
Sesampainya dirumah Samuel, Clara yang paling semangat mengetuk pintu. Ia tampak tak sabar ingin bertemu sahabatnya yang sudah beberapa hari tak bertemu. Apalagi pesan yang ia kirim tak dibalas.
"Samueeeellll. . .!" seru Clara saat sahabat laki-lakinya itu muncul dari balik pintu. Tangan Clara pun mencubit kedua pipi Samuel dengan gemas. "Gue kangen banget sama lo Sam. Kenapa gue kirim pesan nggak dibales?" Ia goyangkan pipi Samuel kekanan dan kekiri.
"Astaga Clara! ini pipi bukan bakpao. Sakit tau." Gerutu Samuel sambil mengusap kedua pipinya yang terasa panas gara-gara ulah Clara.
Anin hanya menggeleng heran dengan tingkah Clara. Begitu juga dengan Fachri. Ada rasa aneh yang menelisik kedalam hatinya saat melihat Clara begitu akrab dengan laki-laki lain. Walaupun ia tahu hubungan mereka hanya sekedar sahabat.
"Lagian ya Ra. Pesan lo kan tadi udah gue bales." Ucap Samuel menanggapi pertanyaan Clara tentang pesan yang tak terbalas.
" Itu kan tadi Sam. Yang kemaren-kemaren nggak."
Belum sempat Samuel menyangkal ucapan Clara, suara sang mama terdengar.
"Siapa Sam yang datang?" teriak sang mama dari dalam.
"Roro Jonggrang ma" jawab Samuel. Sang mama yang mendengar jawaban nyeleneh putranya mengernyit heran.
"Gila ya lo Sam. Pake aksen jawa beneran lagi ngucapinnya." Clara menggerutu.
"Bodo amat." Samuel pun masuk lagi tanpa menyuruh orang yang diluar masuk.
Bersamaan dengan itu Eliana menghampiri tamu putranya dan mempersilahkan masuk.
"Yang sopan dong Sam sama tamu. Masak nggak disuruh masuk." Ucap mama Eliana lembut. Samuel sendiri sudah duduk diruang.
"Kan udah mama suruh masuk itu. Lagian nggak penting juga tamunya."
Eliana hanya mendesah pelan. Clara dan yang lain sudah dipersilahkan duduk.
"Wah Nin, kasih lampu hitam aja si Sam. Jangan kasih lampu hijau." Celetuk Clara.
"Jangan dong, gue bercanda. Maaf ya Anin." Samuel berucap semanis mungkin.
Anin tak berani berkomentar karena ada mamanya Samuel. Ia hanya tertunduk malu.
"Jadi, ini yang calon mantu mama yang mana Sam?"
Samuel pun berdiri mendekati mamanya yang duduk diseberang.
"Calon mantu mama yang itu tuch." Samuel menunjuk kearah Anin yang tertunduk malu-malu.
"Pinter juga kamu milih cewek."
"Kalo yang sebelahnya dia duplikat singa betina Ma. Liar banget dia. Tapi udah jinak sama abang yang disebelahnya."
Clara hanya melotot kesal. Tak mungkin mereka adu mulut saat ada orang tua. Eliana sendiri memperhatikan Fachri yang dari tadi tak bersuara.
Mendapat tatapan dari Eliana, Fachri mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf tante kalau kita bertamu diwaktu yang kurang tepat." Ucap Fachri dengan sopan.
"Tidak apa-apa. Tante seneng kok, kalau ada temen Samuel yang mau berkunjung. Rumah jadi rame." Eliana mengulas senyum ramahnya. Kemudian pamit kedapur.
Guntur yang dari tadi berkutat dengan laptopnya, merasa kenal dengan suara yang ia dengar. Jarak antara mereka memang tidak begitu jauh. Guntur sedang berada diruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Perlahan ia beranjak melangkah keruang tamu. Fachri yang melihat sosok yang ia kenal agak terkejut. Tapi, Guntur menyapanya lebih dulu.
"Mas Fachri. . .!"
"Guntur"
Mereka pun saling melakukan pelukan hangat. Samuel dan yang lain tak kalah heran, mengetahui mereka saling mengenal.
"Ini gimana ceritanya kalian bisa saling kenal?" tanya Samuel heran.
"Kita sedang mengerjakan proyek diperusahaan Haidar Group. Dari situ kita saling kenal."
