
Pagi itu suara merdu lantunan kalam membangunkan Clara dari tidur panjangnya semalam. Sudah beberapa kali Fachri berusaha membangunkan Clara, tapi gadis itu tak kunjung bangun. Akhirnya ia membiarkan Clara bangun dengan sendirinya. Mengubah kebiasaan seseorang memang tak semudah membalik jagung bakar diatas tungku.
Clara mengerjapkan matanya, menetralisir cahaya lampu kamar. Fachri sedang khusyuk dengan bacaan kalam yang terdengar mendayu-dayu merdu.
Jam menunjukkan bahwa waktu shubuh sudah lewat 30 menit yang lalu. Clara segera kekamar mandi mengambil air wudlu.
Setelah selesai dengan sholat shubuhnya. Clara mendekati Fachri.
"Setiap pagi kamu membaca surat yang berbeda-beda. Hari ini surat apa yang kamu baca?" Tanya Clara setelah Fachri menyelesaikan bacaannya.
Fachri menutup Al Qur'an yang tadi ia baca. "Hari ini aku baca surat Al Waqiah. Kamu pasti ingin tahu kenapa setiap pagi baca surat yang berbeda." Ucapnya kemudian.
"Kenapa coba?" Clara merasa penasaran dan ingin tahu kebiasaan yang Fachri lakukan setiap pagi.
"Dari dulu aku memang terbiasa membaca tujuh surat dalam satu minggu yaitu Surat As Sajadah, Surat Ad Dukhon, Surat Al Fath, Surat Yasiin, Surat Al Waqiah, Surat Al Kahfi dan Surat Al Mulk. Itu amalan yang diajarkan oleh Ustadzku." ujar Fachri menjelaskan.
"Dia Ustadz kamu dikampus Ri?"
"Bukan. Beliau ustadz yang mengajar waktu aku masih SMA."
"Sebenarnya banyak versi lain amalan surat yang dibaca setiap hari. Seperti Surat Al Muzammil, Surat Ar Rahman, Surat Al Jin dan bahkan Surat Al Baqoroh yang di bagi-bagi ayatnya untuk dibaca setiap hari. Karena pada dasarnya semua surat yang ada dalam Al Qur'an memiliki hikmah yang tersembunyi. Dan untuk masalah amalan-amalan tadi semuanya tergantung kemantapan hati masing-masing."
Clara hanya mengangguk mengerti.
"Dan satu lagi kalau bisa setiap malam kamu rutin baca Surat Yasiin." Imbuh Fachri.
"Berat Fachri. Aku aja belum lancar baca Al Qur'an." Tangan Clara melipat mukenanya.
"Pelan-pelan Shafa Fikriyatuz Zahra.Awalnya memang berat. Tapi kalau sudah biasa pasti terasa ringan. Nanti kita belajar bareng-bareng." ucap Fachri lembut.
Clara menghentikan aktifitas tangannya yang sedang merapikan mukena. "Tunggu dulu Fachri. Siapa Shafa Fikriyatuz Zahra? Kenapa kamu nyebut nama itu?" Selidik Clara karena mendengar nama asing yang disebut Fachri.
"Ya kamu lah. Kan disini cuma ada kamu." Fachri mencubit gemas hidung gadis didepannya.
"Bohong" Clara tak percaya. "Itu pasti nama kekasih kamu ya?"
"Iya benar, itu nama kekasihku." Jawab Fachri enteng.
"Fachri. . .!" Teriak Clara jengkel. Dia memukul lengan Fachri.
"Kekasihku itu kamu Shafa."
"Namaku Clara bukan Shafa." Clara cemberut masih kesal.
"Tapi aku suka manggil kamu dengan nama itu. Lebih cantik, cocok dengan kamu yang cantik imut dan punya pikiran yang cemerlang." Ujar Fachri. Tangannya menguyel kedua pipi gadisnya, ditambah kecupan dipuncak kepala.
"Kamu mau ganti nama aku Ri?"
Fachri hanya tersenyum gemas dengan gadis dihadapannya. Ia tak tahu kalau Shafa Fikriyatuz Zahra adalah nama dirinya yang sebenarnya.
"Izinkan aku memanggilmu dengan nama Shafa. Hanya saat kita berdua, aku memanggilmu dengan nama itu." Pinta Fachri.
Clara diam sebentar, mencerna perkataan Fachri. "Baiklah. Nama itu juga terdengar bagus."
"Sekarang kamu mandi dan siap-siap kesekolah."
