
"Lo ngomong apaan sih Nin? Pangeran siapa?" Suara Clara masih terdengar lemah. Baru sadar dari tidur panjang membuat kepalanya masih pusing.
Anin bingung hendak menjawab bagaimana. Tak mungkin juga ia bilang kalau Fachri adalah pangeran yang ia maksud.
"Kayaknya tadi gue mimpi ada yang nyium." Clara memijit keningnya sendiri. Matanya terbelalak saat ada cincin dijari manisnya. Tapi ia menyembunyikan keterkejutannya.
"Lo berdua mending pulang dech. . .!" ucap Clara kemudian. Ia hendak meminta penjelasan pada Randi dan Fachri. Tak ingin kedua sahabatnya terlibat terlalu dalam untuk masalah pribadinya kali ini.
"Iya kita bakalan pulang Ra. Lo istirahat aja. Lain kali kalo minum obat tidur ati-ati jangan sampai kayak gini lagi. Jadi putri tidur kan Lo." seru Samuel.
Sepertinya Anin dan Samuel tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Hal itu membuat Clara sedikit lega.
Mereka pun pamit pulang setelah melakukan ritual pelukan sayang. Samuel hanya melakukan salam persahabatan dengan Clara seperti yang biasa mereka lakukan ketika disekolah. Ia menghargai keberadaan Fachri sekarang.
"Kalian jelaskan ini apa?" Tanya Clara setelah kedua sahabatnya pergi. Clara menunjukkan cincin yang melingkar dijarinya.
"Ri kamu jelasin saja sama Non Clara." ujar Randi.
Fachri pun meraih tangan Clara dalam genggamannya. Membuat gadis itu sedikit kebingungan. Ia mencoba mengingat kejadian tadi saat ia baru sadar. Mencoba mencerna kembali ucapan Fachri tentang sebuah pertanggung jawaban.
"Clara. . . !" Fachri tampak hati-hati dengan apa yang diucapkannya. Mendadak lidahnya seakan kelu. Hingga hanya bisa memanggil nama Clara.
"Apa kita sudah menikah?" Tanya Clara. Matanya menatap lekat kewajah Fachri yang berada dihadapannya. Dalam tidurnya tadi seakan-akan ia mendengar ada akad nikah. Ia kira itu hanyalah sebuah mimpi.
Kemudian Fachri menganggukkan kepalanya. Membuat air mata Clara kembali menggenang dipelupuk mata indahnya.
"Gue sudah hancur Fachri." Clara melepaskan tangannya dari genggaman Fachri. " Kenapa Lo nikahin Gue" kini tangan Clara mengepal meronta-ronta memukul dada Fachri sambil berderai air mata.
"Kenapa Lo nikahin gue Ri? Kenapaaaa?" Teriak Clara semakin histeris. Fachri langsung memeluk Clara . Mencoba menenangkan gadis yang sudah halal baginya.
"Gue sudah hancur Fachri. Gue Hancuuurrrr" Clara masih saja berteriak histeris sambil mengulang kalimatnya. Fachri mengeratkan dekapannya.
" Kamu tidak hancur Clara. Kamu tidak hancur." ujar Fachri penuh penegasan. "Kamu bukan hancur tapi kamu sedang dibentuk. Ini adalah proses supaya kamu menjadi lebih baik. Aku disini untuk kamu Clara. Kita perbaiki semuanya bersama."
Clara tak lagi meronta, tenaganya seakan kalah dengan ucapan Fachri. Tangannya kini melingkar dipunggung pria yang memeluknya. Ada kenyamanan disana.
"Gue gadis kotor sekarang. Gue nggak pantes buat Lo Fachri." ucap Clara disela isak tangisnya yang masih dalam dekapan Fachri.
"Jangan bilang seperti itu. Kamu tetaplah mawar yang indah untukku. Hanya Tuhan yang berhak menilai seperti apa hambanya. Jangan menghakimi diri sendiri."
Fachri melepaskan perlahan pelukannya. Menghapus air mata Clara dengan ibu jarinya. Tapi hal itu malah membuat Clara semakin terisak, ia benamkan lagi wajahnya kedalam dada bidang Fachri. Rasa haru bercampur bahagia menyelimuti hatinya. Fachri pun mengusap lembut kepala Clara. Lalu memberi kecupan dipuncak kepala kekasih halalnya.
Clara tak lagi bisa menepis perasaannya yang dulu sempat ia abaikan. Ia kini benar-benar tenggelam dalam pesona Fachri.
Randi yang melihat adegan didepannya, perlahan mudur keluar ruangan.
Steven yang baru datang juga mengurungkan niatnya untuk masuk. Memberi waktu pada Fachri dan Clara.
"Kamu mau makan apa? pasti laper kan habis jadi sleeping beauty. . .!" Tanya Fachri. Senyuman dengan sedikit menggoda terlihat dari raut wajahnya. Kini ia duduk disebelah Clara yang bersandar disisi tempat tidurnya.
"Apaan sih Lo Ri?" ujar Clara agak canggung. Ia memalingkan wajahnya menatap kearah jendela. Menghindari kontak mata dengan Fachri.
"Jangan pake Lo Gue lagi Ra. Manggilnya "Aku Kamu". Ngerti. . .!" ucap Fachri lembut lalu ia meraih dagu Clara agar mau menghadap kepadanyaa.
"Iya" hanya suara itu yang terdengar. Dirinya masih canggung dengan kenyataan bahwa Fachri adalah suaminya. Biasanya Fachri selalu menjaga jarak dengannya. Tapi kini laki-laki itu menyentuhnya tanpa beban.
"Sekarang kita maghriban dulu. Setelah itu aku akan mencari makanan untukmu. Ayo ku bantu kamu berwudlu."
