
"Mau kemana Non?" tanya Randi saat melihat Shafa berpakaian rapi.
Shafa menarik kursi dan duduk untuk sarapan. "Mau kemana-mana."
"Ditanya beneran juga," sungut Randi. Mendapat jawaban yang menjengkelkan
"Gue jawabnya juga beneran."
"Mulai lagi si Non. Nyesel saya nanya." Randi memilih melanjutkan sarapannya.
Bik Nani tersenyum melihat kedatangan Shafa. Ada sedikit perubahan pada putri majikannya. "Non mau sarapan apa?"
"Nasi goreng aja dech Bik," jawab Shafa.
Bik Nani segera mengambilkan sarapan untuk Shafa. Setelah kejadian yang membuat Randi tegang. Kini dirinya merasa lebih baik.
"Setelah ini anterin gue ya Rand?" pinta Shafa setelah menghabiskan sarapannya.
"Iya Non, mau kemana emang?" Randi menyeruput teh hangatnya.
"Tapi pake motornya pak Parjo ya."
"Pake motor saya aja Non enak, biar kayak difilm-film. Keren naik motor gede."
Shafa meneguk susu coklat hangat yang sudah tersedia. "Ogah, bisa-bisa encok pinggang gue."
"Ya udah. Tapi mau kemana dulu ini?" Randi kembali menyeruakkan pertanyaan yang dari tadi belum dijawab gadis dihadapannya.
"Ketemu abang Fachri," ucap Shafa sambil bangkit dari duduknya dan berlalu pergi kedepan.
"Mulai lagi ngaconya." Randi segera menyusul Shafa kedepan.
"Non jangan mulai lagi dech. Saya nggak mau ikut ketemu Fachri."
Shafa berbalik menatap Randi. "Kemarin yang bilang mau gantiin posisi Fachri siapa? Jadi sekarang kita gali kuburnya Fachri terus lo masuk gantiin posisinya. Biar Fachri bisa sama gue lagi."
"Eh busyet! Nggak gitu juga kali Non. Saya cuma bercanda kemarin."
"Tadi gue juga cuma bercanda. Udah sana minta kunci sama pak Parjo."
"Injeh Ndoro putri."
Setelah Randi kembali dari pos security, mereka berdua segera berangkat. Shafa berpegangan dikedua bahu Randi. Lalu meneriakkan tujuannya mengajak Randi.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah ada diparkiran gedung mewah bertingkat tinggi.
"Ngapain kita kesini Non?" tanya Randi sambil membuka helmnya.
Shafa juga baru saja melepas helmnya. "Gue mau ngajak lo terjun bebas dari puncak gedung," ucapnya santai sambil berkaca dispion motor, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tadi memang Shafa membiarkan rambutnya tergerai.
"Kehabisan obat Neng? Dari tadi ngomong ngelantur kagak jelas," gerutu Randi.
"Gue serius lho Rand. Biar kalau sampai bawah kita jadi rempeyek. Pasti seru! Nggak perlu tersiksa ngerasain sakit."
"Iya, terus kita ngerasain sakitnya diakhirat yang malah nggak berujung. Rugi dua kali malah. Sengsara dunia akhirat. Saya nggak mau jadi orang ngenes kayak gitu."
"Lebay lo ah!" Shafa mengusap wajah Randi yang dari tadi serius menanggapi ucapannya. Mana mungkin dia bakalan loncat dan mati dengan sia-sia. Dia masih mempunyai tujuan yang ingin ia wujudkan.
"Turun lo dari motor! Kenapa malah nangkring terus disitu," ujar Shafa lagi karena Randi tak juga turun.
"Nggak Non, saya tunggu disini saja. Non masuk saja sendiri," ujar Randi dengan gurat kekhawatiran diwajahnya.
"Lo takut Rand?" Selidik Shafa.
"Enggak siapa yang takut." Randi mengelak.
"Gue masih waras Rand, takut amat gue ajak mati."
Randi masih diam dengan wajah kesalnya. Bisa-bisanya bercanda seperti itu. Shafa tidak tau bahwa Randi masih mengkhawatirkan dirinya setelah kejadian tadi pagi. Percobaan bunuh diri yang dilakukannya membuat Randi takut kehilangan sahabat kecil yang sangat ia sayangi.
"Ayo masuk!" Shafa menarik Randi turun dari motornya.
"Saya hari ini nggak ada jadwal dengan tuan Steven, Non."
"Iya gue tahu. Mangkanya jadwal lo hari ini sama gue." Shafa menarik paksa Randi agar turun dari motor. Kemudian menyeret pemuda itu masuk kedalam gedung.
Hari itu, Shafa hanya ingin menemui ayahnya. Menanyakan acara peresmian hotel yang akan diadakan dalam waktu dekat. Tentunya bukan itu alasan pokok Shafa mendatangi ayahnya. Ada hal lain yang ia rencanakan.
