
Clara merasa kepala sangat berat. Perlahan ia membuka mata. Menyempurnakan pandangannya kesekeliling. Tangan dan kakinya diikat. Tempatnya berada saat ini sangatlah asing. Sebuah ruang persegi yang tampak tak terawat. Banyak debu dan sarang laba-laba dilangit-langit ruang itu. Terlihat beberapa kursi dan meja yang berserakan. Seperti sebuah gudang. Udara yang pengap membuat Clara merasa tak nyaman dan sesak.
Tak ada cahaya yang menyinari tempat itu. Hanya ada ventilasi kecil dibagian atas. Cahayanya pun tak cukup untuk penerangan.
Ia menggerak-gerakkan kepalanya agar mendapatkan kesadarannya kembali.
Fachri masih tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki juga terikat. Clara mulai ingat, ia dibuat tak sadar oleh beberapa orang yang secara tiba-tiba menyerangnya. Begitu juga dengan Fachri.
"Fachri, bangun!" Clara mencoba menyadarkan Fachri dengan sedikit terbatuk-batuk. Ia tak biasa dengan tempat kotor dan pengap. Tak ada respon dari Fachri. Ia pun menggeser kursi, dengan susah payah ia bergerak bersama kursi yang ia duduki, mendekat kearah Fachri.
Kaki Clara berusaha melakukan tendangan kecil pada kaki Fachri. "Ayo Fachri bangun!" Clara berucap dengan suara yang tak terlalu keras. Diluar pasti ada para penjaga. Ia tak ingin membuat keadaan lebih buruk dengan teriakannya.
Setelah berusaha sebisa mungkin, akhirnya ada pergerakan dari Fachri. Mata laki-laki itu mulai terbuka.
"Kamu tidak apa-apa Shafa?" Itulah kalimat pertama yang diucapkan Fachri setelah sadar. Nada kekhawatiran terdengar jelas dikalimatnya.
"Aku tidak apa-apa." Meskipun ia bilang baik-baik saja, nyatanya ia masih terbatuk-batuk. Udara diruangan itu benar-benar membuat dadanya sesak.
"Aku akan berusaha agar kita bisa keluar dari tempat ini." Fachri menyakinkan Clara dan dirinya sendiri. "Mendekatlah! Aku akan membuka ikatan tanganmu."
Clara pun berusaha mensejajarkan kursinya disamping Fachri.
Dengan giginya, Fachri mencoba membuka ikatan Clara yang hanya menggunakan seutas tali. Sedangkan dirinya diikat dengan rantai.
"Mereka pintar sekarang Fachri. Kau diikat dengan rantai karena tahu kau tak bisa dikalahkan dengan mudah," ujar Clara.
"Tapi mereka juga salah menganggapmu remeh. Kamu sudah bisa beladiri sekarang." Fachri sudah berhasil membuka satu ikatan.
"Aku baru bisa sedikit Fachri. Mana bisa aku melawan mereka."
"Sekarang kuncinya adalah keyakinan dan tekad untuk melawan. Kita harus berusaha Shafa." Fachri menatap Clara dengan penuh keyakinan.
"Sekarang kamu ambil dulu benda didalam sepatuku sebelum ada yang datang!" perintah Fachri kemudian.
"Dimana Ri?"
"Sepatu sebelah kiri. Disamping tumit."
Clara pun berjongkok dengan satu tangan mencoba meraba sepatu Fachri. Kemudian menemukan benda kotak berukuran kecil. Mirip ponsel jadul.
"Bau kaos kaki, Fachri!" Clara bergidik jijik dengan benda yang dia ambil tadi. Memegang dengan dua jari saja. Menggantungkannya diudara.
"Enak aja bau, setiap hari Siti mencuci kaos kakiku. Setiap hari juga aku ganti kaos kaki."
"Tetep aja bau Ri."
"Jangan mengeluh dengan benda itu! Sekarang kamu tekan tombol On lalu tekan tombol hijau."
"Sudah Ri."
