
Sudah tiga hari sejak kecelakaan naas itu terjadi, Fachri belum sadar juga. Clara selalu berada disana, bahkan ia tak pernah pulang kerumah.
Sesekali Anin juga datang menemani sahabatnya itu. Tak tega melihat keadaan Clara yang terus bersedih, Anin menghubungi Samuel. Memberi tahu tentang apa yang terjadi dengan Fachri.
"Shobahul khoir Fachri!" ujar Clara sambil membuka jendela ruangan. Memberi izin pada cahaya matahari untuk masuk. Menyinari sebagian wajah Fachri yang masih tidur nyenyak.
"Lihatlah Fachri! Pagi ini indah sekali." Clara menghirup dalam-dalam udara pagi yang begitu sejuk. "Matahari bersinar cerah setelah semalaman hujan mengguyur. Apakah kau tidak rindu padaku?" Ia berjalan ketempat suaminya terbaring. Mengecup lembut kening pucat dihadapannya.
"Cepet bangun kamu Ri! Kasian Non Clara, nggak kasian kamu biarin dia kurus kering mikirin suaminya yang nggak bangun-bangun," ucap Randi disamping Fachri. Dia baru saja membeli sarapan untuknya dan juga Clara.
"Lebay lo Rand. Gue masih seger buger gini ya. Nggak pake kurus kering."
"Mangkanya ayo kita sarapan dulu biar tambah sehat. Ntar kalau Fachri bangun kita gebukin bareng-bareng. Betah amat tiduran mulu," ucap Randi yang sudah duduk sambil membuka sarapannya. Clara juga ikut makan bersama Randi.
Setelah sarapan, Clara dan Randi mengambil posisi disamping ranjang sambil melihat foto lama Fachri.
Mereka berdua saling melempar candaan melihat foto Fachri.
Kini Clara menopang dagu memperhatikan suaminya. "Sampai kapan Ri kamu kayak gini!" gumam Clara. Lalu ia menyandarkan kepalanya disisi ranjang sambil memainkan rambutnya sendiri.
Clara merasa ada yang membelai rambutnya. Ia merasa aneh. "Rand, lo ngapain sih pake megang kepala gue?" tanya Clara tanpa merubah posisinya saat ini.
"Siapa juga yang megang Non. Saya dari tadi duduk disini," jawab Randi yang ternyata duduk disofa.
"Trus yang dikepala gue tangan siapa dong Rand?"
"Tangannya setan kali Non," celetuk Randi.
Karena penasaran Clara mengangkat kepalanya. Ternyata itu tangan Fachri. Ia sudah sadar dari komanya.
Clara sangat bahagia. Ia sampai menitikkan air mata melihat Fachri menyunggingkan senyum pada dirinya.
"Masih ingat bangun ternyata kamu Ri," goda Randi yang sudah berdiri disamping ranjang.
"Panggil dokter Revan, Rand!"
"Santai Non. Tinggal tekan ini aja. Ribet amat!" Dengan santai Randi menekan tombol pemanggil yang ada disampingnya.
Tak lama kemudian, dokter Revan sudah datang bersama perawat.
Clara dan Randi diminta keluar sebentar. Mereka pun memahami maksud dokter Revan.
Diluar Clara sangat merasa bahagia, ia menghubungi Salsa dan juga ayahnya. Steven langsung meninggalkan kantor untuk kerumah sakit.
"Apa kita bisa masuk dokter?" tanya Clara.
"Iya kalian bisa masuk," jawab dokter Revan.
Clara dan Randi segera masuk. Sedangkan Steven diajak Revan keruangannya.
"Maafkan aku Fachri!" Clara berhambur kepelukan Fachri yang masih terbaring.
"Aku juga minta maaf membuatmu salah paham," ujar Fachri lembut.
Clara melepas pelukannya. Mengusap air mata yang kembali mengalir.
Fachri melepas alat bantu pernafasannya dan meminta Randi membantunya untuk duduk.
Baru saja Fachri mau bicara, dari pintu masuk para sahabatnya yang langsung heboh memeluk dirinya.
"Emang kamu Fachri majnun ya. Lama banget tidurnya," ujar Reza heboh.
__ADS_1
"Perasaan aku tidur cuma sebentar, lama apanya?" Fachri tak menyadari berapa lama ia tak sadar.
"Kamu itu tidur selama 3 × 24 jam Ri. Lihat Clara! Sampai kusut gitu mikirin kamu," celetuk Hasan.
