
Saat fajar mulai menyingsing, Shafa berdiri dibalkon kamarnya. Ia bersyukur masih dipertemukan dengan sang fajar. Berharap akan bertemu dengan fajar-fajar berikutnya. Dari sang fajar ia belajar mensyukuri hidup. Bahwa ia masih diberi kesempatan untuk berubah lebih baik hari ini. Belajar untuk menyongsong kehidupan baru. Menyemangati jiwanya agar terus bangkit dan melangkah maju. Bersyukur masih diberi nafas untuk menyentuh kesejukan pagi.
Suara notif pesan dari ponsel, membuat Shafa melepas sejenak relaksasi paginya. Membaca pesan dari Mr.Alay yang lagi-lagi menghibur hatinya dengan lelucon yang semakin alay.
Mr.Alay: Good morning! beautiful day for beautiful girl who standing in above skies this morning.
Shafa: Good morning too! How do you know what I do in this moment?
Mr.Alay: Just my insting. Because, now I do what are you doing too.
Shafa: Kamu setahun dikota orang bukannya jadi pangeran keraton malah jadi bule alay yang mengawali pesan dengan bahasa asing. Lama-lama aku ikutan jadi bule kesasar kayak kamu.
Mr.Alay: 😂😂😂 Injeh kanjeng putri. Sugeng enjang! Dalem meniko nyuwun pangapunten.
Shafa: Ampun dech! Kagak ngerti malah bahasa apaan itu.
Mr.Alay: La terus karepmu piye? Aku kudu piye maneh My Ara?
Shafa: Lama-lama aku lempar kamu pakai ini 🍳
Mr.Alay: Wah enak tuch buat sarapan telur mata sapinya
Shafa: Bukan telurnya yang aku lempar tapi teflonnya buat nampol muka kamu yang makin ngeselin
Mr.Alay: 😅😅😅😅
Shafa: Ketawa aja terus!
Mr.Alay: Nanti nitip salam ya buat bang Fachri. Bye Ara!
Dih! ngacir nih bocah. Bagaimana dia tahu ya kalau hari ini aku akan kemakam Fachri. Ah, mungkin kebetulan saja. Gumam hati Shafa.
Dia masih tak menyadari sosok yang dianggapnya teman bukanlah Samuel. Karena Mr. Alay sedikit banyak juga memakai karakter Samuel, adik sepupu yang sudah dikenalnya dengan baik.
Kemudian Shafa memilih berganti pakaian dengan pakaian olah raga. Ia akan lari pagi sebentar berkeliling kompleks. Tak lupa juga ia menggedor pintu kamar Randi, mengajak pemuda itu ikut dengannya. Randi yang masih setengah sadar terpaksa mengikuti Shafa.
*****
Dirumah Guntur
Samuel memasuki kamar kakak sepupunya tanpa permisi. Dia melihat pemuda itu tersenyum sendiri dibalkon.
"Ati-ati masih pagi buta! Jangan senyum-senyum mulu ntar hati dan pikiran ikutan gesrek," celetuk Samuel.
Guntur menoleh kearah adik sepupunya."Kamu tuch yang gesrek, masuk kamar orang tanpa permisi. Dimana sopan santun kamu?" ujarnya sedikit menahan kesal.
"Sopan santunku di Maluku."
"Pantesan dia hanyut ditengah laut. Jauh banget merantaunya." Guntur masuk kembali kedalam kamarnya, lalu duduk ditepi ranjangnya diikuti juga oleh Samuel.
"Kak Guntur udah mulai menghubungi Shafa lagi?" tanya Samuel. Kali ini ia tampak serius.
__ADS_1
"Iya," jawab Guntur singkat. Tangan kokohnya sibuk membolak-balikan ponsel, seakan ada hal yang mengganjal dipikirannya.
"Lalu?" tanya Samuel lagi. Ia penasaran bercampur heran dengan sikap Guntur yang seperti orang bimbang.
Tanpa diminta, Guntur menyodorkan ponselnya pada Samuel. Agar pemuda itu tahu apa yang dia bicarakan dengan Shafa.
"Lo pasti tak bisa mengontrol diri jika menyangkut Shafa. Harusnya lo itu bisa jaga jarak dulu dengan Shafa,Kak."
