ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Gara-gara Clara


__ADS_3

Melihat ada Siti yang sudah memergoki mereka, bukannya Clara menyerah. Dia malah mengusir Siti.


"Apaan sih mbak Siti? ganggu aja. Mbak Siti keluar sekarang!" usir Clara sambil mendorong Siti keluar. Siti yang masih syok dengan apa yang ia lihat hanya tertegun saat Clara menutup lagi pintu kamar Fachri.


Dengan nafas tak beraturan Siti memegangi dadanya, masih tak percaya dengan matanya. Apa tadi cuma salah lihat.


Clara pun kembali kearah Fachri dan tetep kekeh ingin mengobati lukanya.


"Cukup Non, Kalau Siti salah paham bagaimana?" ujar Fachri yang mencoba mengalihkan perhatian Clara.


"Gue nggak perduli, yang gue peduliin cuma luka lo kemaren Fachri. Cepet buka kaos lo. Jangan keras kepala!"


"Yang keras kepala itu Non, saya bilang saya tidak apa-apa." Fachri masih tetap mempertahankan diri. Bagaimana ia bisa bertelanjang dada didepan wanita yang bukan muhrimnya. Sangatlah bertentangan dengan prinsip yang ia jaga selama ini.


Tiba-tiba saja Clara memukul bahu Fachri, walau pukulan Clara sangat ringan tapi berhasil membuat Fachri meringis kesakitan.


"Sengaja ya Non," ujar Fachri sambil memegang bahunya.


"Makanya jangan keras kepala, baru gue sentuh gitu doang, sakitkan!" omel Clara "Sudah sini gue obatin." Clara pun membantu melepas kaos Fachri.


" Dari tadi kek lo nurut, Nggak perlu pake ribut-ribut." Clara masih melanjutkan ocehannya.


Fachri sendiri sebenarnya merasa risih. Ternoda sudah dirinya, tapi memang bekas pukulan itu meninggalkan nyeri ditubuhnya. Walau ia sudah berusaha mengobati sendiri lukanya, tapi itu hanya yang bisa dijangkau tangannya.


Saat kaos Fachri sudah lepas, Clara tertegun melihat luka memar yang membiru menghiasi tubuh Fachri. Hal lain yang membuat Clara tertegun adalah bentuk tubuh Fachri yang menurutnya cukup perfect.


"Keras juga ya nich otot . Cocok sih sama lo yang jago beladiri," ujar Clara sambil memberi tekanan kecil dengan jari telunjuknya.


"Non jangan main-main sama tubuh saya, sudah ternoda ini Non tubuh saya," ujar Fachri yang membuat Clara tertawa.Tak biasanya Fachri bercanda. "Non harus tanggung jawab."


"Ternoda apaan dan harus tanggung jawab apa? perasaan gue nggak ngapa-ngapain lo."


"Tubuh saya sudah ternoda sama tangan non Clara. Non harus menikahi saya."


Deg


Kalimat yang dilontarkan Fachri seakan membuat jantungnya berhenti sejenak. Mana mungkin Fachri serius, hanya karena ia menyentuh tubuh Fachri apakah harus menikah. Fachri pasti hanya bercanda. Tapi sejak kapan Fachri yang selama ini ia kenal dengan sikap dinginnya bisa bercanda.


"Lebay Lo!" ucap Clara dan tanpa sengaja tangannya menepuk punggung Fachri yang saat ini didepannya.


" Auwwww. . . Non sengaja lagi ini?" tepukan Clara membuat Fachri kembali kesakitan.


"Sorry. . .Sorry. . . Gue nggak sengaja yang ini."


Fachri hanya diam, memikirkan apa yang saat ini terjadi. Berada didalam kamar berdua dengan gadis yang bukan muhrim.


Suasana menjadi hening.


Clara pun perlahan mengolesi salep disetiap bekas memar Fachri.


Beberapa kali Fachri reflek menggerakkan tubuhnya karena sakit saat Clara menyentuhnya.


"Sakit ya Ri?" tanya Clara sambil ikut meringis membayangkan bagaimana sakitnya Fachri.


Fachri hanya diam tak menjawab. Kemudian Clara pindah duduk didepan Fachri hendak mengobati luka yang ada dibagian tubuh depan.


"Yang ini saya bisa sendiri Non," ujar Fachri hendak mengambil salep dari tangan Clara, tanpa sengaja kedua mata mereka saling beradu pandang. Saat itu Clara pada posisi paling dekat dengan Fachri.


