ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Kenyataan


__ADS_3

Deg. . .!!!


Jantung Fachri seakan berhenti sejenak. Dadanya menjadi sesak. Mendadak hatinya ikut sakit. Ia teringat Clara. Apakah yang terjadi dengan gadis itu?


Seakan-akan panggilan Clara mampu menembus batin Fachri.


Rasa khawatir semakin menghantui pikirannnya.


Randi sudah berkali-kali menghubungi Clara tapi tidak ada jawaban. Tempat balapan yang biasa didatangi Clara tampak sepi. Tak ada kegiatan disana.


Kemudian Fachri menyuruh Randi melacak GPS ponsel Clara.


Randi berhasil menemukan titik lokasi. Fachri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untungnya lalu lintas sedang lenggang malam itu. Pikiran Fachri semakin tak karuan. Ditambah tentang mimpinya semalam yang seakan sudah memberikan sinyal bahwa akan terjadi sesuatu. Bagaimana bisa Clara berada disebuah Club malam.


"Clara. . .!!!" Teriak Fachri ditengah kerasnya suara musik. Orang-orang disana sedang asyik berjoget tanpa kesadaran penuh.


Randi juga ikut meneriakkan nama Clara. Akan tetapi sosok yang dicari tak ditemukannya.


"Hei. . .! siapa kalian? jangan mengacau ditempat ini." Seru pemilik Club yang bernama Heru.


"Katakan dimana Clara?" Tanya Fachri sambil menahan emosinya.


" Untuk apa kalian mencari Clara? Clara sedang bersenang-senang." ujar Heru.


"Lebih baik kalian gabung bersama kita disini. Biarkan Clara dan Aldi menyelesaikan urusan mereka." Erik menimpali.


Fachri dan Randi mulai geram.


"Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada Non Clara. Kalian akan tahu akibatnya." ujar Randi penuh emosi.


"Siapa Lo berani mengancam kita." Seru Erik yang kemudian melayangkan satu pukulan keperut Randi.


Fachri pun membalas memukul Erik hingga tersungkur kelantai. Heru hendak ikut memukul tapi berhasil ditangkis Fachri. Teman-teman Heru dan Erik juga ikut menyerang. Adu pukul tak bisa dihindari lagi. Randi yang tidak ahli beladiri terkena beberapa pukulan.


Sedangkan Fachri berhasil melumpuhkan mereka semua. Para pengunjung yang lain hanya menjadi penonton. Mereka tak ingin bernasib buruk ikut campur urusan orang lain. Ditambah lagi Fachri yang tampak jelas aura kemarahannya. Menghajar lawannya tanpa ampun.


"Cepat katakan dimana Clara?" Teriak Fachri.


Erik hanya menunjukkan kamar disudut ruangan itu dengan tangannya. Tubuhnya sudah babak belur dihajar Fachri.


Randi sendiri seakan melihat singa yang baru bangun dari tidurnya. Selama yang ia tahu Fachri adalah sosok yang kalem dan tak banyak bicara. Wajah yang tampak teduh seakan menyembunyikan sisi garang dari Fachri.


~•~


"Maafkan aku Ra. . .!" ujar Aldi sambil berusaha menggenggam jemari Clara.

__ADS_1


Tapi Clara menepis tangan Aldi.


"Kata maafmu tak akan bisa menghapus luka yang sudah kau buat Al." Ucap Clara disela isak tangisnya.


"Aku benar-benar menyesal Clara. Aku minta maaf." Gurat penyesalan memang terlihat dari wajah Aldi. Tapi apa mau dikata. Susu sudah terlanjur rusak karena setitik nila.


Penyesalan selalu datang terlambat.


"Dimana akal sehatmu saat kau melakukan itu padaku Al. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu Aldi. Tidak akan pernah."


Clara kembali tenggelam dalam tangisan pilu yang menyayat. Kata-katanya tadi cukup membuat Aldi terbebani rasa bersalah yang mendalam.


Laki-laki itu hanya bisa menunduk dihadapan Clara. Semua memang salahnya. Dialah laki-laki bejat yang melukai kekasihnya sendiri. Kekasih yang seharusnya ia jaga.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu yang didobrak dari luar. Tampak Fachri berdiri diambang pintu. Diikuti Randi dibelakangnya. Sepertiny Fachri menggunakan tenaga penuh saat menendang pintu, hingga benda itu terbuka dengan sekali tendang.


Untuk sesaat Fachri terpaku. Ia seakan melihat kilas balik dari mimpinya. Gadis itu benar-benar dalam keadaan memilukan. Semuanya terlihat nyata bukan lagi dalam mimpi.


Gadis itu duduk memeluk lututnya. Matanya sembab karena derai air mata. Baju yang dikenakan tampak terkoyak dibeberapa bagian.


