
Malam itu yang terdengar adalah suara gemuruh sorak sorai para remaja yang berada diarea balapan. Bukan disirkuit balap melainkan dijalanan kawasan Arteri Pondok Indah.
Balapan ilegal itu mereka lakukan bukan untuk taruhan, tapi hanya untuk senang-senang atau sekedar pamer kemampuan dan kekayaan. Mobil yang mereka gunakan adalah deretan mobil-mobil yang tergolong mewah.
Disana terlihat gadis cantik dengan jaket kulit hitam dan rambut yang terikat dibelakang sudah siap dengan mobil sportnya.
Diseberang juga terlihat seorang pemuda dengan mobilnya yang siap menginjak gas.
Setelah seorang wanita yang berdiri diantara mobil mereka melambaikan bendera, kedua mobil itu langsung tancap gas. Kebut-kebutan pun dimulai, membelah jalanan kota Jakarta. Saat itu memang sudah tengah malam, sudah agak sepi dari lalu lalang kendaraan yang biasanya ramai.
Tak lama kemudian terlihat salah satu mobil sudah sampai finish. Keluarlah seorang gadis cantik dengan senyuman bangga.
"Clara. . . Clara. . . Clara. . . !"
Terdengar suara teriakan diiringi gemuruh tepuk tangan.
"Lo tetep the best Clara," ucap salah satu teman Clara.
Ya, gadis itu adalah Clara Stevani Olivia. Hidup yang serba kecukupan tak bisa menjamin kebahagiannya. Dia mencari pelampiasan dengan hidup bebas. Walau tak sepenuhnya bisa bebas karena sang ayah yang protectif.
Balapan salah satu hobi Clara untuk menghibur dirinya.
Terlihat seorang pemuda yang tadi ia kalahkan berjalan kearahnya.
"Hai, kenalkan saya Guntur!" sambil mengulurkan tangan pada Clara.
"Clara" jawab gadis itu dan menjabat tangan Guntur.
"Kamu hebat tadi, aku kagum sama kamu."
"Thanks udah muji gue."
Clara melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Ia pun bergegas pulang.
"Guys gue duluan ya!" pamit Clara pada teman-temannya.
Tak lupa Clara melambaikan tangannya pada Samuel, teman laki-lakinya yang berada agak jauh.
Saat hendak masuk mobil, Guntur menghampirinya.
"Clara, next time ketemu lagi ya.Ini kartu namaku."
"Ok. Next time, see you!"
Clara masuk mobil lalu memasukkan kartu nama Guntur kedalam tasnya.
Clara langsung memacu mobilnya, ia sendiri tak begitu perduli dengan laki-laki yang bernama Guntur tadi. Toh, dirinya juga sudah punya kekasih.
Disisi lain Guntur merasa malu telah dikalahkan anak SMA, mengingat dirinya yang anak kuliahan dan sudah bekerja.
"Lain kali jangan ngajak aku ketempat ini lagi, gara-gara kau memaksaku balapan, malah menurunkan harga diriku didepan wanita," ucap Guntur pada sepupunya yang bernama Samuel.
"Sorry lah kak! Kan gue cuma pengen cari tandingan buat Clara. Tapi ternyata dia memang tak terkalahkan." Samuel bersandar dimobilnya.
"Besok- besok jangan kesini lagi, apa lagi ikut balapan liar. Bahaya Sam." Guntur ngomel pada Samuel
"La kan Kak Guntur yang tadi balapan."
"Itu tadi yang maksa kamu ya, masih saja ngeles. Awas aku bilangin sama om Adam!" ancam Guntur
"Jangan dong Kak! Bisa dijantur gue sama papa."
"Makanya jangan bandel. Ayo pulang!"
Samuel dan Guntur pun beranjak pulang.
Sebenarnya Guntur bukanlah bagian dari geng balapan liar itu. Dia hanya menuruti kemauan adik sepupunya. Tapi ada untungnya juga ia ikut balapan karena bisa berkenalan dengan gadis yang menurutnya unik. Pikir Guntur.
Saat itu kebetulan Guntur sedang ada urusan di Jakarta, jadi ia menginap dirumah Samuel. Dia sendiri sebenarnya tinggal di Jogja.
Clara yang masih dalam perjalanan pulang merasa perutnya minta diisi. Jadilah ia mampir dulu kesebuah cafe.
Clara yang baru sampai didepan gerbang rumahnya celingukan melihat keadaan sekitar rumahnya. Terlihat sepi dan galap. "perasaan tadi masih nyala lampunya waktu gue pergi, pasti daddy udah pulang. Mampuslah gue." Batin Clara dalam hati.
Kemudian ia mendorong gerbang dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara terlalu berisik. Mobil pun ia parkir dihalaman lalu menutup gerbang.
