ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Earlyta Arsyfa Salsabila


__ADS_3

Kini mereka bertiga memasuki sebuah restoran yang cukup mewah. Para sahabat Fachri memang berniat mengerjainya. Tapi bagi Fachri sendiri tak masalah, asalkan mereka senang ia juga senang.


"Fachri Ta'al!" seru Hasan. Melambaikan tangan pada Fachri yang mencari keberadaan sahabatnya.


Clara dan Fachri segera menuju kearah Hasan. Randi masih tertinggal dibelakang setelah memarkirkan mobil. Ternyata semua sahabat Fachri sudah berkumpul disana.


"Subhanallah! Kamu kesini bawa bidadari surga yang mana Ri?" seru Reza ketika melihat Clara.


"Surga dunia," jawab Fachri cuek.


Salsa dan Adiba segera menyuruh Clara duduk. Fachri juga menarik kursi disamping Clara.


"Hallo semua!" sapa Randi yang baru datang. Untung dia hafal baju yang dipakai Fachri. Jadi, tidak kebingungan mencari.


"Kenalin ini Randi sahabat Clara, dia juga karyawan ayah mertuaku," ujar Fachri.


"Aku kan cuma supir Fachri," bisik Randi yang sudah mengambil posisi duduk disebelah Fachri.


"Sudah diam saja!" Fachri juga berbisik.


Randi memperhatikan semua sahabat Fachri. Dia seperti mengenal salah satu gadis yang duduk diseberangnya.


"Sepertinya kita pernah bertemu?" ujar Randi pada salah satu gadis.


"Kau yang waktu itu direstoran?" tanya salah satu gadis yang ternyata adalah Adiba.


"Kalian pernah bertemu dimana?" tanya Clara.


"Waktu kita mau pulang dari restoran, pas kamu sama Fachri ninggalin aku. Karena terburu-buru aku bertabrakan dengan seorang wanita," papar Randi.


Yang lain hanya menyimak, ada salah satu diantara mereka yang memasang wajah cuek, lebih tepatnya agak cemburu. Makanya berlagak acuh.


"Wah! Adiba dapat brondong," seru Reza.


"Ada yang lagi panas nih kayaknya," sahut Hasan dengan melirik Fathir.


"Kalian ini apa-apaan sih! Kita ketemu juga nggak sengaja," ujar Adiba.


"Awas Diba! Berawal dari tidak sengaja bisa jadi jalan takdir," timpal Alam.


Adiba melirik kearah Fathir yang hanya diam. Sepertinya mereka memang punya perasaan yang sama. Hanya saja saling diam dalam cinta mereka.


Mereka semua pun menghentikan percakapan karena makanan yang mereka pesan sudah datang.


"Kalau memang saling cinta langsung lamar aja. Jangan cuma saling lirik. Ntar ada yang nikung nyesel," ucap Fachri. Tangannya sibuk mengambilkan Clara makanan.


"Kayak yang ngomong ya!" sindir Adiba.


Fachri pun hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Adiba. Ia tak memungkiri kenyataan.


"Aku patah hati sebelum jatuh cinta ini Ri," bisik Randi.


"Kamu masih bau kencur. Kuliah dulu yang bener. Baru mikir cinta." Fachri juga berucap dengan pelan.


"Nanti setelah wisuda baru aku lamar dia Ri. Asal dia mau menerimaku apa adanya." Kini Fathir buka suara. Membuat Adiba tersipu malu. Pria yang ia suka secara terang-terangan memberi kode.


"Semoga saja nggak ketikung ya Thir!" Hasan menepuk bahu Fathir.


"Buat yang udah terlanjur ketikung ikhlas ya! Berakit-rakit kehulu, berenang ketepian. Mantanmu sudah kepenghulu kok kamu masih sendirian," ujar Alam. Pantunnya mengundang gelak tawa yang lain. Ia menirukan pantun salah satu penceramah.


Fachri yang merasa tersindir melempar Alam dengan buah pisang yang disediakan sebagai cuci mulut. "Aku nggak sendirian lagi ya. Aku sudah punya Clara," ujarnya.


Buah pisang yang dilempar Fachri langsung masuk kemulut Alam. "Busyet dah sepet amat nih pisang." Alam mengambil tisu, mengelap sisa rasa getir dari kulit pisang.


"Awas aja masih ngrecokin, aku suruh bayar sendiri makanan kamu!" ancam Fachri.


"Janganlah Ri! Si mbok belum kirim uang bulanan." Alam memasang wajah melasnya. "Maaf ya Ri mulutku khilaf!" ucapnya lagi.


Suasana hening sejenak, Alam kembali pada kejahilannya.


"Ali-ali soko kuningan. Dilali-lali malah soyo kelingan." Alam masih berani melempar pantun. Malahan menggunakan bahasa jawa.


Fachri hanya melototkan matanya. Membungkam mulut Alam yang suka nyerocos.


Semua orang mengambil makanan masing-masing. Menikmati acara makan gratis.

__ADS_1


Setelah acara makan-makan, mereka sepakat untuk mencari udara segar ketaman.