Samuel berdecak kaget. Apa Guntur belum tahu siapa Fachri sebenarnya? Kenapa Guntur tidak pernah cerita kalau dia ada proyek diperusahaan Haidar Group? Perusahaan itu kan milik keluarga Clara.
"Oh ya Ra, kamu masih ingat nggak siapa dia?" tanya Samuel sambil menunjuk Guntur.
Clara hanya menggeleng, tak ingat siapa laki-laki asing yang ditunjuk Samuel. Maklum saja waktu pertama kali bertemu memang saat malam hari. Clara pun cuek dengan laki-laki yang menurutnya masing asing.
"Dia ini Guntur, yang kamu kalahin diarena balap." Samuel mengingatkan.
Clara diam sejenak mengingat kejadian yang sudah agak lama berlalu. "Oh iya, ingat gue." Ujar Clara kemudian.
Guntur hanya bisa memandang Clara dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Tentu saja ada rasa sakit yang menusuk hatinya. Ada perasaan tersendiri yang disimpan Guntur untuk Clara. Perasaan cinta yang tak tersampaikan.
Samuel yang bisa mengerti perasaan kakak sepupunya segera mengajak Clara dan Anin kegazebo yang ada ditaman belakang.
"Tak kusangka ternyata kau adalah menantu tuan Steven dan suami dari Clara." Ucap Guntur membuka percakapan.
"Kau sendiri bagaimana bisa mengenal Clara?"
"Hanya sebuah kebetulan kami bertemu diarena balap dan itu pun arena balapan liar. Clara gadis yang unik. Beruntung sekali kau bisa bersanding dengannya. Tentunya Clara juga beruntung punya suami sepertimu. Kalian pasangan yang serasi." Ujar Guntur.
Ketika Guntur berbicara tentang Clara, entah mengapa Fachri seperti melihat ada perasaan yang terpendam. Ada sesuatu yang tersirat dari raut wajah dan nada bicara Guntur. Apalagi keduanya bertemu sebelum dirinya datang sebagai supir Clara.
"Kau tahu Guntur, tak ada yang kebetulan didunia ini. Karena kebetulan adalah takdir yang menyamar. Mungkin saja ada sesuatu dibalik pertemuanmu dengan Clara. Siapa yang tahu bukan."
Raut wajah Guntur seketika berubah, bagaimana Fachri bisa bicara seperti itu. Seakan-akan tahu apa yang tersimpan dibenaknya.
"Suatu saat kau pasti akan mendapatkan cintamu Guntur. Akan datang masa yang indah untuk cintamu itu." Ujar Fachri lagi karena Guntur tampak diam.
__ADS_1
Senyum tipis tersungging dibibir Guntur. "Cintaku telah menemukan masa indahnya. Dia sudah bahagia dengan takdir cintanya."
"Yakinlah, akan ada cinta yang lebih indah suatu saat nanti." Fachri menepuk pundak Guntur memberi semangat.
Kemudian datang pembantu rumah itu menyuguhkan minuman dan makanan ringan.
Guntur dan Fachri menatap kearah taman belakang. Dinding pembatas terbuat dari kaca transparan jadi tampak jelas pemandangan ditaman. Disana terlihat Anin, Samuel dan Clara bercengkrama dengan riang.
Mereka berdua pun melanjutkan obrolan. Saling bertukar pendapat tentang dunia yang mereka geluti. Saling bercerita tentang diri masing-masing.
Sedangkan tiga remaja yang digazebo heboh sendiri.
"Kemaren gue shock lho Ra, saat tau dari Anin kalau elo udah putus sebelum nikah sama Fachri." Samuel duduk dengan mengupas kacang yang tadi disediakan oleh pembantunya.
"Gue emang dijodohin sama Fachri." Jawab Clara acuh. Agar Samuel tidak terlalu banyak tanya. Karena ia sendiri belum tahu pasti alasan Fachri menikahinya dan ia belum menanyakan hal itu.
Anin yang duduk disebelah Clara sedang sibuk bermain game diponselnya. Ia hanya menyimak percakapan dua sahabatnya.
"Tapi lo cinta nggak sama Fachri?"
Pertanyaan itu membuat Clara agak terkejut. Dia sendiri belum memastikan perasaannya dengan Fachri.
"Cintalah. Dia kan suami gue sekarang." Jawab Clara sekenanya.