Setelah menyapa resepsionis diloby kantor, Shafa dan Randi segera menuju keruangan Steven.
__ADS_1
Randi memilih menunggu diluar ruangan. Ia mengobrol dengan sekretaris Steven. Ia tak ingin terlalu terlibat dalam privasi majikannya.
"Pagi Daddy!" Shafa menyapa ayahnya dengan riang.
Steven terkejut dengan kedatangan putrinya yang tiba-tiba. Ia langsung bangkit menyambut dengan pelukan hangat.
"Daddy senang kamu datang. Pasti ada sesuatu," tebak Steven. Tangan kokohnya mengusap lembut kepala putrinya.
"Iiihhh Daddy! Shafa baru datang udah suudzon." Gadis itu mencebikkan bibir, pura-pura merajuk.
"Lha mau gimana lagi? Selama dua minggu terakhir kamu nyuekin Daddy. Lalu, tiba-tiba datang seperti ini. Bagaimana Daddy tidak curiga." Steven menuntun putrinya untuk duduk disofa.
"Shafa kesini itu mau nanyain tentang peresmian hotel, Dad. Kapan Daddy ngadain acaranya? Itu saja." Shafa menyandarkan kepala dibahu ayahnya. Bersikap manja yang sudah lama tak dilakukannya.
"Acaranya sepuluh hari lagi Sayang. Bertepatan dengan ulang tahun kamu juga. Biar sekalian mengenalkan kamu pada rekan bisnis Daddy," ujar Steven
"Aku nggak mau perayaan ulang tahun Dad, dan juga jangan memperkenalkan Shafa pada publik."
"Daddy hanya ingin mereka tahu bahwa Daddy punya putri yang luar biasa seperti kamu. Diumurnya yang ke lima belas sudah lulus SMA dan sebentar lagi masuk universitas," ucap Steven membanggakan putrinya.
Shafa mengangkat kepalanya dari bahu sang ayah. "Shafa tidak mau Dad. Pokoknya Daddy tidak boleh melakukan hal itu sekarang."
"Kamu kan calon pewaris perusahaan daddy Michael, Fa. Biar mereka tahu siapa penerus perusahaan orang tuamu." Steven mencoba meyakinkan putrinya.
"Tetap saja Shafa nggak mau Dad. Sampai tiba saatnya Shafa bisa mandiri dan bisa memimpin perusahaan daddy Michael dengan baik. Sekarang biarkan orang-orang taunya aku ini putri Daddy dan selamanya menjadi putri Daddy." Shafa memeluk ayahnya dengan erat. Meski bukan ayah kandung tapi Steven menyayanginya lebih dari apapun. Sejak kecil yang ia tahu hanya Steven lah orang tuanya.
Steven membalas pelukan gadis kecilnya. "Dari dulu sampai sekarang kamu tetaplah putri Daddy, Shafa." Kecupan hangat ia berikan dipuncak kepala putri kesayangannya. Tak ada hal bisa mengisyaratkan betapa Steven menyayangi putri dari sahabatnya.
Shafa melepaskan pelukannya. "Shafa pergi dulu ya Dad. Mau jalan-jalan sama Randi."
"Iya hati-hati. Jaga diri baik-baik!"
"Ok Daddy!"
Shafa pun melenggang pergi keluar dari ruang ayahnya. Mengajak Randi kesuatu tempat.
Dalam ruangannya Steven memandangi fotonya bersama Michael. Sahabat yang lebih dulu meninggalkannya.
"Kamu lihat Michael! Shafa mewarisi sifatmu yang keras kepala. Dia banyak melewati masa-masa sulit selama ini. Semoga dia menjadi wanita tangguh seperti ayahnya yang pantang menyerah!" Steven meneteskan air mata mengingat kenangannya bersama Michael.
Dulu mereka berdua berjuang bersama untuk membangun perusahaan. Hingga mereka mencapai keberhasilan masing-masing. Dalam masa sulit keduanya saling menguatkan. Michael selalu gigih dalam berjuang tak pernah mu mengenal yang namanya kata "Menyerah".
******
Tak butuh waktu lama kini Shafa dan Randi sudah berada dilapangan berumput yang luas.
"Non mau ngajak main bola disini?" tanya Randi yang penasaran.
"Bukan Randi, ajarin gue naik motor," ujar Shafa menatap Randi dengan serius.
Randi pun balik menatap Shafa dengan tatapan menyelidik. Ada yang aneh kayaknya dengan gadis dihadapannya ini. "Ngapain belajar motor Non?"
"Pengen aja Rand. Cari sensasi baru. Biar nggak bosen pakek mobil terus. Kan keren kalau gue bisa naik motor. Bisa nyalip sana sini, cepet kalau mau kemana-mana," celoteh Shafa sambil memperagakan gerakan meliak-liuk seperti pembalap.
"Bisa aja Non kalau ngeles. Tapi beneran nih mau belajar motor?" Randi masih meragukan keinginan Shafa.
