
Kini ketiganya sudah berada dipusat kota yang padat dengan kendaraan. Fachri menanyakan pada Clara tempat yang ia inginkan untuk sarapan. Tentu saja ia memilih sebuah restoran mewah. Dirinya terbiasa dengan fasilitas mewah dari sang ayah. Sejak kecil Steven selalu menuruti apa pun yang ia inginkan.
Dan kini ketiganya sudah duduk ditempat kosong sebuah restoran seafood. Memesan apa yang mereka inginkan.
Setelah selesai makan, Fachri beranjak ingin membayar tagihan.
"Biar aku saja Ri," ujar Clara.
"Tidak Ra. Aku saja." Fachri menolak tawaran istrinya dengan lembut.
"Kan tadi kamu baru ngasih kartu kamu ke aku Ri."
"Masih ada kartu lain Clara." Fachri pun segera berlalu menuju kasir. Membayar tagihan yang lumayan, karena mereka makan ditempat mewah.
"Nggak usah bingung gitu Non mukanya. Fachri kan seorang arsitek pasti penghasilannya menjanjikan juga," seru Randi saat melihat Clara kelihatan bingung.
"Sok tau lo Rand."
"Bukannya sok tau Non. Fachri kan sangat ulet orangnya."
"Iya juga kali ya. Fachri sering banget sibuk." Clara menyangga wajahnya dengan satu tangan. Memasang wajah polosnya yang semakin imut dengan kerudung yang membalut kepalanya.
"Mukanya biasa aja kali Non." Randi mengusap wajah Clara karena gemas.
"Apaan sih lo Rand! Kerudung gue berantakan jadinya," gerutu Clara sambil mengangkat wajahnya. Berusaha membenahi kerudung.
"Sini aku bantu merapikan kerudung kamu," ucap Fachri yang sudah ada disamping Clara.
Gadis itu berdiri dan membiarkan suaminya merapikan kerudung yang memang sedikit berantakan karena ulah Randi. Keduanya sempat beradu pandang untuk sesaat.
"Kasihanilah jiwa jomblo saya ini. Jangan beradegan romantis didepan saya," ujar Randi yang kembali mendrama.
"Mangkanya belajar yang bener dulu. Terus cari kerja. Biar nanti jodoh kamu datang dengan sendirinya." Setelah berucap Fachri langsung menggandeng Clara keluar restoran.
Randi pun tergopoh-gopoh mengejar langkah Fachri dan Clara yang berjalan cepat. Tanpa sengaja Randi bertabrakan dengan seorang gadis didepan pintu keluar.
"Maaf Tuan. Saya tidak sengaja," ucap gadis itu seraya mengusap keningnya yang tadi berbenturan dengan kepala orang dihadapannya.
Randi malah terpaku, melupakan rasa sakit dikepalanya akibat benturan tanpa sengaja beberapa detik yang lalu. Ia terpesona dengan gadis berkerudung hijau dihadapannya. Wajahnya cantik, bersinar secerah mutiara. Mata bening yang indah. Suaranya lembut, selembut alunan nada simponi.
"Randi ayo!" teriak Clara.
Ia pun tersadar dari lamunannya. "Saya juga minta maaf Nona. Saya juga salah." Randi menangkupkan kedua tangannya didepan dada, kemudian pergi menyusul Clara dan Fachri yang sudah berjalan keparkiran. Untuk sekilas ia berbalik menatap gadis yang sudah masuk kedalam restoran.
Sambil menyetir, Randi masih terbayang dengan kejadian tadi. Membuat dirinya tersenyum sendiri. Kemudian menyesal, kenapa tadi tidak mengajak gadis itu berkenalan.
Fachri dan Clara asyik berbincang dikursi belakang.
"Setelah ini kita nonton ya Ri. Ada film kesukaanku yang tayang hari ini," ucap Clara dengan berbinar senang.
"Iya Clara. Tapi, setelah nonton aku yang menentukan kemana kita akan pergi."
