
Ketika jam istirahat kedua, Clara menghubungi Randi. Ia meminta pemuda itu agar menjemputnya nanti ketika pulang. Awalnya Randi menolak karena pasti Fachri akan menyempatkan waktu untuk menjemput Clara.
"Pokoknya gue nggak mau tahu, Lo yang harus jemput gue nanti." Ujar Clara kekeh.
Diseberang terdengar suara Randi. "Iya Non. Saya ijin dulu sama Den Fachri yak."
Setelah itu panggilan diakhiri oleh Clara.
Randi yang saat itu ada dikantor Tuan Steven, segera menemui Fachri yang sedang membahas rancangan rekontruksi bangunan bersama partner yang dikirim oleh Tuan Adam.
Randi masuk keruang meeting. Lalu meminta izin untuk berbicara dengan Fachri. Steven pun juga memberi izin.
Kini Randi dan Fachri sudah ada diluar ruangan. "Ri anak singa kamu kumat." ujar Randi.
Seperti biasa Fachri selalu menunjukkan wajah tenangnya. Walau ia tahu pasti ada sesuatu. "Anak singa siapa?"
"Yang biasa aku sebut anak singa siapa?"
Fachri baru menyadari siapa yang dimaksud Randi. "Astaghfirullahal 'adzim". ucap Fachri sambil menggeleng kepala.
"Peace Fachri. . . !" Randi mengangkat 2 jarinya sambil cengengesan.
"Kalau dia anak singa berarti kamu juga bagian dari kawanan singa."
"Sama dong kita."
"Ada apa dengan Clara?" Kini Fachri serius bertanya.
"Tiba-tiba tadi Non Clara telvon minta aku yang jemput dia."
"Biar aku saja yang jemput Rand." Fachri hendak masuk lagi keruang meeting untuk pamit.
Tapi suara Randi mengurungkan niatnya. "Non Clara ngotot aku yang harus jemput dia. Aku sudah bilang kau akan menjemputnya, tapi ia tetap tidak mau."
"Baiklah. Kalau terjadi sesuatu cepat hubungi aku." Ujar Fachri dengan raut wajah masih serius. Ada kekawatiran dalam ucapannya. Ia pun masuk kembali keruang meeting.
Randi sendiri segera menuju kesekolah Clara. Akan tetapi seolah ada sebuah mobil yang mengikutinya ketika ditengah jalan. Randi mengira mobil itu hanya searah dengannya. Hingga ia tak curiga.
Sesampainya diparkiran sekolah, Anin datang menghampiri Randi.
"Rand Lo ditunggu Clara diruang musik." Ucap Anin yang mendatangi Randi dengan setengah berlari.
"Kenapa malah ditunggu disana. Bukannya langsung pulang."
Anin menaikkan bahunya tak mengerti. "Lagi galau kayaknya. Dari tadi diem mulu, gue takut mau nanya." ucap Anin
"Ya udah thanks Nin"
Randi segera menuju keruang musik. Disana Clara sedang memainkan drum. Stik yang ditangan Clara terus memukul drum hingga ia kelelahan.
Lalu ia turun, berjalan kearah Randi yang duduk berselonjor dianak tangga panggung.
"Dulu gue sama Aldi sering main musik bareng disini. Kenangan yang mungkin juga sulit untuk dihapus." Tatapan Clara tampak kosong. Ada rasa kehilangan bercampur kecewa yang terselip dihatinya.
Laki-laki disebelahnya hanya menatap kearah dirinya tanpa mengucap sesuatu. Ingin memberi hati Clara ruang untuk mengeluarkan bebannya.
"Lo pasti tau apa yang dilakukan Daddy pada keluarga Aldi." Clara membuka suara lagi.
Kini keduanya saling berhadapan. "Tuan tidak melakukan apa-apa pada keluarga Aldi."
Clara mendesah panjang. "Gue tau gimana Daddy Rand. Jangan bohong. . . .!"
"Sungguh Non. Tuan tidak menghukum keluarga Aldi. Tuan hanya membereskan pemilik Club dan temannya." Nada bicara Randi terdengar tegas. Sepertinya ia tak berbohong.
Tapi Clara tidak mudah percaya begitu saja. "Lalu kenapa Aldi menghilang Rand? Pasti ada campur tangan Daddy."
