
Sesampainya didepan rumah terlihat ada mobil ayahnya yang sedang terparkir.
****** gue kalau daddy sudah pulang. Gumam hati Clara. Dia berharap hanya Randi yang pulang. Kalau ayahnya juga pulang, entah apa yang akan terjadi saat melihat keadaan Clara yang terluka. Apalagi Clara terluka karena berkelahi.
Fachri membukakan pintu mobil untuk Clara, sedangkan Clara masih terdiam.
"Non!" Panggil Fachri. Tak ada respon dari Clara. "Sudah sampai Non," ucap Fachri kemudian dengan nada agak tinggi. Menyadarkan Clara dari lamunannya.
Clara berjalan keluar dari mobil dengan tertatih-tatih menahan sakit dilututnya.
Sedangkan Fachri hanya memperhatikan. Fachri bingung harus bagaimana, kalau membantu Clara berjalan otomatis dirinya akan bersentuhan dengan Clara dan hal itu bertentangan dengan keyakinannya.
Nich orang kagak peka banget sih! Bantuin kek. Cuma dilihat doang gue. Gerutu Clara dalam hati.
Clara hendak masuk lewat pintu depan namun diurungkannya. Dia berbelok lewat pintu samping yang menuju dapur.
"Masya Allah! Non Clara kenapa ini?" tanya Mbak Maya panik.
Clara tak menjawab, lalu ia duduk di kursi. Mbak Siti pun sigap mengambilkan kotak obat. Mbak Maya membantu melepas sepatu Clara. Kedua pelayan itu mencoba mengobati luka Clara.
"Sakiiiiitttt!" teriak Clara saat lukanya tersentuh kapas dan antiseptik.
"Nggak usah bantuin gue. Gue bisa sendiri," bentak Clara.
"Tapi non...?" ucap Mbk Siti.
"Gue bilang nggak usah bantuin." Clara semakin meninggikan suaranya.
Maya dan Siti hanya bisa diam, begitu juga Fachri. Dirinya tau saat ini Clara sedang emosi.
Clara mencoba mengobati lukanya sendiri. Tapi kemudian ia membanting kotak obat ke lantai.
"Aaaaaarggghhhhhh!" teriak Clara kesal. Ia pun bangkit lalu menuju kamarnya. Entah apa yang membuat Clara kesal seperti itu. Hati Clara sedang dalam keadaan buruk.
Randi yang mendengar kegaduhan menghampiri orang-orang didapur.
"Ada apa ini?" tanya Randi.
"Mas Randi tanya saja sama Mas Fachri, tadi non Clara pulang luka-luka, pas diobati malah marah-marah," ucap Maya menjelaskan.
Pandangan Randi beralih kearah Fachri yang dari tadi bersender dipintu dengan tangan dilipat diatas perut. Fachri terlihat santai. Lalu ia mengajak Randi duduk untuk menjelaskan apa yang ia dengar dan lihat tadi disekolah Clara.
Randi pun mengerti, kenapa Clara menjadi emosi. Clara sangat sensitif jika mengenai ibunya. Randi teringat masa kecil Clara yang jauh dari kasih sayang ibu. Hanya ibunya Randi yang berusaha memberi kasih sayang penuh pada Clara kecil. Tapi hal itu tak bisa mengubah pandangan Clara mengenai ibunya yang tidak mau menyayangi dirinya.
"Ri, ikut aku ngobatin lukanya non Clara," ucap Randi kemudian.
"Kamu sendiri saja Ran."
"Kalo aku sendiri ntar kamu bilang yang ketiga setaaaan," ucap Randi dengan sedikit penekanan di kata terakhir.
"Kamu kan sudah terbiasa berdua sama Non Clara. Jadi setannya sudah bersahabat, nggak mungkin ngegas," jawab Fachri.
"Aku takut setannya ngegas Ri."
"Kalo ngegas ya pake remnya Ran. Iman kamu yang harus bisa jadi rem. Kamu juga harus bisa menempatkan gas dan rem pada tempatnya. Kalau untuk kebaikan gunain gasnya, kalau untuk hal maksiat harus gunain rem."
"Kok aku ngerasa ada Gus Miftah ya disini," ucap Randi.
"Kata-katanya saja Ran yang ada disini."