"Kembalikan lagi ketempatnya!"
Clara melakukan intruksi dari Fachri. Ia kembalikan benda itu kedalam sepatu yang dipakai Fachri.
"Itu tadi untuk apa Ri?" tanya Clara penasaran.
"Itu tadi ponsel darurat yang aku gunakan saat terdesak. Semua sahabatku juga punya dan yang kamu lakukan tadi adalah mengirim sinyal darurat pada sahabatku. Itu artinya aku butuh bantuan. Mereka akan datang menolong kita," terang Fachri.
Clara mencoba membuka ikatan tangannya yang satu lagi. Tapi, Fachri mendengar ada derap langkah yang semakin mendekat. Dengan cepat Fachri merapikan ikatan Clara yang tadi sudah ia buka. Agar mereka tidak curiga, kalau ikatan itu sudah terbuka.
Benar saja, ada seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi memasuki ruangan. Diikuti oleh pengawal dengan membawa sebuah map coklat.
"Hallo keponakan paman yang manis!" sapa pria itu dengan seringaian mengejek. "Bagaimana keadaanmu? apa para anak buahku menyakitimu?" tanyanya kemudian.
Clara dan Fachri hanya bisa menatap heran dengan perkataan pria itu.
"Kenapa diam? Kamu bingung?" Tangan pria itu menyentuh pipi Clara. Dengan gerakan cepat, Clara memalingkan wajah. Senyum kecut tampak diwajah pria yang menyentuhnya.
"Siapa anda? berani menyentuhku." Clara bertanya dengan lantang.
"Oh iya. Kita belum berkenalan. Aku adalah pamanmu. Paman Max. Maxime"
Clara tak mengerti dengan ucapan orang yang mengaku sebagai pamannya. Sedangkan Fachri memilih memejamkan mata dan melakukan meditasi untuk memulihkan tenaga. Obat bius yang disuntikkan ketubuhnya, membuat dirinya sedikit kehilangan tenaga. Ia sulit untuk berkonsentrasi.
"Steven menyembunyikan identitasmu dengan rapi. Hingga aku kesulitan mencarimu. Bahkan dia juga tidak mengenalkanmu padaku." Orang yang mengaku sebagai Paman Max melanjutkan kata-katanya.
"Apa maksud anda?"
"Kau belum paham juga. Aku adalah kakak dari ayahmu."
"Daddy tidak punya saudara. Dan jika benar kau pamanku, tidak mungkin kau menculik keponakanmu sendiri. Menyekap ditempat kotor seperti ini. Kau sepertinya orang miskin yang sedang berhalusinasi," ucap Clara dengan berani.
"Hahaha...!" seringaian tawa menggema diruangan itu. "Aku memang miskin sekarang, jadi aku minta kau menandatangani surat pengalihan kepemilikan seluruh aset yang diwariskan ayahmu atas nama dirimu menjadi atas namaku."
Maxime meraih map coklat yang dibawa anak buahnya. Lalu memberi isyarat agar ikatan Clara dibuka. Maxime mengeluarkan isi map dan menyuruh Clara tanda tangan.
"Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu menguasai harta daddy." Clara menepis lembaran-lembaran berkas itu hingga berserakan dilantai.
__ADS_1
"Beraninya kau menolak!" hardik Maxime dengan geram. Anak buahnya memunguti berkas yang berserakan.
"Kau harus mendatangani berkas-berkas itu." Maxime mengeluarkan pisau dari saku jasnya. Menodongkan keleher Clara.
"Hai Fachri! Lihat istri kecilmu ini! Jangan hanya tidur. Apa yang bisa kaulakukan untuk menyelamatkan gadis pemberontakmu ini?" Maxime menggoreskan pisau keleher Clara. Darah keluar diiringi teriakan Clara yang tak berdaya. Bersamaan dengan itu, Fachri membuka mata. Ia melihat bagaimana Clara meringis kesakitan dan darah mulai meleleh dari lehernya.