Clara pun menyetujui usulan Fachri.
Randi mengarahkan laju mobil sesuai permintaan Clara. Mereka bertiga seru-seruan diwahana permainan yang ada dimall, sambil menunggu jam tayang film yang dipilih Clara.
Tak lama kemudian mereka segera masuk kebioskop. Randi tampak sudah lelah hingga ia tertidur didalam. Clara sendiri sangat menikmati film action yang ia pilih.
Saat film telah selesai, Clara dan Fachri sengaja meninggalkan Randi yang masih tertidur. Membuat Randi kebingungan mencari kedua majikannya yang menghilang.
Fachri membelikan istrinya sebuah boneka kucing yang berukuran besar sebelum keluar dari mall.
Randi yang mendapat pesan singkat dari Clara, segera menuju ketempat yang disebutkan dalam pesan yang ia terima.
Berkali-kali Randi menggerutu kesal karena telah dijahili. Tapi, Clara malah tertawa puas. Jarang-jarang ia bisa membuat kesal sahabat kecilnya.
Kini Fachri yang mengambil alih kemudi. Menentukan kemana mereka akan pergi.
Adzan dhuhur sudah terdengar, mereka bertiga lebih dulu kemasjid. Fachri menyodorkan paper bag kecil pada Clara saat keluar dari mobil.
"Ini apa lagi Fachri?" tanya Clara penasaran. Randi sudah lebih dulu masuk kemasjid.
"Itu mukena Shafa sayang," ucap Fachri gemas dengan mengelus lembut pipi istrinya. "Mulai sekarang biasakan membawa mukena saat pergi. Supaya bisa sholat tepat waktu ketika berada diluar," imbuhnya lagi.
"Iya suamiku sayang." Clara membalas panggilan sayang dengan suara lirih didekat telinga Fachri. Dengan malu-malu Clara langsung memasuki masjid. Seulas senyum juga menghiasi wajah Fachri.
Cinta yang pernah hilang, kini berganti dengan cinta yang lebih indah. Rasa syukur tak hentinya ia ucapkan. Memang selalu ada rahasia dibalik kesedihan yang pernah dia alami dulu. Rahasia kebahagiaan yang begitu indah. Tanpa ia sangka sebelumnya.
Setelah dari masjid, Fachri melajukan mobilnya kesebuah tempat makan yang tampak sederhana. Disana hanya tampak tiga meja tanpa kursi. Pengunjung hanya bisa duduk dilantai beralaskan tikar yang sederhana, jauh dari kata mahal dan mewah.
"Ini serius Ri kita makan siang disini?" tanya Randi.
"Iya kita makan disini," jawab Fachri yang kemudian menggandeng tangan Clara untuk duduk ditempat yang paling ujung. Setidaknya saat kedua orang yang ia bawa mengomel, tidak akan terdengar oleh penjualnya.
"Fachri, ini nggak steril tempatnya. Pasti makanannya juga. Jangan makan disini!" Clara mulai mengeluh. Ia benar-benar tak biasa makan makanan dipinggir jalan.
__ADS_1
"Iya bener Fachri, cari tempat lain saja," ucap Randi ikut melakukan penolakan.
Fachri hanya tersenyum, kemudian duduk dengan santainya ditempat itu. Dengan terpaksa dua orang yang tadi menolak, menuruti ajakan Fachri.
Seorang perempuan yang masih muda, menanyakan apa yang ingin mereka pesan. Fachri memesan tiga porsi ayam bakar dan tiga es jeruk.
Fachri juga memesan 30 porsi untuk dibungkus. Hal itu membuat orang dihadapannya tampak heran.
"Buat apa Ri? Pesan segitu banyak. Orang dirumah aja cuma lima. Mau kamu bagiin satu komplek?" ujar Randi.
"Kamu yang aku suruh ngabisin semuanya."
"Gila lo Ndro!" Randi berucap seperti dalam adegan drama komedi Warkop.
Clara malah tersenyum sendiri mendengar perdebatan dua laki-laki itu.
