
"Fachri, waktu kita diculik. Pisau yang dipegang paman Max bisa jatuh. Itu kamu pakai sihir? Hanya dengan gerakan mata bisa jatuh gitu," ujar Clara penasaran ingin tahu. Kini ia dan Fachri sedang menikmati kesyahduan malam dibalkon.
"Enak aja pakai sihir! Itu bukan sihir Shafa. Tapi, tenaga dalam," jawab Fachri. Tangannya merangkul bahu Clara. Mengusap pelan pipi manis disampingnya. Menciptakan suasana yang membuat bulan merasa iri dengan kemesraan mereka berdua.
"Tenaga dalam yang pakai isian gitu nggak sih? Ada yang harimau, monyet, singa, cahaya api bi. . . ."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya Fachri sudah menyela. "Memangnya omelet yang bisa pakai isian semau kita. Aku nggak pakai begituan Shafa."
"Lalu?" Kini Clara mengubah posisi duduknya menghadap pada Fachri.
Fachri juga menegakkan tubuhnya menatap istrinya. "Itu murni dari tenaga dalam. Bukan sihir atau apa yang kamu maksud tadi."
"Ajarin dong Ri!"
"Aku udah mengajari kamu dan Randi setiap hari," ujar Fachri. Ia berdiri bersandar pada pagar balkon.
"Yang mana Ri? perasaan kita latihan biasa-biasa aja." Clara juga ikut berdiri.
"Setiap hari kan kamu dan Randi belajar pernafasan dan konsentrasi. Sering juga aku nyuruh kalian memusatkan pikiran. Hal itu melatih tenaga dalam kalian. Merangsang agar kekuatan alami kalian keluar. Kalau ingin bisa menguasainya, kamu harus latihan dengan sungguh-sungguh," papar Fachri.
Malam semakin indah, lukisan malam mulai menyuguhkan keindahannya. Clara dan Fachri segera masuk karena udara dingin sudah mengusir mereka. Pepohonan pun tak mau berebut oksigen dengan manusia pada malam hari. Hingga mengutus dinginnya malam agar menggiring para insan masuk dalam rumah mereka.
Hari-hari terus bergulir. Canda tawa selalu mengisi hari Clara dan Fachri. Mereka semakin dekat, saling mengisi kekosongan masing-masing. Saling memberi semangat.
Setiap pagi mereka latihan beladiri. Malamnya mereka belajar, Clara meminta Fachri mengajarinya bahasa arab. Sesekali Clara juga ikut pergi kekantor ayahnya. Menemani Fachri bekerja. Untuk mengisi kejenuhannya dikantor, Clara menghafal mufrodat bahasa arab dengan disimak oleh Fachri sambil bekerja.
Liburan sekolah telah usai. Clara bersekolah seperti biasa. Belajar dengan penuh semangat walau jadwalnya padat.
Bercanda ria dengan Anin sahabatnya, yang kadang galau karena berhubungan jarang jauh dengan Samuel yang kuliah ditempat Guntur.
Malam itu, Fachri mencari Clara. Tadi, setelah dari kamar mandi Fachri tak menemukan istrinya dikamar. Lalu ia kebalkon dan melihat Clara sedang ada ditaman sambil bermain gitar.
Fachri pun menyusul Clara kebawah. Clara sedang bersenandung merdu dengan gitarnya.
Saat Clara menghentikan permainan gitarnya, Fachri mengambil alih benda itu.
"Memang kamu bisa Ri?"
"Lihat aja!"
Fachri pun mulai memetik gitar dipangkuannya.
Ada kodok
Rekotok. . . Rekotok. . .
Dipinggir kali
Rekotok. . . Rekotok
Mencari makan
Rekotok. . . Rekotok. . .
Setiap hari
Rekotok. . . Rekotok. . .
Clara langsung tertawa mendengar nyanyian Fachri. "Itu lagu anak-anak Fachri," ujarnya.
"Kan itu juga lagu," Fachri juga tertawa. "Kali ini dengarkan ya." Fachri tampak memasang wajah serius. Seolah-olah hendak menyanyikan lagu dewasa. Fachri pun memetik gitarnya dengan merdu. Awalnya, Clara mengira Fachri serius. Tapi. . .
Penggali dengan ember
Menggali lubangnya
Taruh benih ditanah
Cepat cepatlah tumbuh
Truk dengan selang
Semprotkan airnya
Pohonnya tumbuh tinggi
__ADS_1
Cepat cepatlah berbuah
Lagi-lagi Fachri menyanyikan lagu anak-anak. Kali ini lagu dari Baby Bus.
