ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Disekolah


__ADS_3

Pagi itu Clara sudah siap untuk sekolah, setelah lengkap dengan seragam dan juga tas sekolahnya Clara keluar kamar menuju meja makan. Disana tak terlihat sang daddy. Pasti daddy sudah berangkat. Pikir Clara.


"Eh, ada Mbak Maya sama Mbak Siti. Kapan balik?" tanya Clara dengan ramah pada 2 asisten rumah tangga yang kemarin pulang kampung.


"Tadi malam Non," jawab Maya sambil menata sarapan.


"Non Clara mau sarapan pake apa?" tanya Siti.


"Pake piring lah Mbk, kalo nggak ada pake daon juga boleh."


Siti yang bertanya serius malah dijawab dengan candaan oleh Clara.


"Pake daon Jati sekalian ya Non, dikampung saya banyak." Siti pun meladeni candaan Clara.


"Sekalian juga sama ulet-uletnya ya Ti," sahut Maya


"Uletnya udah jadi kepompong May."


"Kebetulan banget itu Ti, ntar bisa disayur lodeh."


Clara hanya tersenyum mendengar obrolan Maya dan Siti. Kadang mereka berdua menjadi hiburan tersendiri bagi Clara.


"Tapi jangan ngajak Clara kalo mau makan sayur kepompong," ujar Clara yang kemudian meminum susu hangatnya.


"Mantap lho Non sayur kepompong," ujar Siti.


"Mbak siti makan sendiri aja ya nanti. Clara berangkat mbak."


Clara bangkit dari duduknya. Membayangkan kepompong yang dimasak Clara jadi ngeri sendiri. Bagaimana jadinya hewan yang awalnya ulat terus dimasak dimakan pula. Bisa-bisa dirinya mual tujuh hari tujuh malam.


"Lho Non nggak sarapan dulu ini?" tanya Maya.


"Clara males sarapan Mbk."


Clara pun melangkah menuju halaman depan. Fachri sudah siap dengan mobilnya.


"Kebiasaan ini Non Clara jarang mau sarapan," gumam Siti.


"Wajarlah Ti, non Clara pasti ngenes tiap pagi harus sarapan sendiri."


"Iya juga sih, tuan Steven juga jarang sarapan dirumah."


"Hayo jangan ngomongin yang punya rumah, nanti kalian didepak baru tau rasa," ujar Bik Nani yang tiba-tiba datang.


"Iya-iya bik. Kami lanjut bersih-bersih dulu," ujar Maya.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Sementara itu, Clara dan Fachri sudah berangkat, tidak ada percakapan antara mereka. Keduanya masih sama-sama terlihat canggung. Clara memainkan ponselnya dan sesekali melirik Fachri dari dari kaca depan. Kadang pandangan mereka saling beradu, membuat keduanya saling membuang muka.


Sesampainya didepan gerbang sekolah, Fachri membukakan pintu untuk Clara.


" Non setelah ini saya kuliah dulu, nanti jam sebelas saya kesini lagi," ucap Fachri.


"Terserah," jawab Clara sambil berlalu pergi.


"Hati-hati non."


Clara pun tak menghiraukan ucapan Fachri. Ia langsung menuju kelasnya karena bel akan berbunyi sebentar lagi.


Begitu juga dengan Fachri, dirinya segera meluncur kekampus.


Hari itu Clara mengikuti pelajaran dengan semangat seperti hari-hari biasanya. Walau ia bandel tapi itu diluar sekolah. Clara tidak ingin mengecewakan ayahnya dalam hal prestasi disekolah.


Ketika jam istirahat Clara dan Anin menuju kantin. Anin adalah sahabat Clara. Mereka juga satu kelas. Setelah memesan makanan mereka pun mencari tempat duduk.


Tak lama kemudian ada seorang siswa menghampiri mereka.


"Hai Ara. . . . !" Sapa siswa itu dengan ramah.


"Ara siapa Sam? Perasaan kagak ada yang namanya Ara disini," tanya Anin pada Samuel teman laki-laki mereka dari kelas IPS. Samuel juga satu kelas dengan Aldi.


"Dia kan Ara." Samuel melihat kearah Clara. "Dibuang "Cl" nya kan jadi Ara," lanjut Sam.


"Aduuuuh. . . . So sweet banget sih Sam. Aldi aja nggak punya panggilan khusus buat gue." Clara berbicara dengan nada yang dibuat-buat. Anin yang mendengarnya jadi geli sendiri.


"Si Aldi aja yang orangnya nggak bisa romantis," ujar samuel.


"Lo belum tau rasanya digibeng sama Aldi ya Sam," ujar Anin.


"Belum sih dan nggak pengen ngrasain," jawab Samuel dengan cuek, lalu mendapat sentilan dari Anin ditelinganya.


"Panas tau Nin." Samuel mengusap telinganya yang kelihatan merah karena sentilan Anin.


"Rasain tuch!"

__ADS_1


"Belum juga jadian udah KDMP," gerutu Samuel.


"Apaan tuch Sam KDMP?" tanya Clara.


