ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Zahra~Akbar 2


__ADS_3

"Ayo Fa siap-siap maghriban dulu!" ajak Fachri. Clara masih asyik mengedit foto.


"Iya Mas Fachri." Clara pun bangkit dari duduknya. Tapi bukan kekamar mandi, ia malah minta pendapat Fachri tentang foto-foto yang ia edit.


"Cantik nggak Ri?"


Fachri memperhatikan foto itu sejenak, tapi ia tak berkomentar. Malahan mengambil sesuatu dari dalam lemari. Fachri memegang kain panjang berwarna biru. Mirip sebuah selendang tapi terbuat dari kain yang lembut dan lentur.


Fachri memakaikan kain itu dikepala Clara. Membentuk hijab yang tampak cantik.


"Ini baru cantik Shafa sayang!" ucap Fachri.


Clara mengernyit antara terkejut dan senang dengan kata terakhir yang terucap dari Fachri.


"Sayang!" Clara mengulangi kata itu.


"Kenapa?" Fachri pun bertanya menggoda. "Tidak boleh panggil istri sendiri dengan sebutan "Sayang"?"


Clara malah tertawa cekikikan. "Boleh sih, cuma kok geli aja dengernya."


Fachri malah menggelitiki perut dan pinggang Clara karena gemas. "Ini namanya baru geli, Shafa."


Tawa Clara semakin pecah karena gelitikan Fachri. Keduanya saling ambruk, terbaring diatas tempat tidur. Fachri masih saja menggoda istrinya yang dari tadi tak bisa menahan geli.


Keduanya terdiam saat beradu pandang. Posisi Fachri tepat diatas Clara.


Jantung Clara seakan ingin melompat keluar. Berdetak keras dan tak karuan. Fachri pun merasakan hal yang sama.


Sementara diluar langit jingga yang tadinya tampak indah, perlahan memudar. Terusir oleh kegelapan yang datang menyapa.


Adzan maghrib sudah berkumandang. Menyerukan panggilan Sang Khaliq.


Fachri segera menyingkir dari tubuh Clara. "Astaghfirulloh!"


Clara juga bangun, "Kenapa istighfar Ri? kan kita dah nikah."


"Aku istighfar karena lupa sesuatu."


"Lupa apa?"


Fachri mengusap rambut istrinya gemas. "Lupa kalau sudah adzan, kita sholat dulu."


Selendang yang tadi menutupi kepala Clara sudah terlepas akibat pergulatan mereka tadi.


Clara segera menuruti ajakan suaminya. Mereka berdua sholat berjama'ah.


Setelah itu, Fachri hendak mengajari istrinya mengaji. Tapi, Clara malah ingin menolak.


"Kapan-kapan aja dech Ri ngajinya. Aku harus belajar, hari senin sudah ujian akhir semester." Clara mulai berkilah. Ia merasa menemukan alasan yang tepat untuk menunda ajakan suaminya.


"Sebentar saja, cuma 30 menit. Setelah itu kamu belajar." Fachri mencoba membujuk istrinya.


"10 menit aja Fachri." Clara melakukan penawaran.


"Tidak, tetap 30 menit."


"15 menit."


"20 menit "


"15 menit, Fachri."


Setelah saling berdebat, Fachri mengambil jalan tengah. "Ok kalau begitu, 15 menit. Mulai besok 15 menit sebelum maghrib dan 15 menit setelah maghrib."


Clara memanyunkan bibir. "Itu sama saja dengan 30 menit. Kau curang Fachri."


"Sudah jangan menawar terus. Ayo kita mulai!"


Fachri pun mulai mengajari Clara. Awalnya memang sulit untuk mengajari istrinya. Tapi, dengan telaten Fachri menuntun istrinya sampai bisa.


"Ri, ajari aku beladiri dong! Biar hebat kayak kamu," pinta Clara setelah selesai mengaji.


Fachri melipat sajadahnya. "Iya, setelah ujian aku ajari. Sekalian sama Randi juga."


"Beneran ya. Jangan bohong!" Seru Clara. Khawatir Fachri hanya berusaha menyenangkan dirinya.


Kemudian ia mengambil gantungan baju yang ada disamping lemari. Merapikan mukenanya.

__ADS_1


"Iya Shafa sayang."


"Dih, mulai genit ya kamu Ri." Berjalan untuk meletakkan mukenanya yang sudah rapi digantungan belakang pintu.


"Kan sama istri sendiri."


