
Siang itu Steven sedang sibuk dengan berkas yang menumpuk dimeja kerjanya. Kejadian yang menimpa putrinya, membuat beberapa pekerjaan tertunda. Belum lagi dengan masalah pembangunan Fikriya Hotel yang sebelumnya dirancang oleh Michael. Steven harus benar-benar mempelajari konsep yang dibuat sahabatnya beberapa tahun lalu.
Setelah sekian lama barulah Steven bisa merealisasikan rancangan sahabatnya itu. Ya, sahabatnya itu adalah ayah kandung dari putri yang sudah ia besarkan selama ini. Selepas kepergian orang tua putri angkatnya, Steven juga mendapat amanat untuk mengelola perusahaan yang sudah diatas namakan untuk Shafa, nama asli dari Clara.
Untuk menghindari spekulasi negatif dari publik, Steven mengubah nama Shafa mengikuti namanya menjadi Clara Stevani Olivia.
Perusahaan Zahra group juga ia sembunyikan dibalik Haidar group. Karena bagaimanapun ada pihak yang berusaha merebut Zahra group. Sehingga Steven harus menyamarkan keberadaannya.
Setelah Clara dewasa ia akan mengembalikan jati diri putri angkatnya. Beserta seluruh aset yang ditinggalkan orang tuanya.
"Bagaimana pembangunan hotel?" tanya Steven pada sekretaris pribadinya. Pandangannya masih fokus dengan kertas dihadapannya.Tanganya sibuk membolak balikan setiap lembar berkas yang harus ia pelajari.
"Baru mulai tahap awal Stev. Konsep yang dibuat oleh Michael sepertinya cukup rumit. Pihak kontraktor juga kesulitan memahaminya. Hanya Fachri yang bisa kita andalkan untuk pembangunan hotel ini." Terang Andi. Ia meletakkan hasil laporan pembangunan di meja Steven.
Kini laki-laki itu duduk dikursi yang ada didepan meja Steven. Menyandarkan punggungnya sambil menghela nafas panjang.
Sejenak Steven menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah sahabatnya yang juga menjabat sebagai sekretaris pribadi. "Fachri saat ini masih fokus pada kesehatan Clara. Kau tahu kan hanya Fachri yang bisa menenangakan Clara saat ini."
Andi tampak berpikir keras, jika Fachri tak memiliki cukup waktu untuk membantu proses pembangunan proyek ini. Harus ada orang yang bisa bekerja sama dengan Fachri, agar proyek tetap berjalan dan Fachri tak perlu meninggalkan Clara terlalu lama.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan padaTuan Adhitama?" usul Andi.
"Boleh dipertimbangkan. Perusahaannya juga bergerak dibidang yang sama dengan kita. Kau urus saja pertemuan dengan Tuan Adhitama."
Tangan Steven kembali memegang berkasnya.
Andi bergerak dari posisi duduknya. Dia meletakkan kedua lengannya diatas meja. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. "Bagaimana kalau Clara kau libatkan dalam urusan ini?"
Steven mengerutkan keningnya. Lalu melepaskan kaca mata yang setia membantu membaca setiap berkas-berkas penting kantornya. "Maksudmu?"
"Suruh saja Fachri mengajak Clara untuk menemaninya. Itung-itung agar pikiran Clara teralihkan dari bebannya sekarang. Sekalian juga Clara bisa belajar masuk kedunia bisnis. Toh, Dia juga yang nantinya harus memegang kendali perusahaan mendiang ayahnya." Ujar Andi memberi saran.
Steven memainkan pulpen ditangannya sambil berpikir. Mungkin ada baiknya juga saran Andi. Clara tak akan larut dalam kenangan buruknya kalau ia ikut sibuk bersama Fachri.
"Lagi pula Clara sangat berbakat. Waktu aku mengajarinya dulu. Ia cepat tanggap, walau ia terlihat tak tertarik dalam dunia bisnis. Karena saat itu Clara masih dalam masa labilnya. Seiring dengan kehadiran Fachri, aku yakin Clara mau mencoba memahami dunia ayahnya."
"Baiklah akan kubicarakan dengan Fachri."
"Ok. Sekarang aku akan menghubungi Tuan Adhitama. Semoga berjalan sesuai rencana." ucap Andi yang kemudian keluar dari ruangan Steven.
Baru saja Andi hendak membuka pintu, Steven memanggilnya lagi.
"Oh ya An. Aku lupa masalah orang-orang yang terlibat dalam kejadian diclub bagaimana?" Tanya Steven serius.
