ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Gejolak Hati Fachri


__ADS_3

"Bagaimana keputusanmu atas permintaanku kemarin?"


Pertanyaan itu terdengar tegas keluar dari suara Steven yang menuntut sebuah jawaban. Seperti sebuah intimidasi untuk Fachri yang memang pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya.


Fachri yang saat itu duduk berhadapan dengan Tuannya masih mencoba menunjukkan ketenangan. Walau hatinya saat ini sedang bimbang dengan jawaban apa yang hendak ia berikan. Memikirkan bagaimana merangakai kata-kata yang tepat. Pertanyaan itu menempatkan Fachri pada keadaan dititik tersulit. Fachri terjebak dalam dilema yang mendalam.


Sebuah pertanyaan dari Steven memang terdengar sederhana hanya membutuhkan jawaban Ya atau Tidak. Tapi pertanyaan itu menuntut tanggung jawab yang sangat besar jika ia menjawab "Ya". Bisa juga membawa ia dalam kubangan dosa kalau ia gagal menjalankan tanggung jawab itu. Sebaliknya jika ia berhasil akan membawa dirinya dalam keberkahan dan limpahan nikmat yang tak terkira, bisa membawa dirinya dalam menggapai surga dunia.


Kalaupun jawaban yang ia berikan berupa kata "Tidak". Justru itu akan membawa hatinya pada sebuh rasa bersalah pada Steven. Orang yang telah banyak membantunya selama ini. Karena itu untuk mengucapkan kata "Tidak" sangatlah berat bagi Fachri.


"Tolong berikan saya waktu sampai saya menyelesaikan skripsi."


Fachri berharap dengan mengulur sedikit waktu dapat membantu dirinya menguatkan jiwa raganya dalam mengambil keputusan yang tepat.


"Berapa lama lagi?" tanya Steven. Lagi-lagi Fachri merasa terintimidasi dengan pertanyaan Steven. Menuntut dirinya agar segera memberi jawaban karena ini adalah kedua kalinya Fachri mengulur waktu.


"2 bulan tuan," jawaban itu membuat aura wajah Steven seketika berubah, tersirat rasa kecewa didalamnya. Fachri pun menyadari tindakannya mengulur waktu tentu akan berimbas pada kekecewaan. Tapi dirinya butuh waktu untuk memikirkan secara matang keputusan apa yang nantinya akan ia berikan. Dengan harapan tidak akan mengecewakan siapapun. "Tapi akan saya usahakan selesai sebelum dua bulan," sambung Fachri. Berharap itu bisa membuat rasa kecewa Steven berkurang.


Steven sendiri sebenarnya sangat mengerti posisi Fachri sekarang sangatlah sulit. Ketika Fachri bersedia menerima permintaanya, Tanggung jawabnya akan berpindah menjadi tanggung jawab Fachri. Tentu bukanlah perkara yang mudah. Tapi keyakinannya akan kemampuan Fachri membuat Steven yakin Fachrilah orang yang tepat untuk diberi sebuah tanggung jawab yang besar itu. Sementara dirinya merasa sudah gagal mengemban tanggung jawabnya sendiri.


"Saya harap waktu 2 bulan yang kamu minta bisa membuat kamu berfikir jernih. Jangan hanya karena kamu ingin balas budi lalu kamu bersedia, saya tidak akan menerima keputusan atas nama balas budi. Tapi saya juga tidak suka ada yang menentang permintaan saya."


Fachri mencoba mencerna kalimat Tuannya. Apa maksudnya dirinya tidak boleh mengambil keputusan karena ingin balas budi tapi Steven juga tidak bisa menerima penolakan. Bukankah itu artinya sama saja dengan dirinya yang mau tak mau harus menerima permintaan Steven. Harus seegois itukah seorang Steven?


"Saya yakin kamu mampu Fachri. Maafkan saya harus memaksakan kehendak saya ini." Steven pun beranjak meninggalkan Fachri yang masih berkutat dengan kediamannya. Fachri pun terkejut mendengar permintaan maaf dari seorang Steven Haidar yang selama ini terkenal tegas dan tak akan merendahkan dirinya dalam hal apa pun. Apakah demi permintaan yang memberatkan Fachri, Steven rela menurunkan harga dirinya.


Fachri benar-benar berada dalam puncak gejolak hatinya. Saat Fachri sudah mengambil keputusan, ia pun ingin itu tulus dari hatinya. Tanpa adanya pamrih.


