ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Narkoba


__ADS_3

"Nin pulang bareng gue yuk?" ajak Samuel. Saat itu dirinya dan Anin sedang berjalan menuju parkiran.


"Kebetulan banget Sam, jemputan gue hari ini ngadat," ujar Anin.


"Kayak sinyal aja pake ngadat segala," seru Samuel.


"Orang dirumah pada sibuk Sam. Padahal juga akhir pekan, sopir juga lagi cuti. Gue aja tadi berangkat harus pesen ojol," ujar Anin sambil mengamati jalan.


Mereka berdua sudah berada disamping mobil milik Samuel.


Selang beberapa saat kemudian datang Clara dan Aldi.


"Ciiiieeeeeee berduaan aja nich! PJ nya jangan lupa ya!" Goda Clara.


"PJ apaan sich Ra. Belum juga nembak," jawab Samuel.


Anin yang tau candaan itu ditujukan untuk dirinya merasa malu. Bagaimana bisa Samuel berterus terang begitu, padahal jelas-jelas Anin disampingnya.


"Tuch Nin Samuel udah ngasih kode, jangan sampek Lo nolak. Kasian dia baru kali ini mau nembak cewek.Sebelumnya dia duluan yang ditembak tapi tak ada yang diterima," sahut Aldi.


"Apa an sich Lo Al, jangan malu-maluin gue di depan Anin. Bisa ilfil nanti dia."


Clara dan Aldi hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya yang mulai pendekatan. Samuel memang belum pernah pacaran sebelumnya. Walau dia orang yang supel dan gampang bergaul, tapi tak pernah ia menerima cinta dari cewek yang lebih dulu menyatakan perasaan pada dirinya.


"Ayo Nin kita duluan, jangan dengerin ocehan mereka berdua."


Samuel pun menggandeng Anin masuk mobilnya.


Clara juga pamit pada Aldi lalu menuju kearah Fachri yang sudah menunggunya.Mereka pun pulang kerumah masing-masing.


Anin yang berada dimobil berdua dengan Samuel, merasa canggung. Ucapan Samuel tadi cukup membuatnya tak nyaman.


"Tumben Nin diem aja, biasanya juga nyerocos mulu ngalahin burung beo,"


ujar Samuel mencairkan suasana.


" Gue nggak apa-apa, lagi males ngomong aja," jawab Anin.


"Untung cuma males ngomong, bukan males nafas," goda samuel lagi.


"Mati dong Sam," ujar Anin yang masih menunjukkan ekspresi datar.


Samuel pun tersenyum sambil fokus menyetir. Anin tampak memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.


Suasana menjadi hening sejenak. Samuel ingin mengungkapkan sesuatu tapi ia ragu, tak yakin dengan apa yang akan ia ungkapkan.


"Nin!"


"Apa?"


"Jadiin gue cowok Lo!" ujar Samuel dengan jelas. Tapi ada nada kegugupan yang tersirat.


Anin langsung membelalakkan matanya.


Gila nich bocah niat nembak apa kagak sebenarnya, seenggaknya kan bilang "Anin aku suka sama kamu, mau nggak jadi pacar aku?" Nembak ceweknya di tempat yang romantis, pake dong puisi-puisi yang romantis juga, ini malah nggak ada romantis-romantisnya . Hati Anin mengomel sendiri.


"Gimana Nin?" tanya Samuel melihat Anin tampak diam.


Kenapa gue jadi bodoh gini?Ucapan gue tadi memang tidak tepat untuk mewakili perasaan gue. Maaf Gue bukan cowok romantis Anin. Gumam hati Samuel.


" Lo tuch ya nembak cewek yang romantis dikit napa, ngasih bunga mawar kek sama coklat terus nembaknya di tempat romantis. Ngungkapinnya juga pake kalimat yang romantis. Biar ceweknya terkesan. Nggak pake Lo Gue kayak gini," ucap Anin yang akhirnya buka suara dan mulai keluar mulut beonya.


"Hahahaha!" Samuel malah tertawa mendengar Anin yang mulai mengoceh. Entah kenapa saat Anin seperti itu sungguh lucu bagi Samuel.


"Ketawa aja terus, sampek lalat penuh dimulut Lo!" gerutu Anin.

