
Kegelapan telah menenggelamkan malam dalam kesunyian. Menghanyutkan jiwa yang letih dalam keindahan alam peraduan. Menyanyikan alunan nada keheningan.
Clara terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tangan kokoh Fachri melingkar diperutnya. Perlahan Clara berbalik menghadap kearah suaminya itu. Memperhatikan sejenak wajah yang biasanya memberi kesejukan. Tapi kali ini berbeda, ia melihat gurat kesenduan dalam wajah itu.
Jemari lentiknya membelai wajah itu dengan lembut. "Apa yang membuatmu sedih Fachri? Kau tak pernah berbagi dukamu padaku. Ada apa dengan masa lalumu?" ucap Clara lirih.
Sentuhan jemarinya membuat Fachri mengerjap, perlahan ia membuka mata. Clara pun tak heran, ia tahu suaminya itu mudah sekali terbangun walau hanya dengan sentuhan lembut.
Juga sudah menjadi kebiasaan, mereka tidur hanya saling memeluk tanpa melakukan hal lebih. Fachri benar-benar menghormati cintanya. Ia tidak mau melukai istrinya yang masih belia. Kebahagiaan gadis manisnya adalah prioritas utama. Menjaga kehormatan Clara adalah sebuah komitmen.
Clara memberikan senyuman saat Fachri sudah membuka matanya. Tangannya masih memegang wajah sendu sang suami.
"Kenapa kamu bangun Shafa?" tanya Fachri dengan suara serak.
"Shafamu ini belum sholat isya' Fachri," jawab Clara dengan gemas. Mencium kening Fachri sekilas lalu beranjak dari tempat tidur.
Fachri merasa ada sekuncup bunga yang sedang mekar dihatinya. Memberikan warna yang indah dan menyeruakkan bau keharuman. Istrinya kini sudah bisa bertanggung jawab pada kewajibannya sendiri.
Setelah sholat isya' yang dilakukan Clara pada tengah malam, hatinya juga tergerak membaca kalam ilahi. Mulai ada kerinduan dihatinya untuk melantunkan kalam indah yang tak bisa diciptakan oleh manusia. Itu adalah murni kalam Allah. Banyak keunikan yang ada didalamnya. Bahkan seorang penyair pun tak ada yang bisa menandinginya.
Clara yang biasanya bersenandung dengan lagu-lagu pop, kini bersenandung dengan kalam ilahi. Merdu suaranya menghiasi keheningan malam. Menciptakan senandung rindu pada yang mendengar.
Jiwa Fachri yang tadi diselimuti keresahan, kini kembali menemukan dahaganya. Setiap ayat terdengar merdu. Mendayu-dayu dalam hatinya. Kembali merekahkan bunga cintanya. Taman yang sempat gersang, kini kembali ditumbuhi bunga yang indah. Ya, Fachri benar-benar jatuh kembali dalam samudera asmara.
Clara seolah-olah telah membuatkan dirinya sebuah pulau asmara dan Fachri sudah terjebak disana. Ia ingin mengarungi samudera berdua bersama Clara. Menuju pulau asmara yang sedang menanti kedatangan mereka berdua.
Suara Clara membuat Fachri kembali terlelap dalam kedamaian tidur.
Setelah selesai, Clara merapikan kembali sajadah dan mukenanya. Cacing dalam perutnya berontak minta diisi. Ia memang belum makan malam.
Dengan hati-hati, dibukanya pintu kamar supaya tidak membangunkan Fachri. Lalu menuju dapur. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dalam lemari pendingin banyak sayuran dan daging. Tapi ia tak bisa masak.
Akhirnya Clara mengambil beberapa bungkus makanan ringan. Ingin membuat susu hangat tapi ia juga tak tahu cara menggunakan peralatan dapur.
Clara pun duduk dikursi meja makan sambil mengoles dua lembar roti tawar dengan selai coklat kesukaannya. Setelah habis, ia beranjak menuju ruang keluarga dengan membawa makanan ringan yang ia ambil tadi.
Dengan santainya, ia mengambil flashdisk dari laci dan menyalakan televisi. Memilih film yang menjadi favoritnya. Clara menikmati nyemil malam sambil nonton. Saat sedang serius-seriusnya, ada seseorang yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Astaga Fachri! Kau mengagetkan saja," pekik Clara karena kaget.