Clara mencoba membuka pintu dengan hati-hati dan ternyata dikunci. Untung saja Clara selalu membawa kunci serep. Seperti seorang pencuri Clara mengendap-endap masuk dalam rumahnya.
Baru beberapa langkah Clara berjalan, lampu menyala.
__ADS_1
"Habislah gue, udah bangunin Singa tidur. Sorry lho dad. . .!"
Dalam keadaan genting masih sempat-sempatnya mengatai sang ayah.
"CLARA. . . . !" suara bentakan dari seorang Steven Haidar Mahendra menggema di ruang tamu. Namun tak mampu membangunkan orang-orang yang sudah dibius oleh Clara.
"Kenapa kamu tidak berubah Clara?" suara Steven menggema lagi.
"Clara bukan hulk yang bisa berubah Dad." Clara hanya berani membantah dengan suara kebatinan. Tapi kalau hulk kok kedengerannya agak ngeri ya.
"Apa yang kamu dapat dari sana? Apa pantas anak gadis kluyuran malam -malam. Jaga harga diri kamu Clara!"
"Aku dapat teman disana Dad. Aku bisa terbebas dari beban walau sesaat."
Clara mulai berani mengeluarkan suara.
"Tapi mereka bukan teman yang baik untuk kamu."
"Setidaknya Clara punya teman Dad. Clara bosan dengan semua ini. Daddy selalu sibuk. Randi yang biasanya jadi teman Clara juga sibuk karena Daddy. Clara harus bagaimana Dad?"
Steven terdiam mendengar keluhan putrinya. Ada rasa bersalah dihatinya.
"Mama dan kakak juga pergi, salah Clara apa Daddy sampai semuanya jadi seperti ini. Clara harus kesepian setiap hari tanpa mereka."
Dengan air mata yang hampir mengalir Clara menaiki tangga menuju kamarnya.
Ingatan masa lalu saat orang yang ia sayangi meninggalkanya kembali terbayang.
Steven masih terdiam, ia tak bisa menjelaskan pada Clara alasan istrinya pergi dari rumah dengan membawa kakaknya. Sejak kejadian itu Clara menjadi susah diatur, pergaulannya mulai tak terkendali.
Steven menyusul putrinya kekamar, Clara sedang menangis sambil memeluk boneka singa yang berukuran besar. Steven pun duduk disamping Clara.
"Kamu tidak boleh cengeng Clara. Kamu harus kuat seperti singa, dia kuat, pemberani, tak terkalahkan. Dia juga tidak mudah tertipu dan bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Kamu harus mempunyai mental yang kuat." Filosofi tentang singa adalah prinsip hidup Steven dalam dunia bisnis.
"Hidup bersama Daddy itu kejam Clara. Banyak persaingan dalam hidup Daddy, siapa yang kuat dia akan bertahan dan yang lemah akan tersingkirkan."
Steven berharap putrinya menjadi wanita yang tegar. Ia bingung harus bagaimana menghadapi anak perempuan yang berada dalam keluarga yang tidak utuh.
Clara yang tadi menangis kini mulai berhenti dan memeluk ayahnya.
"Maafin Clara yang selalu menyusahkan daddy," ucap Clara dengan rasa penyesalannya.
Clara melepas pelukannya dan menatap ayahnya dengan penuh kasih sayang.
"Daddy adalah ayah terbaik, Clara sayang banget sama Daddy."
Steven mencubit gemas pipi putrinya. Kemudian memberi kecupan lembut di kening Clara.
Steven meminta penjelasan Clara tentang apa yang dilakukannya pada semua orang yang ada dirumah. Clara pun menceritakannya.
Steven berpikir buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Dirinya pun teringat dengan sosok sahabat yang dulu suka menjahilinya. Namun, sahabatnya itu kini sudah berpulang. Ada rasa kehilangan yang sangat mendalam dalam diri seorang Steven.
"Kamu tidur sekarang. Selamat pagi!" Sekali lagi Steven mengecup kening Clara.
Sementara Clara tampak heran. "Kok selamat pagi Dad?"
"Apa Daddy harus bilang selamat malam? Lihat jam berapa sekarang!"
Clara melihat jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Clara hanya tersenyum tipis saat tahu hari memang menjelang fajar. Steven pun meninggalkan kamar putrinya.
Clara membasuh mukanya terlebih dahulu sebelum akhirnya berlayar kedunia kapuk.
~*~
06.00
"CLARAAAAA. . . RANDIIIIII. . . . !"
Teriakan Steven seolah-olah sedang memanggil kedua putra putrinya.
Sontak saja suaranya menggema diruang tamu. Menggelegar seperti guntur.
Akibat ulah Clara semalam, pagi itu semua orang terlambat bangun.
Clara yang terkejut mendengar teriakan ayahnya reflek langsung bangun dan berlari menuruni tangga. Begitu juga Randi, ia kaget sampai loncat jatuh dari tempat tidur. Sesegera mungkin ia bangun dan bergegas keluar kamar dengan menahan sakit di pinggang.
