
Shafa sedang asyik mengemas barangnya kedalam koper sambil bersenandung. Mengikuti alunan nada dari musik yang ia putar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Randi terlihat panik dan kemudian bernafas lega melihat Shafa baik-baik saja.
"Kenapa sih lo?" tanya Shafa heran.
"Saya kira Non bakal bunuh diri lagi. Nyalain musik kenceng banget, lirik lagunya sedih pula. Saya kan jadi khawatir Non," gerutu Randi. Lalu dengan lancang merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
Shafa masih memasukkan satu persatu bajunya kedalam koper. "Musiknya enak didengar Rand, gue suka musiknya. Liriknya juga sih, dalem banget kayak kisah hidup gue," ucapnya.
Kemudian ia bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sedang diputar. Lagu berjudul "Soledad" yang dibawakan oleh westlife.
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Segalanya terasa begitu sepi sejak hari kepergianmu
Why did you leave me Fachri
Mengapa kau tinggalkan aku Fachri
In my heart you were the only
and your memory lives on
Dihatiku hanya ada dirimu seorang
Dan kenangan tentangmu akan abadi
Why did you leave me Fachri
Shafa begitu menghayati lagu itu. Ia bernyanyi dengan mengubah sedikit liriknya.
"Non ngapain ngemas baju dalam koper gede? Mau minggat Non?" tanya Randi dengan nada bercanda.
Shafa nyengir sekilas. "Hihi... Iya gue mau minggat," jawab Shafa ketus.
Randi langsung duduk. "Serius Non?" tanyanya.
"Gue cuma mau nginep beberapa hari dihotel Rand. Kan nanti malam acara peresmiannya. Sekalian gue cobain nginep disana kayak apa rasanya." Tentu saja ia berbohong. Sebuah rencana dan keputusan besar sudah ia mantapkan. Ia sudah siap dengan segala konsekuensi dari jalan yang akan ia pilih.
"Saya ikut ya Non," pinta Randi.
"No Randi! Gue nggak mau ada yang ngrecokin liburan cantik gue disana," tolak Shafa. Kalau Randi ikut bisa berabe jadinya. Bakalan gagal rencana yang sudah ia susun.
"Pelit..." umpat Randi.
"Orang pelit cepet kaya."
" Yang ada malah melilit Non."
"Bantuin bawa koper gue kebawah Rand!" pinta Shafa saat semua sudah tertata rapi dan ia yakin tak ada barang berharganya yang tertinggal.
Randi segera menuruti permintaan Nonanya. Ia bawa koper itu kebawah dan memasukkannya kedalam mobil.
Sedangkan Shafa asyik bermain ponsel sambil merebahkan tubuhnya. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Tanpa ia sadari, bertukar pesan dengan Mr.Alay nya membuat ia melupakan sejenak kesedihan yang bergelayut.
Shafa: Kita vicall yuk Sam!
Sedangkan diseberang sana, Guntur kelimpungan membaca pesan dari Shafa. Bagaimana caranya berkilah dari permintaan itu?
"Mampuslah... Aku harus gimana ini?" Guntur menyembunyikan wajahnya dimeja dengan kedua tangan meremas rambutnya sendiri.
Disaat yang bersamaan notif ponselnya kembali berbunyi. Ada pesan masuk lagi dari kontak yang ia beri nama My.Ara.
My.Ara: Kok cuma dibaca doang Sam? Gimana bisa nggak?
Guntur masih bingung harus jawab bagaimana. Dalam keadaan panik ia mendadak menjadi bodoh. Menjawab permintaan Shafa yang bisa dengan mudah ia mencari alasan untuk menolak saja tak terfikirkan.
Hingga ada suara ketukan pintu dan Samuel lah yang masuk dengan map ditangannya.
"Kenapa tuch muka? Pagi-pagi udah kayak ayam kate," celetuk Samuel. Lalu duduk dikursi yang ada didepan meja kerja Guntur.
"Aku ayam bangkok, bukan ayam kate."
"Percaya dech yang punya darah aca-aca nehi-nehi," ucap Samuel dengan menirukan gaya orang india. Guntur memang memiliki darah india dari sang kakek. Hidungnya mancung dan berperawakan tinggi, didukung pula dengan kulit bersih yang ia warisi dari ibunya. Sebuah paket lengkap dari seorang Guntur Aryan Pramseta.