"Maaf gadis kecil! Pisauku tak sengaja menyentuh kulitmu." Maxime memasang wajah palsu rasa bersalah. Ia memang sengaja melakukan hal itu. Berniat membuat Clara dan Fachri mau menurut. Tapi ternyata dia keliru.
Hanya dengan satu gerakan dari mata Fachri, pisau ditangan Maxime jatuh kelantai. Membuat semua orang heran. Kemudian ia juga bisa melepaskan diri dari rantai yang membelenggu tangan dan kakinya.
Maxime tampak tegang, rencananya tidak berjalan mulus. Dia belum mendapatkan tanda tangan Clara. Tapi Fachri sudah bisa membebaskan diri.
Ditengah kepanikan semua orang, Clara segera berlindung dibalik tubuh Fachri. Maxime berteriak memanggil semua anak buahnya agar masuk.
Fachri semakin meningkatkan kewaspadaan. Matanya mengawasi setiap orang yang masuk. Jumlah mereka terlalu banyak. Jika Fachri memaksa melawan, itu bisa membahayakan Clara. Apalagi gadis dibelakangnya sudah terluka.
Perlahan Fachri menggeser tubuhnya merapat kedinding. Ia sengaja memancing orang-orang agar semakin mendekat kearahnya. Setelah semuanya masuk dan tidak menghalangi pintu keluar, Fachri menghentakkan kakinya satu kali. Menggunakan tenaga dalamnya untuk menumbangkan musuhnya. Saat semua orang sudah tersungkur dilantai, Fachri menarik Clara berlari keluar dari ruangan itu.
Mereka berdua menuruni anak tangga yang ada. Ketika sampai dibawah, mereka berdua bingung harus lari kemana, karena ternyata itu adalah sebuah gedung yang cukup luas. Ada banyak kamar disana.
Diatas para penculik sudah mulai menuruni tangga mengejar mereka. Fachri dan Clara segera memasuki salah satu ruangan untuk bersembunyi.
Dengan nafas yang masih memburu, keduanya duduk dilantai bersandar pada dinding. Setidaknya mereka bisa beristirahat sebentar, sebelum para penculik menemukan keberadaannya.
Fachri menyobek bagian bawah kemejanya untuk membalut leher Clara yang terluka.
"Maafkan aku Shafa! Aku terlambat menolongmu. Kau jadi terluka seperti ini." Tangan Fachri masih membalut leher Clara.
"Seharusnya kau menggunakan kekuatanmu sebelum pria itu melukaiku," ucap Clara dengan suara sedikit tertahan akibat lehernya yang terluka.
"Aku harus mengumpulkan tenaga dulu Shafa. Obat bius membuat tubuhku agak lemah. Maafkan aku!" Fachri berucap dengan rasa bersalah. Tangannya menangkup wajah Clara yang sudah berantakan dan keringat menghiasi wajah cantik dihadapannya.
Clara membalas memegang punggung tangan Fachri. "Ini bukan sepenuhnya salahmu Fachri. Mereka yang salah telah melukaiku."
"Kuharap kau kuat Shafa. Kita harus bertahan sampai para sahabatku datang membantu kita."
Clara memberi anggukan. Air matanya hampir saja keluar karena kemelut hatinya yang tertekan dengan keadaan. Fachri segera membawa Clara dalam pelukannya. Mengerti dengan ketakutan istrinya.
"Kita pasti bisa keluar dari sini. Percayalah Shafa. Kita harus yakin bahwa kita bisa melewati ini semua." Fachri mengusap punggung Clara dan kemudian mencium puncak kepalanya.
Fachri melepas pelukannya saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Ia menuntun Clara berdiri dibalik pintu.
"Anggap saja kita sedang bermain film action, seperti film yang biasa kamu tonton," bisik Fachri.
Sedetik kemudian, pintu terbuka. Fachri menendang kuat pintu itu hingga membuat orang yang ada diambang pintu ambruk. Seketika, semua orang menyerbu kearah Fachri.
Clara terkejut dengan apa yang dilakukan Fachri, menggunakan tubuhnya sebagai senjata. "Kau benar-benar majnun Fachri."