Bahkan bik Nani pun ikut panik, 2 satpam diluar pun begitu. Mereka segera masuk kedalam rumah.
Mungkin Steven memasang spiker diruang tamu, sehingga semua orang bisa panik mendengar teriakannya.
__ADS_1
"Ada apa sih Dad?" Clara datang sambil menguap, rambutnya yang terurai terlihat acak-acakan.
"Ya tuan saya disini," ujar Randi yang baru datang dengan penampilan tak kalah kacaunya dari Clara.
2 satpam berdiri sambil menundukkan kepala, begitu juga bik Nani.
"Clara bangun! Jangan tidur lagi!" bentak Steven saat melihat Clara memejamkan mata bersandar di sofa.
"Gue kira singanya udah jinak tadi malam ternyata masih sama." Lagi-lagi Clara mengatai ayahnya dengan ilmu kebatinan.
"Hari ini akan ada pemuda yang menjadi bodyguard kamu Clara, tidak ada penolakan untuk kali ini."
Clara hanya bisa mendengus kesal mendengarnya.
"Dan kamu Randi saya tunggu 20 menit lagi. Antar saya kepanti. Cepat kamu siap-siap!" Suara Steven yang tegas seperti sedang menertibkan pasukan tempur. Tidak ada yang berani membantah.
Randi pun bergegas pergi untuk bersiap-siap.
"Kalian berdua lain kali harus lebih waspada. Clara punya banyak cara untuk mengecoh kalian. Sekarang kembali bekerja." Steven berbicara pada kedua security yang dari tadi berdiri mematung.
"Baik tuan, siap 86," ucap 2 security serempak dengan nada tegasnya.
Mereka berdua segera keluar.
"Hari ini tuan terlihat menakutkan." Gumam salah satu diantara mereka.
"Lebih baik kita diam dari pada terkena masalah."
Keduanya pun bergantian untuk membersihkan diri.
"Bik, nanti siapkan kamar untuk Fachri."
"Baik tuan,saya permisi." Bik Nani segera undur diri.
"Clara mulai hari ini kamu tidak perlu ikut Andi kekantor. Daddy tidak akan memaksa kamu untuk belajar bisnis," ucap Steven sambil meraih koran dimeja.
Sebelumnya, setiap hari minggu Clara harus ikut Andi sekretaris ayahnya untuk kekantor. Steven tahu terlalu dini bagi Clara untuk tahu masalah bisnis, tapi dengan kelebihan Clara yang diatas rata-rata pasti putrinya mampu.
Setelah kejadian semalam membuat Steven kembali berfikir. Clara butuh melewati masa remajanya dengan tenang.
"Terimakasih Daddy." Clara memeluk ayahnya.
"Tapi kamu harus jadi anak baik dan kamu harus nurut sama Fachri. Kemanapun kamu pergi harus ada Fachri."
"Iya Dad. Clara akan patuh," jawab Clara dengan malas.
"Anak manis! Cepat mandi!" Steven mengusap kepala putrinya dengan gemas.
Clara melepas pelukannya lalu kembali kekamar.
Tak lama kemudian Randi sudah siap, Steven pun bangkit dari duduknya. Mereka berdua berangkat ke panti asuhan.
Sudah rutinitas Steven setiap hari minggu ia sempatkan pergi ke panti dan menjadi donatur tetap.
Di panti itulah tempat Fachri tinggal. Orang yang akan di minta Steven untuk menjaga putrinya. Mereka berdua berbincang sejenak. Lalu menyuruh Fachri untuk datang kerumah lebih dulu.
Setelah membersihkan diri Clara kebalkon, berdiri sambil menatap mentari yang mulai bersinar dan menikmati udara pagi. Seperti biasa Clara akan mengucapkan sebuah harapan.
"Tuhan aku mohon buatlah mama dan kakak kembali. Aku ingin cinta mama."
Clara membuka matanya yang tadi terpejam. Merasa ada yang ingin diucapkannya lagi Clara menutup mata lagi.
"Tuhan kalau mama tidak mau kembali, berikan aku mama baru yang mau mencintaiku dengan tulus."
Hari itu harapan Clara terdengar agak nyleneh, bagaimana bisa ia berfikir untuk punya mama baru.
Clara membuka mata dan kembali menikmati hembusan angin. Entah sejak kapan Clara suka menyambut terbitnya mentari dengan mengucapkan sebuah harapan. Mungkin sejak ia merasa seseorang yang ia sebut mama tidak memberikan cinta untuknya. Berbagai pertanyaan mulai muncul dalam pikirannya, tapi jawaban juga tidak didapatkanya.
Mengucapkan harapan dipagi hari saat matahari terbit, saat matahari mulai tenggelam pun Clara akan melakukan hal yang sama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersyukurlah kalian yang masih bisa merasakan cinta dari seorang ibu.