Laki-laki itu menghela nafas tidak menanggapi ocehan adik sepupunya. "Untung kamu datang." Guntur dengan segera mengirim panggilan video pada Shafa. "Nich!" Guntur menyodorkan ponselnya pada Samuel. "Dia minta vicall," ucapnya kemudian.
"Gue lagi yang harus jadi kambing peralihan," gerutu Samuel sambil menerima ponsel dari Guntur.
"Ingat kalau manggil aku-kamu, jangan elo-gue!" Guntur mengingatkan.
Samuel hanya mencebik kesal. Kemudian panggilan sudah terhubung. Tampak wajah cantik dengan rambut tergerai muncul dilayar. Gadis itu sedang rebahan diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Hallo Mr.Alay! " Shafa menyapa dengan riang.
"Hallo juga My.Ara!" Samuel menyapa balik. Ia tahu panggilan itu dari nama kontak yang ada diponsel Guntur. "Eh, tunggu dulu. Kamu tadi manggil aku apa?" tanyanya kemudian.
"Mr.Alay" jawab Shafa dengan santainya tanpa beban.
Seketika tawa Samuel pecah. Ia tak mengira jika Shafa sampai menganggap Guntur alay. Emang si Guntur udah bener-bener alay kali ya.
"Ngapain sih kamu ketawa sampai begitu?" tanya Shafa. Menampakkan wajah keheranan dilayar ponsel.
Samuel mencoba menahan tawanya setelah mendapat tatapan mengancam dari Guntur yang duduk berseberangan. "Emang aku se-alay itu ya? Sampai kamu manggil aku Mr.Alay," ujarnya.
"Mungkin..." jawab Shafa. "Kamu selalu bisa menghibur dengan candaan-candaan konyol kamu itu. Karena itu mungkin yang terlintas adalah kata Alay."
"Jangan-jangan nama kontak diponsel kamu juga Mr.Alay ya!" tebak Samuel.
"Hehehe... iya Sam." Shafa cengengesan sendiri. Ia tak kalah konyolnya dengan Guntur, ternyata.
"Hahaha... " tawa Samuel terdengar kembali. Hingga perutnya kram karena terbayang kekonyolan Shafa dan Guntur saat mereka saling bertukar pesan.
"Ganti Mr.A aja ya Fa jangan Mr.Alay. Geli aku dengernya," ucap Samuel.
"Ok... Ok... Ntar aku ganti dach! Tapi nanti kalau kamu jadi Mr.A nggak takut ditangkap sama Jai Dixit?"
"Kamu kira kita ini main film Bollywood. Sekalian aja kamu jadi Sunehri."
"Hahaha..." Kini ganti Shafa yang tertawa lepas.
Samuel diam terpaku sambil tersenyum, tawa yang mungkin tak pernah ia lihat semenjak kejadian dirumah sakit saat Fachri tiada. Ada rasa bahagia yang terbesit dihatinya. Sebagai seorang sahabat, tak dipungkiri bahwa ia juga sangat menyayangi Shafa seperti adiknya sendiri. Dia juga berharap Shafa akan benar-benar berjodoh dengan Guntur. Meski jalan mereka kedepannya mungkin tak akan mudah. Karena mungkin, jika Shafa tau yang sebenarnya. Bahwa yang selama ini menjadi Samuel adalah Guntur, tak menampik kemungkinan Shafa akan kecewa dengan mereka berdua.
"Ngapain kamu ngeliatin aku begitu?" tanya Shafa saat menyadari Samuel hanya diam saja.
"Kamu cantik kalau tertawa."
"Udah jangan gombal melulu, kasian Anin. Nanti gombalannya berkurang karena kamu bagi sama aku."
"Ya nggak lah. Dia tetap nomor satu dihatiku. Yang kedua kamu," Samuel mengerlingkan mata, menggoda Shafa.
Shafa pun terdiam mendengar ucapan Samuel. Keningnya mengernyit heran.
"Sebagai sahabat maksudnya Fa. Jaga tuch pikiran biar nggak ngelantur!" ucap Samuel kemudian.
