
Pagi itu Clara berangkat kesekolah diantar oleh Randi. Fachri dan ayahnya punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi, Fachri sudah memberi tahu. Ia akan tetap datang kesekolah untuk pengambilan raport Clara.
Seperti biasa, Clara selalu bercanda ria dengan Anin. Ada banyak hal yang diceritakan keduanya saat tidak masuk beberapa hari kemarin.
Setelah lelah bercanda dengan Clara yang kadang jahilnya minta ampun, pandangan Anin tampak menerawang jauh.
"Kenapa sih lo Nin?"
"Samuel udah berangkat keluar kota Ra," jawab Anin dengan lesu. "Jadinya jarang ketemu kita nanti," lanjutnya.
"Teruuuuussss. . . kalau jarang ketemu elo mau cari serepan gitu?" Clara menatap sahabatnya dengan setengah mengejek.
"Lo kira gue cewek apaan Ra! Gini-gini gue cewek yang setia sama pasangan. Gue bakal tungguin Samuel sampai dia lulus. Kalau perlu gue susul dia kesana," ujar Anin bersemangat.
"Idih, gaya lo Nin. Yakin bisa setia!" ejek Clara.
"Lo tuch emang nyebelin banget ya Ra. Belum puas lo godain gue dari tadi. Bisa ya, bang Fachri tahan sama lo yang nyebelin kayak gini."
"Jangan salah Nin! Gue kalau dirumah jadi sweet wife."
"Gaya lo ya. Sweet wife apaan? masak aja kagak bisa. Paling bisanya ngegombalin bang Fachri. Tapi, yang digombalin cuek bebek." Kini ganti Anin yang mengejek Clara.
"Jangan salah Nin! Gue nggak pernah gombal. Malah Fachri yang sering gombalin gue."
"Enggak percaya gue." Anin memalingkan wajahnya. Melihat pesan masuk diponselnya. Hal itu membuat keduanya berhenti saling mengejek.
Clara melihat jam yang ada didinding kelas. Sudah menunjukkan pukul 08.45. Tiba-tiba hatinya terpanggil oleh waktu dhuha. "Kemushola yuk Nin!" ajak Clara kemudian.
"Kesambet apaan lo ngajak kemushola jam segini?" Anin meletakkan ponselnya. Beralih pada Clara.
"Gue kesambet jinnya Fachri," celetuk Clara. Ia mengambil mukena dari dalam tasnya. "Udah ayo jalan!" Clara menarik tangan Anin untuk berjalan menuju mushola sekolah. Dengan cepat tangan Anin meraih ponselnya. Mengikuti langkah Clara.
"Tumben-tumbenan sih lo Ra. Mau ngapain dimushola?" tanya Anin penasaran.
"Kita ngademin hati disana. Coba dech ntar pasti nyaman banget disana," tutur Clara sambil berjalan dengan seutas senyum yang menghiasi bibirnya.
Anin hanya bisa mengikuti ajakan sahabatnya yang belakangan sudah mulai berubah.
__ADS_1
Sesampainya dimushola, Clara mengajak mengambil wudlu. Begitu juga dengan Anin. Kemudian mereka melakukan sholat dhuha.
Disitulah ketenangan batin ditemukan oleh Clara. Ada angin sejuk yang berhembus menerpa jiwanya. Sungguh ketenangan yang sangat ia rindukan. Kenyamanan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Jiwanya begitu damai pagi itu dibawah langit dhuha.
Anin juga merasakan hal yang sama. Ia saja sampai heran melihat Clara yang begitu tenang dalam zikirnya. Begitu besar pengaruh Fachri dalam kehidupan sahabatnya.
Keduanya kini sudah kembali duduk bersantai didalam kelas. Karena hari ini adalah hari pengambilan raport. Jadi, semua guru bersiap menyambut para wali murid yang mulai berdatangan.
Clara melakukan pelukan dengan Anin sebelum ia masuk kemobil yang dibawa Fachri. Untuk beberapa minggu kedepan ia akan libur sekolah. Mereka akan jarang bertemu.
"Selamat ya kamu mendapat nilai terbaik tahun ini!" ucap Fachri saat mereka sudah dalam perjalanan pulang. Ia menoleh sebentar kearah gadis yang duduk disebelahnya.
"Sudah biasa Fachri. Tiap tahun aku selalu mendapat itu. Jadi, bukan seauatu yang istimewa lagi buatku." Wajah Clara tampak datar. Memang suatu hal yang biasa baginya, setiap tahun ia mendapat predikat pertama disekolah.
"Lalu apa yang menurutmu istimewa?"
"Kamu!" jawab Clara singkat sambil memandang Fachri.
Yang dipandang hanya mengernyit heran. "Kenapa aku?"