Fachri mengambil alih cemilan yang ada ditangan Clara dan memakannya. "Kalau lapar kenapa tidak membangunkan aku saja."
Clara mengambil satu bungkus lagi untuk ia buka. "Aku tidak tega mengganggu tidurmu." Tangannya menyuapkan cemilan kedalam mulut.
"Kamu ingin makan apa biar aku yang masak?" tanya Fachri.
"Aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin susu hangat. Tadi aku ingin membuat sendiri tapi tak tahu caranya," ujar Clara memasang wajah polos dihadapan suaminya.
"Dasar anak kecil! Membuat susu saja tidak bisa." Fachri mengacak-acak rambut istrinya gemas.
"Aku kan tidak pernah menyentuh peralatan dapur." Clara menampilkan wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Baiklah akan aku buatkan." Fachri pun menuju dapur.
Tak lama kemudian, Fachri sudah kembali dengan membawa nampan berisi satu gelas susu dan segelas teh.
Clara segera meminum susu hangatnya dengan antusias.
Fachri juga meminum tehnya.
"Itu teh apa sih Ri?" tanya Clara penasaran dengan tampilan teh Fachri yang beda dari teh pada umumnya.
"Ini teh daun buah Tin. Mau nyoba?" Fachri menyodorkan tehnya pada Clara.
Karena penasaran, Clara pun mencobanya.
"Pahit Fachri," ujar Clara kemudian. Sambil mengusap bibirnya lalu meminum susunya untuk menghilangkan rasa pahit.
"Enak lagi Fa pahitnya. Harus dihayati dan diresapi biar nikmatnya berasa," ujar Fachri sambil tersenyum. Tehnya memang terasa pahit dan butuh keberanian untuk mengalahkan rasa pahit itu. Tapi dibalik rasa pahitnya ada sejuta manfaat yang tersembunyi. Seperti sebuah perjalanan hidup yang diiringi dengan berbagai kepahitan. Tapi yakinlah, dibalik itu semua ada hikmah yang tersembunyi. Kepahitan mengajarkan diri agar kuat menghadapi segala ujian. Dan mengajarkan untuk bersyukur saat manisnya hidup datang menyapa.
"Kayak makan puisi aja harus dihayati dan diresapi." Clara kembali memakan cemilannya dan fokus pada layar didepan.
"Puisi kan dibaca bukan dimakan Shafa."
"Sama aja."
Mereka pun menikmati malam sambil nyemil dan nonton film.
Setelah puas mereka kembali kekamar. Fachri meraih laptopnya, memeriksa beberapa pekerjaan yang perlu dicek ulang.
Clara masih belum mengantuk, ia malah mengajak Fachri mengobrol. Mengambil kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang ingin ia ketahui.
"Apa Shafa? Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan aku tidak keberatan," ujar Fachri dengan tenang. Ia seakan bisa membaca mimik wajah istrinya yang banyak menyimpan rasa penasaran.
"Ada banyak yang ingin aku tahu tentang kamu Fachri." Clara mendekat kearah Fachri yang duduk berselonjor diranjang. Ia mengambil posisi tepat disamping suaminya yang tampak sibuk.
"Yang pertama, aku ingin tahu tentang baju rompi muslimah yang dulu pernah kamu kasih ke aku. Kenapa kamu bisa menyimpan pakaian perempuan?"
Fachri berhenti sejenak dari menatap layar laptopnya. Kemudian berpikir sejenak. "Itu sebenarnya hadiah yang ingin aku berikan pada seseorang. Tapi tidak jadi, lalu aku menyimpannya. Dan memberikan padamu waktu itu," jawab Fachri. Lalu kembali fokus dengan aktivitas matanya. Memeriksa setiap pekerjaannya.
"Termasuk selendang biru yang kamu berikan padaku?" Clara memastikan.
Fachri menjawab dengan anggukan.
"Apa seseorang itu kekasihmu?" Pertanyaan itu seperti air garam yang disiram pada luka yang masih basah. Perih dan sakit kembali terasa. Tapi Fachri sudah bisa menahan rasa sakit itu.