Clara berjalan mendekat lagi kearah suaminya. "Ya ya, terserah kamu. Asal nggak bohongan sayangnya."


Tanpa disangka, Fachri meraih pinggang Clara. Merapatkan ketubuhnya.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan Shafa. Apa perlu aku buktikan sekarang?"


Clara mengerjap gugup. Wajahnya hanya berjarak sejengkal dengan dada Fachri. Walaupun untuk ukuran seorang wanita dia sudah termasuk tinggi, tapi, jika dibanding tubuh fachri yang tinggi tegap tetap saja tak sebanding.


"Kau-kau mau melakukan apa Fachri?" Clara semakin gugup. Ia memberanikan diri mendongakkan wajah menatap pria yang mendekapnya.


Fachri mengulas senyum. "Menurutmu?" Ia sengaja menggoda istrinya.


Wajahnya semakin mendekat, hingga keningnya menyatu dengan kening istrinya.


Lagi-lagi keringat dingin mengucur tanpa diminta. Fachri bisa merasakan dinginnya kulit Clara karena takut. Matanya terpejam dan ia menggigit bibirnya sendiri.


Fachri mengerti bahwa istrinya masih belum terlepas dari traumanya. Memang sulit untuk menyembuhkan jiwa yang terluka. Apalagi lukanya sangat dalam.


"Jangan pernah takut! Jangan pernah Shafa!" Fachri beralih memegang kedua bahu Clara.


Clara masih masih memejamkan mata. Terlihat buliran kristal bening mulai meluncur.


"Kalau kau masih terjebak dengan rasa takutmu, bagaimana kau bisa hidup sendiri tanpa aku Shafa."


Sontak saja Clara membuka matanya. "Apa kau akan meninggalkanku?"


Fachri tampak diam. Kenapa kalimat itu tiba-tiba meluncur dari bibirnya.


"Jawab Fachri! Apa kau berniat meninggalkanku?" pekik Clara. Ia takut kehilangan. Takut ditinggalkan sosok yang selama ini menopang jiwanya.


"Tidak Shafa. Tak ada niat untuk meninggalkanmu. Kecuali. . ." Fachri memotong kalimatnya. Ragu untuk mengucapkannya.


"Kecuali apa Fachri?"


"Kecuali takdir yang memisahkan. Kita tak tahu berapa lama umur kita."


Fachri memeluk istrinya sambil mengecup puncak kepalanya. "Jangan bicara seperti itu Shafa. Aku tak sanggup melihat kau terluka. Air matamu saja seperti luka bagiku."


Fachri melepas pelukannya . Mengusap air mata Clara.


"Salah sendiri kau bicara nglantur." Clara juga mengusap air matanya sendiri dengan tangan. Berusaha untuk tetap tegar. Meskipun kata-kata Fachri bisa saja menjadi ketakutan baru baginya. Takut untuk kehilangan.


"Maafkan aku! Sekarang belajar sana!"


"Aku sudah tidak mood belajar. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu Fachri."


Setelah itu Clara kekamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Fachri menatap tubuh istrinya yang kemudian hilang dibalik pintu kamar mandi. Rasanya ia tak bisa menemani Clara untuk waktu yang lama. Ada sesuatu yang ia rasakan. Rasa takut juga sempat menghampirinya. Karena itu ia bertekad untuk menyiapkan diri Clara, agar gadis itu bisa mandiri suatu hari nanti.


Masa depan Clara masih terbentang luas didepan. Fachri tak ingin masa remaja Clara berlalu dengan sia-sia. Akan ia torehkan warna warni kehidupan yang cerah untuk istrinya.


Saat sudah selesai dari kamar mandi, Clara mengajak Fachri duduk dibalkon kamarnya.


Ia pun meminta izin untuk bersandar dibahu suaminya. Fachri mengangguk, memberi izin.


Clara pun bergelayut manja dibahu Fachri. "Apakah bintang-bintang dilangit itu tampak indah dimatamu Fachri?"


"Iya, mereka adalah hiasan malam. Setitik cahaya yang hanya terlihat dalam kegelapan malam. Mereka membentuk gugusannya sendiri. Bersatu padu menghiasi kekosongan langit malam."


"Kau pun seperti bintang itu Fachri. Kau adalah cahayaku dalam kegelapan. Kau datang memberikan keindahan dalam hidupku."


"Takdirlah yang menuntunku padamu. Aku hanya mengikuti alur hidupku. Dan dia membawaku padamu."