Andi berjalan lagi kearah Steven. Masalah perusahaan sempat membuat Andi lupa untuk melaporkan hasil penyelidikannya tentang orang-orang yang terlibat kejadian diclub.
"Semua sudah beres Stev. Club sudah ditutup dan keluarga mereka sudah menanggung akibat dari kesalahan mereka sendiri. Tapi tentang Aldi, ternyata dia adalah putra dari sahabat Olivia waktu SMA. Akan aku kirim datanya setelah ini."
Steven hanya diam, lalu mengisyaratkan dengan tangannya agar Andi keluar dari ruangan.
Steven kembali berpikir. Siapakah sahabat Olivia waktu SMA yang dimaksud Andi?
Tak berselang lama ada Email masuk.
Steven membacanya dengan seksama. Perhatiannya tertuju dengan data Aldi. Bahwa dia adalah putra dari Sarah. Nama itu tak asing bagi Steven. Terlebih itu adalah sahabat istrinya.
Steven berencana mengajak Andi untuk mendatangi kediaman Sarah. Ia ingin memastikan sendiri tentang Sarah.
***
Fachri sedang duduk disofa kamar Clara sambil memangku laptopnya. Jemarinya yang kokoh dengan cekatan mengetikkan apa yang dikatakan oleh otaknya.
Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Agar bisa fokus bekerja dan juga fokus pada Clara.
Sementara itu, Clara sedang tertidur pulas sesudah minum obat. Wajahnya masih menyisakan kesenduan. Jiwanya masih rapuh. Seandainya tak ada Fachri entah bagaimana gadis itu sekarang.
__ADS_1
Suasana hening tercipta disana. Hanya suara keybord yang menjadi nada saat itu.
Namun suasana menjadi tegang saat Clara terbangun sambil berteriak. Keringat dingin sedikit membasahi poni cantiknya. Ia duduk dengan nafas tersengal-sengal.
Fachri segera menghampiri istrinya, setelah reflek melempar laptopnya disofa.
Ia langsung membenamkan wajah Clara dalam pelukannya. "Kamu mimpi buruk Ra?" Fachri mengusap lembut rambut istrinya. Menyalurkan sebuah ketenangan.
Clara sendiri hanya menjawab dengan anggukan kecil. Bayangan kejadian bersama Aldi seakan membekas dipikirannya.
Fachri meraih gelas minum yang terletak tepat disampingnya. "Minumlah dulu agar lebih tenang."
Clara menerima gelas dari Fachri dan meminumnya.
"Sekarang kamu tidur lagi Ra." ujar Fachri dengan mengusap rambut Clara.
Namun Clara menggeleng. "Kamu butuh sesuatu?" Clara menggelengkan kepalanya lagi.
"Terus maunya kamu bagaimana? Mau aku temani tidur?" Kini Clara menatap tajam kearah Fachri karena terkejut.
Fachri malah terkekeh geli. "Kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu." Fachri beranjak lalu mengambil benda yang tadi sempat ia lempar. Melanjutkan lagi kesibukannya.
Clara masih memperhatikan Fachri. Sejak dari rumah sakit dia sangat berbeda dengan yang dulu. Apa karena memang sudah halal?
Clara beranjak dari tempat tidurnya. Ikut duduk disamping Fachri. Ia hanya memperhatikan laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya dengan tatapan yang tak terartikan.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?" Tanya Fachri tanpa menatap kearah istrinya.
"Tidak tahu" jawab Clara. Lalu beranjak mengambil ponselnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Fachri saat Clara hendak membuka pintu.
"Aku bosan dikamar. Aku ingin mencari udara segar dibawah." Clara melanjutkan langkahnya.
Disana gadis itu menuju taman belakang dan duduk diayunan. Fachri sendiri memilih tetap didalam. Ia bisa memperhatikan Clara dari dinding kaca yang tembus pandang. Ruang bersantai itu memang didesain agar bisa menikmati pemandangan dari dalam.
Randi yang tadinya duduk diteras belakang dapur menuju kearah Clara yang berada diseberang. Ia hanya perlu memutari kolam renang untuk sampai kearah Clara.
"Sendirian aja Non. Mana suami?" Randi duduk didepan Clara. Ia menoleh kebelakang lalu melambaikan tangan pada Fachri yang terlihat sedang memperhatikan mereka.
Clara masih asyik dengan ponsel ditangannya."Paan sih Lo?"
"Biasanya kalau Non asyik disini pasti lagi chat an sama Samuel."
"Sotoy Lo."
