ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Mencari Kepastian


__ADS_3

Pukul 02.00 siang


Clara masih terlelap dalam tidurnya. Bik Nani masuk kekamar Clara dengan membawa makanan di nampan. Dibangunkannya gadis yang sudah ia rawat sejak kecil itu dengan lembut. Clara menggeliat pelan, perlahan ia membuka mata mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.


"Makan dulu Non!" ucap Bik Nani.


Clara bangun dengan menahan sakit dilututnya. Ia duduk bersandar diranjang.


Bik Nani menyarankan Clara untuk cuci muka tapi Clara menolak karena lututnya masih susah dibuat berjalan. Clara langsung memakan makanan yang dibawa pengasuhnya. Sejak pagi perut Clara memang belum terisi nasi, dikantin ia hanya memesan bakso. Bik Nani lalu keluar dari kamar Clara.


Meninggalkan Clara menikmati makanannya.


Tak lama kemudian Bik Nani kembali dengan membawa sesuatu dimangkok.


Bik Nani terlihat ingin mengoleskan sesuatu pada lutut Clara.


"Itu apa Bik?" tanya Clara penasaran.


"Ini ramuan herbal dari Fachri non, katanya biar luka non Clara cepet kering."


"Ramuan apa an sih Bik? jangan-jangan Fachri ngasih ramuan ngawur, bukannya sembuh tambah parah nanti."


"Kata Fachri tadi ini dari daun bidara Non."


"Daun yang biasa digunain ngusir jin ya Bik, di acara yang biasanya bibik tonton."


"Iya Non, itu acara Rukyah."


"Dikira Clara kerasukan apa Bik, diobatin pake daun bidara. Sekalian aja panggilin ustadz Danu," gerutu Clara.


Bik Nani hanya terkekeh mendengar ocehan Clara. Dengan hati-hati ia mulai mengoleskan ramuan pada luka Clara.


"Aduh bik, perih banget ini." Clara meringis kesakitan. "Pasti Fachri salah ngasih ramuan ini."


"Tahan sebentar non, namanya juga obat herbal. Biar cepet sembuh."


"Dikira ini jaman purba kali ya, sekarang kan ada dokter, obat juga banyak diapotek." Clara mengomel dalam hati.


Bik Nani melanjutkan mengolesi luka Clara sampai merata. Clara masih tampak menahan sakit.


Setelah selesai Clara ingin menanyakan sesuatu pada Bik Nani. Tentu saja tentang apa yang dikatakan oleh Siska waktu bertengkar disekolah.


Bik Nani mengerti apa yang ingin diketahui Clara, setelah mendengar penuturan dari Clara. Bik Nani merasa tak punya hak untuk menceritakan tentang masa lalu putri majikannya. Biarlah Tuan Steven sendiri yang akan menceritakan pada putrinya.


Clara juga menanyakan mengapa ibunya tidak menyayangi dirinya, seperti ibunya menyayangi sang kakak.


"Tolong Bik ceritain sama Clara apa yang Bibik tau selama ini?" Clara memohon dengan sungguh-sungguh, berharap akan mendapat jawaban yang dia inginkan.


"Maaf Non Bibik tidak tau apa-apa. Dan asal Non tau tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya. Nyonya Olivia juga menyayangi non Clara hanya saja mungkin caranya saja yang berbeda."


Clara hanya terdiam mendengar ucapan pengasuhnya, membuatnya semakin tak mengerti dengan jalan hidupnya.


"Bukankah Nyonya juga memberikan namanya untuk Non Clara, begitu juga dengan Tuan. Nama mereka melengkapi nama Non Clara. Bibik harap Non membuang jauh-jauh pikiran negatif terhadap Nyonya."


Bik Nani lalu keluar dari kamar Clara, meninggalkan Clara yang masih bergelut dengan pikiran dan hatinya.


Menyayangi. Rasanya kata itu bertentangan dengan apa yang dia rasakan selama ini. Soal nama dirinya juga tau, Clara Stevani Olivia, dua kata dibelakang adalah gabungan dari nama ayah dan ibunya.


Semua terasa membingungkan bagi Clara. Ingin rasanya ia bertanya langsung pada ayahnya, tapi rasanya itu juga akan sia-sia. Sudah sering Clara meminta penjelasan tapi tak di jawab. Yang dilakukan ayahnya sama dengan Bik Nani yang meyakinkan dirinya bahwa ibunya juga menyayanginya.


Clara mengalihkan pikirannya dengan membuka Hp, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aldi dan pesan dari nomor tak dikenal. Clara penasaran lalu membuka pesan itu.


Assalamu'alaikum Ara! Gimana kabarnya?


"Ini pasti dari Samuel" gumam Clara. Lalu ia memeriksa foto profil pengirim pesan. Terpampang foto Samuel dengan seorang pria yang rasanya tidak asing bagi Clara.


Clara pun tak ambil pusing, ia menganggap nomor itu adalah milik Samuel. Mengingat tadi pagi Samuel lah yang meminta nomor ponselnya.


