ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Sakit


__ADS_3

"Non Clara belum turun Bik?" tanya Fachri pada Bik Nani yang sedang membereskan dapur.


Maya dan Siti sedang berbelanja. Sedangkan Randi sudah berangkat bersama Tuan Steven.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Biasanya Clara sudah turun saat jam 6.30.


"Sepertinya memang belum Nak Fachri. Bibik coba lihat kekamarnya dulu."


Bik Nani segera menuju kamar Clara. Fachri duduk di kursi meja makan sambil harap-harap cemas. Apakah terjadi sesuatu dengan Clara?


Tiba-tiba saja Bik Nani berteriak memanggil nama Fachri agar naik keatas.


Secepat mungkin Fachri berlari. Pasti sesuatu terjadi pada Clara.


Sesampainya dikamar Clara, Fachri melihat Bik Nani sedang merenggkuh Clara yang terbaring dilantai. Gadis itu tengah meringkuk kesakitan sambil memegang perutnya.


"Apa yang terjadi Bik?"


"Sepertinya sakit maag Non Clara kambuh. Tolong bantu Bibik mengangkat Non Clara ke tempat tidur."


Fachri tampak bingung, harus bagaimana dia.


"Ayo Nak Fachri" seru Bik Nani. Fachri pun reflek langsung membantu mengangkat tubuh Clara.


Bik Nani terlihat membuka satu persatu laci yang ada dikamar Clara. Mencari obat maag milik Clara. Tapi tak ditemukannya, sepertinya obat itu memang habis.


"Saya telvon dokter dulu. Nak Fachri tunggu disini." ujar Bik Nani panik. Lalu bergegas keluar kamar.


Fachri hanya bisa menatap Clara yang masih meringkuk kesakitan. Ingin ia menyentuh Clara untuk sekedar memberi kekuatan. Tapi diurungkannya. Entah kenapa hati Fachri menjadi gelisah melihat gadis dihadapannya sedang menahan sakit. Ada rasa ingin melindungi yang muncul.


"Kita bawa Non Clara kerumah sakit." seru Bik Nani yang sudah kembali. " Dokter Revan sedang sibuk. Beliau akan menangani Non Clara dirumah sakit." lanjutnya.


Bik Nani menyuruh Fachri membopong Clara. Mau tidak mau Fachri harus melakukan itu. Tak ada lagi orang lain dirumah itu.


Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Fachri mulai meraih tubuh Clara. Membawa kedalam dekapannya. Dalam keaadaan setengah sadar karena rasa sakit yang mendera, Clara merasakan tubuh hangat Fachri dan detak jantung laki-laki itu tak beraturan.


Fachri membawanya menuruni tangga kemudian menuju mobil yang ada dihalaman.


Bik Nani juga ikut menemani Clara duduk dikursi belakang, ia meraih kepala Clara kepangkuannya.


"Sabar ya Non kita sudah dalam perjalanan kerumah sakit." ujar Bik Nani menenangkan Clara yang terus merintih kesakitan.


Fachri mencoba mengemudikan mobil secepat mungkin.


Sesampainya di rumah sakit Fachri kembali membopong tubuh Clara lalu meletakkan d brangkar yang dibawa oleh perawat.


Tak lupa juga Fachri menghubungi Randi memberi tahu keadaan Clara.


Randi kemudian memberi tahu Tuan Steven, hingga meninggalkan semua rapat yang harus dihadiri. Semua ia serahkan pada Andi sekretarisnya.


Kini mereka semua sedang harap-harap cemas dengan keadaan Clara.


Tak lama kemudian perawat keluar dan memberi izin untuk masuk, dokter Revan masih ada didalam. Sepertinya dia memang sengaja menunggu Steven.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan putriku?" tanya Steven pada dokter Revan. Dia adalah dokter pribadi keluaga Steven.


"Sejauh ini masih bisa diatasi, tapi jaga pola makannya. Dari hasil analisaku. Beberapa hari terakhir sepertinya Clara tidak makan secara teratur. Sehingga menyebabkan luka dilambungnya. Dan indikasi lainnya maag Clara kambuh juga dipicu akibat stress. Karena stress dapat membuat syaraf mengeluarkan hormon berlebih yang mengganggu kinerja lambung secara keseluruhan. Jadi sebisa mungkin hindari suasana yang membuatnya tertekan." Terang dokter Revan.


Steven pun menatap Clara dengan perasaan bersalah. Putrinya sedang terbaring sakit.


"Aku sudah memberi obat pereda sakit. Dia akan tertidur sebentar. Aku akan memeriksanya lagi setelah dia bangun nanti."


Dokter Revan pun keluar dari ruangan. Steven mendekati putrinya. Memberi kecupan lembut dikening Clara.


Kemudian Randi Fachri dan Bik Nani ikut masuk melihat keadaan Clara.


Setelah itu Randi mengantar ibunya pulang lebih dulu.


****


Perlahan Clara mulai membuka matanya. Sakit yang tadi dirasakannya sudah hilang, hanya sedikit nyeri diperutnya.


Terasa ada tangan yang mengusap lembut kepalanya.


"Daddy. . .!" ucap Clara lirih.


"Iya ini Daddy"


"Kenapa Daddy ada disini?" Tanya Clara


Lalu terdengar ada suara yang menyahut.