"Kekerasan Dalam Masa Pacaran Ara," jawab Samuel.


Ditengah obrolan mereka datanglah Aldi yang kemudian duduk disamping Clara. Aldi sudah membawa semangkok soto ayam dan es jeruk.


"Ngobrolin apa sih Ra kayaknya seru?" tanya Aldi.


"Itu si Sam mau nembak Anin," ujar Clara.


"Iya Al, tapi kayaknya nggak jadi gue nembak Anin. Anaknya sadis."


"Hadzihi Fitnah. . . Hadzihi Fitnah. . . !" ucap Anin dengan nada dramatis. Bersamaan dengan itu pelayan datang mengantar pesanan Clara dan Anin.


"Wah Neng Aisyah pindah syuting kesini ya," ujar pelayan kantin yang seorang laki-laki.


"Iya kayaknya Bang. Tapi ini adegan Fachrinya versi cewek," ucap Aldi. Semua yang ada pun jadi tertawa, setelah pelayan kantin pergi.


" Kenapa gue yang jadi kambing hitam disini, perasaan tadi yang digombalin Sam tuch Clara. Kenapa jadinya gue yang kena," gumam Anin agak lirih.


"Apa Nin?" tanya Aldi penasaran.


Samuel spontan membungkam mulut Anin dengan tangannya.


"Nggak apa-apa Al," jawab Samuel. Anin yang tidak terima malah menggigit tangan Samuel.


"Aaaaaaaaa... Sakit Anin." Samuel mengibaskan tangannya yang sakit karena gigitan Anin. Clara dan Aldi hanya menggelengkan kepala dengan tingkah kedua sahabat mereka.


"Ya udah gue cabut aja. Bye! " seru Samuel yang kemudian pergi.


"Marah dah tuch anak," ujar Anin kemudian.


"Tenang aja Nin, Samuel orangny asyik kok. Marahnya cuma sebentar," hibur Aldi.


"Udah ayo lanjut makan Nin," ucap Clara.


Mereka pun melanjutkan makan, sesekali terlihat Aldi menyuapi Clara begitupun sebaliknya. Anin yang seperti obat nyamuk diantara mereka tak ambil pusing. Dia pun tak merasa risih karena hal itu sudah biasa sejak 2 bulan lalu.Yup, Clara dan Aldi memang baru saja menjalin hubungan selama 2 bulan.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan dengan tatapan tidak suka.


Saat berjalan kembali ke kelas, Clara tampak senyum-senyum sendiri. Ia ingat kejadian dikantin tadi. Dirumah ia yang mau dijadikan Aisyah, disekolah malah sahabatnya yang menjadi Aisyah itu pun juga gara-gara dirinya. Clara jadi teringat dengan Fachri. Eh tunggu dulu, kenapa jadi mikirin Fachri sih. Gumam Clara dalam hati.


"Apaan sih lo Nin, seneng lo punya temen gila?"


"Lagian senyum-senyum sendiri."


"Udah ah, yuk masuk kelas."


Mereka berdua kembali kekelas mengikuti mata pelajaran berikutnya. Ternyata hari itu semua siswa pulang pagi karena para guru akan mengadakan rapat.


Tepat jam 11 bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Anin pun tergesa-gesa keluar kelas meninggalkan Clara yang masih merapikan buku. Saat Clara keluar kelas suasana sudah agak sepi. Tiba-tiba Samuel menghampirinya.


"Hay! " Sapa Samuel sambil menepuk pundak Clara dari belakang. Tentu hal itu membuat Clara kaget.


"Embooooookkkk!!!" teriak Clara dengan spontan.


"Hahahaha.... " Samuel tertawa melihat respon Clara saat sedang kaget.


"Gila lo ya Sam! Jantung gue udah mau salto."


Clara pun menjitak kepala Samuel.


"Busyet dah! Sakit Ara!" Samuel meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya. "Sial banget gue hari ini, dianiaya mulu sama cewek."


"Mau apa sih lo tumben nyamperin gue? " tanya Clara.


"Tapi lo jangan bilang sama Aldi ya."


"Tergantung!" ucap Clara sambil melipat tangan diatas perut.


"Nggak ada Trek gantung Ra adanya Trek gandeng."


Sebuah cubitan pun mendarat dilengan Samuel.


"Sekalian aja Trek tronton," sahut Clara.


Samuel yang melihat Clara mulai kesal hanya tersenyum.


"Kalo lo cuma mau ngajak bercanda mending gue cabut." Clara hendak melangkah meninggalkan Samuel tapi kemudian Samuel menarik tangan Clara masuk kedalam kelas.


"Sebentar Ra gue mau ngomong."


"Cepetan ngomong, gue udah ditunggu Aldi diparkiran."

__ADS_1


"Aldi masih ke toilet tadi."


"Trus lo mau ngomong apaan?"


" Gue minta nomor ponsel lo dong," ujar Samuel kemudian.


"Ya elah Sam. Dari tadi kek ngomongnya. Nggak pake muluk-muluk kaya kentut."


