
Fachri merasa kegerahan saat menunggu Clara yang tak kunjung muncul. Ia pun melepas jasnya. Tak berselang lama Clara sudah terlihat melangkah kearahnya.
Clara menatapnya dengan tatapan menelisik.
"Kenapa lihatinnya begitu banget?" tanya Fachri.
Clara memperhatikan penampilan Fachri dengan kemeja pinknya. Aneh nggak sih cowok ia suruh memakai pakaian warna pink. Ia jadi geli sendiri. Padahal itu juga idenya.
"Kamu lucu Ri." Clara membungkam mulutnya sendiri menahan tawa.
" Ini kan pilihan kamu. Sampai orang kantor mandangnya aneh juga. Ayah aja hampir ketawa lihat aku pakai kemeja pink."
"Hahaha. . . ." Tawa Clara tak lagi bisa dibendung.
Fachri tersenyum bahagia melihat kekasih hatinya menyunggingkan tawa. Ia bersedekap sambil bersandar dimobil.
"Udah yuk Ri!" Clara pun berputar menuju pintu mobil.
Saat didalam mobil pun Clara masih cengar cengir. Fachri membiarkan gadis disampingnya tertawa sepuasnya. Karena itu adalah pengobat jiwa bagi dirinya.
Ketika sampai diparkiran kampus, Fachri menyodorkan paper bag pada Clara.
"Kamu pakai itu, biar nggak terlalu mencolok seragam SMAnya."
Clara mengeluarkan isi paper bag dari Fachri. "Suka banget ya kamu lihat cewek pakai rompi muslimah gini."
"Kan itu yang simple Shafa. Makainya juga nggak ribet. Aku baru beli tadi habis dari kantor ayah." Fachri melepas seatbeltnya. Begitu juga dengan Clara. Kemudian ia mengenakan rompi pemberian Fachri sebelum keluar dari mobil.
Clara mengenakan kembali tas punggungnya ketika sudah keluar dari mobil. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menutupi seragamnya dibagian depan, setidaknya itu lebih tertutup dari pada seragam Clara yang roknya selutut.
Sudah berkali-kali Fachri meminta Clara merubah gaya seragam sekolahnya.Tapi, ada saja alasan yang diberikan gadis itu.
*****
Dirumah Samuel
Setelah pulang dari kantor, Guntur menghempaskan tubuhnya kesofa diruang keluarga rumah omnya. Padahal ia hanya dituntut bekerja setengah hari diperusahaan Haidar. Bukan tubuhnya yang lelah tetapi hatinya.
Ia harus menguatkan hati bekerja bersama laki-laki yang menjadi suami gadis pujaannya. Guntur pun menyadari betapa baiknya Fachri, sosok yang sempurna dimatanya. Pantas saja tuan Steven memilihnya menjadi menantu.
Apalagi selama bersama Fachri, banyak pelajaran yang ia dapat. Bukan hanya soal konsep struktur bangunan yang rumit tapi juga tentang pelajaran hidup. Fachri seorang muslim yang berpaham modern. Mempunyai pemikiran terbuka. Ia bukan orang yang fanatik terhadap suatu ajaran. Walaupun begitu ia tetap berpegang teguh pada syariat.
Fachri sering mengajaknya berbincang-bincang diluar urusan pekerjaan. Sehingga mereka semakin akrab. Tapi, Guntur tetap harus berperang dengan perasaannya sendiri.
Ia menghela nafas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Guntur membungkukkan badan tangannya meraih sepatu hitam dikaki, hendak melepaskannya.
"Hai kak!" Tiba-tiba Samuel datang menepuk bahu Guntur dan langsung melemparkan tubuhnya duduk disebelah kakak sepupunya itu.
Walaupun terlonjak kaget tapi Guntur hanya mendesis pelan. Menahan emosinya, tak ada tenaga untuk beradu mulut dengan Samuel yang biasa mengganggunya. Ia pun melanjutkan melepas kedua sepatu yang sudah setia melindungi kakinya.
"Bekerja cuma setengah hari udah lemes gitu. Gimana kalau bekerja seharian," ucap Samuel.