Kemudian Fachri pun melangkah keluar dari ruangan yang sempat membuatnya sesak. Menuju halaman belakang dan duduk beralaskan rumput dibawah langit malam. Menikmati setiap desiran hembusan angin malam, merasakan setiap aliran dinginnya malam yang menyentuh kalbu. Memberikan ketenangan tersendiri bagi Fachri. Jiwanya saat ini benar-benar membutuhkan suasana yang menenangkan.


Lukisan langit malam dengan dihiasi bintang-bintang akan membuat jiwa-jiwa yang paham akan keagungan Sang Khaliq bertasbih. Seperti ikan dilaut yang akan mendoakan orang-orang yang menuntut ilmu.


Fachri mengamati indahnya malam itu dengan tasbih yang menghiasi gerakan bibirnya. Sesaat kemudian ia membayangkan bagaimana ia akan mengguncang langit Ars dengan sebuah kalimat yang akan diucapkannya dalam satu tarikan nafas. Membuat para malaikat kagum. Kagum dengan keberanian seorang anak manusia yang berani mengambil keputusan menanggung beban terberat dalam hidupnya.


Fachri menghela nafas panjang dan kemudian lantunan istighfar terdengar keluar dari suaranya.


"Bengong aja sendirian. Nggak takut awewek kecantol sama kamu Ri?"


ujar Randi yang kemudian ikut duduk disebelah Fachri.


"Nggak lah. Mana ada yang berani deket-deket aku. Yang ada mereka naksirnya sama kamu," jawab Fachri menanggapi candaan Randi.

__ADS_1


"Ya. . . ya. . . tau. Si kunti bakal takut sama orang yang ahli ibadah seperti kamu."


"Kamu salah Rand, bangsa halus seperti syetan dan sejenisnya bukan takut sama yang ahli ibadah, tapi takut sama orang-orang alim yang tentunya berilmu benar-benar memahami apa itu sebuah ilmu. Orang ahli ibadah belum tentu berilmu. Kalau dia ibadah tanpa memahami ilmu ibadah itu sendiri apa gunanya coba. Dia tidak paham apa saja syarat rukun ibadahnya itu. Sedangkan kita beribadah harus tau syarat rukunnya, harus paham apa saja yang bisa membatalkan ibadah kita. Tentu ibadah tanpa mengerti ilmunya kurang sempurna. Sebab itulah sangat penting bagi kita untuk menuntut ilmu."


"Berarti selama ini ibadah ku sia-sia dong Ri, aku kan belum paham betul ilmunya. Mana sholat juga masih bolong-bolong kayak kaos oblong."


"Jangan salah paham dulu Rand, untuk masalah itu kita kembalikan lagi kepada Allah. Hanya Allah yang berhak menilai ibadah kita. Yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan kewajiban kita."


"Iya Fachri Maulana Akbar."


Fachri pun tersenyum mendengar Randi menyebut nama lengkapnya. Nama yang merupakan sebuah doa dari kedua orang tuanya.


Sejenak kekalutan hatinya memudar, terhibur dengan obrolannya dengan Randi. Beruntung dia sudah lama kenal dengan Randi sejak Steven menjadi donatur tetap di panti asuhan tempat Fachri tinggal sebelumnya.


Kemudian Randi mengajak Fachri masuk. Dia meminta bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum Randi pahami. Fachri pun menuruti permintaan Randi, saat mereka berjalan beriringan sambil sedikit ada obrolan ringan, Randi merangkul Fachri, sedikit membuat tekanan pada luka Fachri yang tak diketahui Randi. Fachri pun menyembunyikan rasa sakitnya.


Walau bagaimanapun luka bekas pukulan yang diperolehnya tadi sore masih menyisakan rasa nyeri. Beruntung Steven tidak menyewa bodyguard bayangan untuk mengawasi Clara. Sehingga kejadian tadi sore tak ada yang mengetahui.


Hal itu membuat Fachri agar lebih waspada lagi ketika menjaga Clara.


Malam semakin larut mengantarkan ruh-ruh manusia ketempat peradunnya. Mengantarkannya kedalam alam bawah sadar manusia. Menciptakan sebuah mimpi. Alam bawah sadar manusia adalah hal yang unik. Para ilmuan tak bisa menembusnya karena itu adalah karya seni sang pencipta. Sehingga diluar jangkauan nalar manusia. Bagaimana mereka bisa masuk kealam mimpi dan melihat tayangan yang kadang-kadang terasa aneh. Kadang juga berupa gambaran emosional sang pemimpi.


"Maafkan Daddy Clara. Sampai saat ini kamu berada dalam situasi yang tak past,"ujar Steven sambil memandangi Clara yang tampak damai dalam tidurnya, tanpa berani menyentuh. Takut akan mengusik tidur putrinya.


