tatapan Fachri membuat ia merasakan aura kemarahan yang tak terkira. Entah kenapa tatapan Fachri begitu mengerikan baginya.
Clara juga merasakan hal itu. Tatapan yang selalu meneduhkan jiwanya, sekarang berubah menjadi tatapan tajam seperti harimau mencari mangsa. Seperti apakah sebenarnya Fachri? Ia memang belum begitu mengenal siapa sosok Fachri sebenarnya.
Tanpa bicara Fachri terus mendekat, Sambil mencari celah agar bisa melepaskan Clara.
Meski dalam keadaan dikuasai oleh emosi, ia tak mau berbuat gegabah sehingga membahayakan Clara.
Dengan secepat kilat Fachri melemparkan kunci yang ada digenggamannya kearah kening pria yang sudah menyiksa Clara.
Alhasil, pria itu kesakitan dan tanpa sadar melepaskan lengannya dari leher Clara.
Secepat mungkin Fachri mengamankan Clara.
Satu lawan satu kali ini tak menyulitkan bagi Fachri. Dengan mudah ia bisa kalahkan.
Clara sendiri mencari keberadaan Randi yang tadi menjadi bulan-bulanan para penjahat itu.
Tampak Randi yang terkapar ditanah. Clara mengguncang-guncang tubuh Randi. Berharap ada respon.
"Bangun Lo Rand. . .! jangan mati dulu." Kekawatiran jelas terlihat dari suara paraunya diiringi air mata yang sudah meloloskan diri.
Tak ingin kehilangan sahabat kecilnya yang selalu menemaninya hingga saat ini.
Suara batuk keluar dari mulut Randi. "Saya masih hidup Non. Lagian saya juga belum mau mati." Walaupun suara Randi terdengar lemah tapi itu membuat Clara merasa lega.
Ia pun menuntun Randi bersandar dimobil yang ada disebelahnya.
Sementara itu Fachri sudah selesai dengan pergulatannya. Perlahan para musuhnya bangkit dan melarikan diri dengan mobil yang mereka tumpangi tadi.
Kini perhatiannya tertuju pada Clara yang duduk bersandar disisi mobil sambil memejamkan mata. Randi juga ada disampingnya.
Perlahan Fachri mendekat dan duduk menghadap Clara. Menatap wajah kekasih hatinya yang sedang kacau. Dari sudut bibir mungil itu terlihat ada luka lebam dan darah segar yang keluar.
Kedua tangannya memegang lembut pipi Clara. Tentu saja hal itu membuat Clara agak terperanjat. Tapi ia lega saat tahu Fachrilah yang ada dihadapannya.
Tampak jelas dalam pandangan Clara. Bagaimana raut wajah suaminya yang tampak sayu dan air mulai menggenang dipelupuk matanya.
Jemari Fachri mengusap darah yang keluar dari sudut bibir gadis dihadapannya. Rintihan kecil terdengar ditelinganya.
Lalu ia menyibak rambut dikening Clara. Ada luka memar yang mulai tampak membiru. Hati Fachri benar-benar ikut tersayat. Merasa tak mampu melindungi separuh dari jiwanya.
"Maafkan aku Clara. . .!" Fachri membenamkan Clara dalam pelukannya. Sekuat apapun ia sebagai seorang laki-laki, tapi jiwanya akan rapuh saat melihat cintanya terluka.
Clara pun melingkarkan tangannya kepunggung laki-laki yang memeluknya. "Jangan minta maaf Fachri. Aku yang salah tak mendengar ucapan Randi."
__ADS_1
Fachri merenggangkan pelukannya. "Lain kali jangan pernah pergi tanpa diriku." Matanya menatap dalam penuh arti. Tatapan yang sedikit mengisyaratkan penegasan dan permohonan.
Clara hanya mengangguk. Sedangkan Randi tak bisa berkomentar apa-apa karena rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.
Fachri pun menuntun Clara untuk berdiri. Tanpa menghiraukan Randi yang dari tadi tak bersuara, ia menuntun Clara berjalan.