Clara pun membalas pesan itu.


"Wa'alaikumsalam, seperti yang lo lihat tadi Sam"


Agak lama Clara menunggu balasan tapi tak kunjung muncul. Akhirnya Clara memilih membaringkan kembali tubuhnya. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Tanpa ia sadari Randi sudah ikut berbaring disampingnya.


"Jangan kebanyakan nglamun Non, nanti kesambet setan."

__ADS_1


Clara terperanjak kaget. Menoleh pada Randi. Randi pun hanya tersenyum.


"Lo tuch setannya. Seneng banget bikin gue jantungan."


Suasana hening sejenak.


"Rand, lo nggak mau ngasih tau sesuatu tentang diri gue? Secara lo kan temen gue sejak kecil dan umur lo lebih tua 5 tahun dari gue. Pasti lo tau sesuatu disaat gue belum ngerti apa-apa," ujar Clara.


"Yang saya tahu non Clara adalah putri bungsu dari tuan Steven dan nyonya Olivia. Umur 14 tahun. Gadis tomboy yang hoby balapan dan nonton film action. Sering terbangun tengah malam karena lapar, nggak bisa tidur lagi kalau belum kenyang," jawab Randi dengan santai walau ia tahu bukan itu jawaban yang Clara inginkan.


"Jangan konyol Rand!" Tergurat rasa kecewa diwajahnya, sia-sia saja ia bertanya pada Randi.


"Nikmati saja hidup non sekarang, jangan mencari sesuatu yang tidak pasti. Atau non Clara akan mengecewakan tuan Steven karena putrinya sendiri tidak mempercayainya." Nada bicara Randi kini menjadi serius. Ia pun bangun dan pergi dari kamar Clara.


Clara hanya bisa mendengus kesal. Semua orang dirumah bekerja sama.


Tak ada yang berpihak pada dirinya.


"Oh ya, masih ada Siska yang bisa memberi informasi," gumam Clara.


Setidaknya ia masih punya sedikit harapan.


Clara kembali meraih ponselnya dan memeriksa pesan masuk. Ternyata Samuel sudah membalas pesannya. Jadilah Clara saling bertukar pesan dengan Samuel dan itu bisa sedikit menghibur dirinya.


****


Sore itu Clara keluar kamar menuju taman belakang, Saat berpapasan dengan Randi dan Fachri, ia tampak cuek dan berlalu begitu saja. Randi dan Fachri saling menatap heran, Randi menaikkan bahunya tanda tak mengerti.


Mereka pun kembali berkutat dengan tugas kuliah masing-masing.


Clara duduk diayunan sendirian menikmati udara sore, mendengar kicauan burung yang akan kembali kesarangnya. Clara menatap ikan dikolam yang dengan riang berenang kesana kemari.


Hembusan semilir angin sore membuat perasaanya terasa tenang dan damai. Dengan indahnya sang angin mengibaskan rambut Clara yang saat itu tergerai. Siapa pun yang melihatnya akan terhipnotis dengan pesona Clara.


Clara menarik nafas pelan. Ingin rasanya ia menitipkan kesedihannya pada angin agar dibawa pergi jauh. Kemudian berganti dengan kebahagiaan.


Disisi lain Fachri tanpa ia sadari sedang memperhatikan Clara dari dalam. Pesona Clara sepertinya mampu menggetarkan jiwanya. Ruangan yang hanya berdinding kaca itu tentu membuat pemandangan diluar tampak jelas.


"Woy, Ri!" tegur Randi. " Nggak segitunya kali lihatin non Clara"


" Astaghfirullohal 'adzim!" Fachri mengelus dadanya karena kaget. "Apa an sih Rand. Aku cuma lihat pemandangan diluar." Fachri berkilah.


"Enggak" jawab Fachri singkat sambil memainkan jarinya di keyboard. Tanpa menoleh ke arah Randi.


"Enggak salah kaaaannn. . . !"


Fachri tak bereaksi ia terus fokus mengetik.


"Non Clara sudah punya pacar lho Ri, tapi belum telat, kata orang sebelum ada tenda biru berdiri didepan rumah masih ada kesempatan," lanjut Randi.


Fachri masih diam, tak menanggapi godaan Randi. Lalu ia menutup laptopnya dan beranjak pergi.


"Kemana Ri?" tanya Randi.


"Siap-siap sholat maghrib," jawab Fachri sambil berlalu.


Randi juga ikut bangkit, ia teringat Clara masih ada di taman. Kemudian melangkahkan kaki ke arah Clara.


Tampak Clara memejamkan mata sambil mengeratkan kedua tangannya didepan dada. Sama seperti yang biasa Clara lakukan saat senja mulai melukiskan langit jingganya.


"Apa yang non minta hari ini?"


Clara membuka mata lalu menatap Randi dengan tatapan tajam. Kekesalannya pada Randi masih tersisa dibenaknya.


"Meminta agar segera terbebas dari ketidakpastian yang tidak pasti."