Hati kedua insan itu kembali meronta, berdetak tak karuan. Seperti ada yang memompa dengan cepat. Seperti ada magnet yang saling tarik menarik. Hati keduanya pun tak menyadari hal itu.


Fachri berusaha menguasai dirinya. Salep yang ditangan Clara ia ambil kemudian mengoleskan sendiri pada lukanya.


Clara sendiri terlihat salah tingkah, ia palingkan wajahnya menatap isi kamar Fachri. Lalu ia tertuju pada meja disisi tempat tidur yang Fachri gunakan untuk belajar. Ada beberapa buku disana. Clara pun melihatnya satu persatu. Ada juga novel islami disana. Tak disangka ternyata laki-laki juga suka novel. pikir Clara.


Sementara Randi yang tadi dikamarnya, keluar setelah mendengar teriakan Siti. Dilihatnya Siti yang mematung didepan kamar Fachri.

__ADS_1


"Ada apa sih Ti? Pagi-pagi udah heboh. Ngapain didepan kamar Fachri?" tanya Randi.


"Itu. . . itu. . . !" suara Siti terbata-bata karena masih syok.


"Ngomong yang jelas Siti, jangan itu itu mulu" ujar Randi.


"Non Clara sama mas Fachri lagi itu. . !" Suara Siti terdengar ragu-ragu. "Lagi berduaan dikamar," lanjutnya.


"Serius kamu Ti?" Randi masih berusaha mencari kebenaran. Tapi itu rasanya tak mungkin. Bertemu Clara saja Fachri sering istighfar. Apa mungkin hawa nafsu berhasil menggoyahkan Fachri?


"Beneran Randi. Tadi aku lihat sendiri mereka berpelukan. Terus Non Clara langsung nutup pintunya lagi," jelas Siti untuk meyakinkan Randi.


"Ada apa sih ini ngrumpi didepan kamar mas Fachri?" tanya Maya yang baru datang.


Siti memberi isyarat untuk diam dengan jari telunjuknya.Lalu Randi mengetuk pintu kamar Fachri.


"Fachri buka pintunya!" teriak Randi.


Clara pun meletakkan kembali buku yang hendak ia baca. Sedangkan Fachri segera memakai kaosnya. Karena terburu-buru tangan Fachri terasa sakit. Sehingga ia mengerang kesakitan.


Randi dan yang lain mendengarnya semakin penasaran, sehingga menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.


"Santai aja Fachri, tegang amat lo!" ujar Clara.


"Mau nyantai gimana Non, mereka pasti mengira yang bukan-bukan," protes Fachri.


"Biarin ajalah, nggak usah dipikirin."


Terdengar lagi suara gedoran pintu dan teriakan Randi.


"Buka woooyyyyy!" Randi semakin penasaran dan tak sabar menunggu.


"Berisik amat sih lo Rand!" Clara tampak sewot.


" Ngapain Non dikamar Fachri?"


Clara langsung pergi begitu saja. Menyisakan tanda tanya besar bagi Randi.


Kemudian Fachri juga keluar.


"Habis ngapain Ri?"


"Buka-bukaan Rand. Mana liar banget Non Clara," jawab Fachri ngasal yang memang ingin mengerjai Randi.


"Astaghfirullohal 'adzim Fachri!"


"Kenapa jadi kamu yang istighfar Rand?"


"Fachri kamu sadar kan. Apa yang kamu lakuin tadi didalam?"


"Sadar Rand, sadar banget malah."


Randi tampak syok dengan jawaban Fachri. Ini tidak mungkin. Ini bukan jawaban Fachri yang ia kenal.


"Mas Fachri peluk-pelukan sama Non Clara tadi itu beneran?" tanya Siti penasaran.


"Semua yang kalian lihat dan yang kalian dengar itu tidak seperti yang kalian pikirkan," ujar Fachri. Kembali berbicara dengan aura dinginnya. Lalu ia kembali kekamarnya.


Tak disangka pagi-pagi Fachri harus dihadapkan pada keadaan yang membuat orang-orang disekitarnya menyudutkannya dengan pikiran negatif. Semua memang gara-gara ulah Clara.


Sementara itu, Randi, Maya dan Siti masih dipenuhi rasa penasaran. Jawaban Fachri tak memberikan penjelasan pada mereka.


Beruntungnya pagi itu Steven tak mengetahui keributan dirumah belakang, jarak dari ruang utama memang lumayan jauh. Kalau ia tahu sudah pasti pagi itu akan lebih heboh.


***

__ADS_1


Clara sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tak lupa ia memeriksa ponselnya. Ada pesan dari kontak yang ia beri nama Samuel dan Aldi.