"Kalau kamu tidak sakit, Ayahmu ini tidak akan ada disini dan meninggalkan seluruh meeting pentingnya." Ternyata itu suara dokter Revan.


Revan hanya tertawa setelah menggoda sahabatnya yang selalu sibuk dengan pekerjaanya. Lalu beralih pada Clara, mengecek kembali kondisinya.


"Ok gadis manis, kamu tidak perlu menginap dirumah sakit. Kamu bisa pulang hari ini. Dan ini Steven resep obat untuk putrimu."


Revan menyerahkan secarik kertas pada Steven.


"Dan yang perlu diperhatikan. Untuk 3 hari kedepan atur pola makan Clara secara berkala, sehari bisa empat sampai lima kali dengan porsi sedikit-sedikit. Jangan langsung menyuruhnya makan banyak sekaligus, itu justru akan memperburuk lambungnya."


"Baik lah Van. Aku akan menyuruh orang rumah lebih memperhatikan Clara." ujar Steven.


Fachri pun mendengar penuturan dokter Revan. Kemungkinan ia akan mendapat tugas tambahan setelah ini.


Dokter Revan kembali keruang kerjanya. Bersamaan dengan itu Steven mendapat televon dari sekretarisnya bahwa ada pertemuan yang tidak dapat diwakilkan. Terpaksa Steven harus kembali kekantor.


Sebelumnya ia sudah berpesan pada Fachri untuk menghubungi Randi. Supaya Randi menjemput kerumah sakit. Tak lupa Steven menyuruh Fachri menebus obat Clara.


"Kamu dengar kan apa kata dokter tadi. Jadi saya minta kamu yang mengontrol keadaan Clara." ujar Steven sebelum pergi.


Fachri pun menganggukan kepala mengerti dengan perintah Tuannya.


"Maaf Fachri hari ini gue nyusahin Lo." ujar Clara sambil duduk ditepi ranjang.


"Tidak masalah Non. Asal Non mau bertanggung jawab, karena sudah kedua kalinya Non membuat kita melakukan kontak visik." Tutur Fachri yang berdiri disisi ranjang tak jauh dari Clara.

__ADS_1


Clara masih tak mengerti tanggung jawab apa yang dimaksud Fachri. Apa dia akan meminta untuk menikahinya, seperti yang pernah Fachri ucapkan. Sepertinya Fachri sudah tidak waras. pikir Clara


"Kalian sedang ngobrolin apa kayaknya tegang gitu?" seru Randi yang tiba-tiba muncul. Tak ada yang menjawab pertanyaan Randi.


"Kamu bantu Non Clara bersiap-siap pulang. Aku tebus obat dulu, Sekalian aku ambil mobil diparkiran." ujar Fachri yang kemudian berlalu.


Sesaat kemudian ada perawat yang datang membantu melepas infus ditangan Clara. Randi juga membantu Clara bersiap, dengan bantuan kursi roda Randi membawa Clara keluar dari rumah sakit. Didepan sudah ada Fachri yang siap dengan mobilnya.


***


"Non mau saya antar kekamar atau disini saja?" tanya Randi.


"Disini saja Rand, gue mau nonton Film. Udah lama gue nggak nonton Bang Ethan."


Randi menuntun Clara keruang santai. Lalu mengambil Flashdisk dan menancapkan ke dilubang dibalik Tv. Randi pun memberikan remote control pada Clara agar dapat memilih sendiri Film yang ingin ia tonton. Randi sendiri juga ikut menonton.


"Rand tolong dong ambilin Hp gue dikamar. . .!" pinta Clara. Padahal Randi baru saja duduk.


"Baru aja nich pantat PW Non. Belum anget juga nich sofa sudah dapat perintah" Gerutu Randi tapi ia tetap beranjak melakukan perintah Clara.


"Angetin aja pantat Lo dikompor Rand. Sekalian buat pantat panggang." Seru Clara


Sementara didapur Fachri meminta Bik Nani menyiapkan makanan Clara, tentunya dengan porsi sesuai intruksi Fachri.


Kemudian Fachri mengantarkan makanan itu pada gadis yang tengah asyik menonton. Tak lupa juga Fachri menyiapkan obat Clara.


"Ini Non" Randi menyodorkan Hp Clara.


"Makasih Randi" Clara menerima Hpnya. Sejenak ia mengabaikan makanannya. Sibuk membuka pesan yang masuk.


"Makan dulu Non. Baru main Hp." tegur Fachri yang duduk disamping Randi.


Clara pun mengerucutkan bibirnya kesal. Menaruh Hpnya lalu melanjutkan makan.


"Enak sekarang Non punya pawang hati." celetuk Randi.


Sontak membuat kedua orang disampingnya melotot kearah dirinya.


Ia pun pura-pura fokus pada layar besar dihadapannya. Memperlihatkan wajah datar. Menghindari tatapan mengancam dari orang disampingnya.


"Jangan masang WTD Lo Rand." ujar Clara yang sudah menghabiskan sisa makanannya.


"Apaan sih Non WTD?"


"Wajah Tanpa Dosa" jawab Clara dan Fachri serentak.


.


.


.


Tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah dan peganglah pikiran yang memberimu semangat

__ADS_1


Positive thinking. . .!


Thanks bagi yang sudah berkenan mampir. . .!


__ADS_2