Clara tak henti-hentinya terbahak. Bisa-bisanya Fachri bernyanyi seperti anak kecil.
"Kayaknya lagi anak konser anak TK ya!" Randi yang baru datang ikut nimbrung.
"Lo mau ikutan Rand. Ayo nyanyi Balonku Ada Lima," ucap Clara.
"Saya ya sukanya lagu Melayu Non."
"Melayu yang jalan cepat itu ya Rand?" gurau Clara. (Melayu dalam bahasa jawa yang artinya berlari)
"Itu lari Non," sahut Randi.
"Sama ajalah."
"Udah ah Non. Saya mau ngerjain tugas kuliah." Randi pun berlalu pergi.
"Yang rajin Rand!" teriak Clara.
Kini ia beralih pada Fachri yang masih memegang gitar. "Ayo masuk Ri!" ajaknya.
"Nggak dilanjut ini main gitarnya?"
"Kamu mainnya bercanda mulu," gerutu Clara. Ia pun bangkit dari duduknya. Sudah memijakkan kakinya beberapa langkah. Hingga terdengar suara petikan gitar yang diiringi suara merdu Fachri. Clara berbalik mendengarkan alunan nada suaminya.
DUHAI CINTA
Duhai jiwa yang merindukan belahan kalbu
Duhai hati yang mendamba cinta tulus suci
Tlah terpatri kini rasa cinta yang sejati
Dengan hadirmu disini
Duhai cinta kau hadir isi kekosonganku
Bersua didalam ikatan kasih nan murni
Berdua. . . Bersama. . .
Kuterima segala kekurangan dirimu
Kuserahkan hati titip cintaku padamu
Tuhan tuntun langkah kaki tetap dijalanmu
Menapaki indah regup cinta
Bersama. . .
By : Suby-Ina
Clara tertegun, tak menyangka kalau Fachri bisa juga bermain gitar dengan serius. Apalagi saat Fachri mulai bernyanyi. Baru kali ini ia melihat Fachri bermain musik dan menyanyi.
Clara bersandar dibahu Fachri, menikmati setiap alunan nada yang baru pertama kali ia dengar. Suara merdu Fachri telah menyentuh jiwanya.
*****
Fachri telah melakukan sidang skipsi dan ia lulus dengan nilai terbaik. Kerja keras Fachri selama ini tak sia-sia. Ia bisa mewujudkan harapan almarhum kedua orangnya. Saat wisuda pun, Clara juga menemaninya.
Hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Clara mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional. Fachri juga mulai sibuk dengan proyek baru.
Tapi, Fachri selalu menyempatkan menemani istrinya belajar disela kesibukannya.
Hari itu, hari terakhir Clara ujian. Seperti biasa Fachri sudah siap menunggu diparkiran sekolah. Laki-laki itu tak pernah absen antar jemput Clara.
Perhatiannya juga semakin besar pada gadis itu. Sampai-sampai Clara merasa ada yang beda dengan Fachri. Tapi ia juga senang mendapat perhatian dari suami yang ia cintai.
"Fachri, nanti temani aku diacara wisuda kelulusan ya!"
"Insya Allah, kalau bisa aku akan temani," ucap Fachri sambil mengemudi.
__ADS_1
"Harus janji dong Ri!" Clara memaksa.
"Aku tak bisa berjanji Shafa. Kalau tidak ada halangan aku pasti datang."
Jawaban Fachri sedikit membuat Clara lega. Disaat momen penting ia ingin ada orang spesial disampingnya.
Ditengah perjalanan pulang, hujan mulai mengguyur. Musim hujan memang sudah berlangsung dari beberapa bulan yang lalu. Clara selalu menikmati setiap kesejukan yang datang dibulan April.
Sesampainya dirumah, Clara malah mengajak Fachri bermain hujan. Bukannya menolak, Fachri malah mengikuti ajakan istrinya. Mereka bermain seperti layaknya anak kecil. Menari-nari dibawah derasnya air hujan.
***
Selesai makan malam, Steven mengajak Fachri keruang kerjanya. Sedangkan Clara asyik dengan Randi diruang keluarga.
"Fachri, apa kau tidak ingin mengambil alih lagi perusahaan kedua orang tuamu? Ayah bisa mengurusnya jika kau mau," ujar Steven. Dirinya dan Fachri duduk disofa saling berhadapan.
