
Sekitar pukul 7 malam Steven dan Andi menuju sebuah restoran. Mereka sudah mengadakan janji dengan Tuan Adhitama untuk masalah pembangunan hotel.
Tak berselang lama orang yang ditunggu sudah datang. Mereka saling berjabat tangan dan saling memberi rangkulan persahabatan.
Kemudian Steven menjelaskan lebih detail kendala yang ia hadapi. Tuan Adhitama menganggukkan kepala mengerti.
"Aku akan mengirim keponakanku kekantor kalian besok. Kebetulan dia sedang ada dirumah. Semoga dia bisa membantu." ujar Tuan Adhitama.
"Terima kasih Tuan Adhitama. Bantuan Tuan sangat berarti bagi kami." ucap Steven.
"Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja nama depanku Stev. Dulu kau juga sangat berjasa pada perusahaanku. Tanpa bantuanmu beberapa tahun yang lalu aku tak mungkin bisa seperti sekarang."
Adam Adhitama kemudian menyeruput kopi yang sudah dipesankan Andi sebelumnya.
"Baiklah Adam. . .!"
"Begini kan lebih santai." Adam bersikap seramah mungkin pada Steven agar obrolan mereka lebih rileks.
Kemudian terdengar bunyi ponsel Steven berbunyi. Ada panggilan masuk dari putrinya.
"Hallo. Ada apa Ra?"
Steven dengan serius mendengarkan suara putrinya yang sedang berbicara.
"Kan ada Fachri dan Randi dirumah."
". . ."
"Iya nanti Daddy belikan. Sudah dulu ya Ra" Steven pun mengakhiri panggilannya.
"Itu tadi putrimu Stev?" Tanya Adam.
"Iya Dam. Dia minta dibelikan cake favoritnya."
Steven memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.
"Sepertinya putrimu satu sekolah dengan putraku. Di SMA Nusa Bakti."
"Iya benar itu Sekolah putriku. Dia baru kelas 1."
"Putraku lulus tahun ini. Kapan-kapan ajak putrimu berkunjung kerumah."
"Baiklah kalau ada waktu aku akan bekunjung."
Obrolan ringan mereka berakhir setelah Adam pamit. Steven juga mengajak Andi untuk membeli pesanan Clara.
****
Setelah sholat berjamaah dikamar, Fachri menyempatkan mengaji terlebih dahulu. Sedangkan Clara langsung melepas mukenanya, ia memilih rebahan diatas tempat tidur. Suara merdu Fachri mulai menggema dikamar. Clara merubah posisinya setelah mengambil ponsel dimeja.
Kini ia tengkurap disisi tempat tidur yang posisinya dekat dengan Fachri. Karena kebetulan mereka tadi sholat tepat disamping tempat tidur.
Clara diam-diam memotret Fachri yang masih berbalut baju koko dan memakai peci putihnya. Wajah Fachri sungguh mendamaikan hati siapa saja yang memandangnya. Apalagi lantunan kalam yang keluar dari bibirnya sungguh menyejukkan hati.
Tanpa disadari oleh Fachri,Clara mengabadikan momen itu. Sebenarnya, itu tidak perlu dilakukan Clara, setiap hari ia bisa menikmati momen seperti itu bersama Fachri. Tapi sepertinya Clara ingin membuat kenangan disetiap momen yang ia habiskan bersama suaminya.
Ketika Fachri sudah selesai dengan bacaan kalamNya, Clara segera menyudahi kegiatannya. Kemudian Fachri mengulurkan tangan pada istrinya.
Clara segera meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu. Fachri juga memberikan kecupan manis dikening istrinya.
Clara terkesiap dengan perlakuan manis suaminya. Dulu rasanya Fachri hanyalah orang asing yang datang sebagai supir sekaligus bodyguardnya. Laki-laki yang dipilih ayahnya untuk menjaga dirinya.
Dan kini Fachri bukan hanya menjaga dirinya. Tapi juga hatinya.
Sesaat Clara merasa terbuai oleh perlakuan Fachri. Akan tetapi seperti ada jarak yang membuat Clara ingin mundur dari rasa yang menyentuh relung hatinya. Ingin ia membuang jauh-jauh rasa itu. Dirinya bukan lagi wanita yang sempurna. Bukan wanita yang pantas bersanding dengan laki-laki sempurna seperti Fachri.
Clara segera duduk ditepi ranjang, menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Hal itu tak luput dari pandangan Fachri yang sedang merapikan sajadahnya.
Tiba-tiba tubuh Clara terasa bergetar. Bayangan kejadian kelam itu kembali datang. Clara memeluk lututnya sambil terisak. Pikirannya seolah-olah kembali berada dalam kejadian itu lagi. Kejadian yang berhasil menyakiti jiwa dan raganya.
Fachri langsung mendekap tubuh Clara. Kembali mencoba membantu Clara melawan traumanya.
"Tenang Clara, ada aku disini. Kamu tidak perlu takut lagi."
"Aku hanya gadis kotor Fachri. Aku tidak pantas untuk kamu." Ucap Clara.