"Kalau kamu nggak bangun Ri ya, aku udah siap nerima jandanya Clara," ujar Alam ngasal.
"Enak aja kamu!" Fachri melemparkan buah yang ada dimeja sebelahnya kearah Alam. Walau sebenarnya Fachri merasakan sakit dikepalanya, ia berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan ia pura-pura ceria didepan semua orang.
"Busyet dah! Aku kena lempar mulu dari kamu," gerutu Alam.
Suara riuh canda tawa mulai terdengar. Tanpa sadar Clara semakin menitikkan air mata. Takut jika ini hanyalah sebuah tipuan takdir. Ia takut masuk dalam permainan kehidupan yang semakin dalam, semakin masuk kedalam level tersulit.
Fachri semakin merasakan sakit dikepalanya. Ia meminta semua sahabatnya keluar kecuali Clara dan Randi.
"Kamu kenapa Ri?" tanya Clara khawatir melihat Fachri memegangi kepalanya. Ia teringat perkataan dokter Revan bahwa ada penggumpalan darah diotak Fachri.
Randi langsung membantu Fachri kembali berbaring.
"Apa kepalamu sakit Ri?"
"Tidak apa-apa Shafa, aku lebih sakit saat melihatmu meneteskan air mata."
Clara segera menghapus air matanya. "Aku tidak akan menangis lagi Fachri."
"Berjanjilah demi aku, bahwa kamu akan tetap bahagia meski tanpa diriku disampingmu."
Sebisa mungkin Clara tak menangis mendengar permintaan Fachri.
"Tetaplah melangkah untuk masa depanmu. Lanjutkan hidupmu Shafa. Aku ingin kelak kau bahagia bersama laki-laki yang jauh lebih baik dariku." Suara Fachri semakin melemah.
"Jangan bicara seperti itu Fachri! Kamu pasti sembuh, berjuanglah demi aku. Berjuanglah untuk sembuh Fachri." Clara tak lagi bisa menahan air matanya.
Fachri pun memaksakan senyuman ditengah rasa sakit yang semakin mendera. "Aku sudah berjuang Shafa. Dan aku belum mengatakan sesuatu padamu."
"Aku mencintaimu Shafa Fikriyatuz Zahra."
"Aku juga sangat mencintaimu Fachri Maulana Akbar." Clara mengecup kening Fachri. Akhirnya ia mendengar kalimat itu langsung dari Fachri.
"Randi!" panggil Fachri. Randi pun mendekat.
"Tolong jaga Shafa Rand! Kau adalah teman baiknya. Kalian harus saling menjaga satu sama lain."
"Itu sudah menjadi kewajibanku menjaga Non Clara, Ri. Kamu jangan khawatir!" Randi berucap sambil memegang erat tangan Fachri yang mulai dingin. Matanya juga berkaca-kaca.
"Shafa, peluklah aku!" pinta Fachri.
Clara pun langsung menunduk memeluk Fachri yang terbaring. Dari mulut Fachri terdengar kalimat tauhid terucap lirih. Lalu diiringi hembusan nafas pelan. Nafas terakhir Fachri.
Clara pun tak mendengar ada detak jantung disana. Ia angkat kepalanya. Fachri sudah memejamkan mata dengan damai.
Randi langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tubuh Clara semakin melangkah mundur. Tak percaya dengan apa yang ia lihat. Air mata tak lagi bisa menetes. Jiwanya seperti ikut melayang entah kemana. Jiwanya kini seperti padang rumput yang gersang. Hampa seperti ruang tak berpenghuni. Fachri telah pergi meninggalkannya dan tak akan penah kembali.
Semua orang yang diluar, terkejut melihat Steven dan dokter Revan berlari masuk keruangan Fachri. Mereka juga ikut panik dan berhambur masuk.
Doktet Revan menggelengkan kepalanya setelah memeriksa Fachri. Sebuah kode bahwa laki-laki itu telah tiada.
Tangis Salsa langsung pecah. Ia memeluk Clara yang dari tadi mematung seperti raga tanpa nyawa. Tak setetes pun air matanya mampu keluar. Ia tak ingin membuat Fachri sakit lagi saat air matanya mengalir.
Yang lain pun saling mengusap wajah kasar sambil mengucapkan kalimat istirja'.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, Anin datang bersama Samuel dan Guntur.
Mereka bertiga ikut tertegun dengan suasana diruangan itu. Tubuh Fachri sudah ditutupi oleh perawat dengan dengan kain yang ada.