Clara memilih membuka pesan dari Aldi, kemudian ia melakukan video call untuk tahu bagaimana keadaan Aldi setelah kejadian kemaren.


Dari hasil video callnya Clara tahu Aldi akan tetap masuk sekolah hari ini, Karena hari senin ia harus mengikuti ujian. Walau sebenarnya keadaan Aldi belum sepenuhnya pulih.


Setelah urusan dengan Aldi selesai, Clara membuka pesan dari Samuel.


Isinya adalah sebuah kalimat motivasi agar dirinya semangat menyambut hari.


Clara tersenyum sendiri membaca pesan dari Samuel. Kalau lewat pesan Samuel selalu memakai bahasa baku sedangkan saat bertemu disekolah Samuel lebih santai dengan bahasa yang terkesan nyablak.


Saat waktunya jam berangkat sekolah Clara turun kebawah. Disana ia mendapatkan tatapan aneh dari Randi dan 2 pelayannya. Sedangkan Bik Inah kebetulan sedang belanja saat kejadian tadi pagi. Bik Inah pergi setelah menyiapkan sarapan untuk Clara.


"Biasa aja muka lo Randiii !" ujar Clara sambil menonyor kepala Randi dengan jari telunjuknya. "Gue tahu apa yang lo pikirin, ntar pulang sekolah gue jelasin biar lo nggak mati penasaran," lanjut Clara.


"Busyet! nyumpahin saya mati Non," Ujar Randi dengan nada yang dibuat seolah dirinya sedang marah.


"Ya nggaklah, ntar siapa yang nemenin gue, yang biasa ngrecokin gue kan cuma lo Rand."


"Nah itu tau, eh, tapi beneran lho non ntar jelasin. Nanti pulang sekolah saya tagih."


"Iya mas kredit."


Setelah itu Clara ngacir kedepan, masuk kemobil yang sudah disiapkan Fachri.


Randi sendiri terhibur dengan sikap Clara. Jika satu hari saja ia tak melihat senyuman Clara Randi akan merasa sepi, seperti kemarin saat Clara pulang malam dan langsung tidur tanpa menemui Randi.


Randilah yang merasa ada sesuatu yang belum lengkap dalam harinya.


Perjalanan Clara kesekolah diselingi obrolan dengan Fachri, ia merasa sejak kejadian dirinya hampir diculik, Fachri berubah agak ramah. Walau Clara yang selalu memulai obrolan. Setidaknya Fachri lebih banyak menanggapi di banding hari-hari sebelumnya.


Disekolah


Ketika bel istirahat berbunyi Clara langsung menuju kantin memesan makanan lalu membawanya ke kelas Aldi. Anin sendiri memilih tetap makan dikantin.


Saat Clara tiba dikelas kekasihnya, terlihat Aldi sedang berbincang dengan Samuel.


"Makan yuk Al!" ajak Clara sambil menaruh makanannya dimeja.


"Gue diajak nggak nich Ra?" goda Samuel.


" Lo mending temenin Anin dikantin, lagi makan sendirian dia."


"Ok! Gue samperin Anin aja dari pada disini jadi kucing kebelet," ujar Samuel.


"Lo tau Sam gimana wajah kucing kebelet?" tanya Clara.


"Gimana coba?"


"Ya kayak wajah Lo sekarang Sam," ucap Clara dengan senyum mengejek Samuel.


"Sialan Lo Ra!" umpat Samuel yang kemudian melenggang pergi.


Aldi hanya bisa tersenyum geli melihat sahabatnya pergi dengan wajah kesal. Clara dan Samuel memang cocok sama-sama jahilnya. Seperti hal nya Clara dan Randi, kalau mereka berdua bersama dunia yang awalnya terasa sunyi akan menjadi hangat dengan candaan ringan keduanya.


"Sorry ya Al gara-gara gue, Lo jadi kayak gini," ucap Clara.


"Aku kamu Clara," Aldi mengingatkan.


"iya Al, aku belum terbiasa."


Wajah Clara tampak sedih melihat keaadan Aldi saat ini.


Kemudian Aldi menyentuh Pipi Clara dengan satu telapak tangannya. "Aku baik-baik saja Ra. Kamu nggak usah terlalu khawatir," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Clara hanya memberi anggukan, Lalu keduanya makan bersama.


Jam Pelajaran hari itu lebih cepat dari biasanya, disamping karena akhir pekan juga karena para siswa kelas 3 akan menghadapi ujian senin depan.


__ADS_2