Sudah tentu ia bisa membaca mimik wajah Guntur. Dirinya juga tahu kalau hati Guntur sedang mendung. Sejak kedatangan Clara bersama Fachri tempo hari, Guntur lebih banyak diam dan mengurung diri dikamar setelah pulang kerja.
"Hidup lo ngenes amat sih Kak. Udah cinta nggak dapet, gara-gara dapat tanjakan tajam. Malah kerja bareng suami gebetan. Gimana ya rasanya?" Samuel kembali bicara karena Guntur hanya diam. Tanjakan tajam yang ia maksud adalah Clara yang sudah menikah dengan Fachri. Sulit bagi Guntur bisa melewatinya. Atau bahkan tidak mungkin.
"Bukannya nggak dapet. Masih belum rejeki saja. Jalannya masih harus begini." Akhirnya Guntur bersuara. Tapi sambil berlalu dengan menenteng tas dan sepatunya.
Sepatu itu ia letakkan dirak yang ada dipojok. Samuel mengikuti langkah Guntur sampai kekamar.
"Mau ngapain? ngintil mulu," ujar Guntur saat sudah barada dikamar.
"Sampai kapan lo harus kerja bersama Fachri?" tanya Samuel.
"Kurang lebih seminggu lagi." Guntur duduk ditepi ranjang sambil mengecek ponselnya.
"Berarti seminggu lagi gue juga harus ikut lo ke Jogja dong!" Samuel tampak murung. Ia harus berpisah dengan kedua orang tuanya karena ingin kuliah ditempat kakak sepupunya.
"Ya iya. Apa mau berubah pikiran? Kuliah saja disini."
"Nggaklah Kak. Gue pengen cari suasana baru diluar kota."
"Kalau gitu jangan ragu. Nikmati masa muda kamu dengan terus belajar. Mencari ilmu sebanyak mungkin. Raih cita-citamu dengan kerja keras. Jangan mencari jalan pintas. Karena jalan yang panjang akan memberikanmu pengalaman yang berharga."
"Wih, tumben bijak."
Guntur bangkit dari duduknya. Meraih handuk dari gantungan disamping pintu kamar mandi.
"Fachri yang mengatakan itu," ucapnya sebelum masuk kekamar mandi.
"Haha. . . pantesan tuan Steven menjodohkan Clara dengan Fachri. Kalah telak lo Kak!" seru Samuel.
"Bisa diem nggak kamu? Siram nih!" Guntur yang sudah berada dikamar mandi keluar lagi dengan gayung yang berisi air.
Samuel pun langsung ngacir pergi dari pada terkena siram.
*****
__ADS_1
Fachri menggandeng tangan Clara sepanjang berjalan melewati koridor kampus. Hal itu pun menjadi pusat perhatian para mahasiswi yang mengidolakan Fachri. Berbagai tatapan aneh bisa Clara rasakan. Mereka saling berbisik saat melihat dirinya dan Fachri melintas.
"Udah jangan dihiraukan mereka," ucap Fachri. Ia pun tahu Clara pasti terganggu dengan suasana saat itu.
"Kamu banyak fans ya disini?" bisik Clara.
Fachri hanya menjawab dengan untaian senyum. Memang dia cukup populer dikampus. Entah karena kisah cintanya yang sempat membuat heboh seluruh isi kampus, atau karena memang banyak perempuan yang berusaha mendekatinya. Tapi Fachri memberi benteng dengan sikap dinginnya. Tak ada yang berhasil merebut hati Fachri setelah tragedi itu.
Tentu saja kedatangan Fachri dengan menggandeng gadis tanpa hijab membuat heboh. Jauh dari selera Fachri yang menyukai gadis dengan pakaian tertutup. Apalagi seragam SMA Clara masih kelihatan sedikit dari depan. Walaupun ia memakai ropi panjang pemberian Fachri tadi.
Clara semakin mengeratkan rompi yang membalut tubuhnya dengan satu tangan. Ia terus melangkah mengikuti kemana Fachri akan membawanya.
Hingga sampailah mereka disebuah ruangan. Didepan pintu ada tulisan berbahasa arab. Clara tak mengerti artinya. Fachri mengajaknya masuk.
