
Sejak kepergian Fachri seminggu yang lalu, Shafa seakan membisu. Ia tak seceria dulu. Lebih banyak menghabiskan hari-harinya didalam kamar. Duduk menyendiri dibalkon kamarnya dengan tatapan kosong.
Tapi hari ini Shafa keluar kamar pagi-pagi sekali, dengan pakaian olahraga ia jogging berkeliling komplek. Setelah kembali, ia mengambil batako yang ada ditaman depan, membawanya ketaman belakang.
"Buat apa Non ngambilin batako taman?" tanya Mang Didin heran.
"Bukan urusan Mamang," jawab Shafa ketus. Tangannya meraih batako satu persatu.
"Nanti tamannya tambah botak Non."
"Itu tanggung jawab Mang Didin buat benerin tamannya lagi." Shafa segera berlalu dengan membawa tiga batako dikedua tangannya.
Tak lama kemudian Shafa datang lagi mengambil batako. Hal itu terjadi hingga berulang-ulang. Entah sudah berapa banyak batako yang diambil Shafa. Hingga taman depan yang masih dalam tahap perbaikan benar-benar berantakan. Tanah dan bunga berserakan disana-sini. Batako yang masih menjadi pondasi sementara, sudah diambil Shafa.
Mang Didin hanya bisa menghela nafas pasrah dengan perbuatan anak majikannya. Nanti ia akan menghubungi petugas langganan yang biasa merawat taman.
"Din, kamu apain tamannya? Kenapa jadi berantakan kayak muka kamu?" tanya Parjo yang baru datang.
"Yang ada nich taman jadi botak kayak kepala kamu." Mang Didin menjitak kepala botak Parjo.
Parjo mengusap kepalanya yang memang plontos. Tampak mengkilat saat terkena sinar matahari pagi.
"Awas kamu ya Din! Aku aduin sama tuan Stev," ancam Parjo sambil memakai topinya.
"Kagak mempan ancaman kamu. Udah sana, hubungi petugas taman!" perintah mang Didin.
Parjo langsung menuju pos mereka melakukan perintah temannya.
Sementara itu, ditaman belakang Shafa melakukan hal ekstrim. Ia berusaha mematahkan batako dengan satu tangan.
Awalnya ia gagal, kemudian kata-kata Fachri terngiang dalam pikirannya.
Konsentrasi Shafa! Pusatkan pikiran kamu pada satu titik. Jangan beranggapan yang didepan kamu benda keras! Anggap yang didepan kamu hanya selembar kerupuk, yang bisa dengan mudah kamu hancurkan. Kamu harus yakin dengan kekuatan kamu sendiri. Jangan ragu!
Shafa pun berkonsentrasi lagi. Semua energi seakan sudah berkumpul ditangannya. Dan, dalam satu pukulan benda didepannya sudah patah. Gadis itu melakukannya berkali-berkali hingga tangannya memerah.
"Belum puas juga Non?" tanya Randi yang baru datang menghampiri.
Shafa tampak tak perduli. Satu batako lagi ia patahkan. Randi hanya memperhatikan apa yang dilakukan sahabat kecilnya.
"Ayo kita fighting Rand!" ajak Shafa kemudian.
__ADS_1
Randi pun mengiyakan, meladeni kegilaan Shafa pagi itu. Teknik tendangan dan pukulan mulai terealisasikan dari gerakan keduanya.
Tak sia-sia selama satu tahun Fachri mendidik mereka berdua. Kini Shafa dan Randi sudah menguasai ilmu beladiri dengan baik. Setidaknya mereka sudah bisa melindungi diri jika berada diluar.
Shafa melakukan serangan dengan brutal. Hingga membuat Randi kewalahan. Tak jarang pula tendangan Shafa melayang bebas mengenai tubuhnya. Sepertinya Shafa sedang melampiaskan emosinya, setelah seminggu berdiam diri.
"Cukup Non! Saya sudah tak sanggup." Randi sudah terkapar tak berdaya memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Lo kan cowok Rand, jangan manja kayak gini. Ayo bangun!" teriak Shafa. Seakan tak perduli dengan Randi yang sudah kesakitan.
"Please Non! Saya benar-benar sudah tidak sanggup," keluh Randi. Dia menyeret tubuhnya bersandar disalah satu pot bunga.