Fachri menghadap pada Clara yang dari tadi memperhatikan dirinya. "Kamu benar Shafa dia kekasihku. Tapi itu dimasa lalu. Sekarang kekasihku adalah kamu. Masa depanku adalah kamu," ucap Fachri lembut sambil membelai rambut istrinya.
"Apa cinta kalian tidak direstui seperti kata sahabatmu dikampus kemarin?" Clara kembali melontarkan pertanyaan yang perlahan bisa menguak masa lalu Fachri.
"Takdir cinta tidak berpihak padaku waktu itu. Seorang ayah lebih berhak atas putrinya. Dia punya jodoh yang terbaik untuk putrinya. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengikhlaskan dia bersanding dengan jodoh yang ditentukan orang tuanya."
"Apa kau menangis karena teringat dia?"
__ADS_1
"Siapa yang menangis? Aku tidak menangis." Fachri menyangkal tuduhan Clara yang memang benar.
"Jangan bohong! Lalu mata bengkak kamu itu karena apa kalau bukan karena menangis?"
"Ini tadi terkena sabun saat aku cuci muka jadinya begini." Fachri memijit daerah sekitar matanya agar berkurang bengkak dimatanya.
"Lagu lama Fachri. Aku tahu bedanya mata bengkak karena menangis dan tidak."
Fachri meletakkan laptopnya diatas meja. "Sudah ayo tidur!" Fachri merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Tidak Fachri. Aku belum selesai." Clara menarik selimut yang menutupi tubuh Fachri.
"Lanjut besok saja. Sekarang sudah larut malam. Besok pagi kita latihan lagi seperti kemarin," ucap Fachri. Menarik lagi selimutnya yang ditarik paksa oleh Clara.
Gadis itu merengut kesal. Karena Fachri menghindari pertanyaannya yang belum tuntas.
"Besok setelah latihan aku ingin mengajakmu berkunjung kemakam orang tuaku, jadi sekarang ayo tidur!" ucap Fachri lagi dari balik selimutnya.
"Kamu serius Fachri?"
"Iya Shafa aku serius." Fachri membuka selimutnya dan hanya menampakkan wajahnya saja.
Clara juga merebahkan tubuhnya. Menarik selimut sampai kepinggang. Ia belum juga bisa tidur. Sedangkan Fachri sudah memejamkan mata.
"Fachri, apa kau merasa sakit tidak bisa bersatu dengan cintamu?" tanya Clara. Wajahnya berhadapan dengan wajah Fachri.
"Rasa sakit pasti ada Shafa. Bukankah kau juga pernah merasakannya. Tapi rasa sakitku terobati dengan kehadiranmu disisiku sekarang." Fachri berucap dengan mata masih terpejam.
"Kamu mulai pintar ngegombal ya sekarang," ucap Clara dengan senyum mengembang dibibirnya karena ucapan Fachri.
Fachri membuka mata membalas senyuman istrinya. "Cinta pun tak selamanya bisa bersatu. Seperti langit yang tak selalu bisa berjumpa dengan bumi. Tapi, diantara langit dan bumi aku menemukanmu. Bidadari yang cantik jelita." Tangan Fachri mencubit gemas pipi Clara.
"Hahaha. . . Kau pintar sekali membual sekarang Fachri." Tawa Clara pecah memenuhi kamar.
"Aku serius Shafa. Kau adalah bidadariku." Fachri menampakkan keseriusannya. Clara pun terdiam. Mereka saling beradu pandang untuk sesaat. Fachri memejamkan matanya kembali. Clara membalikkan badan. Memunggungi laki-laki yang tadi membuainya dengan kata-kata manis. Benarkah yang diucapakan Fachri? Apakah dia bisa menggantikan wanita dari masa lalu Fachri?
Melihat ketulusan laki-laki itu. Dia yakin Fachri sungguh-sungguh menyayangi dirinya.
"Fachri!" panggil Clara tanpa menoleh kearah suaminya.
"Apa lagi?" suara Fachri terdengar serak. Dia setengah tidur menjawab panggilan Clara.
"Peluk!" ucap Clara manja.
Fachri pun memeluk Clara dari belakang seperti biasa. Tak lama kemudian keduanya sudah berlayar mengarungi alam bawah sadar masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Thanks untuk like dan komennya!
Terima kasih semuany!😉