__ADS_1


"Anindita Rahmawati Ayuningtyas. Dimobil gue nggak ada lalat."


"Eh. . . nama gue Anindita Rahma doang Ya. Samuel Waloyo putro."


"Eh. . . Busyet nama gue kenapa jadi gitu."


"Salah Lo sendiri seenak mulut Lo nambahin nama gue."


"Nama gue itu keren ya, Samuel Adhitama," protes Samuel.


"Ini kenapa malah kita jadi debat nama, kan ceritanya tadi gue nembak Lo Nin."


"Nembak apaan kayak tadi, yang ada cewek yang Lo tembak kabur." Anin mulai sewot sambil melipat tangannya bersedekap.


"Sorry Anin, Gue nggak bisa jadi cowok yang romantis. Jadi gimana ini jawaban Lo?" ujar Samuel sambil sesekali menoleh kearah Anin. Tangannya masih fokus memegang kendali mobil.


"Nunggu Lo lulus dulu, baru gue jawab."


"Kelamaan Anin." Samuel ingin protes.


"Terserah gue dong."


"Jangan di tolak ya Nin!"


"Ngarep banget sih Lo!"


Tak terasa mereka sudah sampai didepan rumah Anin.


Samuel hendak ikut turun tapi dicegah Anin.


"Nggak usah bukain pintu gue bisa buka sendiri."


"Emang dasar ya cewek bar-bar."


Acara tembak menembak malah jadi perdebatan keduanya, tapi itulah Samuel dan Anin.


"Lo tanya aja sama hati gue, gue aja heran kenapa sukanya cewek kayak Lo."


Anin pun keluar dari mobil Samuel.


"By the way thanks ya," ucap Anin sambil membungkuk didepan jendela mobil, kemudian merogoh sakunya. "Bang ini ongkosnya, saya cuma punya segini. Lumayan buat beli es goyang dijalan".


Anin menyodorkan uang lima ribuan pada Samuel.


"Nggak usah Neng , saya ikhlas, uangnya buat neng beli permen aja," jawab Samuel persis seperti tukang taksi.


Suara tawa ringan pun terdengar dari Anin, sedang Samuel hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala setelah dramanya bersama Anin. Lalu ia memutar mobil dan melenggang pergi. Dari kaca spion terlihat Anin melambaikan tangan sambil menyunggingkan senyum, Samuel pun ikut tersenyum. Lama semakin lama Anin hilang dari pandangan kaca spionnya.


***


"Ri cari minum dulu yuk, cari yang adem-adem. Panas banget hari ini," ucap Clara saat dalam perjalanan pulang.


"Baik Non, terserah saya ya tempatnya," pinta Fachri.


"Iya asal yang nyaman tempatnya, gue nggak biasa kalau yang dipinggir trotoar, takut pas enak-enak makan Satpol PP dateng."


"Ini tempatnya nyaman kok Non."


Tak lama kemudian mereka sudah ada di depan sebuah rumah makan. Tempat itu bernuansa klasik, ala-ala rumah makan kampung. Bahan bangunannya terbuat dari bambu. Dengan tempat duduk lesehan.


Disekitar tempat duduk terdapat kolam kecil berisi ikan hias dan sebuah air terjun buatan berukuran mini.


Fachri mengajak Clara duduk ditempat paling ujung agar dapat menikmati pemandangan sederhana itu dari dekat.


"Non mau pesen apa? Disisni minumannya yang special ada Es Koplak dan Es Birunya Cinta," ujar Fachri.

__ADS_1


Clara yang mendengar nama aneh itu mengernyitkan dahi. Ada-ada saja nama-nyeleneh seperti itu. Baru kali ini ia tahu ada Es Koplak. Jangan-Jangan pemilik tempat ini orangnya rada-rada setengah. Pikir Clara.


Kalau Es birunya cinta, mungkin yang buat terinspirasi dari lagu dangdut atau yang buat lagi kasmaran.


"Pesen dua-duanya aja Ri, gue penasaran," jawab Clara.


"Sekalian pesen makan atau tidak Non?" tanya Fachri lagi.


"Nggak usah Ri, gue minum aja."


Lalu Fachri memanggil seorang pelayan.


"Mau pesan apa mas?" tanya pelayan itu ramah.


