
"Mbk May, Mbk Siti,Bik Nani!" Panggil Clara yang saat ini sudah ada didapur dan meletakkan Es yang tadi ia beli diatas meja.
Mereka yang dipanggil pun segera muncul. Clara menunjukkan apa yang ia bawa tadi.
"Wah! ini pajak jadian ya non?" ujar Siti.
"Pajak jadian apa mbk?" tanya Clara.
"Jadian sama Mas Fachri. Tadi pagi kan udah buat heboh kayak gitu."
"Ngelantur ini Mbk Siti."
Maya sendiri lebih memilih mengamati es dalam kemasan cup besar. Maya tampak tertegun dengan nama yang tertera di kemasan.
"Ini es kenapa Koplak non namanya?" tanya Maya
"Iya non. Jangan sampai cinta Non sama Mas Fachri yang koplak!" Siti menimpali.
"Siapa juga yang jadian sama Fachri. Saya sudah punya cowok yang lebih muda yang lebih keren ya Mbk, Fachri itu cuma supir yang ditugasin Daddy. Jadi saya nggak mungkin tertarik sama Fachri," ujar Clara yang tanpa menyadari Fachri sedang lewat hendak kekamarnya.
Fachri berhenti sejenak, menatap Clara.
Maya dan Siti pun jadi diam. Tatapan Fachri menurut kedua pelayan itu sangatlah tajam.
Setelah Clara menyadari tatapn Fachri ia mencoba mengalihkan suasana.
"Bik Nani mana Mbk? kok nggak kelihatan."
Clara melirik kearah Fachri dan laki-laki itu sudah berlalu. Hanya punggung kokoh yang terlihat semakin menjauh. Ada rasa sesak dihati Clara mengetahui Fachri mendengar ucapannya. Ucapan yang sebenarnya ia gunakan untuk menutupi sebuah rasa. Sebuah rasa yang ia coba ingkari.
"Bik Nani lagi ada dimusholla Non," jawab Maya.
Clara berpesan untuk menyisakan bagian Randi, Karena Randi belum pulang.
Ayahnya juga belum pulang padahal ini akhir pekan. Entah pekerjaan apa yang membuat ayahnya terlalu sibuk. Apakah bisnis properti membuat ayahnya terlalu sibuk?
Kemudian Clara menuju kamarnya berganti pakaian. Lalu turun lagi berjalan kearah ruang santai yang ia gunakan sebagai tempat belajar dengan membawa setumpuk buku. Clara memilih tempat itu karena ia bisa belajar sambil melihat pemandangan diluar. Banyak tugas yang ia dapat untuk mengisi hari liburnya. Dan ia ingin mengerjakannya dengan santai. Tanpa harus memaksa pikirannya bekerja keras.
Dibantingnya buku-buku itu diatas meja. Lalu duduk dibawah lantai beralas karpet lembut.
Semangat Clara. . . Semangat!" ujar Clara menyemangati dirinya sendiri.
Clara mulai mengerjakan tugas sekolahnya satu persatu, perlahan tapi pasti.
Sampai pikirannya terganggu teringat kejadian saat didapur. Tatapan Fachri yang tak bisa ia artikan. Apakah Fachri cemburu? tapi untuk apa cemburu? mereka tak mempunyai hubungan special. Lagi pula Fachri tahu kalau dirinya sudah punya pacar. Jadi tak mungkin Fachri cemburu.
"Aaaaarrrrrggggghhh!" Clara berteriak frustasi sambil mengacak- acak rambutnya. Persis seperti orang yang putus asa yang tidak lulus ujian.
"Kenapa Lo harus main-main diotak gue Fachri? Gue bisa gila ini!" ujar Clara yang sambil memegangi kepalanya dengan rambut yang sudah tak karuan lalu membenamkan wajahnya ditumpukan buku tugasnya.
"Wah! Baru kali ini lihat si jenius putus asa," ujar Randi yang tiba-tiba datang dan menempatkan dirinya disebelah Clara.
Membuat Clara mengangkat kepala menatap laki-laki disampingnya yang sedang menyendok es.
"Gara-gara es koplak otak Non jadi ikutan koplak juga ternyata," sambung Randi dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Clara tak menanggapi lalu meletakkan lagi kepalanya diatas buku menatap Randi dengan tatapan sayu.
"Tadi kan udah ngedate sama Fachri, seharusnya semangat dong Non. Kenapa malah lemes gini?"
"Siapa juga yang ngedate. Cuma minum es sama makan doang," Clara menjawab dengan suara malas tapi kesal.
"Yaaakin Non!" Randi sepertinya sengaja memancing emosi Clara yang sedang frustasi.
"Kayaknya asyik nich Rand kalo buku ini bisa mendarat dimuka Lo!" ujar Clara sambil tangannya mengangkat buku tebal yang siap melayang.
"Santai dong Non!" Randi menurunkan tangan Clara.
"Mau saya suapin Non? Biar tambah koplak."
"Nggak" jawab Clara ketus. Lalu menyandarkan punggungnya disofa yang tepat berada dibelakangnya.
Randi masih terlihat menyuapkan sendok demi sendok es yang dipegangnya.
"Fachri dimana Rand?" tanya Clara penasaran.
Sebenarnya dia hanya ingin memastikan bagaimana Fachri setelah mendengar ucapannya didapur tadi. Clara diliputi perasaan tak tenang.
"Saya lihat tadi ada dimusholla Non. Kenapa dah kangen ya! padahal baru beberapa menit aja nggak ketemunya," jawab Randi sambil meletakkan es nya diatas meja.