Fachri merenggangkan dekapannya. "Jangan pernah bilang seperti itu lagi Clara. Jangan pernah. . .!" Tangan kokoh Fachri mengusap lembut air mata yang turun kepipi manis istrinya. "Aku kan sudah bilang Clara, kamu tetaplah mawar yang indah untukku. Aku akan menjaga mawarku dengan Cinta-Nya.Tak akan kubiarkan mawarku layu. Akan kubuat ia selalu menebarkan keharuman cinta."
Fachri menggenggam tangan Clara untuk menyentuh dadanya sambil berucap. "Jiwa ini ada untuk kamu Clara." Lalu berbalik membimbing tangan Clara kedadanya sendiri.
__ADS_1
Fachri kembali memeluk Clara. "Jangan menangis lagi, atau aku juga akan ikut merana karena air matamu. Dukamu telah merasuk menjadi nestapa bagiku."
Clara semakin terisak mendengar penuturan Fachri. Tak ada kata yang bisa ia ungkapkan. Hanya air mata yang mewakili gejolak hatinya. Kesedihan, rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu.
Pelukan hangat Fachri telah menenggelamkan Clara dalam samudera ketenangan. Tiada yang bisa menggantikan rasa itu.
Suara ketukan pintu membuat Clara cepat-cepat menghapus air matanya.
"Non Clara ditunggu Tuan dibawah. Kamu juga Fachri." suara Randi terdengar dari balik pintu.
Fachri segera menyahuti ucapan Randi. "Iya Rand, sebentar lagi kita turun."
Clara bergegas kekamar mandi mencuci mukanya agar terlihat segar.
Setelah itu ia segera turun bersama Fachri.
"Kamu habis nangis?" Tanya Steven pada putrinya setelah memberikan kecupan sayang dikening Clara.
Sekilas Steven melirik kearah Fachri yang masih berdiri disamping mereka.
Fachri hanya memasang wajah tenangnya. Walau ia tahu ayah mertuanya memberi tatapan intimidasi.
"Sedikit Dad. Karena tadi Clara nonton drama sedih dikamar bersama Fachri. Jadi kebawa suasana." jawab Clara sedikit berbohong. Padahal tadi memang ada sedikit drama antara dua anak manusia yang mencoba saling menguatkan. Berakhir dengan tetesan air mata keharuan.
Kemudian Clara duduk disofa bersama ayahnya. Begitu juga dengan Fachri.
"Ini pesanan kamu tadi. The intense valrhona." Steven menyodorkan box berisi kue pesanan putrinya. Kue itu terdiri dari 70 persen Valrhona dark chocolate. Dengan vanila ice cream. Kue itu adalah salah satu dessert dari restoran prancis yang ada dijakarta. Steven harus memesan secara khusus kue itu dengan ukuran jumbo. Sesuai permintaan putrinya.
"Thanks daddy. . .!" Clara menerimanya dengan senang hati. Salah satu pelampiasan emosinya adalah dengan makan kue coklat.
"Daddy pinjam Fachri sebentar. Ada hal yang harus Daddy bicarakan."
"Ok Dad. Clara kekamar dulu." Clara pun bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Fachri dan ayahnya yang sudah menuju ruang kerja.
Clara melihat Randi sedang ada diruang keluarga sibuk dengan laptop dihadapannya. Ia pun memanggil Randi agar ikut naik keatas.
"Ada apa Non ngajak saya keatas? Saya nggak enak sama Fachri." ujar Randi yang sudah ada dibelakang Clara.
"Ayo ikut saja. Temenin gue makan kue."
Clara membuka pintu kamarnya, mengajak Randi masuk.
Clara dan Randi duduk dibawah beralaskan karpet lembut sambil membuka box kue.
Clara menikmati setiap potong kue yang masuk kemulutnya. Sesekali ia menyuapkan potongan kue ke mulut Randi.
"Sudah Non. Non makan sendiri kuenya. Bagi saya ini pahit Non." ujar Randi menolak suapan dari Clara. Kue yang terbuat dari 70 persen dark chocolate memang agak sedikit pahit. Tapi pahitnya seimbang dengan adanya kenikmatan dari kue browniesnya.
"Ini lezat lho Rand." Clara kembali menyuapkan sepotong kue kemulutnya.
"Iya lezat bagi Non yang sedang galau. Saya juga kena imbasnya akibat kegalauan Non ini."
Clara hanya tersenyum tipis mendengar keluhan Randi yang memang tak suka dark chocolate. Bagi Clara itu adalah caranya mendapat goodmod.
"Non udah dapat jawaban belum?" tanya Randi kemudian.
"Jawaban apa?" Clara mengambil tisu mengelap mulutnya yang mungkin kotor karena coklat.
"Mau belajar pikun Non." Seru Randi. "Tebakan Fachri yang tadi sore itu lho Non."
"Eh iya, gue lupa Rand."
"Jawabanya mungkin "Cinta" itu Non." Randi mencoba menerka jawaban sendiri.