"Assalamu'alaikum!" ucap Fachri.
Serentak semua yang ada diruangan itu menjawab salam Fachri.
"Astaghfirullah!" ucap seseorang karena tak biasanya Fachri menggandeng wanita. Apalagi yang bukan muhrim.
"Subhanallah!" ujar pemuda yang mengagumi kecantikan Clara
"Innalillahi!" Ia terkejut, mengira Fachri sudah hilang keimanan dengan membawa seorang gadis. Apalagi ia tak berhijab.
Berbagai seruan menggema diruangan itu.
"Kamu kira Fachri mati? Bilang innalillah!" seru seseorang yang menabok kepala temannya dengan buku.
Yang mendapat tabokan hanya mencibir kesal. Pandangannya fokus pada Fachri dan gadis yang digandengnya.
"Afwan semuanya! Salsa titip dia dulu disini. Aku mau kedosen sebentar."
"Iya Fachri. Dia aman sama aku," ucap wanita berhijab yang bernama Salsa.
"Aku tinggal dulu ya. Tenang saja mereka semua jinak," ucap Fachri sambil mengarahkan pandangan pada keempat sahabat laki-lakinya.
"Dikira kita binatang buas. Udah jinak," seru salah satu dari mereka. Fachri tak menghiraukan ucapan sahabatnya.
"Aku tinggal dulu Ra." Mengusap kepala Clara dengan lembut.
Fachri hendak melangkahkan kakinya pergi.
"Intadzir. Man hiya Fachri?" seru salah satu sahabatnya lagi.
"Habibatul qolbi, Hurriyatul jannati."
Fachri pun langsung melenggang pergi.
Membuat para sahabatnya penasaran.
"Fachri majnun!" seru salah satu dari mereka.
" Bener-bener jadi majnun dia. Gila karena cinta tak direstui."
Clara yang mendengar hal itu merasa bingung. Apa yang dikatakan mereka tentang Fachri? Majnun apa yang mereka maksud? Dan cinta tak direstui, apa maksudnya?
Pertanyaan mulai menggelayuti benaknya. Ia memang belum mengenal betul siapa suaminya itu.
"Udah Hasan, tidak enak sama cewek yang dibawa Fachri. Nanti aja minta penjelasan sama dia," ujar Salsa.
Clara yang duduk diantara sahabat suaminya hanya diam tanpa berani bicara. Keempat laki-laki dihadapannya, memberi tatapan penuh tanya. Dua wanita yang berhijab juga tampak menunggu Clara mengatakan sesuatu. Ia seperti sedang dalam konferensi meja kotak. Disudutkan menjadi pihak yang akan menjadi topik pembicaraan.
Dengan senyum ramah wanita berhijab selain Salsa membuka suara. "Nama kamu siapa?"
"Saya Clara."
"Beneran kamu kekasihnya Fachri?" tanyanya lagi.
Salsa menyikut sahabatnya. "Jangan nanya privasi orang Adiba! Tunggu aja Fachri, biar dia yang jelasin kekita."
Wanita yang bernama Adiba terdiam.
"Oh ya Clara kenalkan kami sahabatnya Fachri," ujar Salsa.
Mereka pun mengenalkan diri masing-masing. Yang laki-laki bernama, Hasan, Alam, Reza, dan Fathir. Yang perempuan bernama Adiba dan Salsa. Keduanya menyalami Clara dengan ramah.
"Emang tadi Fachri terakhir ngomong apa? kok Kak Adiba nanya gitu!" ucap Clara kemudian.
Adiba tampak agak kikuk. Dia tidak berhak turut campur urusan pribadi Fachri. Ia tahu bagaimana sifat sahabatnya yang kini berubah jadi tertutup sejak kejadian 2 tahun yang lalu.
"Lupakan itu Clara. Aku hanya mengira-ngira saja. Tanyakan sendiri pada Fachri," ucap Adiba.
Clara pun merasa aneh. Hatinya semakin penasaran dengan sosok suaminya yang sepertinya banyak memendam masa lalu.