"Daddy janji suatu saat akan membawa mereka kembali kerumah ini," sambungnya lagi sambil menatap potret istri dan putra sulungnya.


Steven mengecup pelan kening Clara lalu pergi.


***


Pagi-pagi sekali Clara sudah bangun. Ia menuju balkon kamarnya menyapa sang mentari yang masih tampak malu-malu untuk menunjukkan wajahnya pada dunia. Hanya sinar Jingganya yang mulai membuat lukisan dilangit yang tampak cerah hari itu.


Wahai sang matahari yang gagah berwibawa, sampaikan salam pada orang yang mencintaiku.


Kalimat itulah yang mengawali hari Clara, biasanya ia juga mengucapkan sebuah harapan.


Sedangkan di bawah ada Randi dan Fachri yang baru selesai berolahraga, melihat kearah Clara yang berada jauh diatas.


"Itu kebiasaan Non Clara, dia akan berdiri disana sambil mengucapkan sesuatu," ujar Randi.


"Kamu jadi saksi kisahnya Non Clara ya Rand?" sahut Fachri. Sebagai orang baru dirumah itu, baru sedikit yang ia tahu tentang Clara.

__ADS_1


"Bisa dibilang begitu, aku sudah menganggapnya seperti adik. Sifatnya yang periang tapi juga suka memberontak sunggung menggemaskan. Membuat seisi rumah terkena amarah Tuan Steven gara-gara ulahnya."


Randi tersenyum sendiri mengingat ulah Clara yang kabur malam-malam dengan membuat seisi rumah tertidur pulas.


"Tapi dengan adanya kamu non Clara tak akan bisa kabur lagi ditengah malam," lanjut Randi.


Seperti biasa Fachri hanya menyunggingkan senyuman saat dirinya tak lagi menanggapi ucapan Randi.


Mereka berdua pun masuk untuk membersihkan diri dan bersiap-siap beraktivitas.


Clara turun menapaki setiap anak tangga dengan riang, perutnya sudah tak tahan lagi untuk minta diisi. Semalam ia menahan lapar, ingin makan tapi kalah dengan rasa kantuknya belum lagi kejadian yang membuatnya lelah secara mental.


Clara duduk dimeja makan lalu mengambil roti dan mengolesi dengan selai coklat. Bik Nani pun membuatkan susu hangat.


Setelah kenyang Clara teringat pada Fachri, semalam ia lupa melihat keadaannya. Bagaimana dengan luka di tubuhnya apakah ada yang mengobati? Rasa khawatir menghampiri Clara. Kemudian ia mengambil salep dan menuju kamar Fachri yang letaknya disebelah dapur. Berjejer dengan kamar Randi dan juga para pembantu yang lain.


Tanpa mengetuk pintu Clara langsung masuk kekamar Fachri. Saat itu Fachri sedang duduk sibuk dengan laptopnya.


"Astaghfirullohal 'adzim Non Clara ngapain kesini?" tanya Fachri yang terkejut.


"Gue cuma mau lihat luka lo yang kemaren. Sekalian mau bantu ngobatin." Clara semakin mendekat kearah Fachri.


Fachri mencoba menghindar, ia bangkit dari duduknya.


"Saya tidak apa-apa Non. Sebaiknya Non keluar sekarang."


"Nggak, gue mau mastiin dulu luka lo yang kemaren. Sini coba gue lihat." Clara semakin mendekat, sedangkan Fachri tak bisa lagi menghindar. Clara mencoba meraih kaos yang dikenakannya. Membuka secara paksa karena Fachri terus menyingkirkan tangan Clara.


Clara pun tak menyerah, Fachri ingin mendorong Clara tapi saat itu akal sehatnya menolak menyakiti seorang perempuan. Terlebih lagi itu putri majikannya.


"Sini Fachri bentar doang, gue cuma pengen lihat," ujar Clara sambil terus berusaha menarik kaos Fachri keatas. Gerakan mereka terlihat seperti orang sedang berpelukan. Pada saat yang bersamaan Siti melintas lalu mendengar ribut-ribut dikamar Fachri.


"Aaaaaakkkkkkhhhhhh. . . !" teriak Siti. "Non Clara sama mas Fachri ngapain?"


Fachri dan Clara pun langsung menoleh. Terkejut ada Siti diambang pintu.


.


Hallo readers jangan lupa tinggalin jejak dikolom komentar!


Thanks for your attention!

__ADS_1


__ADS_2