Anin dan Samuel juga berhambur memeluk Clara setelah Salsa melepas pelukannya. Dan tanpa sadar ia bersandar pada dada bidang Randi yang dari tadi berada disamping Clara.
"Lo jangan pernah ngerasa sendirian ya Ra. Masih ada gue sama Samuel disini," ujar Anin.
Clara tak menjawab. Ia tetap mematung tanpa suara dan ekpresi. Tatapannya semakin kosong.
Guntur ikut merasakan sakit melihat duka yang mendera Clara. Sampai saat ini pun ia masih memendam cintanya. Tapi, tak pernah sekalipun ia berharap ada keadaan seperti ini.
*****
Dan disinilah Clara berdiri sendiri dibawah langit senja yang tak lagi menampakkan warna jingga. Hanya mendung yang terus menggelayut diatas.
"Ayo masuk Ra! Sebentar lagi hujan turun," ujar sang Ayah.
"Daddy!" panggil Clara. Ia menoleh kearah Ayahnya. "Apa Clara boleh tau sesuatu? Tidakkah Daddy mau jujur pada Clara." ucapnya kemudian.
Steven pun mengajak Clara duduk. "Maafkan Daddy Clara! Mungkin Daddy memang jahat selama ini dengan menyembunyikan sesuatu dari kamu."
"Jadi benar kalau Clara memang bukan anak kandung Daddy seperti yang dikatakan paman Max waktu itu."
Seven mengangguk. Clara tak lagi terkejut karena ia sudah menyiapkan mental untuk kenyataan hidupnya.
"Kamu adalah anak dari sahabat Daddy. Orang tuamu meninggal karena kecelakaan. Dan dia menitipkanmu pada Daddy. Juga perusahaan yang selama ini Daddy urus."
Steven pun menceritakan secara detail sejak awal kedatangannya sebagai Clara. Hingga ada orang yang menyebarkaan berita negatif hingga membuat istrinya pergi dari rumah.
"Jadi mulai sekarang pakailah nama pemberian orang tuamu. Shafa Fikriyatuz Zahra. Itu juga nama yang diucapkan Fachri saat ijab qabul," ungkap Steven.
Kini Clara mengerti kenapa Fachri suka memanggilnya dengan nama Shafa.
Langit yang dari tadi mendung, kini telah menumpahkan air hujannya. Hari semakin gelap meninggalkan senja dan berganti dengan lukisan malam yang dihiasi rintik hujan yang semakin menderas.
Pagi harinya Clara pergi sendiri kemakam kedua orang tuanya yang pernah ia datangi bersama Fachri dan ayahnya. Kemudian ia datang kemakam suaminya yang juga berada ditempat yang sama.
"Assalamu'alaikum Fachri!" Clara menaburkan bunga segar disana. "Kau lihat aku sekarang, aku tidak menangis lagi sesuai permintaanmu. Aku berusaha terus melangkah meski penopangku sudah tiada. Aku akan tetap hidup dengan cintamu. Kau sudah mengajariku untuk berdiri sendiri.
Sekarang aku adalah Shafa Fikriyatuz Zahra. Gadis yang akan memulai hidup barunya tanpa seorang Fachri Maulana Akbar. Gadis yang akan menantang badai dikehidupan selanjutnya."
Clara pun melangkah pergi dengan selendang biru dilehernya yang melambai-lambai. Mengucapkan selamat tinggal pada kisah Zahra~Akbar.
Kepergian Fachri bukanlah sebuah akhir dari kehidupan seorang Clara. Tapi, sebuah awal kehidupan baru. Ia akan menulis kisah takdirnya sendiri dengan nama SHAFA.
Lalu bagaimanakah Shafa bisa menjalani hari-harinya tanpa Fachri? Apakah dia akan seperti wortel yang menjadi lunak setelah direbus. Atau seperti sebuah telur yang semakin kuat setelah direbus, tapi juga kadar ketahananya menurun. Ataukah dia akan menjadi seperti biji kopi yang menebarkan aroma keharuman setelah direbus?
.
.
.
.
Terima kasih atas dukungan kalian semua!
Akhirnya kita sampai dipenghujung cerita. Maaf jika ada salah kata dari penulis! Jika ada hal negatif mohon diskip aja. Jika ada sisi positifnya semoga bermanfaat.
Sebenarnya ingin bikin season dua, karena kisah ini belum sepenuhnya lengkap.Tapi sepertinya sampai lebaran kucing pun tak akan sanggup aku nulisnya.😅
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih buat kalian semua!