"Emang aku udah gila. Mau apa kamu?" Nada Fachri sok ketus.
"Fachri, majnun itu artinya gila ya?" tanya Clara sambil menunjukkan ponselnya pada Fachri. Ia mencari arti kata itu hingga membuka kamus online.
Fachri menganggukkan kepala. Mengiyakan pertanyaan istrinya. Clara tampak mengernyitkan kening sambil memiringkan kepalanya. Mengingat perkataan para sahabat Fachri.
"Jadi Fachri majnun itu artinya Fachri gila."
"Iya Clara," jawab Fachri singkat.
Pelayan wanita datang mengucapkan permisi sambil meletakkan pesanan Fachri untuk mereka bertiga.
"Dapat dari mana sih Non kata Fachri majnun? Masa iya suami sendiri disebut gila."
"Mau tahu aja sih lo," seru Clara.
"Saya tidak suka tempe Non. Makanya, mau tahu saja."
"Ya ntar. Aku pesenin tahu satu tong."
"Tong apaan Non?"
"Tong sampah."
Randi langsung kicep, tak menanggapi lagi ucapan Clara yang hanya bercanda.
"Sudah ayo kita makan!" ajak Fachri.
Satu suapan sudah masuk kemulut Clara dan Randi. Mereka mengangguk-anggukkan kepala meresapi rasa ayam bakar yang dicocol dengan sambal.
Akhirnya mereka makan dengan lahap. Hingga makanan dalam piring mereka tandas tak bersisa. Hanya tinggal tulang belulang. Fachri masih belum menyelesaikan makannya. Saat ada kucing yang mengeong disampingnya, Fachri memberikan sisa ayam yang masih ada.
"Makan ya kucing manis." Fachri juga mengelus kepala kucing itu dengan kasih sayang.
"Ngapain sih Ri kamu kasih makan kucing liar? Pake pegang-pegang juga lagi!" omel Clara yang tidak suka suaminya berinteraksi dengan hewan liar.
Fachri menghabiskan dulu sisa makanannya yang tinggal sesuap sebelum menjawab omelan istrinya.
"Kucing kan juga makhluk Allah. Mereka berhak mendapat perhatian dari kita. Dengan datangnya kucing saat kita makan, berarti hal itu mengingatkan kita untuk saling berbagi rezeki. Maka dari itu, kalau ada kucing mendatangi kalian. Jangan usir mereka! Mereka hanya meminta keikhlasan kita untuk memberinya makanan."
"Iya Pak Ustadz Fachri," ujar Randi.
Clara juga manggut-manggut. Paham dengan alasan Fachri memberi makan kucing yang mendatangi mereka.
"Kalian tahu, kucing juga hewan kesukaan Rasulullah. Sampai ketika si kucing tidur diatas jubahnya, Rasulullah memotong jubah yang beliau kenakan ketika hendak beranjak bangun. Karena beliau tidak ingin mengganggu tidur si kucing," ujar Fachri lagi.
"Jadi kita harus baik-baikin kucing ya Ri?" tanya Clara. Ia meminum es jeruknya yang hampir habis.
Fachri tersenyum, memandang wajah polos istrinya yang begitu menggemaskan. "Intinya kita tidak boleh menyakiti makhluk ciptaan Tuhan, selagi mereka tidak membahayakan bagi kita."
Clara dan Randi semakin tak mengerti dengan sisi lain dari seorang Fachri. Dari makan direstoran mewah, kemudian beralih ketempat sederhana dipinggir jalan. Apalagi yang ingin ditunjukkan Fachri setelah ini?
Mereka bertiga kembali kemobil setelah Fachri membayar semua makanan yang tadi dipesan.
Kini Fachri menghentikan mobil tak jauh dari kerumunan anak jalanan yang sedang bersantai dilorong jembatan.
Saat melihat sosok yang mereka kenal, para anak jalanan itu berhamburan kearah Fachri. Dengan tertib mereka menyalaminya.