Shafa hanya bisa mencebik kesal. Kalau mereka dekat mungkin kepala Samuel sudah terkena jitakan Shafa.
"Ngomong-ngomong kamu lagi dimana Sam?"
"Gimana ingat nggak sama dia?" Samuel mengulangi pertanyaannya tadi. Kamera ponsel sudah menghadap lagi kearahnya.
Shafa hanya menaikkan kedua bahunya. "Nggak ingat aku Sam," ucap Shafa dengan entengnya.
"Astaga Shafa... Kamu beneran nggak ingat sama Kak Guntur? Kalian kan sudah bertemu beberapa kali. Masa iya kamu nggak ingat Fa!" ucap Samuel hampir tidak menyangka sama sekali tak ada kesan dengan pertemuan Shafa dan Guntur.
"Bodo amat Sam. Nggak penting juga kan!" ucap Shafa dengan entengnya.
"Ya udah Fa, aku mau berangkat kuliah dulu ya. Udah kesiangan ini. Bentar lagi ada kelas." Samuel segera mengakhiri percakapannya.
Guntur tampak diam saja tanpa ekspresi mendengar ucapan Shafa tadi.
"Ok Sam! Bye..."
"Bye Ara!" Panggilan pun diakhiri oleh Samuel.
Ia menghela nafas panjang. Memang cukup rumit kisah percintaan kakaknya. Cewek yang disukainya tak pernah menganggap ia ada. Bahkan setelah beberapa kali bertemu. Tapi sejatinya ikatan emosional mulai terjalin diantara keduanya. Hanya saja Shafa tak pernah menyadari itu.
"Ya udah Kak, gue berangkat kuliah dulu. Semangat terus jangan nyerah buat dapetin hati Shafa." Samuel menepuk pundak Guntur memberi semangat.
"Ok!" jawab Guntur singkat. Raut wajahnya menjadi mendung.
Samuel segera keluar dari ruangan Guntur dan bergegas kekampusnya.
*****
Detik jam terus bergulir. Siang sudah beranjak meraih senja. Matahari sudah bersiap untuk undur diri. Menggantinya dengan cahaya senja yang kini tak seindah dulu. Tehalang oleh awan yang mendung. Musim penghujan memang sudah datang sejak sebulan belakangan.
Shafa sudah rapi dengan gaunya yang terlihat berbeda hari itu. Dia berubah menjadi bidadari berhijab yang sangat menawan dengan gaun berwarna ungu muda dan hijabnya yang berwarna senada.
Saat ini Shafa sudah keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Sampai dibawah ia disambut dengan godaan Randi.
"Duh... yang mentang-mentang janda, pakai ungu-ungu. Emes dah abang, dek!" Randi mencolek sedikit dagu Shafa.
"Bisa nggak, jangan main colek-colek," sungut Shafa. "Lagian apa hubungannya janda sama warna ungu. Ungu warna yang tidak terlalu buruk," lanjutnya.
"Kata orang warna ungu itu warna janda Non."
__ADS_1
"Kalau anggur warna ungu, jadi anggurnya janda dong ya!"
"Kan itu kata orang Non."
"Makanya jangan dengerin kata orang. Cukup dengarkan kata hati."
Shafa pun segera menuju mobilnya, diikuti oleh Randi. Mereka berdua berangkat kehotel. Dimana akan diadakan acara peresmian malam itu.
Aula hotel sudah ramai dengan para tamu. Shafa datang keacara itu bukan sebagai putri dari seorang Steven Haidar Mahendra, tapi sebagai tamu undangan biasa. Ia tak mau memperkenalkan diri pada publik. Karena itu ia berpenampilan berbeda malam itu. Tak akan ada yang mengenali dirinya dengan pakaian berhijab.
Meski Steven sangat berharap Shafa mau meresmikan hotel yang sudah atas namanya, tapi apa daya jika Shafa sudah mengatakan tidak. Ulang tahun pun Shafa tak mau merayakannya.
Setelah memberi sambutan singkat, acara pemotongan pita segera dimulai. Shafa hanya melihat dari kejauhan. Suara gemuruh tepuk tangan terdengar riuh.
Semua orang pun menikmati jamuan pesta. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Randi untuk menuju taman.
"Ngapain lo ajak gue kemari?"