"Kita kok malah ngobrol disini, kan tadi mau ngobatin Non Clara. Udah Ri pokoknya kamu ikut."
Randi pun bangkit dari duduknya kemudian mengambil kotak obat yang tadi sudah dirapikan kembali oleh Siti dan Maya.
Fachri juga mengikuti langkah Randi menuju kamar Clara.
Randi mengetuk kamar Clara berkali-kali tapi tak ada jawaban. Randi pun langsung masuk karena pintu tak terkunci. Disana tidak terlihat Clara. Fachri juga ikut memanggil nama Clara dan tak ada jawaban. Randi mencari dikamar mandi tapi tak ada juga.
Kemudian Randi ingat kalau Clara sedih pasti ada dibalkon. Pintu balkon pun dibuka oleh Randi, ia celingukan mencari sosok Clara. Dilihatnya Clara sedang menangis disudut balkon sambil duduk memegang kedua kakinya. Clara menangis bukan karena sakit dilututnya, melainkan karena teringat masa kecilnya.
Randi yang melihat hal itu sangat mengerti perasaan Clara. Lagi-lagi Randi teringat saat kecil dirinya dan Clara sering mendapat omelan dari Nyonya Olivia, ibunya Clara. Karena Clara dan Randi sering bermain air dihalaman dan membuat taman berantakan.
Setiap Clara sedih pasti dia duduk dipojok balkon seperti yang dilakukannya sekarang.
__ADS_1
Perlahan Randi mendekat.
"Non Clara!" panggil Randi.
Clara mendongak karena panggilan Randi. Saat tahu dibelakang Randi ada Fachri, Clara langsung menghapus air mata yang sudah membasahi pipi manisnya. Randi pun membantu Clara bangkit dari duduknya dan menuntun Clara untuk duduk di bangku yang tersedia dibalkon itu.
"Ri tolong ambilin kotak obat tadi diatas meja!" pinta Randi.
Fachri pun langsung mengambil apa yang diminta Randi.
"Kenapa berantem Non? Biasanya kan nggak pernah kayak gini," ucap Randi sambil membuka kotak obat yang diberikan Fachri, lalu mulai mengobati luka Clara.
"Gue dikatain anak jalanan. Ya gue marahlah." Clara berdecak sebal.
"Kan itu kenyataan non, ngapain juga marah," goda Randi.
"Lo tu ya sama ngeselinnya." Clara mulai terpancing lagi emosinya.
"Mangkanya non berhenti ikut balapan liar itu. Lagian kan bahaya juga buat keselamatan Non Clara."
"Itu sudah hoby gue jadi nggak bisa diganggu gugat."
"Cari hoby lain lah Non."
Tak ada jawaban dari Clara. Randi hanya tersenyum. Fachri juga sedang menikmati pemandangan yang terlihat dari balkon. Cuaca memang cerah karena musim hujan hampir habis.
"Ini lagi kenapa jidatnya dilukis pake spidol biru. Kurang kerjaan banget Non," ucap Randi setelah selesai mengobati lutut Clara dan kini beralih ke kening Clara yang memar. Secara tak terduga Clara menyentil kening Randi.
Randi pun meringis kesakitan tapi juga diselingi tawa.
"Balas dendam nich! Jadi ternoda dech wajah ganteng saya non."
"Siapa duluan yang mulai? Kan lo Rand."
"Udah selesai Non," ucap Randi setelah selesai mengobati luka Clara. Kemudian duduk disampingnya.
"Rand gimana nich cara nutupin luka gue yang dijidat, daddy kalau tau pasti marah-marah," ujar Clara.
"Kenapa lihatnya seperti itu?" tanya Fachri curiga dirinya akan menjadi sasaran ide Randi.
"Ri, kamu kan kuliah arsitek, bisa dong kalau cuma motong rambut," ucap Randi.
"Maksud lo gimana Rand?" tanya Clara.
"Rambut non Clara dipotong poni aja buat nutupin jidat."
"Aku biasanya motong kertas buat sketsa proyek Rand, bukan motong rambut." Fachri mencoba menghindari ide Randi.
"Anggap saja rambut non Clara itu proyek kamu."
"Gue kesalon ajalah Rand?" pinta Clara.
"Gimana mau kesalon? tuan Steven ada dibawah Non."
Baru selesai bicara handphone Randi berbunyi ada panggilan dari tuan Steven.