Clara dan Randi heran dengan pemandangan didepan mata mereka. Bagaimana bisa Fachri seakrab itu dengan anak jalanan?
"Bagaimana kabar kalian semua?" tanya Fachri ramah.
"Baik Kak," jawab anak-anak itu serentak.
Kemudian Fachri mengeluarkan dua kantong kresek yang berisi makanan, memberikan pada anak jalanan yang cukup lama ia kenal.
Mereka menerima pemberian Fachri dengan suka ria. Walaupun tampak sederhana dimata orang yang terbiasa hidup mewah, tapi bagi anak jalanan seperti mereka itu adalah sebuab berkah yang sangat mereka syukuri.
Jarang-jarang mereka bisa makan dengan lauk ayam. Bisa makan dengan lauk tempe saja, mereka sudah bersyukur. Yang penting perut kenyang.
__ADS_1
Melihat keceriaan anak jalanan yang mendapat makanan sesederhana itu, Clara merasa tersentuh. Selama ini ia hidup tanpa kekurangan materi. Apa yang ia mau selalu terpenuhi. Sedangkan anak jalanan itu hidup dengan jauh dari kata layak.
Fachri tak berlama-lama disana. Ia segera berpamitan pada anak-anak itu.
"Makasih Kak Fachri! Makanannya enak," salah satu dari mareka.
"Iya sama-sama. Kakak bakal sering kesini lagi," ucap Fachri yang duduk berjongkok disamping anak-anak.
"Kakak sudah jadi orang kaya ya! Jadi jarang kesini ngumpul sama kita," sahut anak yang lain.
Fachri menyunggingkan senyum ramahnya. "Kakak akhir-akhir ini sibuk. Maaf ya! Sekarang kakak harus pamit."
"Hati-hati Kak Fachri!" ucap semuanya serentak.
Fachri sudah melangkahkan kakinya kembali kemobil. Clara dan Randi yang dari tadi terpaku melihat Fachri juga ikut masuk kembali.
"Kamu kok bisa akrab gitu sih sama mereka?" tanya Clara yang kini memilih duduk dikursi depan.
"Mereka itu teman-temanku dulu. Kamu kan tahu sebelum aku datang kerumah sebagai supir, aku hidup dipanti asuhan. Jadi wajar, kalau aku kenal denga anak jalanan itu." Fachri menjawab sambil fokus menyetir, sambil sesekali menoleh kearah istrinya.
Randi yang duduk dibelakang juga ikut nimbrung. "Terus maksudnya semua ini apa Fachri? Aku ngerasa ada maksud tersembunyi. Dari mulai ngajak makan dipinggir jalan, ngasih makan kucing, dan bagi-bagi makanan untuk anak jalanan."
"Aku hanya ingin mengajari kalian tentang kesederhanaan. Saling berbagi sesama. Memahami kehidupan yang tak seindah dalan bayangan kalian. Bahwa kesederhanaan akan mengajari kita untuk selalu bersyukur. Ada orang-orang yang lebih tidak beruntung dari kita. Ada orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Walaupun sesuatu yang kita beri sangatlah sepele menurut kita. Tapi, bagi mereka itu sangatlah berarti. Jadi, ikhlaslah dalam memberi."
"Kamu ini sebenarnya siapa Ri? Kamu penuh dengan kejutan," ujar Randi yang duduk dikursi belakang. Tubuhnya ia condongkan kedepan hingga kepalanya berada diantara Fachri dan Clara.
Fachri hanya mengulas senyum mendengar ucapan Randi. "Aku ya Fachri yang kalian kenal sekarang. Aku bukan siapa-siapa. Kamu kan sudah kenal aku sejak ayah menjadi donatur dipanti tempat tinggalku dulu Rand."
"Iya juga sih Ri." Randi kembali keposisi duduknya semula. Masih ada rasa penasaran dihatinya. Tapi, sudahlah. Ia tak mau ambil pusing.
