
Clara terburu-buru menuruni anak tangga, disusul Fachri dibelakangnya. Sesampainya dimeja makan ia langsung menyambar segelas susu coklat hangat. Meneguknya hingga tandas.
"Pelan-pelan Ra." Tegur Fachri.
"Aku udah kesiangan ini Ri." sahut Clara. Kemudian meraih tissu mengelap mulutnya.
Fachri sendiri duduk sambil menyeruput tehnya.
"Tumben Non agak siangan, udah kayak pengantin baru beneran kalian." Seru Randi dari meja dapur. Ia sedang membantu ibunya menyiangi sayur.
"Diem Lo Rand." Sahut Clara dengan suara agak keras.
Seikat sayur melayang kearah Randi, diikuti tatapan peringatan dari ibunya.
"Apaan sih Bu." Gerutu Randi.
"Jangan menggoda Non Clara terus." Ujar ibunya.
"Lo mau beralih profesi Rand. Tumben megang sayuran." Sahut Clara.
"Ini biar nanti saya bisa masakin istri Non. Biar jadi pria idaman kayak Fachri." Jawab Randi sambil melirik kearah laki-laki yang duduk dimeja makan.
"Semoga berhasil dech Rand."
Clara beralih pada Fachri yang masih menikmati teh dihadapannya. "Ayo Ri cepetan, aku bisa telat nanti."
Fachri pun segera bangkit. Menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Randi.
"Pakai motor aja Ri. Kalau pake mobil nggak keburu nanti." Tanpa menunggu jawaban dari Fachri Clara langsung berbalik mengambil kunci motor yang tergantung dibalik pintu dapur. Lalu menyerahkan pada Fachri.
Mereka pun berangkat dengan naik motor.
Sepanjang perjalanan Clara memberi intruksi agar Fachri melajukan motor dengan cepat.
"Untung belum telat Ri. Gara-gara kamu sih telat banguninnya." ujar Clara sambil melepas helmnya.
"Maaf Ra. Habisnya kamu tidur pules banget aku nggak tega banguninnya. Aku pikir kamu besok saja masuk sekolahnya." Ucap Fachri dengan nada lembut.
"Aku udah banyak ketinggalan pelajaran. Kalau besok baru masuk malah bertumpuk tugasku."
Clara menyerahkan helmnya pada Fachri." Ya sudah aku masuk dulu."
Baru beberapa langkah Clara beranjak, ia berbalik lagi. "Ada yang lupa Ri." Clara mengulurkan tangan, yang kemudian disambut oleh Fachri.
Clara mencium punggung tangan suaminya. Lalu segera berlari kearah kelasnya karena bel sudah berbunyi. Tapi ia masih sempat menoleh kearah Fachri sambil memberikan senyum manisnya dengan kedua lesung pipi yang menghiasi.
Fachri membalas dengan lambaian tangannya. Tak disangka ia harus menikahi gadis SMA seperti Clara. Tapi ia hanya menjalani scenario hidup yang sudah ada.
Setelah gadis itu hilang dari pandangannnya. Fachri segera melajukan motornya. Kembali kerumah, menyempatkan sarapan lalu mengambil berkas dan berangkat kekantor. Sesuai pemberitahuan ayah mertuanya tadi malam, hari ini ia akan bertemu dengan seseorang yang akan membantu menangani masalah pembangunan hotel.
Clara sampai kekelas dengan nafas sedikit memburu. Ia langsung duduk disebelah Anin sambil membanting tasnya dimeja.
"Tumben Lo ngepres?" ujar Anin.
"Lo kira gue karyawan pabrik ngepres."
"La kan biasanya Lo selalu datang awal Ra. Gue kira Lo belum bisa sekolah."
"Gara-gara Fachri nggak bangunin gue. Padahal gue kan udah niat masuk sekolah hari ini." Tangan Clara sibuk membuka tas lalu mengeluarkan buku mata pelajaran pagi itu.
"Eh Ra. Ceritain dong gimana rasanya nikah diusia Lo yang baru segini." ujar Anin sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan diatas meja menghadap kearah Clara.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Bisa geger nih sekolah kalau yang lain dengar." ucap Clara yang kemudian menoleh kearah temannya yang lain.
Untungnya mereka sibuk ngobrol satu sama lain. Karena guru mata pelajaran pagi itu belum juga datang.
"Iya iya maaf Ra. Lupa ngerem gue."
"Makanya punya kereta dipasang rem"
Anin langsung terdiam. Ia memegang mulutnya. Perasaan beda jauh dech mulut gue sama kereta. Apa miripnya coba. Gumam Anin.
Kemudian guru BK masuk memberi tugas. Karena guru yang bertugas berhalangan hadir.
Anin dan Clara mulai sibuk mencatat tugas yang ditulis oleh sekretaris kelas mereka.