"Kamu sendiri yang kemarin menyarankan agar aku menghubunginya lagi, kenapa malah kamu jadi sewot begini." Guntur tak mau disalahkan.
"Iya gue tahu Kak. Tapi nggak kayak gini juga. Kemaren lo lamban kayak siput kenapa sekarang buas begini. Geli gue bacanya." Samuel melempar ponsel Guntur keatas tempat tidur.
Pemuda disampingnya malah membanting tubuh ditempat tidur dengan suara gelak tawa yang terdengar nyaring. "Yang penting Shafa taunya itu kamu bukan aku."
"Et dah, gue dijadiin kambing congek mulu ama lo Kak."
Guntur tampak terdiam lagi setelah tertawa menggoda Samuel. Terselip rasa bersalah pada Fachri karena ia menggoda istrinya. Padahal laki-laki itu baru saja meninggal bahkan belum genap empat puluh hari.
"Shafa kelihatannya mulai kembali ceria setelah lo hubungin dia lagi Kak. Dari gaya bahasa saat balas setiap chat lo dia sepertinya baik-baik aja sekarang," ucap Samuel memecah keheningan.
"Dia memang seharusnya baik-baik saja. Mungkin setelah aku akan jaga jarak dulu dengan mengirim pesan hanya sesekali," ujar Guntur dengan nada sendu.
"Tapi kalau Shafa duluan yang chat, bales aja Kak. Walau bagaimana pun, dia butuh teman untuk mengisi kekosongannya. Gue juga takut kalau Shafa nekat lagi karena frustasi." Samuel beranjak pergi dari kamar Guntur.
Guntur sendiri masih bergelung pikirannya yang dipenuhi kebimbangan. Antara perasaan cinta dan rasa bersalah.
Maaf Fachri! Aku sangat mencintai Shafa. Aku tak ingin kehilangan kesempatan lagi. Walau mungkin akan sulit untuk menembus hatinya tapi aku akan sabar menunggu sampai kapan pun. Hingga takdir yang akan menuntunku padanya. Aku berjanji akan menjaganya dengan cintaku. Dulu kau pernah bilang padaku bahwa mungkin ada sesuatu yang tersembunyi dibalik pertemuanku dengannya. Dan sesuatu itu adalah cinta. Cintaku pada pandangan pertama.
*******
Steven merasa senang dengan perubahan putrinya, itu lebih baik dari pada Shafa terus terpaku dengan kesedihan karena kepergian Fachri. Kesibukan yang ia lakukan akan sedikit mengalihkan pikirannya.
Setelah beres-beres, Shafa beralih kedapur ikut memasak dengan Bik Nani. Semua ia lakukan dengan penuh semangat. Ia harus bisa berubah menjadi gadis yang mandiri. Bisa melakukan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri tanpa bergantung lagi pada orang lain.
"Pagi Daddy!" Shafa menyapa ayahnya dengan riang diiringi kecupan hangat.
"Pagi juga sayang!"
Ayah dan putrinya memulai ritual sarapan pagi diiringi sedikit canda tawa yang menghibur. Hubungan keduanya semakin erat kembali setelah sempat renggang beberapa waktu lalu.
"Hari ini Shafa pinjam Randi dulu ya Dad," ujar Shafa sambil mengelap mulutnya dengan tissu.
"Iya, Randi hari ini Daddy bebaskan dari tugas kantor. Tapi kamu juga harus ingat, jangan sampai mengganggu kuliahnya Randi. Biarkan dia mengerjakan tugasnya dulu baru kamu ajak keluar," nasehat Steven.
"Ok Daddy!"
Setelah itu Steven pamit kekantor dengan diantar pak Parjo. Mobil sudah disiapkan Randi sejak pagi tadi. Andi yang menjabat sebagai sekretaris pribadinya sudah ia beri kesibukan dikantor. Sehingga tidak memungkinkan untuk menjemputnya.
Shafa menghampiri Randi yang berada diteras samping dapur. Pemuda itu memang tampak mengerjakan sesuatu.
"Tugas kuliah lo belum kelar Rand?"
__ADS_1
"Sebentar lagi ya Non, dikit lagi selesai." Randi menjawab tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
Shafa menunggu Randi sambil memainkan ponselnya. Ia menghubungi Anin lewat pesan singkat. Menanyakan dimana sahabatnya akan melanjutkan kuliah. Dan mereka pun saling bertukar kabar.
