ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Halal


__ADS_3

Matahari keluar dari persembunyiannya, bersinar cerah menembus pori-pori bumi. Memberi kehangatan untuk jiwa yang hidup. Memberi secercah harapan untuk ruh-ruh yang penuh harap.


Dipagi yang indah penuh kesejukan. Seorang gadis masih terbaring lemah diranjang rumah sakit. Sang pemilik ruh kehidupan belum mengizinkan untuk kembali padaNya.


Masih ada jiwa yang mengharapkannya tetap bernafas.


Jiwa yang siap memberikan kepedulian sepenuh hati.


Jiwa yang siap menuntun membuka lembaran baru.


Jiwa yang siap menyirami sekuncup mawar yang sempat layu


Agar menebarkan keharumannya lagi


Memberikan warna pada pelataran taman yang indah


Laki-laki yang jiwanya penuh dengan harapan, tengah bermunajat dirumah sang Khaliq. Mencurahkan segala kegundahan qalbunya.


Wahai Sang Mahabbah. . .


Sang pemberi cinta untuk yang dicintai


Engkau yang menanamkan benih cinta ini untuk dia


Biarkan bunga cintaku merekah


Jangan tenggelamkan bungaku dalam nestapa tak bertepi


Wahai Sang Pemberi kehidupan. . .


Jika dia tulang rusukku


Izinkan kami mengarungi samudera kehidupan dengan ridloMu


Izinkan kami merajut masa depan dengan limpahan Rahmat Mu


Yaa Muqollibal Quluub. . .


Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan semua hati


Tak ada niat hati ini untuk menghianati cintaMu karena cintaku padanya


Engkau yang telah memberi cinta


Jangan biarkan cintaku padanya melebihi cintaku padaMu


Ampunilah kekhilafan kami. . .


Satukan kami dalam ikrar janji suci


Dengan izinMu Yaa Rabb. . .


Do'a Fachri yang tulus seakan mampu menembus alam bawah sadar Clara. Dalam keadaan tak sadar, air matanya melesat keluar. Randi yang dari tadi duduk disamping ranjang merasa heran. Lalu ia mengusap lembut air mata itu.


" Jangan menangis dalam tidur. Saya tidak bisa menghibur Non Clara kalau begini. Cepat bangun Non agar kita bisa bermain tebak-tebakan lagi. Kita bisa ajak Fachri juga. Saya tidak akan ngupil lagi Non. Saya janji." Ujar Randi.


Air mata pemuda itu juga ikut menetes. Tak kuasa melihat sahabat kecilnya dirundung duka.


Ia merindukan keceriaan dan kejahilan Clara.


Satu persatu orang mulai berdatangan.Andi sekretaris sekaligus sahabat Steven sudah menunggu diluar. Ibu panti dan beberapa pengurus lainnya juga datang.


Anin dan Samuel pun tak ketinggalan. Entah bagaimana kedua teman Clara itu bisa sampai kerumah sakit.

__ADS_1


Steven sendiri sedang berbicara dengan Revan perihal keadaan Clara.


Kini Fachri berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju tempat Clara dirawat.


Semua orang pasti sudah berkumpul. Sebentar lagi pukul 9. Waktu yang ia minta untuk menghalalkan gadis yang sudah jadi pilihannya.


Saat penghulu sudah datang, Steven mengajak Fachri untuk berbicara bertiga. Steven menjelaskan siapa Clara sebenarnya. Bapak penghulu dan Fachri pun mengangguk mengerti.


Hal itu menyangkut prosesi ijab qobul yang akan berlangsung. Clara tetaplah mengikuti nasab ayah kandungnya.


Terkait dengan nama, Fachri akan menggunakan nama pemberian dari orang tua kandung Clara.


Diruang rawat Clara semua sudah berkumpul, ditambah dengan dokter Revan dan beberapa perawat laki-laki.


Steven memberi sedikit pengertian pada orang-orang yang hadir tentang identitas Clara. Tapi ia juga meminta agar hal tersebut menjadi rahasia mereka. Tak ada orang lain yang boleh tahu.


Penghulua segera mengucapkan kalimat ijab. Fachri dengan tegas melafalkan kalimat qabul setelah penghulu selesai dengan kalimatnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Shafa Fikriyatuz Zahra binti Almarhum Michael Kemal Zahra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah. . .!" tanya penghulu kepada para saksi.


"Sah. . . !" jawab para saksi serempak.


Ketegangan tampak dari orang-orang disekitar yang menyaksikan prosesi ijab qabul. Mereka kemudian lega setelah semua berjalan lancar.


Bapak penghulu kemudian membacakan do'a yang diamini oleh orang yang hadir.


Fachri benar-benar telah mengguncang langit Ars dengan kalimat yang diucapkannya dalam satu tarikan nafas. Para malaikat pun ikut menangis, mengetahui betapa beratnya tanggung jawab seorang suami ketika dia telah menikah. Menanggung semua dosa istri dan calon anaknya kelak. Lalu berkewajiban memberi nafkah lahir dan batin. Wajib membimbing istri menuju jalan yang diridloi Allah.


Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti ruangan itu. Fachri bangkit menyalami Steven yang kini jadi ayahnya. Pelukan hangat dan rasa terimakasih diberikan Steven untuk Fachri.


Ucapan selamat dan do'a juga diucapkan oleh ibu panti dan yang lainnya.


Kini Fachri beralih pada gadis yang baru saja dihalalkan oleh dirinya.


"Assalamu'alaikum bidadariku. . .!" ucap Fachri. Kemudian mengecup kening Clara.