"Kenapa kau menikahiku waktu itu? Padahal aku gadis yang sudah penuh dengan noda. Aku gadis yang sudah hancur masa depannya." Clara mengangkat kepalanya dari bahu Fachri.


Fachri pun tersentak dengan pertanyaan itu. Jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan istrinya yang meminta penjelasan.


Sejenak Fachri meminta pikirannya bersinkronisasi dengan hati untuk merangkai kata-kata.


"Karena aku ingin memperbaiki sesuatu yang hancur itu. Aku ingin menjaga dia." Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa ia rangkai.

__ADS_1


"Buat apa kau memperbaiki dan menjaga sesuatu yang sudah tidak layak?" Walau bibirnya berucap tapi, matanya menerawang jauh menatap bintang yang berkedip dihamparan langit.


"Kau layak untuk mendapatkannya. Aku yang akan membuatnya 'layak' kembali. Jangan pernah berkecil hati!. Ambil pelajaran dari semua kejadian ini Shafa." Fachri memandang wajah istrinya dibalik remang-remang cahaya malam.


Wajah yang masih menyisakan kesenduan. Dihadapan orang lain dia bisa ceria, tertawa tanpa beban. Seolah-olah dia tak pernah menyimpan duka.


Tapi yakinlah, orang selalu menyembunyikan kekosongan hati dibalik sikap cerianya. Tawanya adalah tameng untuk menyembunyikan duka lara. Ia tak ingin dipandang sebagai jiwa yang lemah. Walau yang ia tunjukkan hanyalah ketegaran semu semata.


"Kau tahu debu Shafa. Orang menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh. Sesuatu yang perlu untuk dilenyapkan karena mengganggu. Tak jarang pula ia disebut sesuatu yang kotor. Tapi ketahuilah! Debu adalah wasilah terakhir untuk bersuci ketika tak ditemukan air. Jadi, semua yang tercipta didunia ini memiliki peran masing-masing. Tak ada yang sia-sia. Sekalipun itu debu."


Clara pun menoleh pada Fachri. Ia tahu pria disampingnya ini seperti sebuah buku hidup baginya. Akan keluar goresan indah saat ia membutuhkan suntikan semangat. Selalu menyimpan rangkaian tutur bahasa yang menyejukkan.


Lalu bagaimana ia tak mencintai laki-laki disampingnya? Tak ada celah dihati Clara untuk menolak perasaan itu. Dia telah benar-benar jatuh dalam pesona Fachri. Tapi ia merasa masih ada dinding pemisah diantara mereka.


"Apakah kau mencintaiku?"


Akhirnya pertanyaan tersulit bagi Fachri muncul. Gadisnya meminta kepastian cinta dengan ungkapan kata.


Sejuknya semilir angin malam tak mampu membuka jalan untuk bibir Fachri. Lidahnya kelu saat diminta mengucap kata cinta. Kata yang ingin ia hindari setelah kejadian yang benar-benar menyesakkan jiwanya. Kata yang sempat menenggelamkan jiwanya dalam kebekuan.


Tak ada yang bertanya tentang masa lalunya. Tak ada yang tahu bagaimana kata cinta membekaskan trauma pada diri Fachri.


"Kediamanmu memberikan dua kesimpulan Fachri. Kau pahamkan dua kesimpulan apa yang kumaksud!" ucap Clara kemudian. Karena Fachri tak kunjung menjawab. Laki-laki itu hanya menatapnya tanpa kata.


Dengan susah payah Fachri mulai menggerakkan lidahnya yang terasa kelu karena cinta. "Apakah setelah semua yang kita lewati bersama belum cukup untuk menjawab pertanyaanmu? Tanyakan pada hatimu Shafa! Jawabannya ada dalam hatimu sendiri."


"Aku butuh kepastian Fachri. Aku takut kau menikahiku hanya karena kasihan. Karena aku tak mau belas kasihan dari orang lain."


Fachri mengerti kekhawatiran istrinya. Ia pegang lembut kedua tangan gadis disampingnya.


"Pernikahan bukanlah hal main-main Shafa. Itu adalah ikrar suci dihadapan tuhan. Aku mengucapkannya dengan hati. Tak cukupkah itu memberi kepastian padamu tentang perasaanku?" ujar Fachri dengan penuh kehati-hatian.


"Kau memang pintar sekali berkilah dari pertanyaanku Fachri," ujar Clara dengan senyum yang mulai terpancar lagi. Tak ada yang lebih penting dari sebuah pembuktian cinta kecuali dengan ikrar janji suci pernikahan. Ia tahu Fachri pasti serius dengan keputusan yang sudah diambilnya.