Clara pun segera melakukan apa yang dikatakan Fachri. Setelah itu ia berdiri dibalkon atas. Karena dibalkon kamarnya hanya bisa melihat matahari terbenam. Disana Clara memandang mentari yang masih mengintip malu-malu untuk keluar. Melukiskan cahaya jingga yang memanjakan mata. Itulah waktu favoritnya. Sudah lama ia tak menatap langit jingga.
Sejak kehadiran Fachri dihidupnya. Ia lupa dengan kebiasaannya. Karena Fachri seperti membawa cinta bagi dirinya. Ya, walaupun ungkapan "Cinta" tak pernah terucap oleh Fachri.
Tapi perhatian dan kasih sayang yang Fachri berikan lebih dari cukup untuk menjelaskan kata Cinta itu sendiri.
"Aku dari tadi mencarimu. Ternyata kamu ada disini Fa." Suara Fachri membuyarkan lamunan Clara. Tentu dengan panggilan yang ia sebutkan tadi.
Clara hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap sang mentari. "Aku hanya merindukan cahaya pagiku. Jadi aku kesini untuk menyapanya."
Fachri mendekat ikut berdiri disamping Clara.
"Langit jingga akan lebih indah saat sore hari." Ucapnya kemudian.
"Keindahan itu akan tertelan oleh gelapnya malam." Ucap Clara tanpa menatap laki-laki disampingnya.
"Dan warna jingga pagi hari pun akan tertelan oleh terangnya mentari itu sendiri."
Clara menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih menyejukkan. "Dulu aku sering melakukan ini bersama kakak." Clara memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan dulu aku juga merasa kalau mama tidak pernah menyayangiku. Tapi setelah beberapa waktu lalu bertemu mama lagi. Aku baru merasakan kasih sayangnya. Dia memelukku dengan tulus, untuk pertama kalinya diriku melihat air mata mama. Entah air mata apa itu? aku tak mengerti." Clara menunduk menggelengkan kepala setelah mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
"Apakah kau tau Fachri air mata apa itu?" Tanyanya pada laki-laki disampingnya.
Fachri memperhatikan sejenak wajah Clara yang masih tertunduk. Seperti menahan air matanya agar tidak keluar.
"Itu adalah air mata cinta dari seorang ibu untuk anaknya. Tak ada ibu yang tidak mencintai anaknya."
"Mungkin kau benar Fachri. Itu yang selalu dikatakan oleh Bik Nani saat aku bertanya kenapa mama seperti tidak pernah menyayangiku. Bik Nani bilang mama selalu menyayangiku. Hanya mungkin caranya saja yang berbeda." Clara menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tak tahu itu benar atau tidak. Karena dari kesan yang aku dapat, tak pernah ada cinta mama saat itu."
"Kita tak pernah tau isi hati seseorang Shafa. Bisa saja apa yang kita lihat berbanding terbalik dengan kenyataan. Kita tak bisa menilai hanya dengan memandang satu sisi saja. Lihat dari sisi yang tak tampak dari mata kita, gunakan perasaan dan hati. Maka kau akan melihat cinta yang tersembunyi disana. Seorang ibu selalu punya cinta yang tak ingin ia tonjolkan pada anaknya. Ia ingin melihat anak-anaknya bisa mandiri. Ia tak ingin anaknya bergantung terus pada cintanya. Karena ia tahu suatu saat harus melepaskan genggamannya. Agar anaknya berjuang sendiri melawan kerasnya dunia. Seorang ibu tetap memberikan dukungannya dibelakang layar dengan untaian do'a."
Fachri mencoba menjelaskan apa yang ia tahu. Karena ia juga merasakan hidup tanpa kedua orang tua sejak kelas 2 SMA.
Clara sendiri menatap kearah Fachri dengan tatapan dalam. Apa yang ia rasakan selama ini adalah salah? Apakah selama ini ia hanya salah sangka terhadap perlakuan ibunya?
"Dan kemarin kau sudah mendapat jawaban saat mama memelukmu dengan penuh kasih sayang. Kau sudah mendapatkan air mata cinta seorang ibu Shafa. Jangan berperasangka buruk lagi." Tangan Fachri mengenggam jemari Clara. Memberikan semangat dan dukungan.
Lalu keduanya menatap lagi mentari dihadapan mereka yang sudah mulai meninggi. Ada hembusan sejuk semilir angin pagi. Membawa semua keraguan pergi.
"Kamu benar Fachri. Aku sudah melihat Cinta itu." Ucap Clara sambil memejamkan mata.
