
Pagi itu Clara berada ditaman belakang, duduk sendirian diayunan sambil senyum-senyum menatap Hp ditangannya. Salah satu tangan menyuapkan roti kemulutnya
"Lagi chat an sama siapa Non? sampai nyaingin orang gila," tegur Randi. Kemudian juga ikut duduk.
"Syirik aja Lo, gue lagi main tebak-tebakan sama Samuel," jawab Clara.
"Samuel. . .???" Randi tampak mengerutkan kening mencoba mengingat siapa Samuel.
"Dia temen gue temennya Aldi juga," sahut Clara, mengerti raut wajah Randi yang ingin tahu.
"Saya kira pacar baru Non. Bisa nambah saingan si Fachri."
"Ngomong paan sih Lo Rand."
"Masih nggak mau ngakuin kalo mulai ada virus merah jambu buat Aa' Fachri," goda Randi.
"Virusnya masih buat Aldi."
"Palingan nggak lama dah ilang virus buat Al. . . "
Tiba-tiba Clara memasukkan sepotong roti kedalam mulut Randi. Membuatnya tak bisa melanjutkan kata yang belum selesai diucapkan.
"Makan aja tuch roti biar nggak nglantur omongan Lo."
Clara kembali melihat layar ponselnya. Membaca tebakan yang belum ia jawab.
"Nggak mau turun kalau belum membawa merica satu kantong. Apaan ya?" ujar Clara sambil memikirkan jawabannya.
"Maling lah Non," sahut Randi.
"Mana ada maling merica, cuma satu kantong doang rugi malingnya."
"Kata kuncinya apa dulu Non?" tanya Randi.
Clara pun mengetik pertanyaan untuk kata kunci jawaban dari tebakan itu.
"Nama buah Rand," ucap Clara.
"Apa ya. . .?" Randi juga ikut berpikir.
"Jambu biji kali Non. Kan ada bijinya yang mirip merica," ujar Randi kemudian.
Clara mengetik jawaban Randi lalu mengirim pada Samuel.
"Bukan Randi katanya kalo jambu biji melekat dibuah bijinya. Jawabannya yang bijinya nggak terlalu melekat dibuahnya."
" Non pikir sendiri dech. Kan Non yang pinter. Otak saya pas-pasan ini," ujar Randi nyerah karena tak mau pusing.
"Coba tanyain Fachri aja Rand?" usul Clara.
"Fachri lagi ikut tuan ngurus proyek. Ada masalah yang harus diselesaikan Fachri."
" Eh iya, baru ngeh gue. Biasanya Lo kan sudah nggak ada jam segini."
"Saya ganti jagain Non untuk beberapa hari kedepan. Awas jangan bikin saya pusing Non. Harap kerjasamanya dengan baik Nona Clara," ujar Randi sok ngedrama.
"Iya Randi. Gue usahakan."
Jawaban Clara membuat Randi lega tapi ia harus tetap waspada jika sewaktu-waktu Clara akan mengelabuhinya lagi.
"Trus jawabannya ini apa Randi?"
Clara masih belum menemukan jawaban.
"Popeye Non," ucap Randi asal. Sudah pusing ikut main tebak tebakan.
"Gue tahu Rand. Jawabannya pasti pepaya," ujar Clara yang dapat ide dari ucapan ngasal Randi.
Clara segera mengetik jawabannya. Tak lama sudah ada balasan dari Samuel.
"Tuch kan bener Rand, jawabannya pepaya."
Randi hanya menggelengkan kepala heran melihat Clara yang asyik dengan teman chatnya.
"Oh ya, Samuel kok bisa chat an sama gue ya. Kan dia ujian hari ini!"
"Lagi istirahat mungkin Non," sahut Randi.
"Bisa jadi begitu."
__ADS_1
Kemudian Randi bangkit dan berlalu. Clara juga mengikuti tubuh tegap Randi. Laki- laki yang sejak dulu menjadi temannya kini sudah beranjak di usia 20 tahun. Randi sudah mulai terlihat dewasa. Pastinya banyak perempuan yang tertarik pada Randi.
"Lo udah punya pacar Rand?" tanya Clara sambil mengikuti langkah Randi.
"Belum Non."
"Kenapa kan Lo lumayan ganteng?"
"Sekarang modal tampang doang kagak cukup Non isi dompet juga harus mendukung."