"Ayolah Ra ceritain gimana Lo sama babang ganteng Fachri." ujar Anin pelan.
"Biasa aja" jawab Clara cuek.
"Kalian tidur satu kamar kan?" tanya Anin lagi dengan nada lirih.
"Iya" ucap Clara tanpa menoleh ke Anin. Pandangannya masih kearah papan sambil tangannya menulis.
__ADS_1
"Satu ranjang juga" bertanya setengah berbisik.
Clara menoleh kearah Anin sebentar, tangannya berhenti menulis.
"Gue tidur diatas tempat tidur. Fachri tidur dibawah." Jawab Clara enteng. Kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Maksudnya Fachri tidur dilantai?" tebak Anin heran.
Clara menganggukkan kepala.
"Gila Lo Ra. Tega Lo sama bang Fachri."
"Dia sendiri yang mau."
"Tapi kan nggak segitunya juga. Lo kan bisa bujuk dia."
"Udah Lo lanjut nulis aja. Jangan kepo sama kehidupan pribadi orang."
"Kan gue cuma penasaran."
Anin pun diam. Ia melanjutkan menulis lalu mengerjakan tugas yang diberikan.
Clara sendiri sebenarnya merasa tak enak karena ia tak bisa jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi ia juga perlu memberi batasan tentang privasinya. Tak semua hal bisa ia ceritakan pada sahabatnya.
Apalagi ia belum pernah mendengar ungkapan kata cinta secara langsung dari bibir Fachri. Hanya saja perhatian yang diberikan Fachri terus membuatnya melayang. Seakan-akan dialah wanita yang paling beruntung karena memiliki sosok seperti Fachri. Yang menghujaninya dengan perlakuan manis. Tapi apakah itu bisa disebut Cinta? Atau hanya rasa belas kasihan?
Clara menggelengkan kepala sambil memukulkan pulpen kekepalanya yang tak tahu apa-apa.
Pikirannya diselimuti pertanyaan yang menyakiti dirinya sendiri. Clara membenamkan kepala diatas buku pelajarannya.
"Lo kalo masih sakit pulang aja dech Ra." ujar Anin. Ia mengira Clara masih belum sehat.
"Gue nggak apa-apa Nin. Cuma sedikit pusing dengan tugas hari ini." Clara mengangkat kembali kepalanya.
Anin mengintip buku tugas Clara. Semua soal sudah dikerjakan. Lalu apa yang membuat Clara pusing.
"Lo itu nggak bakal bisa ngibulin gue Ra."
"Derita gue dah punya sahabat pengertian kayak Lo Nin." Kali ini Clara menyandarkan kembali kepalanya diatas meja sambil miring menghadap Anin.
Anin mengusap wajah Clara dengan lima jari tangannya. "Bersyukur Lo masih ada temen kayak gue."
"Makasih Anin. . .!"
"Siapa. . ."
"Maksud Lo?" Anin mengernyitkan kening tak mengerti.
"Yang nanya" Ucap Clara kemudian.
"Resek Lo ya." Anin memukul pelan bahu Clara dengan sebuah buku. Bukannya marah Clara malah tertawa melihat tingkah sahabatnya.
"Gue mau kekantin, Lo ikut nggak nih?" Anin bertanya lagi.
"Iya gue ikut. Belum sarapan juga tadi pagi."
Saat Clara hendak berdiri ponselnya bergetar. "Bentar Nin. Ada pesan kayaknya." ia mengambil ponsel yang ada didalam tasnya.
Fachri: Jangan lupa makan, tadi kan nggak sempet sarapan
Clara: Iya ini mau kekantin. Kamu juga jangan lupa makan, tadi nggak sempet sarapan juga kan.
Fachri: Aku tadi sudah sarapan dari rumah
Fachri: ya udah. Aku lanjut kerja lagi
Fachri: Kamu baik-baik ya. Belajar yang pinter
Clara tampak senyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari Fachri. Lalu ia mengetikkan jawaban.
Clara: Ok
"Siapa Ra?" tanya Anin penasaran melihat Clara cengar cengir sendiri.
"Fachri, ngingetin jangan sampai lupa makan." Kemudian ia memasukkan ponsel kedalam saku. "Udah yuk kekantin." Clara merangkul pundak sahabatnya berjalan keluar kelas.
"Fachri semakin perhatian ya sama Lo." ujar Anin.
"Wajar lah Nin."
"Gue juga pengen dong punya cowok kayak Abang Fachri." Ujar Anin dengan gemas.
__ADS_1
"Samuel mau Lo kemanain?"
"Gue kan belum resmi jadian sama Samuel."
"Jangan PHPin anak orang. Kena karma ntar Lo. Jadi perawan tua baru tau rasa."
Anin melepas tangan Clara dari bahunya. "Kejam Lo Ra. Do'ain kek, biar gue dapat jodoh kayak bang Fachri."