"Aku ditinggalin nich. . . !" Suara lemah Randi mulai terdengar. "Dari tadi udah jadi obat nyamuk, sekarang malah tak dianggap. Mati ajalah. . .!" Gerutu Randi.
Hal itu membuat Fachri dan Clara tersenyum. Lalu mereka memapah Randi berjalan kemobil yang tadi dibawa Fachri.
*******
"Auwwww. . . !" pekik Randi karena rasa nyeri yang menjalar saat sang ibu mengobati lukanya "Pelan-pelan dong Bu. . .!"
Bukannya disayang-sayang malah pukulan yang didapat Randi. "Jagoan Ibu nggak boleh manja. Kayak Fachri tuch dia nggak pernah ngeluh."
Randi mencebikkan bibirnya. Kenapa jadi dia dibanding-bandingkan dengan Fachri. "Anak ibu itu sebenarnya siapa? Aku atau Fachri?"
Tangan sang Ibu masih sibuk mengompres luka putra semata wayangnya. Mendengar pertanyaan itu ia tampak sedikit berpikir.
"Kalau boleh milih Ibu lebih milih Fachri yang jadi putra Ibu."
"Tega ya Ibu bilang gitu sama anak sendiri."
"La tadi kan kamu yang nanya, Ya Ibu jawab."
Ibu Randi beranjak dari duduknya saat melihat Maya melintas.
"May kamu oleskan salep keluka Randi. Bibi mau masak makan malam." Ucapnya kemudian. Ia pun melangkah kedapur.
Mau tak mau Maya menuruti perintah wanita paruh baya itu. Ia berjalan mendekat dan mengambil salep untuk Randi.
Disisi lain, dengan telaten Fachri mengobati luka Clara.
"Sakit ya Ra?" tanya Fachri saat melihat Clara beberapa kali meringis menahan sakit.
Mereka berdua saling adu pandang untuk beberapa detik. Lalu Fachri memegang pipi kiri Clara dengan telapak tangannya.
"Kalau begitu percayalah padaku. Kamu bisa anggap aku sebagai sahabatmu. Seperti halnya dengan Randi. Aku siap mendengar apapun yang ingin kamu ceritakan."
"Maafkan aku. . . !" Clara menundukkan pandangannnya merasa bersalah. Ia sadar telah membuat Fachri merasa kalau dirinya belum sepenuhnya mempercayai eksistensi laki-laki itu dalam hidupnya.
Sedangkan Maya dan Randi hanya bisa menatap iri adegan yang ada didepan mereka.
Fachri kembali mengulas senyum sambil mengangkat dagu Clara. Mata teduh Fachri seakan memberi isyarat penuh kasih sayang. Ia genggam tangan gadis dihadapannya. Menyalurkan kehangatan hati dan jiwa.
"Jika aku bisa menjadi penawar rasa sakitmu. Maka, izinkan juga aku menjadi penawar ragumu. Izinkan aku menjadi penopang segala asamu. Izinkan aku menghapus semua lukamu. Izinkan aku menembus relung sukmamu. Izinkan aku merengkuh jiwamu dan kita bisa melangkah bersama. Menapaki titian jalan kehidupan yang mungkin akan penuh dengan ombak dan badai."
Clara tak bisa membendung air matanya. Ia langsung membenamkan dirinya memeluk erat laki-laki dihadapannya.
Fachri juga membalas pelukan gadis halalnya.
Apakah ini Cinta Fachri? Kenapa kau selalu membuat diriku berkecamuk dengan perasaan yang belum aku mengerti?
Randi yang melihat Maya terpaku melihat adegan dihadapannya menutup mata Maya dengan telapak tangannya. "Jangan lihat May, ntar kamu baper."
"Apaan sih Rand." Maya menepis tangan Randi. "So sweet banget Randi. Aku juga mau digituin. Dikasih kata-kata romantis terus dipeluk-peluk." Maya menyilangkan tangannya sendiri, seolah-olah sedang memeluk seseorang.