Clara pun tertawa. "Cewek jaman sekarang memang pinter Rand. Mereka juga nggak mau dibilang matre karena untuk tampil cantik juga butuh modal banyak. Karena itu mereka akan melihat dulu isi dompet calon pasangannya. Sebagian para wanita pun berpikir realistis karena mereka tak bisa kenyang jika hanya makan cinta. Maka dari itu Ran lo harus bekerja keras biar kelak bisa bahagiain wanita yang lo suka."
" Sok tau!" ujar Randi sambil mengacak rambut Clara.
"Dari yang gue baca di instagram kayak gitu Randi," ujar Clara sambil merapikan rambutnya.
"Saya mau cari cewek yang sederhana saja Non. Yang tulus sama saya tanpa memandang status saya. Cewek di kampus banyak yang ngejar saya karena bawa mobil mewah milik Tuan. Begitu mereka tahu saya cuma supir dan mobil itu bukan milik saya, pada kabur Non."
Clara pun semakin tertawa lebar mendengar penuturan Randi.
Mungkin memang akan ada cewek yang berhati tulus tanpa memandang materi. Tapi kemungkinannya juga tipis. Satu diantara seribu mungkin.
"Ketawa aja terus Non!"
Clara masih menikmati tawanya menggoda Randi. Kemudian ia mengajak Randi pergi berbelanja kesalah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar dikotanya.
*****
"Non saya punya tebakan," ujar Randi yang sedang menyetir.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan.
"Apa?"
" Masuk menari-nari keluar membawa harta karun. Apa coba?"
"Penyanyi dangdut."
"Bukan Non."
"Penari Jaipong."
"Aladin."
"Aladin mah gosok-gosok lampu ajaib Non." Randi masih fokus dengan setir dan pandangan lurus kedepan.
"Kan dia juga disuruh nyari harta karun."
"Bukan harta karun yang itu non maksudnya"
" Terus harta karun apaan Rand? Kasih tau aja jawabannya," ujar Clara yang tampak tak sabar lagi.
Randi belum menjawab, ia fokus dengan kemudinya. Mencari tempat parkir karena mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Gini nih Non." Lalu Randi memperagakan jawaban dari tebakannya tadi.
Jari telunjuknya ia masukkan kesalah satu lubang hidung lalu mengorek sesuatu didalamnya. Setelah dapat ia menunjukkan pada Clara.
"Ini Non harta karunnya." Randi menjulurkan jari telunjuknya pada Clara. Sudah tentu harta karun yang dimaksud adalah upil.
"Jorok banget sih Lo Rand. Buang nggak!" ujar Clara setengah berteriak.
Bergidik ngeri dan jijik dengan ulah Randi.
"Udah tau Non jawabannya?" tanya Randi lalu membuang upilnya keluar.
Randi tersenyum bangga berhasil lagi mengerjai Clara.
" Iya gue udah tau. Orang ngupil kan jawabannya!"
"Hehehehe!" Randi malah cengengesan kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara.
Mereka berdua pun masuk keswalayan itu. Menyusuri setiap penjual yang ada. Randi hanya mengekor pada Clara, kemana pun gadis itu melangkah Randi mengikuti. Clara masuk ketoko baju muslimah. Randi merasa heran apa yang akan Clara lakukan disana.
Ternyata Clara membeli beberapa potong baju muslimah dengan tren terbaru. Sebelumnya Clara sudah browsing model baju muslim kekinian agar ia bisa memilih baju yang tepat.
"Nggak sekalian beli hijab Non?" tanya Randi.
"Nggak dulu Rand gue belum siap berhijab. Ini gue belajar pake baju ala-ala hijabers butuh tekad untuk memantapkan hati," ujar Clara.
__ADS_1
Mereka berdua kini berada disalah satu cafe yang ada didalam Swalayan itu.
"Pelan-pelan saja Non. Yang penting itu dari diri Non sendiri. Bukan karena seseorang."
Perkataan Randi sempat mengusik perasaan Clara. Ia sendiri bimbang apakah ia melakukan itu karena seseorang atau karena kemauannya sendiri?
Clara terdiam. Dia lebih memilih diam sambil menikmati makanan yang sudah ia pesan.
Randi sendiri sudah paham dengan sifat Clara. Gadis itu sedang jatuh cinta. Walau ia sendiri sering mengatakan tidak. Karena merasa sudah memiliki kekasih.