"Jawaban yang tak meyakinkan." Samuel bisa membaca nada bicara Clara yang menyelipkan keraguan
"Masa hubungan elo sama Aldi aja nih ya Ra, kalau buat petani padi, belum waktunya panen. Mereka aja butuh waktu sekitar 4 bulan untuk masa panen. Nah elo ma Aldi udah maen putus aja. Baru 3 bulan kan, hubungan kalian berjalan." Lanjut Samuel
"Lo itu mau ambil kuliah bisnis atau pertanian sih Sam. Pake bandingin hubungan gue sama Aldi dengan petani."
"Samuel mau jadi petani mungkin Ra. Bajak sawahnya pake kerbau, jadi mereka bisa mandi lumpur bersama." Akhirnya Anin buka suara juga.
"Ngaco aja lo Nin!"
"Eh Sam, tembak Anin sekarang dong! gue pengen lihat." Usul Clara mengalihkan pembicaraan. Supaya dirinya tidak dipojokkan dengan pertanyaan tentang cintanya dan Fachri.
"Ok. Gue tembak dia sekali lagi. Lo saksinya ya Ra."
Samuel pun memetik bunga mawar dari pot yang ada disamping gazebo. Lalu berlutut didepan Anin.
Persembahan teruntuk bunga hati
Menjadi idaman gelora rindu
Terimalah persembahan dari sang kumbang
Untuk sesaat Anin mulai tersentuh dengan kata Samuel.
Tapi ketika Samuel melanjutkan kata-katanya, Anin malah ingin menimpuk pemuda dihadapannya pakai sepatu.
Anindita Rahma
Cintaku padamu sedalam palung mariana
Seenak palung south sandwich
Romantis seperti palung romanche
Misterius seperti segitiga bermuda
"Sam, berhenti nggak lo!" ancam Anin.
Clara tak bisa menahan tawanya lagi. Salah satu tangannya membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak pecah.
"Belum selesai Anin. Biar gue lanjutin dulu puisinya."
"Nggak perlu"
"Dengerin dulu sebentar Nin."
"Lo mau ikan sepat Sam?" tanya Anin yang penuh penekanan.
"Ikan sepat apaan sih?"
"Nich ikan sepat." Anin melepas sepatunya hendak melempar pada Samuel. "Rasain nih ikan sepatu." Anin benar-benar melempar sepatunya pada Samuel. Tapi Samuel berhasil menangkap. Lalu ia lari menghindar, saat Anin hendak melepas lagi sepatunya yang sebelah.
Anin pun mengejar Samuel yang berlari dengan membawa sebelah sepatunya.
"Anin dengerin lanjutannya." Samuel berucap sambil berlari mengitari gazebo. Anin mengejar dibelakang.
Cintaku padamu juga seluas galaksi bimasakti
Sebesar planet jupiter
Seganas panas matahari
Samuel tetap saja melanjutkan puisi konyolnya sambil kejar-kejaran dengan Anin. Bahkan Anin juga sempat mengambil kacang dan melemparkan pada Samuel.
"Dasar Samuel gila!" Dengan nafas ngos-ngosan ia berhenti mengejar. Merebahkan tubuhnya dilantai gazebo itu.
Samuel pun juga ikut berbaring disebelah Anin.
"Diterima nggak nih?" tanya Samuel.
"Iya diterima"
__ADS_1
"Ra lo saksinya ya. Anin udah resmi jadi pacar gue." Ucap Samuel sumringah. Akhirnya Anin memberi jawaban. Walau harus ada drama kucing dan tikus.
"Iya Sam Sam." Jawab Clara yang masih menyisakan tawa.
"Tapi Sam, cinta lo jangan seganas panas matahari, gue bisa gosong ntar." Ujar Anin disela nafasnya yang belum teratur.
"Ya udah, sedingin salju dikutub selatan aja." Samuel menoleh kearah gadis yang baru saja resmi jadi pacarnya.
"Bisa beku gue Sam."
"La trus maunya gimana?"
"Maunya sehangat tatapan abang Fachri." Anin memejamkan mata sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Woy. . .! Fachri punya gue." Teriak Clara.
"Gue cuma berhalusinasi Clara. Nggak beneran juga." Sangkal Anin.
"Kayak tukang bubur dong!"