Baru saja Clara melepas pegangannya pada tubuh Fachri, sudah ada intruksi lagi.
"Merunduk!" ucap Fachri tegas. Clara langsung merunduk sambil memegang kepalanya. Kaki Fachri menendang orang yang hendak memukul Clara dari belakang.
Jantung Clara berdetak tak karuan. Rasa takut dan tegang bercampur jadi satu.
"Tetap dibelakangku Shafa." Fachri memposisikan dirinya didepan Clara.
Perkelahian yang tak imbang terjadi lagi. Fachri harus berusaha lebih keras melawan mereka.
Clara juga ikut melawan sebisanya. Beberapa kali ia juga terkena pukulan. Fachri menyuruh Clara untuk tidak ikut bertarung. Tapi, Clara tak menyerah. Ia terus melawan meski tubuhnya sudah terasa nyeri semua. Sesekali Fachri menggunakan tenaga dalamnya untuk melumpuhkan musuh. Tak ada pilihan lain selain mengeluarkan tenaga dalamnya.
Lama-lama tenaga Fachri mulai melemah. Clara juga ditawan lagi oleh mereka.
"Berhenti Fachri! Istrimu ada ditangan kami," seru Maxime. Senyum puas menghiasi wajah liciknya.
Fachri segera menghentikan perlawanannya. Menatap Clara yang dipegangi oleh dua orang pria.
Tak ada pilihan lain, Fachri harus menyerah demi Clara. Ia rela dihajar oleh para penjahat itu.
Clara berteriak histeris melihat Fachri dipukuli.
"Kalau ingin suami kamu selamat tanda tangani semua berkas ini." Maxime memberikan berkas pada Clara.
Setelah Clara menerima berkas itu, Maxime memberi isyarat agar para anak buahnya berhenti menghajar Fachri.
"Jangan Clara! Jangan tanda tangani berkas-berkas itu," ujar Fachri yang sudah terkapar tak berdaya. Tubuhnya lemah bukan karena dipukuli. Tapi, karena terlalu memaksakan diri menggunakan tenaga dalam.
"Maafkan Clara daddy!" gumam Clara sambil memegang pulpen.
"Kamu tenang saja Clara! Aset yang kuminta bukan milik daddy Stevenmu. Jadi, dia tidak akan jatuh miskin. Aku hanya meminta aset milik daddy Michael yang sudah atas nama kamu."
Clara menatap Maxime dengan tatapan penuh tanda tanya. Apa maksudnya daddy Steven dan daddy Michael? Siapa daddy Michael itu?
"Cepat tanda tangan Clara! Atau aku bunuh saja suamimu yang sok jagoan itu."
Clara terlonjak dari lamunannya. Ia hendak menggoreskan pulpen yang pegang.
Tiba-tiba ada suara gubrakan yang begitu keras. Para sahabat Fachri sudah datang, mereka mendobrak pintu masuk. Ada Fathir, Alam, Reza, Salsa dan Adiba.
__ADS_1
Perkelahian terjadi lagi, Salsa segera mengamankan Clara. Membawa pada Fachri yang mulai meringsek bangun menyandarkan tubuh didinding. Ia mengatur lagi pernafasannya, memulihkan tenaga.
Clara merasa heran, padahal tadi Fachri dipukuli dengan brutal oleh para penjahat itu. Tapi anehnya laki-laki itu sama sekali tidak mengalami luka serius.
"Kau baik Fachri?" tanya Salsa.
"Aku baik Salsa. Hanya sedikit luka kecil. Kau tahu kan, Fachri sudah biasa terluka dan tak akan bisa dilukai," ucap Fachri sambil terkekeh kecil.
"Saat genting seperti ini kau masih saja bisa bercanda," ujar Salsa.
Fachri kembali terkekeh. "Takdir yang lebih sering mengajakkku bercanda, Salsa."
Secara tak terduga Fachri bangkit dengan gerakan cepat, memukul dan menendang orang yang hendak menyerang Salsa dari belakang.