Shafa melenggang pergi kearah dapur mengambil dua buah apel yang ada dimeja makan.
"Non mau sarapan sekarang?" tanya Bik Nani dengan lembut.
Shafa pun menjawab dengan ramah disertai senyuman. "Nanti dulu Bik, Shafa belum selesai latihan." Jika berhadapan dengan Bik Nani, Shafa selalu bersikap lembut. Ia tak pernah menyakiti hati pengasuh yang sudah merawatnya sejak kecil. Terlebih lagi itu adalah ibunya Randi.
"MBAK MAYAAAAA... MBAK SITIIIII...! Teriak Shafa memanggil dua pelayan muda dirumahnya. Meski memanggil dengan teriakan tapi tak membuatnya lupa dengan kebiasaan memanggil kedua pelayan itu dengan sebutan "Mbak".
Yang dipanggil segera menghadap. Siap menuruti perintah nona mereka.
"Ikut gue kebelakang!" ucap Shafa sambil berlalu pergi menuju ruang olah raga mengambil busur lengkap dengan anak panahnya.
"Matilah kita May!" bisik Siti pada Maya yang juga ketakutan melihat Shafa berjalan dengan panah yang sudah siap ditangannya.
"Kalian berdua berdiri disana!" perintah Shafa menunjuk sisi dinding pembatas taman.
Maya dan Siti hanya menurut, Shafa juga berjalan kearah mereka berdua. Meletakkan apel dikepala masing-masing pelayan yang berdiri sambil gemetaran.
Kini Shafa sudah bersiap membidik apel dikepala Maya. Tangannya sudah siap menarik busur dan melepaskan anak panah.
"Mbak Maya jangan gerak-gerak terus, kalau nggak mau panah ini mengenai kepala Mbak." Shafa berteriak tanpa mengubah posisinya yang sudah siap membidik.
"Jangan kayak gini ya Non. Kalau saya mati bagaimana? Saya masih mau hidup Non. Saya belum menikah dan belum membuatkan empang ikan buat si mbok dikampung," ucap Maya dengan memejamkan mata. Sedangkan Siti yang berada disampingnya terdiam karena takut.
Shafa tak memperdulikan ucapan Maya. Ia fokus pada anak panahnya.
"Mbak May buka mata," teriak Shafa lagi. Secara reflek Maya membuka mata dan dalam sekejap ia menarik anah panah. Maya langsung pingsan karena terkejut anak panah sudah melesat diatas kepalanya mengenai buah apel.
Siti juga langsung berhambur menghampiri tubuh Maya yang tergeletak diatas rumput taman.
__ADS_1
"Sudah selesai main-mainnya sayang?" tegur Steven yang dari tadi memperhatikan ulah putrinya dari dalam.
"Sorry Dad! Shafa cuma iseng tadi," jawab Shafa sambil meletakkan busur dimeja. Lalu meneguk air mineral yang memang sudah ia siapkan sebelum latihan.
"Tapi keisengan kamu itu membuat orang lain terluka Shafa. Lihat Randi sampai seperti itu. Kamu harus bertanggung jawab. Obati luka Randi!" ujar Steven dengan tegas seperti biasa. "Siti, panggil Parjo untuk membawa Maya kedalam," ucapnya lagi pada Siti.
"Baik Tuan." Siti pun langsung berlari memanggil salah satu security didepan.
Shafa segera mendekati Randi dan memapah pemuda itu masuk kedalam dibantu oleh Steven. Lalu ia mencari kotak obat didapur.
"Saya harap kamu maklum dengan tingkah Shafa, Rand. Saya sendiri merasa gagal menjadi seorang ayah karena tidak berhasil mendidik dia dengan baik. Fachri yang bisa mengendalikan Shafa sudah pergi. Entah apa yang akan terjadi kedepannya pada Shafa. Dia sangat terpukul dengan kepergian Fachri. Saya takut dia akan kembali salah jalan untuk melampiaskan kesepian hatinya," ujar Steven dengan penuh penyesalan. Ia sudah menganggap Randi seperti putranya sendiri. Karena itu, Steven sedikit terbuka pada pemuda yang ada dihadapannya.