"Sini aku peluk May." Randi merentangkan kedua tangan siap menerima seseorang untuk dipeluk.
Tapi Maya malah memukul tangan Randi. "Enak aja kamu. Belum muhrim."
Randi spontan malah berteriak kesakitan karena pukulan Maya tepat mengenai luka lebamnya. "Kira-kira dong kalau mau mukul." Randi mengusap-usap tangannya yang sakit.
Seketika Fachri dan Clara melepas pelukan mereka. Lalu menoleh kearah Maya dan Randi yang heboh sendiri.
__ADS_1
"Tuch kan Rand. Kamu ngerusak suasana."
"Salah kamu May. Main pukul sembarangan. Udah tau badan boyok gini."
"Kalau bonyok tinggal buang aja dong ya. Kayak mangga bonyok yang sudah tidak layak disimpen."
Randi merajuk kesal. "Ini badan orang bukan mangga bonyok."
"Sekarang udah sebelas dua belas. Sama-sama bonyoknya." Ucap Maya sambil berlalu pergi.
"Mau kemana kamu?" seru Randi.
"Aku mau panggilin Siti biar peluk kamu." Suara Maya terdengar semakin menjauh.
"Diiih. . . ! Ogah aku May." Teriak Randi.
Namun tiba-tiba Siti datang dengan membawa minuman dinampan lalu meletakkan dimeja.
Mata Siti melirik tajam kearah Randi. "Aku juga ndak sudi meluk kamu." Siti terlihat hendak melayangkan nampan kosong ditangannya kearah Randi.
Dengan gerakan reflek Randi tiarap dibalik kedua lengannya. Tapi ternyata Siti hanya menakutinya. Lalu pergi dengan menjulurkan lidahnya mengejek Randi.
"Awas kamu Ti. . .!" Umpat Randi.
Clara tak bisa menahan tawa melihat apa yang terjadi dihadapannya.
"Ketawain aja Non. Ketawain terus. . .!" Randi tampak kesal tapi itu hanya pura-pura. Ia sebenarnya senang melihat Clara bisa tertawa seperti biasa.
Sedangkan Fachri sudah berada disamping Randi. Menyuruhnya berputar badan.
"Mau ngapain Ri?"
Tapi Fachri tak menjawab pertanyaan Randi. Tangan sudah mulai memijit bahu Randi.
"Enak juga Ri pijatan kamu. Cocok kalau jadi tukang pijit."
Baru saja bibirnya selesai memuji pijatan yang ia dapat. Tiba-tiba Fachri menarik bahu Randi kebelakang hingga keluar bunyi gemeretak.
Suara teriakan kembali terdengar. Belum sempat berkomentar, Fachri sudah pindah kebagian yang lain dan melakukan hal yang sama.
"Santai Rand. Ntar badan Lo bisa enakan habis ini." ucap Clara saat Fachri sudah menyelesaikan kegiatannya.
"Gila kamu Fachri. Rasanya patah semua tulangku." Kemudian Randi mencoba meregangkan badannya dan terasa berbeda.
"Bener Non, udah agak enak sekarang." ujar Randi.
Fachri kembali duduk disamping Clara. "Setelah ini kamu istirahat. Nanti malam aku pijit lagi."
Randi membelalak, membayangkan tulang tubuhnya yang akan kembali gemeretak karena Fachri. Tapi itu juga demi kesehatannya agar segera pulih kembali.
Clara sendiri tampak geli melihat reaksi Randi.
"Setelah ini giliran kamu Clara. Tapi dikamar." Ucap Fachri dengan nada datar.
"What. . . ?" Pekik Clara kaget.
Kini giliran Randi yang tersenyum puas. Ternyata Clara juga akan mendapat perlakuan yang sama. Tapi kenapa harus dikamar?
.
.
.
.
__ADS_1
Thanks readers yang masih setia disini.
Maaf baru update lagi. . .!