Untuk sejenak keduanya menikmati indahnya suasana pagi itu. Melepaskan penat walau hanya sesaat. Merefresh lagi pikiran dan hati agar jernih kembali.
Sambil berjalan melewati setiap lorong kamar yang ada, Clara menjelaskan pada Fachri. Bahwa yang paling ujung dekat dengan balkon atas adalah kamar kakaknya dan yang paling ujung disebelah kamarnya adalah kamar ibu dan ayahnya dulu. Tapi semenjak 4 tahun yang lalu ayahnya memutuskan pindah kekamar bawah.
Jadilah Clara sendiri yang ada dilantai atas sekarang.
Fachri membantu Clara menyiapkan segala keperluan sekolah. Kemudian mereka berdua sarapan bersama dan berangkat sekolah.
Seperti biasa Fachri bepesan agar Clara tidak pergi kemana-mana sebelum ia datang. Karena Fachri juga sibuk dengan skripsi dan urusan kantor ayahnya.
Clara hanya menjawab "iya" saat Fachri menyampaikan pesan dan nasihat yang terdengar berlebihan baginya.
Apa lagi saat Fachri menunjukkan ada dua orang diujung gerbang yang akan selalu mengawasi dan menjaganya dari jarak jauh.
"Astaga Fachri. . .! Aku sudah seperti tahanan kota saja. Ini berlebihan Fachri, kau tahu aku paling tidak suka hal seperti ini." Gerutu Clara.
"Semua demi kebaikan kamu Shafa. Untuk meminimalisir kejadian yang tidak terduga seperti kemarin." Terang Fachri, agar Clara memahami kekawatiran orang-orang yang menyayanginya.
"Kau masih ingat saja memanggilku dengan nama Shafa."
"Ok. . . Ok. . .! Terserah kau saja Akbar." Ucap Clara yang masih menyandarkan tubuhnya dimobil seperti Fachri.
Fachri pun tersenyum mendengar Clara menyebutkan nama belakangnya.
Kemudian Clara pamit masuk kelas saat Anin melambaikan tangan. Mengajak untuk segera masuk.
Pelajaran berlalu seperti biasanya. Dengan sedikit candaan Anin membuat kejenuhan memudar. Keduanya memang siswi yang jenius sama-sama menempuh pendidikan singkat. Walaupun harus menerima resiko mendapat tugas yang menumpuk, mereka tetap semangat.
******
"Nin pulang sekolah kerumah Samuel yuk." Ajak Clara. Kini ia sudah berada dikantin bersama Anin.
Anin tampak cuek mendengar ajakan Clara. "Ngapain?" Tanyanya singkat.
"Lo kagak kangen tuch sama Samuel?"
"Nggak lah ya. Gue biasa aja." Jawab Anin sekenanya. Ia meminum jus yang sudah ada dimeja.
"Kejam ya Lo. Cuek amat sama calon laki." Seru Clara.
"Dih, calon laki apaan. Jadian aja belum." Anin berkilah.
"Makanya cepetan terima cintanya Samuel. Kasian dia, Lo gantung terus kayak ikan asin"
"Ikan asin mah dijemur Clara."
"Yang penting ntar pulang sekolah kita kerumah Samuel. Sekalian biar Lo kenal sama calon mertua." Ucap Clara kekeh. Lalu beranjak meninggalkan meja kantin.
Dengan menggerutu kesal Anin mengikuti langkah sahabatnya. Berkali-kali ia bilang tidak mau ikut kerumah Samuel tapi Clara tetap memaksa.
Akhirnya saat pulang sekolah, terpaksa Anin ikut mobil sahabatnya. Clara sendiri juga harus membujuk Fachri agar mengizinkan dirinya berkunjung kerumah Samuel. Setelah melalui perdebatan yang cukup membuat Anin pusing mendengarnya, Fachri memberi izin.
Clara memang gadis keras kepala. Eh, ralat. Lebih tepatnya punya pendirian yang teguh.
Dalam perjalanan Clara mengirim pesan pada Samuel bahwa dirinya dan Anin akan datang.
__ADS_1
Clara : Sam, gue sama Anin mau datang kerumah
Tentu saja yang mendapat pesan itu terlihat sangat panik. Karena sebenarnya nomor yang dihubungi Clara lewat Wa bukanlah Samuel tapi Guntur.
Untungnya hari itu Guntur sedang ada dirumah, karena urusannya dikantor Steven hanya setengah hari. Jadi dia bisa meminta Samuel untuk membalas pesan Clara.