"Kenapa nyambungnya ketukang bubur?" Anin bangkit dari posisinya. Duduk kembali kebangku gazebo.
Begitu juga dengan Samuel. Mereka duduk bersebelahan.
"La kan, halusin-nasi. Pekerjaan siapa coba? Tukang bubur doang kan
yang pekerjaannya halusin-nasi."
"Ya, silahkan nona Clara saja yang jadi tukang bubur." Anin meraih gelas, meneguk isinya hingga setengahnya.
"Turun dong pamor Daddy sebagai pengusaha properti!"
"Hahaha. . . Dikira bangkrut ya bokap lo."
Samuel mengambil beberapa lembar tissu untuk mengelap keringat Anin.
Lagi-lagi itu menjadi bahan gurauan Clara. "Sweet banget! Baru aja jadian dah perhatian kayak gitu."
"Syirik aja lo!" Anin pura-pura melotot kearah Clara. Lalu ia juga mengambil tissu untuk mengelap keringat Samuel.
Setelah itu Anin pamit ketoilet. Samuel pun menunjukkan arah toilet yang ada didapur.
"Sam gue boleh minta sesuatu nggak sama lo?" Clara tampak bicara dengan serius. Membuat Samuel was-was. Apa yang hendak Clara minta darinya.
"Minta apaan?"
Clara mendesah pelan, mengatur nafas sebelum bicara. "Gue cuma minta jangan jaga jarak sama gue. Cuma karena sekarang gue udah nikah. Sahabat gue cuma elo sama Anin."
"Jadi. . ." Samuel ingin Clara melanjutkan perkataannya.
"Ya seperti biasanya Sam. Kita seru-seruan dichat. Bercanda sambil main tebak-tebakan konyol. Itu yang bisa bikin gue semangat Sam."
Samuel pun memasang wajah serius menanggapi Clara. "Lo itu udah ada suami Ra. Gue takut Fachri tersinggung. Lo sebagai istri harusnya bisa jaga jarak dengan laki-laki lain. Jangan samakan dengan situasi sebelum lo nikah. Status lo sekarang sebagai istri. Lo pasti ngerti kan Ra."
Wajah Clara berubah sendu, sedikit banyak ia paham dengan statusnya sekarang. Tapi ia merasa nyaman bertukar pesan dengan seseorang yang ia anggap Samuel. Agak sulit baginya mengubah kebiasaan itu.
Clara pun mendesah panjang. Mencoba mengerti dengan ucapan Samuel. Walaupun ia sering berbicara konyol, tapi masih ada sisi dewasa dari diri sahabatnya itu.
"Ok. Gue nggak akan nuntut lo buat balas pesan. Tapi, gue minta jangan hapus nomor gue. Kalau sewaktu-waktu gue butuh lo. Bolehkan gue hubungin lo lagi!"
"Iya boleh Ra. Gue tetep sahabat lo kok."
Setelah itu, Clara berpamitan pulang. Anin juga sudah kembali dari toilet.
Fachri juga berpamitan pada Guntur dan juga Eliana, Mama Samuel.
Fachri dan Clara lebih dulu mengantar Anin pulang.
Setelah selesai membersihkan diri, Clara berbaring tengkurap diranjangnya sambil mengotak atik laptop didepannya.
Fachri yang baru selesai mandi juga menghampiri Clara.
"Lagi belajar Fa?" ia duduk disamping istrinya.
Clara tersenyum, "Nggak Fachri." Lalu Clara menunjukkan layar datar didepannya pada suaminya.
Fachri pun mengambil alih laptop Clara. Ia juga terlihat mengetik sesuatu.
Clara terkejut saat ada tulisan "Zahra Akbar" di foto yang ia edit.
"Kok Zahra Akbar?" tanya Clara heran. Ia pun mengubah posisinya untuk duduk.
Fachri mengulas senyumnya yang meneduhkan hati. "Kan itu nama belakang kita berdua. Shafa Fikriyatuz Zahra dan . . ."
Belum sampai ia menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong oleh Clara.
"Dan Fachri Maulana Akbar"
Mereka pun saling melempar senyuman.
Entah kenapa Fachri tergerak untuk menuliskan nama "Zahra Akbar" difoto mereka.
Yang bilang, "Kebetulan adalah takdir yang menyamar."
__ADS_1
Yang lagi galau karena cintanya tak tersampaikan.