Clara berniat meminta penjelasan Fachri nanti malam. Ia ingin tahu kehidupan Fachri sebelum masuk dalam kehidupannya.
Hari sudah semakin sore. Adzan asar sudah terdengar. Fachri berhenti disebuah minimarket. Ia membeli aneka makanan ringan.
Kali ini Randi tak banyak bertanya. Clara juga sudah menduga itu pasti untuk anak-anak panti.
Benar saja, Fachri membawa mereka menuju sebuah panti asuhan.
Seperti biasa, ia disambut dengan suka ria oleh anak-anak kecil itu. Ibu panti juga terlihat sumringah melihat kedatangan mereka bertiga. Sambutan hangat seorang ibu selalu ia berikan pada Fachri dan juga Clara.
Randi menyalami ibu panti seperti biasa saat dirinya datang bersama tuan Steven.
Setelah membagikan cemilan yang ia beli tadi, Fachri mengajak Clara dan Randi untuk sholat asar dimusholla panti. Kemudian menikmati udara sore didanau yang ada dibelakang.
"Kita pulang nanti setelah maghrib nggak apa-apa kan Ra?" tanya Fachri.
"Iya Fachri tidak apa-apa. Aku juga betah kok disini," jawab Clara dengan tulus.
Randi sedang sibuk memberi makan ikan didanau itu. Setiap ia melempar makanan, ikan-ikan langsung bermunculan untuk berebut makan.
Melihat Randi yang tampak asyik, Clara juga tertarik melakukan hal yang sama. Senyum manis selalu menghiasi bibir mungilnya.
Fachri selalu mengucap syukur dalam hati. Senyum bidadarinya adalah hal terindah bagi dirinya.
Hari sudah semakin senja. Matahari mulai bersembunyi diufuk barat. Menampakkan keindahan langit jingga. Ketiga anak manusia itu segera meninggalkan danau. Menyisakan canda tawa yang berbaur dengan warna- warni bunga. Hembusan angin membuat daun-daun menari, ikut bertasbih atas keagungan Tuhan.
Dalam jama'ah sholat maghrib, Fachri yang menjadi imam. Dia telah menjadi sosok yang begitu dikagumi. Mungkin diatas sana, para bidadari sudah berebut untuk menjadi pendampingnya. Lantunan kalam yang mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengar. Bahkan langit senja pun ikut hanyut dalam kesyahduan.
Setelah itu Fachri mengajak semua anak-anak untuk mengaji bersama. Clara dan Randi juga ikut serta. Mengikuti sebisa mereka.
"Anak-anak tadi sholat maghribnya ada yang telat tidak?" tanya Fachri ketika sudah selesai.
"Saya Kak." Salah seorang anak laki-laki mengacungkan tangan.
"Telatnya berapa rakaat Nizam?" tanya Fachri pada anak yang bernama Nizam.
"Hanya satu Kak," jawab Nizam.
"Masih ingatkan, bagaimana tata cara sholat untuk makmum masbuk seperti Nizam?" Fachri bertanya untuk memastikan.
"Masih Kak. Kita harus mengikuti gerakan imam. Kemudian ketika imam sudah salam, kita menambah lagi rakaat yang tertinggal." Seorang anak perempuan memberikan jawaban.
"Bagus! Berarti kalian masih ingat apa yang pernah kakak ajarkan. Sekarang Kak Fachri mau tanya. Sholat apa yang tahiyatnya ada empat?"
Pertanyaan Fachri membuat Clara melotot heran. Begitu juga dengan Randi yang ada bersama anak laki-laki diseberang anak perempuan. Mana ada sholat yang tahiyatnya ada empat. Fachri memang benar-benar majnun? Batin Clara. Ada-ada saja yang ia tanyakan. Sholat yang rakaatnya empat saja tahiyatnya hanya dua.
Semua anak-anak saling berbisik. Berdiskusi tentang pertanyaan Fachri yang kedengaran aneh.
.
.
.
Terima kasih atas dukungan kalian!
__ADS_1