"Non setelah ini mau kuliah dimana?" tanya Randi memecah kesunyian.
"Gue mau kuliah ke Amerika, biar bisa ketemu bang Ethan," jawab Shafa asal. Padahal ia akan kuliah diluar kota saja, rangkaian test jalur prestasi sudah ia ikuti secara online.
"Beneran Non!" Randi masih belum percaya sepenuhnya.
"Beneranlah. Biar lo bebas nggak ada yang gangguin. Nggak ada yang bakal ngejahilin lo kayak gue," ujar Shafa yang masih asyik dengan ponsel.
"Dunia Non pasti hampa tanpa saya. Jadi kuliah aja disini. Kan banyak universitas yang berkualitas dinegeri sendiri. Nggak pake jauh-jauh kenegeri orang." Randi menutup laptopnya ketika sudah selesai.
"Suka-suka gue dong!"
"Trus ini Non mau minta diantar kemana? Tadi tuan Steven meminta saya jadi supir Non hari ini," tanya Randi.
Shafa memasukkan ponsel kedalam tas slempangnya. "Kita jenguk bang Fachri dulu Rand. Sebelum itu kita ketoko bunga. Beli oleh-oleh buat suami tercinta," ujarnya kemudian.
Randi hanya bisa menuruti kemauan tuan putrinya. Mereka segera masuk mobil sport milik Shafa.
"Gue aja Rand yang nyetir, gue kangen bawa si Audi," ujar Shafa mengambil alih kemudi mobil.
Mereka berdua berangkat ketempat yang menjadi tujuan Shafa. Ketika ditoko bunga ia membeli lima ikat bunga. Tentu saja untuk kedua orang tuanya, kedua orang tua suaminya dan untuk Fachri sendiri. Entah kebetulan atau bagaimana, mereka berada dipemakaman yang sama.
Shafa melangkah perlahan memasuki area pemakaman. Menempatkan satu persatu bunga yang ia bawa. Terakhir ia duduk bersimpuh dimakam suaminya.
"Bagaimana kabarmu hari ini Fachri?" Air mata sudah membanjiri pipi manis Shafa. Randi yang melihat dari kejauhan, matanya tampak berkaca-kaca.
"Maaf Fachri! Aku tak bisa menyuruh air mata ini untuk berhenti mengalir. Maaf jika ini menyakitimu, Tapi aku lebih sakit dengan kepergianmu." Shafa berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Mungkin ini terakhir kalinya aku kesini Fachri. Setelah ini aku akan pergi mencari kehidupanku sendiri. Tapi kau tenang saja, aku tetap membawa cintamu bersama hatiku. Aku akan bertahan hidup dengan cintamu yang telah terpatri dalam jiwaku."
Shafa melangkahkan kakinya keluar dari area makam, diikuti oleh Randi yang dari tadi berada di pintu keluar.
"Kita kebutik ambil gaun untuk acara besok malam Rand," ujar Shafa memberi intruksi. Kini Randi yang mengambil alih kemudi.
Sekembalinya dari butik, Shafa mengajak Randi untuk belajar motor lagi. Ia harus lancar mengendarai motor sebelum pergi.
Sampai waktu menjelang petang keduanya baru pulang. Shafa merasa lelah setelah aktifitasnya seharian tadi. Ia merebahkan tubuh diatas tempat tidur sambil memeriksa pesan diponsel. Tak ada pesan masuk dari Mr.Alay. Tanpa ia sadari bersenda gurau dengan Mr.Alay menjadi kebiasaan barunya.
Shafa pun meraih buku Zahra-Akbar yang ia simpan dalam laci. Membuka lembaran yang belum ia baca.
Jalan hidup yang kita lalui tak selamanya mulus. Kadang kita akan bertemu jalan terjal, jalanan curam dan menanjak. Ada saatnya kita sampai kepersimpangan jalan. Yang mana harus memilih jalan yang tepat agar sampai tujuan. Mintalah petunjuk pada Sang Maha Pemberi Petunjuk. Agar setiap langkahmu dinaungi keridloan-Nya.
.
.
.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya!
Sampai ketemu dipart selanjutnya...