"Kan berdasarkan kebiasaan. Inget Non dah ada suami." ujar Randi mengingatkan.
"Iya inget. Lagian gue cuma ngobrol biasa. Trus juga dia udah ada Anin." Sanggah Clara.
Randi mengayunkan ayunan agak keras. Membuat Clara melototkan matanya kearah Randi."Lo sengaja ya?"
"Emang. . .!"
Tanpa diduga Fachri melangkah kearah mereka. Ia duduk disebelah Clara.
"Cemburu kamu Ri?" tanya Randi.
"Tidak." jawab Fachri singkat.
"Tidak salah lagi"
Fachri menendang pelan kaki Randi. "Belum apa-apa udah main tendang aja sih kamu Ri". gerutu Randi.
"Maaf Rand. Kakiku khilaf."
__ADS_1
Clara malah tersenyum melihat suaminya yang mulai keluar sifat humornya. Tanpa ada yang menyadari Clara diam-diam mengarahkan camera ponselnya pada Fachri.
"Non Clara kenapa senyum-senyum kayak gitu? Seneng banget kayaknya."
"Senyum kan ibadah Rand. Kata Fachri sih itu." Clara menoleh pada laki-laki yang ada disampingnya.
"Asal jangan berlebihan aja Non, nanti lama-lama jadi gila."
"Kalau ada Fachri gue nggak mungkin gila." ujar Clara.
Fachri yang ada disampingnya menoleh. Tangannya malah mengacak poni Clara sambil tersenyum.
"Kebiasaan dech kamu Fachri. Ini kan juga hasil karya kamu." Clara pura-pura manyun sambil merapikan lagi poninya. "Eh Rand. Main tebak-tebakan lagi yuk. . . !" ucap Clara kemudian.
"Kayak bocah aja Non. Main tebak-tebakan." Seru Randi.
"Kayaknya kemarin waktu gue tidur dirumah sakit ada yang mau ngajak main tebakan. Sampek nangis-nangis juga." Clara menyindir orang yang yang ada didepannya sambil tersenyum jahil. "Siapa ya Ri?" Clara pura-pura bertanya pada Fachri.
"Tuch si Fachri juga nangis. Non Clara sih bikin kita semua takut." ujar Randi.
"Ya maaf. . .!" suara Clara terdengar lirih. Air matanya juga hampir melesat keluar. Sebisa mungkin ia tetap terlihat tegar. Walau sebenarnya ia menjadi rapuh setelah kejadian yang menyebabkan ia kehilangan hal paling berharga dalam dirinya. "Ayo dong Rand. Kasih gue tebakan." Clara mengalihkan perasaannya sendiri. Ingin menyembunyikan kelemahan jiwanya sekarang.
"Saya lagi nggak kepikiran tebakan Non. Tuch Fachri aja suruh buat tebakan." Randi menunjuk kearah Fachri.
"Beneran mau aku yang buat tebakan?"
"Iya Ri. Yang penting tebakan. Apa aja boleh." ucap Clara.
"Ya sudah. Apa aja ya. Dengarkan. . . !" Fachri memberi jeda agar Clara dan Randi bisa memperhatikan dengan baik tebakan yang akan ia berikan.
"Sesuatu itu ada tapi tidak tampak juga tidak kelihatan. Juga tidak berwujud. Bila diungkapkan sesuatu itu jadi tidak ada. Bila tidak diungkapkan sesuatu itu akan tetap ada."
Fachri telah selesai mengucapkan tebakannya. Ia melipat tangannya dibawah dada, memperhatikan Clara dan Randi yang saling melempar pandangan.
"Apaan Rand?" Clara melempar pertanyaan pada Randi.
"Non aja nggak tahu apalagi saya Non."
"Ayo kalian pasti bisa. Ini tebakan anak kecil"
"Suruh saja anak kecil yang jawab." seru Clara.
"Disini tidak ada anak kecil, adanya kalian." Fachri beranjak pergi. Membuat Randi dan Clara penasaran tak mendapat jawaban dari Fachri.
"Jangan pergi kamu Ri. . .!" Teriak Randi.
"Kalian pikirkan saja dulu jawabannya." Seru Fachri yang sudah agak jauh.
Randi beralih lagi pada Clara. "Nanti malam Non rayu Fachri biar dikasih jawabannya."
"Gila Lo Rand." Kemudian Clara juga beranjak pergi.
.
.
.
.
Ayo readers ada yang tau nggak jawaban tebakan diatas. . .?
Kalo tahu silahkan tinggalkan jejak dikolom komentar.
Thanks. . .!
__ADS_1