Clara dan Randi berjalan menuju pintu keluar. Tapi langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan dua orang yang sangat mereka kenal. Dua orang itu baru saja masuk dan berjalan ditengah keramaian pengunjung lainnya.
"Mama!" panggil Clara. Matanya sudah menganak sungai tak percaya dengan apa yang dilihat. Seseorang yang sangat ia rindukan.
Wanita yang ia panggil mama pun menoleh. Keterkejutan juga tampak jelas dari raut wajah wanita itu. Begitu juga pemuda disamping wanita itu. Ia juga terkejut.
"Clara!" ucap keduanya hampir bersamaan.
Clara masih membeku ditempat ia berdiri. Air mata sudah mengalir membasahi wajah manisnya.
Wanita itu berjalan mendekat diikuti pemuda yang tadi bersamanya.
Perlahan wanita itu menangkupkan kedua tangannya diwajah Clara. Hampir lima tahun ia tak melihat wajah itu. Rasa bersalah tiba-tiba muncul. Wanita itu langsung memeluk Clara. Ingin rasanya ia menebus kesalahan yang pernah ia lakukan pada gadis dalam pelukannya.
"Mama pulang Ma!" ujar Clara masih dalam pelukan mamanya. Untuk pertama kalinya ia mendapat pelukan dari wanita yang ia sebut mama.
Seingat Clara dulu wanita ini tak pernah mau memeluknya.
Haru bercampur bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Bisa merasakan pelukan hangat seorang Ibu.
Wanita itu melepas pelukannya. "Maaf Clara Mama tidak bisa," ujarnya kemudian. Dengan berderai air mata wanita itu berlari meninggalkan Clara. Tak sanggup jika lama-lama bersama gadis yang sudah ia sia-siakan dulu.
"Kakak, ajak mama pulang Kak. Clara mohon!" Clara semakin terisak dalam tangisannya.
Pemuda yang ia panggil kakak segera memeluknya.
"Maaf Clara! Mama masih butuh waktu untuk sendiri." Perlahan pelukan itu ia lepas lalu memegang kedua pundak Clara.
"Dengerin kakak Ra. Suatu saat kami pasti pulang. Kamu jaga papa dan kakak jaga mama. Kita pasti bisa melewati semua ini. Kamu harus yakin Clara. Kamu gadis yang kuat." Clara hanya mengangguk mendengar penuturan sang kakak.
Satu kecupan sayang mendarat dikeningnya.
"Kakak sayang kamu Clara." Lalu sang kakak beralih menepuk bahu Randi.
"Tolong jaga adek gue Rand!"
Randi mengangguk mengiyakan. Tanpa diminta pun Randi sudah menjaga Clara dengan baik.
Kemudian pemuda itu berlalu meninggalkan Clara untuk menyusul mamanya.
Clara masih tenggelam dalam tangisannya. Randi menjatuhkan barang bawaannya lalu menenggelamkan Clara dalam dekapannya. Setidaknya itu bisa memberi gadis itu kekuatan dan ketenangan.
Orang-orang yang berlalu lalang hanya menatap sebentar kejadian yang mereka lihat. Seperti menonton sebuah drama gratis.
Setelah Clara agak tenang Randi menuntunnya keluar.
Dalam perjalanan pulang Clara hanya diam. Menatap kearah luar kaca mobil dengan tatapan kosong. Matanya masih sembab. Mengisyaratkan betapa kacaunya gadis itu sekarang.
Randi sendiri bingung, sejak kapan mereka kembali ke Indonesia. Karena setahu Randi sejak pergi dari rumah mereka pergi keluar negeri.
****
Sejak pertemuan hari itu Clara hanya berdiam diri dikamarnya. Seharian Clara tak mau keluar kamar. Randi menghubungi Fachri, ternyata dia dan tuan Steven sedang diluar kota.
Hari libur Clara berlalu dalam kesunyian. Makan pun Randi dan Bik Nani yang harus memaksa.
Sudah 4 hari Fachri dan Steven berada diluar kota. Melebihi rencana mereka yang awalnya hanya 2 hari. Saat ditanya keadaan Clara, Randi hanya menjawab baik-baik saja. Kalau ia jujur takut akan mengganggu pekerjaan mereka.
.
.
.
Semoga Allah Melembutkan Hati Kita di Tengah Kerasnya Situasi
.
Jangan lupa Like n Comentnya!
__ADS_1