Disana Clara memilih duduk disalah satu bangku taman, melihat Fachri dan para sahabatnya bermain voli.


"Ini Ra minumannya!" Salsa menyodorkan botol minum pada Clara. Kemudian ia dan Adiba ikut duduk.


"Terima kasih Kak!" ujar Clara. Tangannya menerima botol minum dari Salsa.


"Ikut mereka main yuk Ra!" ajak Adiba.


"Iya Ra, ayo!" Salsa juga bersemangat untuk bergabung main voli.


Clara mengiyakan ajakan Adiba dan Salsa. Mereka membagi regu, Randi menjadi wasit permainan.


Clara dan Fachri berada diregu belawanan.


Mereka bermain dengan riang, sesekali Fachri mengingatkan agar Clara berhati-hati. Luka dileher Clara belum sepenuhnya pulih.


Ditengah permainan mereka, tiba-tiba ada anak kecil yang datang. Kira-kira berusia dua atau tiga tahunan. Fachri segera menghentikan permainan. Lalu menghampiri anak kecil itu.


"Anak manis namanya siapa?" tanya Fachri ramah sambil berjongkok didepan gadis kecil yang tiba-tiba datang tadi.


"Naula," jawab gadis kecil itu dengan polos. Bicaranya belum fasih.


"Adek namanya Naura?" tanya Fachri memastikan. Gadis itu mengangguk. Fachri melihat sekeliling, barangkali ada orang tuanya yang mencari.


"Anak siapa Ri?" teriak Fathir.


"Tidak tahu."


Kemudian Fachri menggendong anak itu. "Mama kamu dimana?" tanyanya. Anak kecil itu menggeleng.


Yang lain pun menghentikan permainan dan beristirahat. Clara hendak menghampiri Fachri. Tapi ia melihat ada seorang wanita yang datang dari arah berlawanan juga menuju Fachri.


"Maaf mas itu anak saya," ucap wanita itu yang datang dengan tergopoh-gopoh.


Fachri membalikkan badan. Pandangan keduanya bertemu. Mereka saling tertegun. Mulut mereka terkunci. Sulit untuk saling menyapa atau bertanya kabar. Sosok yang ingin sekali ia lupakan kini ada dihadapannya. Setelah sekian lama berpisah, kenapa harus ada pertemuan lagi. Pertemuan itu seperti membuka kenangan yang sudah tersimpan rapi. Membuka lagi luka lama yang belum pulih sempurna. Mengingatkan Fachri pada rasa yang pernah ada. Hatinya kembali pada kebimbangan.


"Wah! Perang dunia kelima ini," ujar Alam.


"Waktu mereka putus udah perang dunia keempat. Ini malah ketemu lagi," ucap Alam. Ia memperhatikan raut wajah Clara yang mulai berubah.


Ada rasa sesak saat melihat suaminya bersitatap dengan wanita lain.


Fachri mulai tersadar dari lamunannya saat gadis kecil yang ia gendong memanggil mamanya.


"Earlyta!" ucap Fachri kemudian.


"Fachri!" Earlyta juga memanggil nama pria dihadapannya.


"Maaf ini putrimu!" Fachri menurunkan Naura dari gendongannya.


Diseberang Clara hendak menuju kearah Fachri. Tapi Alam mencegahnya.


"Ayo Ra ikut aku beli es krim coklat! Kemarin kan aku bilang akan mengajakmu minum es coklat. Kebetulan itu ada tukang es krim. Nggak papa kan kalau diganti saja sama es krim. Ayo kita beli!" Alam langsung menarik tangan Clara. Menjauh dari pemandangan yang menyakitkan hatinya.


Fachri dan wanita itu tampak mengobrol.


"Maaf Earlyta aku harus kembali!" Fachri hendak melangkahkan kakinya.


"Tunggu Fachri! Kita perlu bicara," pinta Earlyta. Salah satu tangan memegang tangan mungil putrinya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan Early, kita sudah sepakat berpisah secara baik-baik. Kita punya kehidupan masing-masing."


"Tapi aku tak bisa melupakanmu Fachri." Isak tangis mulai terdengar dari Earlyta.


Sebenarnya hati Fachri juga menangis, meratapi cintanya yang harus kandas. Tapi ia sadar, itu adalah jalan yang terbaik. Ada Clara yang harus ia cintai. Gadis itulah bidadarinya sekarang. Bukan lagi Earlyta.


"Jangan terus mengukir dosa Early! Cintai suamimu, dialah imammu. Ikhlaslah menerima kenyataan. Aku juga sudah menikah. Aku mencintai istriku sekarang. Kisah kita sudah berakhir Earlyta. Sudah berakhir," papar Fachri. Kemudian melangkah pergi. Air mata semakin deras membasahi wajah cantik Earlyta. Ia dekap putrinya untuk menguatkan diri.


Kenapa Tuhan mematahkan hati yang saling mencintai?