"Kita urus dulu orang-orang ini Salsa," ucap Fachri dengan yakin.
Clara hanya terdiam terpaku, menatap pertarungan dihadapannya. Ternyata semua sahabat Fachri bisa ilmu beladiri. Salsa dan Adiba yang berjilbab pun dengan tangkas bisa melumpuhkan musuh yang tenaganya dua kali lipat lebih besar.
Fachri tampak mendekati Maxime yang sudah pucat karena ketakutan. Ia juga berusaha memukul Fachri. Tapi, tak bisa.
Sesaat kemudian, semua anak buah Maxime sudah bisa dilumpuhkan.
"Sekarang kau tak bisa berbuat apa-apa, Paman Max. Semua anak buahmu sudah tak berdaya," ujar Fachri. Dia memberikan tatapan tajamnya. Membuat orang yang memandang akan bergidik takut.
Bersamaan dengan itu, Hasan datang bersama Steven, Randi, Andi dan juga beberapa polisi untuk menangkap Maxime.
Clara tak langsung berhambur ada pelukan Steven. Hatinya masih penuh tanda tanya. Apalagi saat Maxime menyebut nama daddy Michael.
Randilah yang bergegas menghampiri Clara. Memeluk sahabat kecil yang juga anak majikannya.
Clara tak mengeluarkan suara, shock dan rasa sakit dilehernya mulai menjalar.
Steven juga menghampiri Clara setelah Randi melepas pelukannya.
"Kamu terluka Clara. Daddy tidak becus menjaga kamu. Maafkan Daddy sayang!" Steven memegang kedua bahu putrinya. Air mata seorang ayah hampir saja.
Clara tak tega melihat ayah yang sudah membesarkannya selama ini hampir menangis. Ia pun memeluk erat ayahnya. Hatinya bertekad untuk tidak terpengaruh dengan omongan orang lain. Stevenlah ayahnya.
Para polisi sudah mencekal Maxime. Hendak membawa pria itu pergi.
"Ingat Clara! Steven bukanlah ayah kandungmu." Itulah kata terakhir yang diucapkan Max sebelum dibawa pergi oleh polisi.
"Jangan dengarkan orang itu Clara! Kamu adalah putri Daddy." Steven meyakinkan putrinya.
Clara yang masih dalam dekapan ayahnya mengangguk pelan.
Mereka pun keluar meninggalkan gedung kosong itu.
Steven dan Andi pamit lebih dulu, mereka akan kekantor polisi.
"Terima kasih kalian sudah menolongku!" ucap Fachri.
"Sama-sama Fachri. Bukankah kita memang sudah sepakat untuk saling menolong saat yang lain kesusahan," Fathir menimpali.
"Kalian memang sahabat terbaikku."
"Kamulah sahabat terbaik kami Fachri," sahut Reza.
Mereka saling berpelukan sebelum pulang.
Alam melirik kearah Clara yang hanya diam.
"Gadis manis baik-baik ya! Nanti ikut Fachri lagi kekampus. Aku traktir minum es coklat," ujar Alam sok akrab pada Clara.
"Alamsyah Ramadhan!" Fachri menekankan panggilan lengkap Alam yang suka menggoda Clara.
Yang lain hanya menahan senyum karena Alam memang suka menggoda perempuan.
"Aku hanya ingin menyenangkan istri sahabatku. Apa tidak boleh?" gumam Alam.
"Tidak boleh!" jawab Fachri tegas.
Alam pun langsung kicep. Yang lain berpamitan pulang. Mereka mengendarai motor masing-masing.
Fachri menuntun Clara masuk kedalam mobil yang dibawa Randi. Ia juga meminta agar kerumah sakit terlebih dahulu. Luka Clara harus mendapat perawatan.
.
.
.
.
Terima kasih untuk like dan komen kalian!
Tetap semangat meski kadang kita harus bercanda dengan takdir. Nikmati saja candaannya yang kadang keterlaluan!
__ADS_1