__ADS_1
Fachri pun menuntun Clara menuju kamar mandi dan membantu istrinya mengambil air wudlu.
Ia juga membantu Clara mengenakan mukena.
"Kamu sholat sambil duduk saja diatas tempat tidur. Gunakan isyarat untuk setiap gerakannya." ujar Fachri.
Jadilah mereka sholat berjamaah berdua untuk pertama kalinya dengan status halal.
Awal dari perjalanan hidup keduanya sudah dimulai. Lembaran baru telah terbuka. Coretan kisah perjalanan mereka akan memenuhi setiap lembaran-lembaran hari yang berlalu.
Setelah selesai memanjatkan do'a. Fachri mendekati istrinya. Clara meraih tangan Fachri dan mencium punggung tangan suaminya itu. Lalu kecupan ringan dikening sebagai balasan dari Fachri.
" Aku beli makanan dulu Ra. Randi akan menemani kamu selama aku pergi." ucap Fachri setelah membantu Clara merapikan mukena.
"Iya"
Fachri tersenyum sambil mengacak rambut Clara gemas karena hanya mendapat jawaban singkat. Ia pun keluar ruangan.
Ternyata didepan sudah ada dokter Revan, Randi dan ayah mertuanya.
"Bagaimana kondisi Clara?" tanya Steven.
"Sudah lebih baik. Kenapa ayah tidak langsung masuk?"
"Saya hanya tidak mau mengganggu waktu kalian." ujar Steven.
Fachri pun berpikir bahwa Randi sudah menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
"Baiklah. . .! Saya akan memeriksa kondisi Clara untuk memastikan dia sudah baik-baik saja." Dokter Revan angkat bicara. Lalu ia masuk keruangan diikuti oleh Steven.
Fachri hendak melangkahkan kakinya pergi. Hingga pertanyaan Randi menghentikan langkahnya.
" Mau beli makan buat Clara."
" Udah aku aja yang beli. Pengantin baru pamali keluyuran."
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Fachri.
"Aku barusan yang bilang."
Randi langsung ngacir pergi.
Tapi tak lama kemudian ia balik lagi.
"Ada yang ketinggalan Ri."
"Apa?"
"Uang dong Ri. Lihat dompetku tinggal satu lembar pak Soekarno Hatta. Mana cukup buat beli makan." Randi memperlihatkan isi dompetnya.
"Beli aja makan di warteg cukup itu."
"Apa kata dunia Fachri, Non Clara kamu suruh makan makanan warteg. Apa suaminya semiskin itu?" Sindir Randi yang hanya berniat untuk bercanda.
"Kalau aku memang miskin mau apa kamu?"
"Bercanda Fachri. Bercanda. . .!"
__ADS_1
Randi melirik Fachri yang kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Ini. . .!" Fachri menyerahkannya pada Randi. "Beli makanan kesukaan Clara. Sekalian makanan untuk kita" lanjutnya.
"Ok"
Randi pun berlalu pergi.
Fachri hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum dengan tingkah Randi. Untungnya selama ini ia sudah bekerja. Jadi setidaknya ia punya penghasilan. Fachri pun kembali masuk keruang rawat Clara.
Dokter Revan mengatakan kalau keadaan Clara memang sudah stabil. Besok dia boleh pulang.
"Kamu memang obat yang mujarab untuk Clara." ujar dokter Revan sambil menepuk bahu Fachri. Kemudian ia berlalu pergi.
"Maafkan Clara Dad. Sudah membuat semua orang khawatir." ucap Clara sambil memeluk ayahnya.
" Daddy yang seharusnya minta maaf. Tidak bisa menjaga putri Daddy dengan baik."
"Clara yang bandel Dad."
Steven melepas pelukan putrinya. "Sekarang kamu harus bisa menjadi lebih baik. Ingat ada Fachri yang kini menjadi suamimu. Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti kemarin."
Clara menganggukkan kepala. Steven kemudian pamit pergi karena masih ada sesuatu yang harus diurus.
" Katanya tadi mau beli makan. Tidak jadi?" tanya Clara.
"Randi yang beli."
Keheningan kembali tercipta antara keduanya. Kecanggungan masih mengiringi perasaan masing-masing. Perubahan setatus seakan membuat keduanya harus mulai dari awal lagi dalam membiasakan diri.
Fachri duduk disofa sambil memainkan Hpnya. Sesekali ia melirik kearah Clara yang menyibukkan diri dengan membaca majalah yang tadi dimintanya.
Perhatian keduanya teralihkan saat Randi masuk membawa kantong kresek besar berisi makanan.
Fachri segera menyiapkan makanan Clara, lalu menyuapinya.
"Enaknya. . .! sekarang ada yang merhatiin Non Clara. Apalah daya saya yang jomblo." Randi pura-pura sedih sambil memegang dadanya.
Sebuah bantal pun melayang kearahnya, dengan sigap Randi berhasil menangkap bantal itu.
"Lo mending diam dech Rand. . .!" seru Clara.
"Untung Non lagi sakit. Kalau tidak udah saya lempar balik nie bantal kemuka Non." ujar Randi sambil mengembalikan bantal Clara.
Fachri hanya bisa tersenyum dengan ulah keduanya. Ia melanjutkan menyuapi Clara.
Malam semakin larut. Randi memilih pulang kerumah. Sedangkan Fachri tetap berada dirumah sakit menjaga Clara.
Saat tengah malam Clara terbangun. Lalu ia berjalan kearah Fachri yang tidur disofa. Entah dorongan apa yang membuat Clara mencium kening Fachri saat itu.
Gadis itu tersenyum sendiri merutuki perbuatannya.
.
.
.
__ADS_1
"Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan untuk menguji akarnya"
~ Ali Bin Abi Thalib~