Semua terasa tak adil bagi Earlyta. Ia terlalu lemah dihadapkan pada takdir yang merenggut cintanya. Salsa dan Adiba tak tega melihat Earlyta. Mereka menghampiri Earlyta dan mencoba menenangkan wanita itu. Walau bagaimana pun, mereka juga berteman baik dengan Earlyta saat menjadi kekasih Fachri. Jadi, Adiba dan Salsa tahu bagaimana perjalanan cinta Earlyta dan Fachri yang harus pupus ditengah jalan.


Disisi lain Clara dan Alam menikmati es krim coklat yang mereka beli.

__ADS_1


"Itu tadi siapa Kak Alam?" tanya Clara


"Yakin pengen tahu!" Alam memastikan, sambil melahap es krimnya.


"Yakin Kak Alam!"


"Wanita itu Earlyta Arsyifa Salsabila mantan kekasih Fachri Maulana Akbar. Yang sekarang jadi suami kamu," ujar Alam dengan jelas.


"Jangan marah sama Fachri, mereka tadi tidak sengaja bertemu lagi," lanjutnya lagi.


Clara mencoba tersenyum. "Setiap orang punya masa lalu. Jadi, aku tidak akan marah."


"Cintailah Fachri dengan hatimu Clara. Aku lihat cuma kamu yang bisa membuat si Fachri Majnun semangat lagi. Dia terlihat bahagia ketika sudah menikah denganmu. Aku bisa melihat itu. Percayalah padaku, Fachri pasti sangat mencintaimu. Hanya saja luka lama pasti masih membekas dihatinya," ucap Alam panjang lebar.


Clara semakin melebarkan senyumannya. Ternyata cowok yang suka ngegombal dan suka bicara nyablak disampingnya bisa juga berkata-kata bijak.


"Aku juga sangat mencintai Fachri," ujar Clara dengan penuh keyakinan.


"Baguslah kalau begitu." Alam tersenyum pada Clara. Mulutnya belepotan dengan es krim.


Clara juga seperti itu. Lalu ia meminta tisu dari pedagang es krim. Memberikan selembar pada Alam.


Setidaknya, Alam bisa menghibur saat hatinya hampir tak bisa menahan rasa sesak.


"Clara ayo kita pulang!" Fachri langsung menarik tangan Clara. Sambil berlalu Clara mengucapkan terima kasih pada Alam.


Randi juga segera menyusul kemobil. Fachri hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Clara dan Randi tak berani berkata-kata.


Sesampainya dirumah, Fachri segera mengambil wudlu dan mengajak istrinya sholat dhuhur.


Setelah selesai, Fachri menghadap Clara yang masih berbalut mukena. Tiba-tiba Fachri memeluk Clara dengan erat, disitu terdengar isakan Fachri yang mendekapnya.


Jemari lentik Clara mengusap punggung kokoh suaminya. Ia seakan bisa merasakan kegundahan hati Fachri setelah bertemu masa lalunya.


"Maafkan aku Shafa! Aku berdosa padamu karena hatiku masih sakit ketika bertemu dengannya. Maafkan aku!" ujar Fachri disela air matanya yang mengalir membasahi mukena istrinya.


"Kamu tidak salah Fachri. Aku tahu, masa lalu tak bisa begitu saja hilang dari ingatan kita. Luka itu pasti meninggalkan bekas tanpa kita minta. Kau yang pernah bilang, bahwa kita akan melewati semua ini bersama. Kau selalu ada untukku, begitu juga diriku yang akan selalu ada untukmu."


Fachri semakin tenggelam dalam isakannya mendengar ucapan Clara. Untuk beberapa saat mereka saling diam. Membiarkan Fachri meluapkan emosinya. Baru kali ini ia melihat sisi lemah Fachri. Laki-laki yang ia kenal sangat tegar dan kuat, selalu memberi memotivasi dan menguatkan dirinya. Ternyata menyimpan duka yang melemahkan jiwanya.


Cinta. . .


Sebuah kata yang mengisyaratkan banyak arti


Membuat yang lemah menjadi kuat


Membuat yang kuat menjadi lemah


Memberikan warna pelangi bagi sang pecinta


Mengukirkan kisah yang tak mudah ditebak


Menorehkan kisah hitam putih


Ada yang menganggap Cinta adalah Cerita Indah Namun Tiada Arti


Ada yang bilang cinta adalah anugerah terindah


Tapi tidak untuk cinta yang kandas


Perlahan Fachri melepas pelukannya. "Terima kasih Shafa. Aku merasa kau lebih bisa berpikir dewasa sekarang."


"Kaulah yang mengajariku Fachri. Kau mengajariku bagaimana menyikapi hidup ini dengan pikiran terbuka."


Fachri memberikan kecupan hangat dikening istrinya. Lalu membasuh mukanya. Setelah itu ia menyusul Clara yang duduk santai diatas tempat tidur.


Fachri bermanja dipangkuan istrinya. Sambil membahas buku yang ada ditangan Clara. Sebuah buku yang berjudul "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" karya Mark Manson. Seorang blogger yang memiliki berjuta-juta pembaca dan ia tinggal di New York.


.


.


.


Ini adalah episode-episode menuju end!

__ADS_1


SEMANGAAAAATTT!!!!


__ADS_2