"Jangan berpikiran negatif sama Tuan. Beliau memang selalu bertindak tegas dan terkesan angkuh. Tapi itu didunia bisnis Non. Untuk masalah kali ini berbeda. Sekali lagi saya tegaskan Tuan Steven tidak melakukan hal kejam pada keluarga Aldi." Randi bangkit dari duduknya.
Clara masih terdiam. Benarkah yang diucapkan Randi. Tapi kenapa Aldi tiba-tiba menghilang tanpa berusaha menemuinya lagi. Apakah Aldi memang sengaja menghilang?
"Ayo kita pulang Non." Ajakan Randi membuat Clara tersadar dari pertanyaan yang ada dibenaknya.
Clara mengulurkan tangannya pada Randi.
"Manja amat sih Non. Apa Fachri membuat Non kelelahan semalam?" Ucap Randi sambil menarik tangan Clara untuk berdiri.
Satu pukulan keras mendarat dilengan Randi. "Kalau ngomong itu diayak dulu, biar lembut." Sungut Clara. Tak tau apa kalau Fachri memberi batasan melakukan hal itu.
Suasana yang tadinya tegang kini mencair lagi. Keduanya kembali dengan kejahilan masing-masing.
"Sekalian aja dipresto supaya lunak. Tinggal nelen aja." ujar Randi kesal. Tangan kirinya mengusap lengan yang sakit karena pukulan Clara.
__ADS_1
"Udah yuk pulang. . .!" Clara merangkul paksa bahu Randi berjalan keluar dari ruang musik. Membuat Randi harus berjalan agak membungkuk karena Clara lebih pendek darinya.
Randi melepaskan tangan Clara dari bahunya. Kemudian ia berganti merangkul bahu Clara.
"Makanya cepet tinggi Non." ujar Randi sambil terus melangkahkan kakinya.
"Gue udah tinggi lho ini Rand, dari pada temen-temen cewek gue. Lo aja laki-laki yang nggak mau ngalah tingginya sama cewek."
"Udah kodratnya gitu kan. Kebanyakan laki-memang lebih tinggi dari cewek. Jarang kan ada cewek yang lebih tinggi dari cowok. Ya, walaupun memang ada."
"Menurut Lo biar apa coba kayak gitu?" Clara mendongakkan kepala menatap wajah sahabat kecilnya.
"Ya nunjukin kedudukan laki-laki sebagai seorang pemimpin lah Non." ucap Randi percaya diri.
"Bukan"
"Lalu?"
"Biar ada yang metikin gue buah mangga milik tetangga sebelah." Ujar Clara.
"Masih ingat aja Non. Kalau dulu kita sering iseng manjat pagar metikin mangga tetangga." Randi tertawa ingat masa kecilnya.
"Hahaha. . . ! ingatlah Rand."
Keduanya berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah tampak sepi. Diselingi canda tawa. Hanya ada petugas yang mengunci pintu kelas.
Mereka berdua sampai diparkiran. Lalu masuk mobil dan melaju menembus jalanan. Clara melirik kaca spion. Ada yang aneh menurutnya. Sepertinya ia tak asing dengan mobil yang dari tadi membuntuti mobilnya.
"Rand Lo pindah dech. Biar gue yang nyetir." pinta Clara.
Randi menepikan mobilnya. Lalu dengan cepat Clara meminta Randi berpindah tanpa keluar dari mobil.
"Awas jangan kentut Lo Rand." Seru Clara saat Randi mengangkat tubuhnya melewati Clara yang juga bergeser kekursi kemudi.
"Mau Non saya kentutin. Wangi lho Non."
"Kebanyakan ngomong Lo." Clara mendorong tubuh Randi kesamping dengan keras agar ia bisa segera memegang kemudi mobil.
Randi terpental agak keras kepojok. Ia mengaduh kesakitan.
"Busyet dah Non. Kasar amat sih." Gerutu Randi. Ia memperbaiki posisi duduknya. Sedangkan Clara sudah melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Dengan lincah mobilnya bisa menyalip mobil-mobil lain. Sesekali matanya mengawasi spion, melihat mobil yang tadi mengikutinya.
"Ada apa sebenarnya Non? Ini bukan arena balap lho." Tangan Randi berpegangan kuat, karena Clara semakin cepat mengemudikan mobil.