Perlahan Fachri mendekat kearah Clara. Lalu melepas kemejanya dan membalutkan ketubuh Clara. Kini hanya kaos lengan pendek yang membalut tubuh Fachri. Memperlihatkan tubuh kekarnya.


Tatapan mata sayu dari Clara membuat Fachri ikut merasakan sakit. Bagaimana tidak gadis itu sudah masuk kedalam agenda terbesar dalam hidupnya. Sebuah agenda yang membawa hatinya tak punya pilihan selain jatuh cinta.


Sedangkan Aldi dipukuli oleh Randi tanpa melakukan perlawanan. Aldi sadar dia memang pantas diperlakukan seperti itu.


Semua orang harap-harap cemas menunggu Clara yang sedang diperiksa oleh dokter Revan.


"Untuk saat ini kondisi psikis Clara sedang buruk. Jangan membebaninya dengan ocehanmu." ujar Revan.


"Disaat situasi seperti sekarang jangan mengajakku bercanda. Aku bisa menghancurkan karirmu jika itu maumu." ucap Steven tegas. Sahabatnya bercanda disaat yang tidak tepat.


"Jangan berlebihan Stev." Kini dokter Revan mulai berbicara serius.


"Aku sudah memberi obat penenang untuk Clara. Hanya saja jiwanya sedang rapuh. Terus beri dia semangat dan dukungan. Jangan membuatnya semakin terpuruk. Kasih sayang dari orang disekitarnya akan membantu ia bangkit lagi." ujar dokter Revan


" Tolong rahasiakan kejadian ini Van."


" Tenang saja Steven. Kau adalah sahabatku tidak mungkin aku menghancurkanmu. Aku pamit pulang." Revan menepuk pundak sahabatnya sebelum pergi. Kejadian yang menimpa Clara pasti membuat Steven ikut terpuruk.


Didalam kamar Clara masih dalam pengaruh obat. Matanya terpejam tapi wajahnya masih menyisakan luka.


Steven membelai lembut kepala putrinya. Memberi kecupan sayang seperti yang biasa ia lakukan.


Fachri dan Randi hanya bisa menjadi penonton. Mereka juga merasa gagal dalam menjaga Clara.

__ADS_1


Setelah itu Steven mengajak Fachri berbicara empat mata diruangan sebelah kamar Clara.


"Fachri, Saya membebaskan kamu dari permintaan saya kemarin." ucap Steven dengan berat hati.


" Tidak Tuan,saya akan menerima permintaan Tuan dan jawaban saya adalah "iya".


Fachri mengucapkan jawabannya dengan tegas. Dia sudah menentukan pilihan.


"Keadaan sekarang sudah berubah Fachri. Clara sudah tidak pantas untuk kamu dan kamu berhak mendapat gadis yang lebih baik dari Clara."


"Saya sudah membuat keputusan untuk tetap menikahi Clara. Saya mau besok jam 9 pagi akad nikah dilakukan. Tolong Tuan siapkan semuanya." ujar Fachri dengan tegas.


Lalu meninggalkan Steven sendirian.


Steven tahu Fachri tak akan pernah main-main dengan ucapannya. Ia menyuruh Andi untuk mengurus keperluan besok pagi.


Malam itu Steven memutuskan untuk tidur dikamar putrinya. Berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada Clara.


Sebelum fajar Clara terbangun, ia melihat sang ayah tidur disofa.Seorang ayah yang sudah sangat ia kecewakan. Clara merasa frustasi, tak ada gunanya lagi dirinya hidup. Ia merasa berada dititik terendah dalam hidupnya. Tak ada semangat lagi dalam dirinya.


Dengan rasa putus asa yang masih menyelimuti, Clara perlahan turun dari tempat tidurnya. Dengan hati-hati ia membuka pintu dan pergi keluar. Steven masih terlelap dalam tidurnya. Tak menyadari Clara yang terbangun.


Gadis itu menuju dapur mencari kotak obat. Akal sehatnya sedang tidak bekerja saat itu. Tanpa ada yang tahu, Clara meminum semua obat tidur yang ada. Hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Suara benda jatuh membuat Fachri beranjak dari renungan malamnya. Ia keluar dari mushola mencari sumber suara.


Betapa terkejutnya Fachri ketika melihat Clara terkapar dilantai.


Suara teriakan Fachri langsung menggema dilantai bawah. Semua orang juga berhamburan keluar.


Fachri segera mengangkat tubuh Clara membawanya kerumah sakit.


.


.


.


Dalam setiap desah nafas ada sejuta nikmat


Dalam tangisan menyayat ada selangit rahmat


Maka, Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Thanks untuk semua readers yang masih setia menemani. . .!

__ADS_1


.


__ADS_2