"Bukan dech menurut gue Rand." ujar Clara.
Clara juga tampak berpikir. Kemudian ia dan Randi saling berdebat tentang jawaban yang mungkin saja benar. Mulai dari kata perasaan, cinta, cemburu, rindu dan sebagainya.
Perdebatan berlangsung hingga Fachri kembali kekamar.
"Sedang ribut apa kalian?" Tanya Fachri.
"Ngeributin jawaban tebakan kamu tadi sore. Kasih dong Ri jawabannya." ucap Randi.
"Masih penasaran aja sama tebakan itu." Fachri kemudian ikut duduk diantara Clara dan Randi.
"Jawabannya rasa rindu kan Ri." ujar Clara.
"Bukan Ra. Kalau rasa rindu meskipun diungkapkan tidak akan bisa hilang. Masih tetap ada rasa rindunya."
__ADS_1
"Tapi kan kalau ketemu yang dirindukan akan hilang rindunya."
"Itu kan pake objek jadinya Ra. Sedangkan tebakanku kan. Hanya dengan diungkapkan sesuatu itu akan hilang. Tidak perlu objek atau media untuk menyalurkan sesuatu itu agar hilang." Terang Fachri.
"Kalau begitu Cinta Ri jawabannya." sahut Randi.
"Cinta pun tak akan hilang walau sudah diungkapkan. Malah akan bertambah besar cinta itu. Bukannya malah hilang."
"Rasa cemburu dech Ri." Ujar Clara mencoba menebak lagi.
"Begitupun rasa cemburu. Tak akan hilang walau sudah diungkapkan. Semisal gini Ra kalau kamu bilang " aku cemburu sama dia".
Apakah rasa cemburu itu bisa hilang walau kamu sudah mengatakannya. Tidak kan, rasa cemburu akan tetap ada."
"Rasa kecewa bagaimana?" tanya Randi lagi.
"Sama saja bukan jawabannya Rand. Walau kamu bilang kecewa, tapi kecewa akan tetap tertinggal dihati. Nggak hilang."
"Terus jawabannya apa dong Ri? aku dah nggak bisa mikir. Dijawab ini itu bukan."
"Rahasia" Jawab Fachri singkat.
"Apa-apaan ini Ri maen rahasia-rahasiaan. Kita tuch dah puyeng Ri. Hampir mati penasaran nunggu jawaban dari kamu." ujar Randi yang terkesan lebay.
"Gue nggak ya Rand." sahut Clara.
"Non belain saya napa? Biar dikasih jawaban sama Fachri."
"Kan aku udah bilang Rand. Jawabannya rahasia." ucap Fachri lagi. Kemudian ia menyandarkan punggungnya disisi ranjang sambil memperhatikan reaksi Clara dan Randi.
"Kalau jawabannya rahasia ngapain kamu kasih tebakan ke kita Ri. Bikin kita mikir aja. Ujung-ujungnya nggak dikasih tau juga jawabannya." Gerutu Randi yang tampak mulai kesal.
Namun Fachri malah tersenyum mendengar temannya terpancing emosi. Padahal dia sudah mengatakan jawabannya. Tapi Randi tidak bisa menangkap kata-kata yang ia ucapakan tadi.
Clara sendiri masih berpikir, mencoba memahami kata-kata Fachri barusan.
Sesuatu yang ada tapi tidak tampak, tidak berwujud
Bila diungkapkan sesuatu itu menjadi tidak ada
Bila tidak diungkapkan sesuatu itu tetap ada
Clara bergumam sendiri mengulangi pertanyaan dari Fachri kemarin.
"Lo dengerin gue dech Rand. Jawabannya memang bener "Rahasia". Coba pikir sesuatu yang diungkapkan jadi tidak ada. Sama halnya dengan rahasia, yang bila diungkapkan maka tidak akan ada lagi yang namanya rahasia. Karena rahasia sudah terungkap.
Dan rahasia akan tetap ada bila tidak diungkapkan atau dalam artian tidak diberitahukan pada orang lain." ucap Clara memberi penjelasan.
"Nah itu Clara aja paham kan Rand." Fachri membenarkan penjelasan Clara.
"Astaga Fachri. . .! Jawabannya ternyata gitu doang. Aku mikirnya sampai kelaut." Randi tepok jidat sendiri saking kesalnya.
"Siapa suruh kamu mikirnya sampai kelaut. Mikirnya disini aja kan bisa."
"Kutu kupret emang kamu Ri." umpat Randi yang hanya bercanda.
Fachri pun hanya tertawa ringan sambil berlalu.
"Mau kemana Ri?" Teriak Randi.
" Mau ngambil barang-barang ku dibawah." jawab fachri sambil terus melangkah.
.
.
.
.
.
*Ucapan simple seperti, Tolong, Maaf, Terimakasih, Semangat, Jangan menyerah.
Kamu bisa membuat seseorang merasa lebih berguna dan lebih dihargai.
Hanya sesimple itu, Maka jangan gengsi untuk mengucapkannya*.
.
__ADS_1