"Kalau sudah lelah tidur cepatlah bangun. Ada aku disini yang merindukan nyanyian indah celotehanmu. Biasanya kau akan terus bicara walau aku tak menanggapi setiap kalimat yang kau ucapkan." Fachri menggenggam tangan Clara dan menciumnya. Kemudian ia memakaikan cincin dijari manis Clara.


"Sekarang kenapa kau hanya diam saja Clara."


Fachri tak kuasa lagi membendung air matanya. Tak seharusnya laki-laki menangis, tapi Fachri juga manusia biasa. Ia punya air mata untuk mengekspresikan suasana hatinya.


Sekian lama Fachri duduk sendiri disamping ranjang istrinya yang tak kunjung sadar. Hingga Randi dan Steven menghampiri.


"Kau beristirahatlah dulu Fachri. Randi akan menggantikan menjaga Clara." ujar Steven.


"Tidak tuan saya akan menunggu Clara sampai ia sadar."


" Jangan panggil tuan lagi. Aku sekarang ayahmu. Panggil "Ayah" atau "Daddy" seperti Clara memanggilku." ucap Steven.


"Baiklah ayah. . .!" seru Fachri kemudian.


"Aku harus kembali kekantor sekarang. Clara kuserahkan padamu." Steven beranjak pergi sambil menepuk bahu Fachri.


Kini Fachri dan Randi duduk disofa yang tersedia diruangan itu.


"Sepertinya sekarang aku harus memanggilmu Den Fachri. . .!" ujar Randi memecah keheningan.


"Panggil saja aku Fachri"


"Sekarang kamu itu suami dari pewaris tunggal perusahaan Zahra Group." ujar Randi memberi tahu bahwa Fachri sudah masuk dalam keluarga "Zahra". Walau kini masih disamarkan dibalik nama perusahaan Haidar Group.

__ADS_1


"Aku tetaplah seorang Fachri. Tak akan berubah Rand. Ayo kita dhuhuran dulu." ajak Fachri. Mengalihkan pembicaraan Randi. Ia merasa tak punya hak atas harta kekayaan istrinya.


Randi pun menurut. Ia bergantian dengan Fachri mengambil air wudlu. Kemudian sholat berjamaah diruangan itu dengan menggelar karpet yang tersedia.


Waktu terus bergulir. Detik demi detik. Menit demi menit dan jam berganti seiring berputarnya waktu. Clara belum juga sadar hingga menjelang sore hari.


Dokter Revan bilang Clara masih dalam pengaruh obat tidur yang ia minum. Walau dokter sudah memberi penetralisir tapi tak mampu sepenuhnya menghilangkan pengaruh obat karena terlalu banyaknya obat tidur yang ditenggak Clara, hingga tetap berpengaruh.


Randi keluar ruangan hendak membeli makanan. Tapi ia melihat Anin dan Samuel masih ada dikursi tunggu.


"Kenapa kalian masih disini? Pulanglah. . .!"


"Kami tidak akan pulang sebelum melihat Clara sadar. Kami adalah sahabat, akan selalu ada satu sama lain" ujar Anin.


Lalu Randi menyuruh mereka masuk kedalam. Ia berharap kehadiran sahabat Clara bisa membantu.


Fachri pun menyapa ramah kedua sahabat Clara. Ia sudah mengenal mereka dari cerita Clara, bahwa Anin dan Samuel adalah sahabat terbaiknya.


Randi sudah kembali dengan membawa beberapa kotak makanan. Mereka pun makan bersama. Fachri sebenarnya tak berselera makan, tapi ia harus kuat demi Clara. Dengan susah payah makanan yang masuk kemulutnya ia telan.


Saat langit senja yang berwarna jingga hampir tenggelam oleh gelapnya malam. Clara merasakan ada kecupan lembut dikeningnya. Ada tangan hangat yang menggenggam jemarinya.


Perlahan Clara membuka mata. Mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Ia menemukan sosok Fachri yang sedang membelai rambut kepalanya.


"Ngapain Lo nyentuh gue Fachri? Lo nggak istighfar lagi?" tanya Clara dengan suara yang masih lemah.


"Aku tidak akan istighfar lagi ketika menyentuhmu. Aku sudah mendapat pertanggung jawaban darimu." ujar Fachri lembut.


"Maksud Lo apaan Fachri?" tanya Clara lagi.


Belum sempat Fachri menjawab pertanyaan itu. Clara terlihat hendak bangun. Fachri langsung menyangga tubuh Clara, membantunya duduk bersandar.


"Kamu mau minum?"


Clara mengangguk, Fachri meraih gelas berisi air putih disampingnya.


"Udah puas Lo tidurnya Ra?" celetuk Samuel. Ia mendekat kearah Clara bersama Anin.


Fachri meraih gelas ditangan Clara dan meletakkan kembali ketempatnya.


"Gue ampek jamuran Ra nungguin Lo yang kayak putri tidur. Pangeran Lo dah nyium berkali-kali tapi Elonya nggak bangun-bangun."


Sahut Anin.


Lalu ia mendapat sikutan dari Samuel karena mendapat tatapan aneh dari Fachri.


Clara pun mengernyitkan dahinya. Ia menatap kearah kedua sahabatnya penuh tanda tanya. Randi yang berdiri disamping Fachri juga tak berani buka mulut. Biarlah Fachri yang akan memberi tahu segalanya.


.


.


.


.


There is no sentence as beautiful as prayer


Tiada kalimat seindah doa


Thanks readers atas partisipasinya, memberikan like dan komen. . . !


Terimakasih juga untuk yang sudah ngevote. . . !

__ADS_1


__ADS_2