"Tidak Ayah, biarkan saja perusahaan itu ditangan om Sandy. Fachri sudah bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Ayah."
"Baiklah kalau itu mau kamu." Steven diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Tanpa mereka sadari ada Clara didepan pintu yang memang tidak tertutup sempurna.
"Kau sangat berjasa dalam hidup Clara, Fachri. Maafkan Ayah yang sempat memaksakan kehendak agar kau menikahi Clara waktu itu. Sebagai rasa terimakasih, kau bisa meminta apa pun. Bahkan jika kau meminta separuh saham dari perusahaan akan Ayah berikan."
Clara terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia mengira Fachri menikahinya karena terpaksa dan bahkan demi harta lalu Fachri bersedia. Tanpa mendengar lanjutan obrolan ayahnya dan Fachri, Clara berlalu.
Fachri tersenyum, menolak secara halus tawaran mertuanya. "Fachri tidak pernah terpaksa menikahi Clara, Ayah. Fachri tulus mencintai Clara. Sungguh Fachri tak membutuhkan kedudukan apapun diperusahaan Ayah."
Steven berdiri lalu memegang bahu Fachri agar berdiri. Lalu memeluk menantunya yang berhati tulus. "Terima kasih Fachri!" ucapnya.
Tiba-tiba suara Randi mengejutkan keduanya.
"Fachri, Tuan. Non Clara hendak keluar membawa mobil sambil menangis," ujar Randi panik.
Fachri langsung berlari kedepan, mencegah Clara yang sudah hampir tancap gas. Ia berdiri didepan mobil yang hendak dibawa istrinya.
"Keluar Shafa! Kau kenapa?" teriak Fachri.
Clara pun keluar. "Namaku Clara, jangan panggil aku Shafa lagi!" ucap Clara dengan kasar.
"Tenang Shafa! Ada apa?" Fachri memegang kedua bahu Clara.
"Kau sudah membohongiku Fachri. Kau menikahiku karena terpaksa kan! Kau mau menikah denganku hanya karena iming-iming harta dari daddy. Ternyata kau sama saja dengan laki-laki yang gila harta. Aku menyesal terperdaya oleh kata-kata manismu." Setelah mengeluarkan pikiran negatifnya yang tak benar, Clara masuk kemobil dan tancap gas.
Fachri masih mematung ditempatnya, tak menyangka Clara bisa berkata seperti itu.
Steven juga mendengar ucapan putrinya, berarti tadi Clara mendengar percakapannya dengan Fachri.
Setelah pikiran Fachri kembali pada kesadarannya, ia segera mengambil kunci motor dan mengejar istrinya.
Sebisa mungkin Fachri mensejajarkan posisi motornya disamping mobil Clara.
"Tolong berhenti Shafa! Kamu salah paham," teriak Fachri.
Namun Clara tak perduli. Pikirannya sedang dikuasai oleh hatinya yang sedang terbawa emosi. Laju mobil semakin bertambah.
Fachri terus berusaha mengejar. Ia berusaha menyalip mobil Clara. Tapi sayangnya, didepan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Fachri tak sempat menghindar lagi. Kejadiannya sangat cepat. Tubuhnya terpental membentur aspal. Motornya sudah ringsek terlindas truk.
Clara yang mendengar benturan keras dibelakangnya melihat kearah kaca spion. Ada sebuah kecelakaan yang terjadi. Tak terlihat Fachri yang tadi mengejar dirinya.
Clara segera memundurkan mobil. Memastikan kejadian dibelakangnya. Ketika keluar dari mobil yang ia lihat adalah motor yang dikenalnya sudah ringsek.
Pikirannya semakin kacau. Ia menuju kerumunan orang. Dilihatnya Fachri tergeletak tak berdaya. Darah segar dari kepalanya membanjiri jalanan. Karena Fachri ternyata tak mengenakan helm.
"FACHRIIIII!" teriak Clara dengan keras. Seiring dengan itu, tubuhnya melemas. Ia berharap itu hanyalah sebuah mimpi buruk.
Berharap suaminya masih bekerja dirumah dan tak mengejarnya tadi.
Petugas setempat segera menghubungi ambulan. Dan saat ambulan datang mengangkut tubuh Fachri, ia tahu ini bukanlah mimpi. Ini adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari lagi.
.
.
.
Sampai disini dulu readers. 😢
__ADS_1
Terima kasih atas partisipasinya!