Setelah itu Clara pergi meninggalkan Randi.


"Non marah sama saya?" tanya Randi mengikuti langkah Clara yang masih tertatih-tatih.


"Gue nggak marah tapi Gue kecewa sama lo," jawab Clara dengan nada ketus.


Randi terdiam dan menghentikan langkahnya. Ditatapnya gadis yang sudah menjadi temannya sejak kecil. Ada rasa bersalah didiri Randi. Tapi ia juga tak bisa melakukan sesuatu tanpa izin tuan Steven.


Clara menuju dapur untuk mengambil botol minum dan kemudian duduk diruang tamu sambil memainkan Hpnya.


Azan sudah berkumandang semua penghuni rumah menuju musholla keluarga.

__ADS_1


"Yuk non maghriban dulu!" ajak Mbak Siti.


"Mbak aja duluan. Lutut Clara masih sakit," ujar Clara tanpa menoleh pada orang yang mengajaknya berbicara.


Maya memberi sikutan pada Siti sambil melotot dan memberi isyarat untuk segera pergi, karena Maya tahu mood Clara sedang buruk.


Saat semua orang sudah keluar dari mushola, terdengar Fachri sedang mengaji. Clara mendengarkannya dengan seksama.


Beberapa saat kemudian Clara menuju mushola berdiri diambang pintu memperhatikan Fachri. Ternyata suara merdu Fachri mampu menggerakkan hati seorang Clara.


"Mau ikut ngaji Non?" ucap Fachri saat menyelesaikan bacaanya dan melihat Clara.


"Nggak" jawab Clara dengan singkat. Lalu Fachri berdiri mendekati Clara, tentu dengan menjaga jarak.


"Tapi bisa ngaji kan Non,"


"Cuma bisa baca Al Fatihah doang."


"Kalau mau nanti belajar sama-sama dengan Randi."


"Lain kali saja. Tadi baca surat apa?"tanya Clara


"Surat An Najm, yang berarti bintang. Surat ke 53 juz 27," jawab Fachri.


"Tadi diayat-ayat terakhir kayak denger a-zi-fa." Suara Clara terdengar agak kaku mengucapkannya.


"Mungkin yang non maksud Azifatil Aazifah."


"Iya itu. Bagus ayatnya. Kamu tau artinya?" tanya Clara agak canggung.


"Artinya Yang dekat (hari kiamat) telah makin mendekat. Yang dimaksud hari kiamat diayat ini adalah hari jatuhnya kaum musyrikin. Kaum yang menghina dan menertawakan Al Qur'an."


Fachri diam sejenak memperhatikan Clara yang menyimak kalimatnya.


"Kurang lebih seperti itu non maksudnya. Saya juga masih belajar. Belum terlalu paham tafsir Qur'an," lanjut Fachri.


Clara dan Fachri sama-sama terdiam, kecanggungan menyelimuti keduanya.


Keadaan jadi hening sejenak sampai datangnya Randi.


"Lagi ngapain kalian berdua disini? lagi PDKT ya? pastinya kan." Randi yang baru datang langsung nyerocos.


"Sok tau lo!" ucap Clara yang kemudian pergi.


"Lagi ngapain sih Ri?"


"Nggak tau." Fachri juga berlalu pergi.


"Tumben mereka berdua rada aneh hari ini," gumam Randi sendirian.


Fachri kembali kekamarnya, melanjutkan tugas yang sempat tertunda. Fachri menulis sesuatu di sela-sela tugasnya.


 


Mencintai itu Fiil Mudlori'


Cintailah itu Fiil Amar


Jangan mencintai itu Fiil Nahi


Tapi jangan anggap Cinta sebagai isim


Karena Cinta adalah bahasa Qalbu


Fachri tersenyum sendiri di kamarnya, entah apa yang sedang ada dipikirannya. Hingga tangannya tergerak menulis sesuatu yang menurutnya konyol. Fachri pun memasukkan hasil coretannya kedalam laci. Mengusap kasar wajahnya dan beristighfar. Kemudian melanjutkan kegiataanya.


Sementara itu, Clara yang sedang berada dikamarnya berkutat dengan tugas-tugas sekolah. Kelas akselerasi yang ia tempuh membuatnya memiliki banyak PR. Tapi bagi Clara hal itu bukanlah sesuatu yang sulit.


Sebelum tidur Bik Nani menyuruh putranya untuk mengobati luka Clara seperti yang dilakukannya tadi siang. Randi pun mendatangi kamar Clara.


"Ngapain lo kesini?" tanya Clara dengan nada terdengar ketus.


"Jutek amat Non!" Randi pun duduk disamping Clara yang saat itu sedang bersandar disisi ranjangnya. "Saya disuruh ibu buat ngolesin ini." Sambil menunjukkan apa yang ia bawa pada Clara.


Clara hanya diam saat Randi mulai mengobati lukanya. Begitu juga Randi yang tak berani mengganggu Clara.


.

__ADS_1


 


__ADS_2