"Kalian mahasiswa bahasa arab kan? kenapa Fachri bisa berteman dengan kalian?" tanya Clara penasaran. Setahu dia Fachri adalah mahasiswa jurusan arsitektur.
"Fachri temanku sejak SMA dulu, dan mereka ini teman-teman dari anggota Kerohanian Islam atau Rohis kampus. Fachri sering mengikuti kegiatan keagamaan kampus ini, jadi kami kenal baik dengan Fachri," ujar Salsa.
__ADS_1
Clara hanya mengangguk mencoba memahami apa yang ia dengar.
"Apa kamu masih SMA Clara?" tanya Reza.
"Kelihatan ya. Padahal aku sudah berusaha menyembunyikan seragam SMAku." Clara berucap dengan senyum yang tampak kaku.
"Tentu saja kelihatan, kau juga masih tampak imut. Menggemaskan!" sahut Alam. Ia berucap dengan gemas pula.
Sahabatnya yang lain mulai jengah dengan sikap Alam yang kadang suka ngegombal. Tak bisa melihat wanita cantik tanpa ia lempari kata-kata manis. Tapi ia tetap pada batasannya, hanya sekedar menggoda dengan tutur kata.
"Mulai lagi kamu Lam. Jaga tuch sikap, dia punya Fachri," seru Hasan.
"Hadzal wajhi kal qomar fil lail. Jamilah jiddan, laitsa kamitslihi syaiun." Alam malah memuji Clara dengan bahasa arab.
Yang mendapat pujian, hanya mengerutkan kening tak mengerti. Sementara yang lain tampak menahan tawa dengan sikap Alam. Kebiasaannya mulai kambuh lagi.
"Tsumma. . . ." Salsa malah mengompori Alam untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kastirun minan nisa' fihadzal ardl. Walakin fii qolbi ismuki faqot. Kastirun minan najm fis sama'. Walakin antum faqot an najm fii qolbi." Alam berucap semakin sok puitis dengan bahasa arabnya.
"Itu syairnya Fachri majnun, Alam," seru Fathir.
"Huwa lam ja'a huna. Laba'tsa!"
"Yakfi? auw lam yakfi?" Tiba-tiba Fachri datang dan sudah berkacak pinggang disamping Alam.
"Yakfi mini idza khoto an as'alukum afwan katsir." Alam berbicara seperti menutup sebuah ceramah. Ia terkejut Fachri tiba-tiba datang. Hal itu mengundang gelak tawa yang lain.
Mana bahagiaku. . .
Jangan bebankan awan mendung padaku
Aku tak sanggup menanggung beban air matanya
Tenang. . .
Awan mendung pun membawa kesejukan
Menyelipkan isyarat keteduhan
Tumpahkan beban air matanya
Ia akan menumbuhkan kehidupan baru
Clara
Dalam keindahan langit jingga
Kulihat wajahmu disana
Meskipun langit jingga akan tertelan oleh gelapnya malam
Namun disana kulihat dirimu dalam rangkaian bintang
.
~Intadzir. Man hiya Fachri?
(Tunggu. Siapa dia, Fachri?
~Hadzal wajhi kal qomar fil lail. Jamilah jiddan, laitsa kamitslihi syaiun.
(Wajah ini seperti seperti bulan dimalam hari. Sangat cantik, tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.)
~Tsumma (Kemudian)
~Kastirun minan nisa' fihadzal ardl. Walakin fii qolbi ismuki faqot. Kastirun minan najm fis sama'. Walakin antum faqot an najm fii qolbi.
(Dari sekian banyaknya wanita didunia ini. Tetapi dihatiku hanya namamu saja. Dari sekian banyak bintang dilangit. Tetapi, hanya kamu bintang dihatiku.)
~Huwa lam ja'a huna. Laba'tsa!
(Dia belum datang kesini. Tidak apa-apa!)
~Yakfi? auw lam yakfi?
(Cukup? atau belum cukup?)
~Yakfi mini idza khoto an as'alukum afwan katsir.
(Cukup sekian, apabila ada kesalahan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.)
__ADS_1
~Majnun (Gila)