Randi tersenyum mendengar pertanyaan Shafa. Ia meraih kotak kecil yang ada dibangku taman. Lalu membukanya dan menyalakan lilin dengan angka 15 diatas kue kecil yang ada didalam kotak. "Selamat ulang tahun Non!"
Shafa merasa terharu dengan kejutan kecil dari Randi. Ia pun meniup lilin dengan mata yang berkaca-kaca. "Thanks ya Rand! Lo memang sahabat terbaik gue."
Mereka berdua pun duduk. Randi meraih tangan Shafa dan memakaikan sebuah gelang. "Hadiah kecil dari saya Non. Ada ukiran nama Non disana."
Shafa pun memeriksa gelang itu, dan benar saja ada ukiran nama "Shafa~Fachri". Ia pun menangis haru. Ternyata Randi begitu perhatian dengan dirinya. Bahkan untuk hal-hal kecil.
"Berapa lama kamu nabung buat beli ini? Ini kan tidak murah Rand!" selidik Shafa diiringi tawa kecilnya. Ia tahu sahabatnya ini pasti jauh hari sudah mempersiapkannya.
"Empat bulan Non." Randi juga menjawab dengan iringan kekehan kecil.
"Sekali lagi thanks ya Rand. Lo selalu ada buat gue aja itu udah lebih dari cukup."
"Sama-sama Non."
Sejenak mereka berdua menikmati malam yang dingin disana. Shafa memulai memikirkan rencananya. Ia harus segera keluar dari hotel.
"Rand, bisa minta tolong ambilin minum didalam?" pinta Shafa.
"Siap Nona manis." Randi segera masuk kedalam. Sedangkan Shafa bergegas menyelinap keluar dari gedung hotel.
Ia menuju mobilnya, mengambil koper dan tas selempang. Segera Shafa meraih ponsel memesan taxi online. Ia pun berjalan menjauhi area hotel.
Tak berselang lama taxi sudah datang. Shafa segera masuk kedalam taxi yang akan membawanya kebandara. Itulah keputusan besarnya. Ia bertekad mencari jalannya sendiri. Pergi jauh untuk sejenak dari kota yang penuh dengan kenangan. Suatu saat ia pasti akan kembali. Bukan egois meninggalkan ayahnya sendirian, tapi ia sendiri ingin mencari kebebasannya. Mencoba menantang badai kehidupan yang ia belum tau seperti apa.
Randi yang baru menyadari Shafa menghilang segera melapor pada Steven. Kini semua orang sibuk mencari keberadaan Shafa. Steven menyuruh Andi melacak keberadaan Shafa. Tak butuh waktu lama Andi sudah bisa melacak keberadaan Shafa. Saat ini mereka sedang berada diruang VIP hotel.
"Shafa mengambil penerbangan luar kota Stev. Sepertinya dia memang sengaja ingin pergi."
Steven hendak buka suara tapi ada pesan masuk keponselnya.
Daddy...
Maafin Shafa! Biarkan aku pergi mencari apa yang ingin aku cari.
Shafa yakin saat ini Daddy sudah tau Shafa pergi. Tapi please Dad! Biarkan Shafa sendiri. Jangan berusaha memaksaku pulang.
Jika waktunya, Shafa akan pulang sendiri.
Always loving you my Daddy...
Steven mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tau alasan putrinya pergi.
"Apa yang harus kita lakukan Stev? Apa perlu aku jemput Shafa?" tanya Andi.
"Tidak Ndi. Biarkan dia pergi. Kita hanya perlu memantau keselamatannya. Dia tidak ingin kita ikut campur. Shafa menginginkan kebebasannya sendiri."
Andi pun hanya diam menuruti perkataan Steven. Mereka hanya bisa menuruti kemauan Shafa saat ini.
Shafa sendiri memulai hidup barunya. Ditempat baru, lingkungan baru dan teman-teman baru.
Akankah perjalanan hidup Shafa berjalan sesuai keinginannya?
Bagaimana ia menjalani hari-harinya?
Akankah ada cinta baru yang ia temukan nantinya?
.
.
.
.
__ADS_1
Sampai ketemu diseason ke-2 dengan judul "Guntur Di Bumi Cinta".
See you....