"Karena kamu memang hadiah teristimewa tahun ini. Apa lagi kalau kamu mau bilang cinta secara langsung padaku." Clara memang berniat memancing Fachri. Agar mah bilang cinta padanya.
Fachri hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit juga punya rasa khawatir. Bukannya tidak menerima ketentuan yang telah tertulis. Tapi, hati terlalu sensitif ketika menyangkut tentang cinta.
"Meski bibirmu tak mengatakannya tapi matamu sudah memberitahuku bahwa kau mencintaiku Fachri. Rangkaian goresan penamu juga mengisyaratkan begitu. Aku pun sudah jatuh cinta padamu," ucap Clara dengan enteng. Ia mengatakannya dengan polos, tanpa beban.
Fachri hanya tersenyum menatap gadis disampingnya. Ia kembali fokus menyetir. Ingin mendengar kata-kata Clara selanjutnya.
"Fachri, kau tidak ingin memberiku hadiah?" Clara menatap lekat wajah Fachri yang tak menanggapi ocehannya.
"Kamu bilang tadi tidak ada yang istimewa dari pencapaianmu hari ini. Kenapa minta hadiah?" goda Fachri.
"Ya sudah. Jangan beri aku hadiah!" Clara melipat tangannya diatas perut sambil manyun.
Tak lama kemudian Fachri menepikan mobil. Ia melihat ada penjual es krim dipinggir jalan.
"Kamu mau es krim rasa apa?"
__ADS_1
"Aku mau rasa coklat dan strowberri." Clara menjawab dengan antusias.
Ya, walaupun hanya es krim dipinggir jalan tapi sudah membuatnya cukup senang. Karena Fachri yang mengajaknya.
Setelah puas menikmati es krim keduanya berjalan dengan santai menuju mobil. Tanpa mereka duga ada sebuah mobil hitam berhenti tepat didepan mobil mereka. Orang-orang bertubuh tegap menghampiri Fachri dan Clara. Mereka bergerak cepat, tak memberi celah pada Fachri untuk melawan. Mereka langsung menusukkan suntikan bius pada tubuh Clara dan Fachri.
Hanya beberapa detik, keduanya sudah tak sadarkan diri. Orang disekitar pun tak berani berbuat apa-apa mereka memilih diam dan tak ikut campur. Pergerakan orang-orang itu juga begitu cepat. Tubuh Clara dan Fachri segera dimasukkan kedalam mobil. Kemudian, melaju dengan cepat.
Para bodyguard bayangan yang menjaga Clara dan Fachri dari jauh tak mampu menggagalkan aksi penculikan itu. Dengan sepeda motor mereka mengejar mobil yang membawa Clara dan Fachri. Tapi naas, mereka kehilangan jejak saat melewati persimpangan. Sepertinya penculikan itu memang sudah direncanakan dengan matang. Mengingat beberapa kali penculikan itu gagal dilakukan. Kini mereka melakukan strategi yang tepat. Melumpuhkan target dengan perhitungan yang sepesifik.
"Hallo bos! Non Clara dan tuan Fachri berhasil diculik. Kami kehilangan jejak." Salah satu bodyguard menghubungi Steven.
"Bagaimana bisa kalian lengah? Menjaga dua orang saja tidak becus," hardik Steven dengan emosi. Lalu ia memutuskan sambungan televon. Melempar ponselnya begitu saja keatas meja. Mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghempaskan tubuhnya kesofa yang tepat dibelakangnya.
Andi yang mendengar suara keras Steven segera masuk kedalam ruangan.
"Ada apa Stev?"
"Clara dan Fachri diculik," jawab Steven dengan emosi yang lebih stabil. "Kau pasti tau ini perbuatan siapa. Suruh orang-orangmu untuk mengawasi pergerakan Maxime," perintahnya kemudian.
Andi segera melakukan permintaan Steven. Menghubungi orang-orang andalannya.
"Kau harus tenang Stev. Maxime tidak mungkin berani melukai Clara," ujar Andi berusaha menenangkan Steven yang tampak kacau mendengar putri kesayangannya diculik.
"Aku menyesal membiarkan Maxime hidup bebas berkeliaran diluar sana. Aku kira dia akan sadar dengan kesalahannya. Tapi dia tetap dengan jiwa serakahnya."
"Aku akan mengumpulkan bukti kejahatan Maxime beberapa tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa lolos dari hukum. Kita beri pelajaran padanya." Andi berucap dengan berapi-api.
"Kita harus menemukan Clara dan Fachri lebih dulu. Maxime bisa saja berbuat nekat untuk mencapai tujuannya. Seperti yang dilakukan pada saudara tirinya." Steven menimpali. Ia lebih khawatir pada keselamatan Clara dan Fachri.
.
.
.
Terimakasih partisipasi kalian!
__ADS_1
SEMANGAAATTTT!!!!