"Tuan Steven panjang umur ini Non, baru juga disebut namanya langsung nelpon. Udah ya Non, Non Clara sama Fachri dulu."
Randi pun keluar dari kamar Clara sambil menerima panggilan.
Fachri dengan nada canggung menanyakan gunting pada Clara. Clara pun masuk dan mengambil gunting. Menyerahkan pada Fachri yang tadi mengikuti langkahnya. Clara mulai membuka ikat rambutnya. Lalu menyisir rambutnya sebentar. Rambut Clara tergerai indah, hitam dan sedikit bergelombang dibagian bawah.
Fachri terus beristighfar dalam batin melihat mahkluk cantik ciptaan tuhan dihadapannya. Rasa gugup sempat menghampirinya, tapi bukan Fachri namanya kalau dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugup itu. Fachri berusaha bersikap setenang mungkin.
Diambilnya sisir untuk menata rambut Clara yang akan dibuat poni.
"Lo nggak istighfar lagi?" tanya Clara melihat Fachri yang tampak santai.
"Istighfar Non," jawab Fachri singkat.
"Kok gue nggak denger?"
"Didalam hati Non."
__ADS_1
Fachri masih fokus dengan rambut Clara, ia mulai memegang gunting.
Clara terlihat sedikit cengengesan dihadapan Fachri.
"Diam Non jangan banyak gerak! kalau hasilnya berantakan jangan salahkan saya."
Dih kenapa jadi dia yang sok galak. Nggak ada ramah-ramahnya. Semua dianggap serius. Gumam hati Clara
Clara memejamkan mata karena Fachri mulai memotong rambutnya. Keadaan hening sebentar, yang terdengar hanya suara gunting yang dimainkan Fachri.
Tiba-tiba jantung Clara mendadak seperti gendang ditalu. Kakinya mulai terasa lemas karena detak jantungnya tapi sekuat tenaga ia tahan sampai Fachri menyelesaikan membuat poninya.
Tak lama kemudian Fachri sudah selesai, lalu ia segera pamit keluar. Sesampainya dibawah Fachri meminta Maya untuk membersihkan kamar Clara.
Sedangkan Clara dikamar terduduk lemas diatas ranjangnya setelah Fachri pergi.
"Gila ini, kenapa jantung gue seperti ini. Rasanya mau meledak," gumam Clara. Ia pun tak bisa mengartikan debaran jantungnya.
Clara pun teringat poninya, penasaran dengan hasilnya. Clara mulai berdiri didepan kaca.
Bagus juga hasilnya, tak mengecewakan.
"Wah non Clara tambah cantik saja ini," ucap Maya yang tiba-tiba masuk.
"Mbak Maya kalo masuk ketuk pintu dulu. Main nyelonong aja."
"Maaf kan saya Non," ucap Maya sambil menunduk.
" Kenapa jadi serius sih Mbak, Clara bercanda tadi."
Perasaan Maya mulai lega, dikiranya tadi Clara serius mengomel. Mengingat tadi Clara dalam keadaan emosi saat pulang sekolah sampai masuk kekamar. Hingga kotak obat yang tak bersalah kena imbasnya.
"Clara cantik nggak Mbak dengan poni gini?" tanya Clara.
"Cantik kok Non, malah kelihatan lebih imut. Apalagi ada lesung pipi non Clara yang kanan kiri ok," jawab Maya dengan antusias.
Ya memang, salah satu ciri khas Clara adalah kedua lesung pipinya. Yang jarang dimiliki orang.
"Ya udah mbak. Clara mau ganti baju dulu. Mbak May bersihkan itu."
Maya pun mengerti apa yang harus ia bersihkan.
Setelah ganti baju Clara merebahkan tubuhnya. Maya sudah menyelesaikan tugasnya dan keluar dari kamar Clara.
Clara mengambil buku dan pulpen lalu menulis sesuatu.
Ingin ku tuaikan semua hayaĺan
diatas kertas putih
menuliskan sajak-sajak indah
dengan tinta biru
pena seakan tak pernah lelah
menggoreskan kata-kata cinta
Dengan indah pena menari-nari
menuangkan tinta biru
seperti cinta
yang semakin mengharu biru
meskipun tinta tak akan pernah bisa
mengungkapkan bahasa hati
__ADS_1