"Maafkan aku Shafa! Diriku terlalu lemah jika harus mengungkapkan apa yang kau minta. Kuharap suatu saat kau akan mengerti alasanku." Gumam hati Fachri.


Angin malam semakin syahdu mengiringi kemelut hati dan cinta kedua insan yang bergelayut manja dibawah ribuan bintang. Fachri dan Clara saling mengulas senyum dihati masing-masing. Kini gantian Fachri yang minta dimanja oleh istrinya.


Ia letakkan kepalanya dibahu mungil Clara. Usapan lembut dari jemari lentik ia rasakan. Kasih sayang dari seorang kekasih bisa ia dapatkan kembali. Tak ada yang tahu pula bagaimana Fachri berjuang sendiri melawan ketakutan yang ia pendam selama ini.


Fachri pun hanya manusia biasa. Ia punya masa lalu yang terpendam. Ada luka dibalik sikap kuat dan tegarnya. Yang ia tunjukkan hanya seorang Fachri yang penuh dengan ketenangan. Terus berusaha memotivasi seseorang. Padahal itu juga untuk memotivasi dirinya sendiri yang masih dalam proses pemulihan dari luka lamanya.


Namun, siapa sangka pertemuannya dengan Clara mampu memudarkan lukanya. Pesona Clara telah menarik hatinya keluar dari lubang dukanya. Gadis nakal yang banyak tingkah tapi dianugrahi dengan kejeniusan, telah menggerakkan jiwa Fachri.


Awalnya ia memang terpaksa menemui gadis itu karena permintaan Steven, yang kini sudah menjadi ayah mertuanya. Berawal dari keterpaksaan itulah ia kembali mendapatkan jiwanya yang penuh cinta. Meski ia belum mampu untuk mengucapkan kata itu lagi.


"Fachri sudah waktunya isya, apa kau akan seperti ini terus?" tegur Clara. Fachri terlihat memejamkan matanya. Entah tidur sungguhan atau hanya tidur-tidur ayam.


"Apa kau tidur?" Untuk pertama kalinya Clara memegang pipi suaminya. Seketika darahnya berdesir. Wajah suaminya benar-benar meneduhkan jiwanya.


"Bahuku sudah terasa kram Fachri. Ayo bangunlah!" serunya dengan suara yang meninggi. Clara mencoba menguasai dirinya dari pesona suaminya.


"Jangan berteriak! Nanti aku akan memijat bahumu sebelum tidur." Fachri mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap, tampak warna merah disana. Berarti tadi Fachri memang sempat tertidur.


"Bisa-bisanya kau tertidur." ucap Clara. Kedua tangannya dengan berani menangkup wajah Fachri. Lalu menguyel- uyel wajah itu layaknya anak kecil.


"Sudah Shafa, hentikan!" Fachri masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya yang sesaat. Ia kembali menguap.


Bukannya bangun, Fachri malah merebahkan kembali tubuhnya dibangku panjang tempatnya sekarang duduk bersama Clara. Paha istrinya pun ia jadikan bantal.


Tak ayal, Clara pun kaget dibuatnya. Ia berusaha membangunkan lagi suaminya.


"Bangun Fachri!"


"Tolong biarkan aku seperti ini 5 menit saja." Tanpa membuka matanya Fachri berucap.


Akhirnya Clara membiarkan Fachri seperti itu untuk sesaat. Ia agak canggung dengan situasi yang diciptakan suaminya. Harus apa dia? Apakah membelai rambut Fachri? seperti seorang ibu yang sedang meninak bobokan anaknya. Lalu menyanyikan lagu pengantar tidur.


"Tumben kau manja sekali hari ini. Tak seperti biasanya kau bertingkah seperti ini Fachri." Clara berkata pada dirinya sendiri karena Fachri sama sekali tak mengeluarkan suara.


Ketenangan berada dalam pangkuan Clara membuat Fachri enggan beranjak. Dia benar-benar menemukan ruang berlabuh. Hatinya kembali hidup dengan kasih sayang seorang wanita.


.


.


.

__ADS_1


Terkadang seseorang mampu memanipulasi diri sesuai keadaan agar tak dianggap lemah. Seperti bunglon yang menyesuaikan dirinya dengan warna tempat ia berpijak. Setidaknya itu bisa melindungi dirinya.


__ADS_2