"Serius Randi. Tampang gue udah serius kayak gini juga."
"Yellah... Yellah... Non Shafa yang bawel."
Randi menjelaskan pada Shafa dasar-dasar tentang motor. Perlahan Randi mengajari Shafa. Sedikit banyaknya Shafa sudah mengerti tentang motor. Ia hanya perlu menyeimbangkan tubuhnya.
Randi bersiaga dibelakang Shafa, jika sewaktu-waktu motor hilang keseimbangan.
Karena keasyikan belajar motor, tak terasa hari sudah semakin terik. Shafa dan Randi beristirahat dibawah pohon. Berlindung dari teriknya matahari yang menyengat.
"Rand gue beli bakso dulu. Tuch ada "Bakso baper"," ujar Shafa saat melihat penjual bakso diujung jalan.
"Ciiieeehhhhh... yang lagi galau akut maunya yang baper-baper," goda Randi.
Shafa mencubit pinggang Randi karena kesal selalu digoda oleh pemuda yang menjadi sahabatnya. "Jangan banyak ngoceh! Mau gue beliin apa nggak?"
"Iya, sekalian minumnya ya Non."
Shafa segera berjalan menuju penjual yang menjadi tujuannya. Sejak hidup bersama Fachri, ia terbiasa dengan jajan pedagang kaki lima. Menurutnya tak terlalu buruk. Rasanya sama saja dengan yang ada dicafe atau pun restoran. Fachri telah menanamkan kesederhanaan dalam dirinya. Membuat ia bisa lebih baik dalam menikmati hidup.
Tak lama kemudian, Shafa sudah kembali dengan dua kantong kresek berisi minuman dan bakso baper.
"Terimakasih lho Non," ucap Randi sambil cengengesan karena sudah dilayani oleh tuan putri. Padahal, seharusnya dia yang melayani majikannya. Ini malah kebalik.
__ADS_1
"Sama-sama Rand. Jarang-jarang kan lo dapat pelayanan dari gue."
"Besok lagi ya!"
"Enak di lo seret digue Rand."
"Seret ya kasih oli lah Non, biar lancar jaya."
"Yang ada lancar koit gue."
Randi tersenyum mendengar jawaban Shafa. Kemudian ia segera memasukkan bakso dalam mulutnya. Shafa hanya diam menunggu reaksi yang akan keluar dari bakso yang ia beli tadi. Awalnya Randi terlihat biasa, namun sesaat kemudin wajahnya berubah merah bahkan hampir mengeluarkan air mata.
Shafa sendiri juga memakan bakso miliknya. Ia malah menikmati sensasi pedas dari baksonya.
"Hahahaa.... ****** lo Rand! Bakso baper pedas super." Tawa Shafa pecah seketika.
"Non kenapa nggak bilang ada cabe didalam baksonya?" Randi segera meneguk air mineral.
"Mene ketehek...."
Mereka berdua menikmati bakso sambil nangis-nangis karena kepedasan. Suara gelak tawa juga terdengar disela air mata yang mengalir. Randi pun merasa senang melihat Shafa yang mulai ceria lagi hari itu. Walau lagi-lagi dia harus menjadi korban kejahilan Shafa.
Hari sudah semakin siang, keduanya segera beranjak pulang.
Sesampainya dirumah, Shafa segera membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya. Lalu rebahan sambil membuka buku Zahra-Akbar yang terdapat tulisan Fachri.
Jangan memperumit hati dengan perasaan!
Karena perasaan adalah hal yang tak bisa dikendalikan oleh akal
Akal hanya sebagai tiang penyangga
Agar hati melibatkan logika untuk menyikapi perasaan
Bentangkan ruang yang luas untuk menyambut hal baru
Buka hati untuk rasa yang dipersembahkan oleh sutradara kehidupan
Suatu saat lepaskan rasa itu agar ada celah untuk rasa yang lain
Iftah qolbuki...
Bukalah hatimu Shafa!
Bukalah*...
Karena tak mungkin aku selalu ada untukmu
Akan tiba masanya untuk pergi*
Setelah membaca isi buku Fachri, Shafa memeluk erat buku itu. Seolah ia sedang merengkuh Fachri dalam dekapannya. Itu adalah tulisan goresan pena Fachri beberapa hari sebelum kecelakaan menimpa dirinya.
Shafa memejamkan mata, berharap ia bisa berjumpa lagi dengan cintanya. Meski hanya dalam mimpi.
Bagaimana bisa aku membuka hatiku lagi Fachri?
Sedangkan kunci hatiku adalah dirimu
Tak akan sanggup aku membukanya lagi
Kenangan yang kau torehkan terlampau dalam Fachri
Kenangan itu akan abadi dalam ingatanku
Tak akan pernah terganti oleh apa pun
Tak akan pernah...
.
.
.
.
Thanks buat kalian yang masih sudi membaca karya yang tak seberapa ini!
Semangat!!!
__ADS_1