"Lo lihat mobil dibelakang." ucap Clara yang masih fokus dengan kemudi mobil dan jalanan didepannya. Randi menoleh kebelakang.
"Itu mobil para penculik yang pernah gue ceritain." Lanjut Clara.
Randi terkejut, ia kira mobil itu memang searah dengannya ternyata mereka penjahat.
"Pantas saja mobil itu mengikuti dari tadi."
Tubuh Randi ikut terpontang panting karena Clara mengemudikan mobilnya seperti pembalap. Wajar saja karena ia terbiasa ikut balapan liar.
"Pelan sedikit Non. Saya mau menghubungi Fachri." Ujar Randi agak panik.
"Cepetan telvon." Ucap Clara tanpa menoleh dari kemudinya. Ia mengarahkan mobilnya kejalanan yang agak sepi. Agar bisa melaju dengan cepat.
Randi sudah berhasil menghubungi Fachri. Ia juga menyebutkan posisi mereka saat ini.
Mobil para penjahat itu hampir saja mendahuluinya. Clara terus menambah kecepatan. Karena panik Clara membelokkan mobilnya kesebuah gang. Tapi sayangnya ternyata itu gang buntu. Dan disekitar mereka hanya ada bangunan kosong bekas pabrik.
"Matilah kita Non." Ujar Randi putus asa. Tak ada celah lagi melarikan diri.
Clara langsung mengambil ponselnya ditas, mengirim shareloc pada Fachri agar mereka mudah ditemukan.
"Lo aja yang mati. Gue masih pengen hidup." ucap Clara sambil menyenderkan kepalanya dikursi kemudi. Ia hanya berharap Fachri sesegera mungkin datang.
"Mereka sudah ada dibelakang kita Non. Saya nggak bisa beladiri seperti Fachri." Ucap Randi panik. Ia benar-benar takut. Sedangkan Clara malah memilih keluar dari mobil.
Terpaksa Randi juga ikut keluar. Badannya bergetar, hawa panas dingin mulai menguasai tubuhnya. Ia benar tak tau harus bagaimana.
"Anggap saja diri kamu Tom Cruise. Yang pemberani dan jago brantem. Gue jadi Shu Qi aja." ucap Clara pada Randi yang berdiri diseberang mobil.
"Beda jauh dah Non. Mana ada Tom Cruise ama Shu Qi yang artis Taiwan." Randi malah mendebat. Berusaha menguasai rasa takutnya.
"Diadain aja udah." Ujar Clara setengah berbisik.
"Saya jadi Sembara. Non Mak Lampirnya." Ucap Randi lagi.
"Astaghfirullohal 'adzim. Gue disamain ama Lampir." Clara mencebik kesal.
__ADS_1
"Cepet ya virus Fachri merasuk dalam jiwa Non." Ucap Randi. Berusaha menenangkan diri dalam situasi yang genting.
Para pria dengan tubuh kekar sudah keluar dari mobil. Menatap Clara dan Randi dengan seringaian mangancam.
Clara mencoba bersikap setenang mungkin. Ia bersandar dimobil sambil salah satu tangannya memainkan rambut panjangnya yang dikuncir kuda. Menunggu reaksi dari orang-orang yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
"Mari Nona kecil ikut kami secara suka rela." ucap salah satu dari mereka.
Randi menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering akibat tegang. Tatapannya mengarah pada Clara yang tampak santai.
"Ok. Gue akan ikut kalian dengan suka rela. Asal kita main tebak-tebakan dulu." Clara berharap mereka mau meladeni ide konyolnya. Agar bisa mengulur waktu. Setidaknya sampai Fachri datang.
Randi hanya bisa menaikkan alisnya heran dengan yang Clara ucapkan. "Astaga. . .! anak singa satu ini malah menantang kawanan serigala ganas." Gumam Randi.
Orang-orang itu malah tertawa lebar mendengar usulan gadis kecil sasaran mereka.
"Jangan berusaha membodohi kami Nona kecil."
"Bukan membodohi. Gue cuma pengen main-main dulu sama kalian sebagai tanda perkenalan. Boleh. . . Boleh. . . Boleh laaahhh. . . !" Clara malah tersenyum genit pada mereka. Sambil mengedipkan mata. Membuat para pria didepannya semakin tertawa lebar.
Nyali Clara hampir menciut. Takut dengan tawa yang mungkin malah menjadi ancaman bagi dirinya.