"Syukurin Lo kak. Makanya ngaku sama Clara kalau yang selama ini chatan sama dia itu Guntur bukan Samuel." Ujar Samuel mengumpat kakak sepupunya. "Kalau begini gue kan yang ikut repot." Gerutunya lagi sambil mengetikkan balasan diponsel Guntur.
"Aku sudah 2 hari tidak lagi menghubunginya. Siapa yang mengira kalau dia akan datang kesini. Kamu bawa saja dulu ponselku. Ada pekerjaan yang masih harus kukerjakan." Guntur pun pergi dari hadapan Samuel, kembali pada layar laptop yang tadi ia tinggalkan begitu saja.
Samuel : Kerumah siapa?
Clara : Ya kerumah elo lah Samson
Samuel : Busyet. . .! Mau ngapain Lo Rara Jonggrang kerumah gue
Clara : Sejak kapan nama gue jadi Rara Jonggrang?
Samuel : La elo sendiri, sejak kapan nama gue jadi Samson
Clara : Ya ya maaf, tombol ponsel gue khilaf
Samuel : Kayak tukang las aja Lo Ra. Sukanya ngeles
Clara : Yang biasanya ngelesin itu guru privat Sam. Pokoknya gue sama Anin datang kerumah Lo. Ok
Samuel : Terserah
Clara hanya cengar cengir setelah saling kirim pesan dengan Samuel.
Tapi kemudian dia mengernyitkan kening karena merasa ada yang aneh. Biasanya Samuel memakai bahasa formal saat bertukar pesan. Tapi kali ini, seperti ketika berhadapan langsung. Samuel memakai bahasa nyablaknya.
Anin yang melihat tingkah sahabatnya tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Lagi belajar pantonim Ra. Muka bisa berubah-ubah gitu ekspresinya."
"Apaan sih Lo Nin?" Clara memasukkan ponselnya kedalam tas. "Eh Nin, biasanya Samuel kalau chatan sama Lo gimana?" Tanyanya kemudian.
"Ya nggak gimana-gimana Ra."
"Maksudnya bahasanya gimana Anin?" Clara mempertegas pertanyaannya.
Anin mendelik heran mendengar pertanyaan Clara. "Ya kayak biasanya Ra. Pake Lo Gue trus sama candaan konyolnya seperti biasa waktu kita ketemu disekolah."
"Oh" Hanya kata itu yang keluar dari Clara.
Anin semakin penasaran. "Kenapa sih Lo nanya-nanya soal Samuel?"
"Cuma pengen tau aja sih." Jawab Clara sambil mengalihkan pandangan kedepan. Melihat Fachri yang sedang fokus menyetir.
"Atau jangan-jangan Lo ada rasa ya sama Samuel?" Ujar Anin menebak sambil cengengesan. Ia hanya ingin menjahili sahabatnya.
Sontak saja Clara merasa kaget sekali. Dari mana pertanyaan bodoh itu bisa keluar dari mulut Anin. Apalagi ada Fachri.
"Atau kita bisa tukeran nich Ra. Lo sama Samuel, gue sama abang Fachri." Anin melanjutkan kejahilannya.
Clara semakin terlihat panik gara-gara Anin. Sedangkan Fachri hanya melotot sambil melihat kaca yang memantulkan wajah Clara.
Anin malah tertawa puas melihat reaksi sahabatnya.
Clara juga bisa melihat ekspresi wajah Fachri yang sudah berubah.
"Emang udah gila ya Lo Nin. Lo kira barang apa bisa dituker-tuker." Seru Clara. Nada bicaranya mulai menunjukkan kekesalan. "Kamu jangan dengerin ucapan Anin, Ri." Ucapnya lagi.
"Maaf ya bang Fachri. Saya tadi cuma bercanda. Tidak ada maksud buat merusak hubungan kalian." Ujar Anin kemudian. Ia memang hanya iseng menjahili Clara.
Sedangkan Fachri kembali memasang wajah datar tanpa mengeluarkan suara. Ia terjebak ditengah-tengah para gadis yang masih labil. Namanya juga remaja jaman now. Pasti ada aja tingkahnya.
Tapi itulah masa remaja. Masa dimana muda mudi belajar menjelajahi dunianya. Mencari jati diri yang sebenarnya dengan mencoba berbagai hal. Kadang juga melakukan hal konyol diluar nalar sehat orang dewasa.
Fachri sendiri harus berusaha keras untuk mendidik Clara, agar bisa membawanya kembali pada cahaya yang terang.
.
.
.
__ADS_1
*J*adilah pelengkap bagi kebahagiaan orang lain dan selalu ada untuk ruh-ruh kegelisahan yang membutuhkan semangat