"Jadi boleh nich?" tanya Sam cengengesan.


"iya boleh, cepet catat!"


Clara menyebutkan nomornya yang kemudian dicatat oleh Samuel.


"Buat apa lo tiba-tiba minta nomer ponsel?" tanya Clara.


"Biar kita nggak lost contact aja Ra, sebentar lagi kan gue sama Aldi udah lulus duluan."


"Ya udah gue duluan Sam."


Clara pun bergegas keluar kelas untuk menuju parkiran.


"Thanks Ara," teriak Samuel saat Clara sudah melangkah agak jauh. Clara hanya tersenyum. Ia merasa aneh dan lucu dengan panggilan Ara.


Sebenarnya Samuel berbohong pada Clara tentang alasannya meminta nomornya. Semua itu dilakukan demi seseorang. Tentu ide untuk panggilan Ara bukanlah idenya.


Clara melangkahkan kakinya dengan riang. Menyusuri setiap lorong kelas. Sama halnya dengan murid-murid lain yang ingin segera pulang melepas penat. Baru beberapa langkah Clara memasuki parkiran, ada 2 siswi yang menghadangnya.


" Heeeee... Anak jalanan!" ucap siswi yang bernama Sari berdiri tepat dihadapan Clara.


"Mau apa lo?" Clara tampak tenang tapi ada rasa kesal dihatinya.


"Gue mau lo jauhin Aldi dan sekalian lo pergi dari sekolah ini," ujar siswi yang bernama Siska.


"Ooooh.... Jadi kalian merasa tersaingi sama gue. Jangan harap gue takut sama kalian. Minggir gue mau pulang."


Clara mencoba membelah jalan diantara Sari dan Siska. Namun langkahnya terhenti karena Siska menarik rambut Clara yang dikuncir kuda.


"Auwwwww!!!" Pekik Clara kesakitan.


Lalu ia berbalik dan reflek langsung menampar Siska. Tapi kemudian Siska membalas dengan menarik kepala Clara dan membenturkannya ke bamper mobil yang tepat ada disebelah mereka. Clara pun kembali melawan, ditariknya rambut Sari dan Siska lalu membuat kepala mereka saling berbenturan.


"Jangan kira gue lemah nggak bisa ngelawan kalian!" ucap Clara yang semakin terlihat emosi.


Tak ada yang berani membantu Clara karena mereka takut pada Sari dan Siska yang sok berkuasa.Para guru pun tak ada yang tau karena sedang ada diruang rapat.


Clara tidak ingin melanjutkan pertengkaran, ia ingin pergi. Tapi ternyata Sari mendorong Clara dari belakang hingga Clara terjatuh, lututnya berdarah.


"Rasain lo! Jangan harap menang melawan kita. Dan satu lagi lo itu cuma anak yang nggak diinginkan ibu lo," ucap Siska.


Clara masih bingung dengan ucapan Siska, kenapa Siska bisa bilang begitu. Apa Siska tahu sesuatu tentang dirinya. Mengingat dirinya dan Siska tinggal satu komplek.


Saat Clara merasa sudah tak bisa melawan lagi karena lututnya terluka, datang Fachri.


"Berhenti kalian! Masih sekolah sudah sok jagoan. Bubar semua!" seru Fachri dengan suara sangat tegas dan penuh penekanan. Semua siswa pun membubarkan diri.


"Saya antar ke UKS dulu Non, saya obati luka non Clara," ujar Fachri yang tampak kawatir melihat keadaan Clara tanpa berani menyentuhnya.


"Nggak perlu, gue mau pulang sekarang." Clara mencoba bangkit tapi ternyata sakit dilututnya tak mampu ia tahan.


Tubuh Clara jatuh ke arah Fachri.


"Astaghfirulloh Non!" Fachri reflek menerima tubuh Clara.


Untuk sesaat mereka saling menatap, lagi-lagi Fachri beristighfar karena hal itu bertentangan dengan keyakinannya.


Saat Fachri tiba-tiba melepas Clara, ada Samuel yang langsung meraih Clara.


"Gila lo ya Ri! Gue nggak bisa berdiri sendiri main lepas aja. Untung Samuel datang," umpat Clara kesal.


"Maafkan saya Non," ucap Fachri.


Aldi yang baru sampai diparkiran terkejut melihat keadaan Clara.


"Clara kenapa Sam?"


"Mana gue tau Al. Gue datang udah kayak gini," jawab Samuel.


"Gue dibully sama mantan pacar lo Al."


Aldi yang mendengar penuturan Clara terdiam. Ternyata semua gara-gara dirinya.


"Sam antar gue kemobil. Gue nggak bisa jalan ini," pinta Clara. Samuel pun membopong tubuh Clara membawanya kemobil yang ditunjuk Fachri.


Dalam perjalanan Fachri menawarkan untuk kedokter tapi Clara menolak. Pikiran dan hati Clara masih berkecamuk dengan berbagai pertanyaan. Mungkinkah Siska tahu sesuatu?

__ADS_1


__ADS_2