Suara gelak tawa mereka sungguh tak bisa ditebak. Rayuannya seperti tak mempan untuk mengulur waktu. Ia melirik kesekitarnya, barang kali ada sesuatu yang bisa digunakan untuk senjata. Walau ia sendiri tak yakin bisa melawan orang yang besarnya dua kali lipat dari postur tubuhnya.
Clara melihat ada potongan galvalum panjang sekitar dua meter. Belum sempat ia mengambil benda itu, seorang pria berkepala botak sudah lari kerahnya.
Dengan reflek ia membuka pintu mobil untuk menghalau. Pria itu pun terjatuh karena tak bisa menghindari benturan dari pintu mobil. Clara segera mengambil benda yang diincarnya.
"Gue kan belum kasih tebakan, dasar botak. . .!" Clara memukul kepala pria botak yang tersungkur dengan galvalum yang baru ia ambil.
Randi juga mendapat serangan. Pukulannya tak bisa melukai para pria yang menyerang. Tenaganya tak cukup kuat.
"Tolong saya Non." Teriak Randi. Ia berusaha menghindar dengan lari mengitari mobil.
Clara hanya bisa melirik sekilas kearah Randi. Seharusnya dia yang harusnya minta tolong, ini malah Randi yang berteriak minta tolong. Clara berusaha sekuat tenaga melindungi dirinya sendiri.
Sebisa mungkin ia mengayunkan benda ditangannya dengan keras hingga mengenai orang yang berusaha mendekatinya.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Ia masih bisa melukai lawan dihadapannya. Tapi tak bertahan lama.
Sebagai perempuan ternyata sekeras apapun ia berusaha, tenaganya tak sebanding dengan pria yang ia hadapi sekarang. Rasa lelah membuat tenaganya berkurang. Hingga salah satu dari mereka bisa merebut galvalum yang dipegang Clara.
Ia tersungkur karena satu tarikan keras. Hati Clara terus meneriakkan nama Fachri. Berharap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya segera datang. Ia sudah tak sanggup menghalau para penjahat yang berusaha menculiknya.
Randi juga dibuat tak berdaya lagi oleh
mereka. Entah bagaimana keadaan Randi yang sudah tersungkur ditanah.
"Ayo Nona. . .! Tak akan ada yang bisa menolong lagi." Seringai pria yang berjalan mendekatinya. Tampak darah keluar dari kening pria itu karena terkena pukulan ujung galvalum.
Clara hanya bisa meringsek mundur perlahan. Meskipun itu tak ada gunanya. Tak ada kesempatan lagi bagi dirinya untuk kabur.
"Kau sudah melukaiku. Jangan buat aku semakin marah." Tangan kokohnya menarik Clara agar berdiri. Tanpa diduga Clara malah menggigit lengan pria itu. Menyebabkan sang pemilik tangan semakin gusar.
Tamparan keras mendarat dipipi Clara. Darah tampak keluar dari sudut bibirnya. Hal itu tak membuat Clara gentar. Ia tetap berusaha berontak. Tak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Lepasin gue brandalan. . .!" teriak Clara. Tapi pria itu tak bergeming. Tangan kokoh terus menyeret Clara kearah mobil. Yang lain pun dengan sigap membuka pintu mobil.
Sekuat tenaga Clara memberontak saat hendak dimasukkan mobil. Hingga kepalanya terbentur sisi mobil.
"Hati-hati Lo. Bos bisa marah kalau gadis ini terluka parah." ucap salah satu dari mereka.
Clara merasakan sakit dikepalanya. Matanya mulai berkunang-kunang. Sebisa mungkin ia menguasai kesadarannya agar tidak sampai pingsan.
"Lo nggak lihat dia selalu melawan." Teriak pria yang memegangi Clara.
Selang beberapa detik ada sebuah mobil berhenti diujung jalan. Seorang laki-laki dengan sigap keluar dari mobil. Berlari menghampiri kawanan pria yang hendak membawa Clara.
Adu kekuatan tak terelakkan lagi. Clara merasa lega akhirnya Fachri datang sebelum ia berhasil dibawa pergi.
.
.
.
.
"Jika kau mencoba dan kalah, maka itu bukan kesalahanmu. *Tapi jika kau tidak mencoba dan kalah, maka itu salahmu."
~Orson Scott Card*~
__ADS_1