Pertanyaan Clara tadi ternyata membuat Randi semakin menggodanya.
Hingga Clara merasa kesal dibuatnya.
"Lo tuch ya bener-bener pengen gue cincang kecil-kecil trus gue kasih saos sambal trus gue makan mentah-mentah."
"Kayak Si Rian dong Non. Si Rian aja sekarang udah tobat. Masa ada lagi Si Riani!"
Randi hanya tertawa mendengar tanggapan Clara. Lalu ia pun teringat janji Clara yang akan menceritakan insiden pagi yang membuatnya penasaran.
"Non saya mau nagih yang tadi pagi. Non cerita sekarang apa yang non lakukan dikamar Fachri," pinta Randi.
"Beneran Lo kayak setan kredit Rand. Masih inget aja kejadian tadi pagi."
"Saya kan belum pikun non."
Clara mengatur nafas, menghirupnya lalu dihembuskan perlahan sambil celingukan siapa tahu ada ayahnya.
"Daddy belum pulangkan Rand?"
"Belum Non, takut amat."
Lalu Clara mulai menceritakan dari awal kejadian saat dirinya kabur dari Fachri bersama Aldi. Kemudian kejadian ditaman saat ia hampir diculik. Lalu Fachri menyelamatkannya dan terlibat perkelahian. Sehingga Fachri juga terluka dan pagi itu ia berniat membantu Fachri mengobati lukanya. Tapi malah menimbulkan kesalahpahaman.
Randi yang mendengar penjelasan Clara mulai menunjukkan ketegangan. Takut akan terulang lagi percobaan penculikan Clara. Walau bagaimanapun Randi bisa mengira-ngira siapa yang mencoba menculik Clara. Mungkin musuh Steven yang dulu berhasil dihalau kini kembali dan ingin balas dendam.
"Hey. . . Rand kenapa jadi Lo yang tegang?" ucapan Clara membuat lamunan Randi buyar.
"Wajar lah non saya ikut tegang. Non sekarang dalam bahaya, jangan pergi sendirian. Jangan bandel kabur-kaburan tiap malam. Kalau mau kemana-mana sama Fachri. Hanya Fachri yang bisa melindungi Non Clara saat ini. Saya pun tidak bisa menjamin dapat melindungi non dari penjahat itu jika sewaktu waktu saat non bersama saya mereka datang."
Setiap kalimat yang terdengar keluar dari Randi menunjukkan sebuah kekawatiran. Clara juga dapat merasakannya.
__ADS_1
"Tapi Lo harus tutup mulut Rand, jangan sampai Daddy tau hal ini."
"Tuan harus tau masalah ini Non."
"Gue bilang Lo harus tutup mulut. Kalau daddy tahu, hidup gue semakin sulit Rand. Gue nggak mau diikuti bodyguard selama 24 jam," ujar Clara
"Ya udah iya non. Asal non mendengarkan ucapan saya tadi."
"Iya Randi. Awas kalau sampek bocor, gue pakein Lo No Drop. Biar nggak bocor."
"Lhaaaaaa. . . mulut saya jangan disamain sama genteng bocor Non."
"Inget Randi jangan sampai daddy tahu." sekali lagi Clara mengancam penuh penegasan.
"iya Nona bawel".
Randi hanya bisa menuruti kemauan Clara saat ini. Ditatapnya gadis yang kini mulai membuka bukunya lagi.
Clara mulai bermain lagi dengan rumus-rumus perhitungan. Jurusan IPA yang ia ambil membuatnya harus bertemu dengan berbagai rumus setiap harinya. Ayahnya sendiri sebenarnya ingin Clara masuk kelas IPS. Tapi Clara lebih memilih pilihannya sendiri.
Tak berselang lama Randi melihat Fachri hendak kearahnya tapi tak jadi saat melihat ada Clara.
"Fachri!" panggil Randi ketika Fachri berbalik arah.
Orang yang punya namapun berhenti melangkah dan menoleh.
"Kamu punya rekomendasi minuman unik lainnya nggak?" tanya Randi.
"Ada Es Janda dan Es Duda," jawab Fachri singkat lalu melenggang pergi meneruskan langkah.
"Mana ada Ri minuman kayak gitu," ujar Randi setengah berteriak.
"Ini Fachri jawabnya ngasal pasti. Kenapa hari ini Fachri rada aneh," gumam Randi.
"Yang buat nama otaknya lagi ambeyen kali Rand," sahut Clara.
"Termasuk Otak Non ya!"
Sebuah bantal pun mendarat kewajah Randi. Lalu Randi kabur setelah kembali melempar bantal kearah Clara.
Clara sendiri merasa Fachri menghindari dirinya. Clara merasa aneh dengan situasi saat ini.
Fachri sendiri sebenarnya tidak berniat menghindar dari Clara. Tapi menghindari zina mata, karena pakaian Clara yang masih terlalu minim saat berada dirumah. Fachri tak ingin ambil pusing dengan selalu beristighfar saat melihat Clara.
Ia pun lebih memilih mengerjakan tugas di teras belakang sebelah garasi. Sambil berjaga jaga bila Clara berniat kabur.
.
.
.
. Hay readers maaf ini author ikutan terkontaminasi sama Es koplak. . .!
Jangan anggap author halu ya, es koplak, es birunya cinta, es janda dan es duda itu beneran ada.
__ADS_1
Jangan lupa like n coment!
Thanks!