"Suruh aja tuch Samuel masuk pesantren."
"Ya kali dia mau Ra."
"Tapi Lo sama Samuel kan cocok Nin."
Mereka berdua sampai kekantin. Memesan makan dan minum. Kemudian mencari tempat duduk.
"Samuel hari ini nggak masuk Nin?" Tanya Clara. Ia merapatkan kursinya kedepan.
"Iya tadi pagi dia kirim pesan, katanya mau nyiapain buat daftar kuliah." jawab Anin.
Tak lama setelah itu pesanan mereka berdua datang. Percakapan berhenti sejenak. Anin melahap makanannya dengan sesekali melirik kearah sahabatnya. Ada berbagai pertanyaan yang ingin ia berikan.
Clara menangkap tatapan Anin yang mulai dirasa aneh. "Kenapa sih Nin?"
Anin sendiri tampak sedikit kikuk. Lalu ia memberanikan diri mengungkapkan rasa penasarannya pada Clara.
"Sebenarnya banyak yang pengen gue tahu antara Lo sama Fachri dan Aldi. Kenapa tiba-tiba Lo dinikahin sama Fachri dirumah sakit, Lo sendiri dalam keadaan nggak sadar waktu itu." ujar Anin. Raut wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu.
Clara agak tersentak mendengar penuturan Anin. Ia meminum es jeruk yang ada dihadapannya sebelum mengeluarkan suara.
"Gue sama Fachri dijodohin. Soal Aldi, gue juga udah putus." ucap Clara agak lirih. Tanpa menatap Anin. Tangannya mengaduk es, mencoba mengalihkan rasa sesak yang mungkin akan menghampirinya jika teringat Aldi.
"Sejak kapan Lo putus sama Aldi?" Tanya Anin masih ingin mencari penjelasan.
"Sehari sebelum gue nikah." ucap Clara pelan.
Anin masih tampak terkejut. Tapi kemudian Clara bangkit dari duduknya. Ia pergi tanpa mengatakan apa-apa pada Anin.
Anin pun berusaha mengejar Clara. "Sorry Ra kalau gue terlalu banyak ingin tahu. Tapi sejak kejadian dirumah sakit, Aldi menghilang."
Ucapan Anin membuat langkah Clara terhenti.
Anin melanjutkan ucapannya. "Dia tidak pernah lagi datang kesekolah. Dia juga tidak dapat dihubungi. Gue sama Samuel datang kerumahnya kemarin tapi rumah itu sudah dijual. Aldi dan keluarganya pergi entah kemana."
Clara diam mematung dilorong kelas yang tampak sepi. Apa yang terjadi dengan Aldi?
Apakah ini perbuatan ayahnya?
Mengingat ayahnya tak akan rela jika ada yang menyakiti dirinya.
Kenapa masih terbesit rasa peduli dihatinya?
Padahal Aldi sudah menorehkan luka yang begitu dalam.
Anin berdiri dihadapan Clara, memegang bahu sahabatnya. Mata Clara tampak berkaca-kaca. Anin menangkap ada kesedihan dihati sahabatnya.
"Kalau Lo butuh teman curhat gue selalu ada buat Lo Ra." Anin memeluk sahabatnya itu.
Clara berusaha sekuat mungkin agar air matanya tak lolos keluar. "Gue nggak apa-apa Nin. Udah yuk kekelas." Clara mengusap air mata yang hampir keluar. Kemudian melepaskan pelukan sahabatnya.
"Ayo kekelas, sebentar lagi udah bel masuk." Ajak Clara.
Anin pun mengikuti langkah sahabatnya tanpa banyak bertanya lagi. Clara sendiri selalu berusaha tampak tegar dihadapan orang lain. Terkecuali jika dihadapan Fachri. Ia tak akan bisa menyembunyikan kesedihannya. Wajah teduh Fachri selalu membuatnya jiwanya tak berdaya.
Seakan menjadi tempatnya berbagi keluh kesah sekarang. Laki-laki itu selalu memberi ketenangan. Tutur katanya mampu menembus setiap jengkal kesedihannya. Menyalurkan kekuatan untuk menghadapi masalah yang ada.
Lalu bagaimana dengan Aldi? Kemana pemuda itu pergi?
Hati Clara kembali berkecamuk. Walau bagaimanapun Aldi menyakitinya. Dia pemuda yang pernah ia cintai. Bersama Aldi ia pernah tersenyum bahagia. Ia juga pernah memberi warna dihari-harinya. Walau warna terakhir yang Aldi torehkan adalah warna hitam.
.
.
.
.
Ketika Cinta dan luka berjalan beriringan
Apakah yang akan kita lakukan?
Menolak jatuh cinta agar tidak terluka
__ADS_1
atau membiarkan hati jatuh cinta kemudian juga menerima luka
Ketika jatuh cinta kita juga harus siap dengan segala konsekuensinya