"Es koplak satu, Es birunya cinta satu, sama paket Narkoba satu, tapi nggak usak pake kopi ya mbak, ganti sama es teh saja."


Pelayan itu mencatat semua pesanan Fachri, lalu permisi pergi.


Clara yang tadi mendengar Fachri memesan paket Narkoba sangat terkejut, Apa Fachri seorang pemakai? Jangan-jangan tempat ini sarang pengedar. Dan Fachri yang selama ini terlihat alim apa mungkin hanya sebuah manipulasi semata. Bagaimana kalau itu benar, dirinya juga akan terlibat masalah. Pikiran Clara jadi kemana-mana.


"Jangan salah paham dulu Non, Narkobanya aman kok."


Fachri mencoba menenangkan Clara yang tampak kaget dengan sesuatu yang ia pesan.


"Ini bukan sarang mafia kan Ri? Gue kok jadi ngeri denger Lo pesen paket Narkoba."


"Bukan Non, lihat saja orang-orang disini mereka juga nyantai aja," ujar Fachri sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling.


Clara juga memperhatikan sekelilingnya, terlihat wajar dan tak ada yang mecurigakan.


Tak lama pun pesanan mereka datang, pelayan meletakkan satu persatu isi nampannya.


" Selamat menikmati Mas Mbak," ucap pelayan itu dengan sopan lalu pergi.


Clara masih mengamati makanan dan minuman yang baru diantar. Semua terlihat biasa, tak seperti namanya yang unik. Es koplak yang berwarna merah dan perpaduan isinya lebih mirip es campur. Ntah apa yang membuat namanya Koplak. Semoga saja dirinya tidak ikutan koplak setelah meminum es itu. Kemudian Es Birunya Cinta yang tentu berwarna biru dan berbagai topping didalamnya.


Pandangan Clara beralih pada tempat makan yang ada didepan Fachri. Wadahnya terbuat dari ayaman bambu yang berbentuk persegi. Clara pun semakin penasaran karena tak bisa melihat isinya.


"Nah ini Non paket Narkobanya." Fachri pun membuka tutup wadah makanannya.


"Nasi Rames Kopi dan Bakwan," ucap Fachri kemudian. Membuat Clara membelalak kan mata. Ternyata yang dimaksud Narkoba itu singkatan dari menu makanan. Dikiranya Narkoba obat terlarang.


"Dan karena saya tidak suka kopi, saya minta ganti sama teh," sambung Fachri.


"Ini yang buat menu kagak diringkus sama petugas? Namanya serem gini."


"Ya tidak lah Non, kan rumah makan ini sudah dapat izin."


Lalu Clara pun mulai mencicipi satu persatu es yang tadi jadi pilihannya. Cukup cocok dilidahnya dan cocok saat cuaca sedang terik seperti siang itu.


Fachri juga menikmati makanannya, Clara memperhatikan Fachri yang makan dengan lahap. Ingin juga ia mencoba nasi rames yang belum pernah ia makan.


"Fachri gue ikut nyobain makanan Lo dong!" pinta Clara.


" Saya pesenin sendiri saja Non, jangan bekas saya."


"Gue mau nyobain doang Fachri."


Fachri kemudian mengiyakan permintaan Clara, ia mengambil sendok baru dan memberikan pada Clara.


Satu sendok masuk, Clara merasa ketagihan lalu masuk lagi satu sendok, lagi dan lagi. Sampai makanan habis, ternyata Clara dan Fachri makan satu piring berdua. Entah mengapa Fachri tak menolak keadaan itu. Mungkinkah dia memang sengaja melakukan pendekatan pada Clara atau memang jiwa normalnya tak bisa mengelak dari pesona Clara.


Clara sendiri merasa mendapat kenyamanan yang berbeda dari Fachri, tapi Clara mencoba menghianati hatinya sendiri, menampik perasaan yang entah kapan mulai tumbuh di hatinya. Karena ia sadar masih ada Aldi yang saat ini menjadi kekasihnya.


Setelah keduanya selesai, Clara menuju kasir membayar semua makanan yang dipesan tadi, lalu Clara juga memesan es Koplak untuk orang-orang dirumah. Mereka pun pulang dengan membawa beberapa bungkus Es koplak.

__ADS_1


__ADS_2