"Saya bisa mengerti keadaan non Shafa saat ini sedang kacau. Tuan tidak perlu khawatir, saya yakin non Shafa sudah bisa memilih mana jalan yang baik dan yang buruk. Fachri sudah mendidik non Shafa dengan baik selama ini. Saya yakin non Shafa hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan." Randi berucap meyakinkan tuannya.
Steven bangkit dari duduknya saat Shafa sudah kembali dengan kotak obat dan ember berisi air es untuk mengompres luka Randi.
"Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi! Daddy tidak mau kamu melukai orang lain hanya untuk pelampiasan," ujar Steven sebelum melangkah pergi.
"Baik Dad. Shafa tidak akan mengulanginya lagi." Shafa menjawab tanpa menoleh pada ayahnya. Tangannya sibuk memeras kain untuk mengompres luka Randi. Entah kenapa ia masih bertahan dengan kebekuan hatinya. Tidak mau berinteraksi terlalu dekat dengan orang rumah. Dengan ayahnya sendiri saja Shafa jarang bicara. Saat Steven datang kekamarnya pun, Shafa selalu bersikap acuh. Sampai Steven mengalah untuk memberi waktu sendiri bagi putrinya.
Perlahan Shafa mengobati luka Randi. Ia juga menyuruh pemuda didepannya untuk membuka kaos agar bisa lebih leluasa mengobati luka karena ulahnya. Ada banyak bekas pukulan yang membiru di wajah dan tubuh Randi. Membuat Shafa membuka suara karena rasa bersalah.
"Sorry Rand! Gue tadi lepas kendali, nggak mikirin kalau lo bakal bonyok kayak gini."
"Santai aja Non. Saya rela kok jadi samsak Non. Apalagi samsak buat hati Non Shafa. Mati pun saya bersedia. Asal Non bahagia," ucap Randi sambil tersenyum menggoda pada gadis dihadapannya.
Tanpa diduga, Shafa bangkit dengan wajah tampak gusar sambil melempar handuk kompres kewajah Randi. Tatapan tajamnya membuat Randi terdiam. Ia pun berlari menaiki tangga tanpa memperdulikan Randi lagi.
"Sensitif amat si non sekarang. Baru bilang gitu aja udah ngacir. Apalagi kalau aku bilang pengen menggantikan posisi Fachri. Pasti aku akan dijadiin bebek belur beneran," gumam Randi dengan bergidik ngeri membayangkan nasibnya jika hal itu benar-benar terjadi. Ia kemudian berjalan kedapur dengan perlahan. Meminta sang ibu untuk mengobati lukanya.
Bik Nani hanya bisa menggelengkan kepala dengan keadaan putranya sekarang. Apalagi mendengar cerita bahwa putranya itu menggoda Shafa.
"Non Shafa itu masih labil, malah kamu goda seperti itu. Menerima kenyataan bahwa nak Fachri sudah pergi untuk selamanya pasti sangat sulit, malah kamu becandain," omel Bik Nani sambil tangannya mengoles obat pada luka Randi.
"Randi becandain dikit doang Bu, udah ngambek non Shafanya."
"Makanya kamu jangan becanda mulu sama non Shafa," ucap Bik Nani.
Randi hanya terkekeh mendengar penuturan ibunya. Dari dulu ia sudah biasa bercanda dengan Shafa, layaknya sahabat. Malah seperti kakak beradik yang suka menjahili satu sama lain. Tapi, semenjak Fachri pergi. Keceriaan gadis itu sirna begitu saja. Ikut menghilang bersama sosok Fachri.
Sementara itu, Shafa pergi kebalkon atas. Menatap sang mentari yang baru saja menampakkan diri. Ia teringat kenangan bersama Fachri ditempat itu. Terlintas kenangan saat Fachri menggenggam erat tangannya sambil menikmati hangatnya cahaya matahari.
__ADS_1
Kau lihat Fachri, sekarang aku berdiri sendiri disini tanpamu. Kau ingin aku seperti matahari itu? Dengan gagahnya menantang kehidupan. Menembus awan agar terlihat bersinar. Tapi sayangnya, matahari hidupku sudah hilang, aku tak yakin bisa setegar itu. Aku hanya gadis biasa yang mencoba bertahan diatas jalan api kehidupan. Entah aku bisa bertahan untuk tetap melangkah atau aku akan ikut melebur menjadi abu sebelum aku sampai tujuan.