ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Bunga


__ADS_3

"Non nanti sekolah diantar Fachri. Tadi malam Tuan dan Fachri sudah kembali." Ujar Randi. Ia duduk disamping Clara yang masih sibuk memasang sepatunya.


Masih jelas sisa-sisa kesedihan diraut wajah Clara. Wajahnya tampak sayu, cekungan dibawah kelopak mata juga terlihat jelas. Beberapa hari tak nafsu makan membuat Clara sudah tampak lebih kurus.


"Sampai kapan Non akan terus begini? Mana Clara yang selalu tegar, yang selalu ceria. Saya rindu Non Clara yang dulu."


Clara menoleh kearah Randi dan menepuk bahunya. "Lo tenang aja Rand gue nggak papa. Ada kalanya hati gue butuh waktu untuk bisa kembali melihat kenyataan hidup."


Lalu Clara mengambil tas sekolahnya dan keluar dari kamar. Randi mengikuti dari belakang.


Dibawah sudah ada ayahnya dimeja makan. Clara tampak ragu mendekati sang ayah.


"Clara berangkat sekolah dulu ya Dad. . !" Clara meraih tangan ayahnya lalu mencium punggung tangan kokoh ayahnya itu.


"Kamu tidak sarapan dulu?"


"Clara makan dikantin saja dad."


Clara meninggalkan ayahnya yang masih tampak heran. Steven merasa ada yang aneh dengan keadaan Clara.


"Randi katakan apa yang terjadi pada Clara selama saya pergi. . .!" Perintah Steven tanpa basa basi. Ia tahu pasti terjadi sesuatu.


"Maaf tuan. Kemarin saya dan non Clara bertemu dengan Nyonya Olivia dan putra Tuan di pusat perbelanjaan. Sejak hari itu Non Clara mengurung diri dikamar. Saya hendak menghubungi tuan tapi saya takut mengganggu pekerjaan anda." jawab Randi.


"Kenapa kamu tidak langsung menghubungi saya. Kamu tau kan Clara bagi saya lebih penting dari apapun."


"Maafkan saya Tuan."


Randi hanya bisa meminta maaf karena kelalaiannya.


****


Selama perjalanan kesekolah Clara tak buka suara. Fachri mengerti suasana hati Clara sekarang, karena semalam Randi sudah bercerita padanya.


"Non yakin hari ini tetap kesekolah? Kalau tidak saya bisa antar Non untuk jalan-jalan." ujar Fachri membuka percakapan.


"Terserah. . .!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Clara.


"Kalau begitu terserah saya ya mau ngajak Non kemana."


Clara tak menanggapi. Fachri pun mengajak Clara mencari sarapan terlebih dahulu. Ia tahu gadis itu pasti belum makan. Randi bilang Clara susah diajak makan karena masih larut dalam kesedihannya.


Setelah selesai makan, Fachri pun melajukan mobilnya ketempat yang ingin ia kunjungi. Berharap Clara akan sedikit terhibur. Fachri sendiri tak tega melihat Clara yang tampak tak bersemangat. Biasanya gadis itu banyak bicara. Tak jarang juga menjahili dirinya.


Fachri menyempatkan mampir ketoko untuk membeli beberapa cemilan.


Saat kembali ke mobil Fachri membawa 2 kantong kresek besar yang ia taruh dijok belakang. Lalu kembali ke kursi pengemudi.


"Ini buat Nona Manis." Fachri memberikan permen lollipop berbentuk hati pada Clara.


Clara hanya menatap Fachri heran.


"Dikira gue anak kecil dikasih permen" Gumam hati Clara.


"Mau nggak nich Non. . .?" tanya Fachri memastikan karena Clara hanya diam menatap dirinya. " Kalau nggak mau ya sudah" ujar Fachri kemudian hendak menarik kembali tangannya yang memegang lollipop.


Tapi dengan cepat Clara mengambil permen ditangan Fachri lalu memasukkannya kedalam tas tanpa berkata apapun.


Fachri hanya tersenyum melihat Clara. Setidaknya Clara merespon perhatian darinya.


Ternyata Fachri mengajak Clara ke Panti Asuhan tempat ia tinggal dulu.


"Hallo adek-adek. . . !" Sapa Fachri dengan ramah pada sekerumunan anak-anak yang sedang belajar.


"Kak Fachri. . . !" Teriak anak-anak itu serentak lalu berhamburan menyalami Fachri.


Clara yang berdiri disamping juga mendapat jabatan hangat para anak kecil itu.


"Kakak cantik pacarnya Kak Fachri ya?" tanya salah satu anak perempuan.


Clara pun terkejut dengan pertanyaan anak itu. Fachri langsung memberi isyarat untuk diam pada gadis yang bertanya. Lalu ia membungkuk membisikkan sesuatu ketelinga gadis tadi.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka sepakat membentuk huruf O dengan jari masing-masing.


"Ok. . !" ucap Fachri pada gadis kecil.


"Ok" jawab gadis itu.


Clara hanya mengernyitkan dahi tak mengerti apa yang dibisikkan Fachri.


Kemudian datang wanita paruh baya menyambut kedatangan keduanya.


" Ibu senang kamu berkunjung Fachri"


Fachri pun langsung membungkuk menyalami wanita yang datang menyapanya. Dia adalah ibu panti yang mengurus anak-anak kurang beruntung yang ada disana.


"Kenalkan Bu ini Non Clara" ujar Fachri mengenalkan gadis disampingnya pada ibu panti.


Clara pun langsung menyalami ibu panti dengan senyum ramah. Walau dengan senyum yang sedikit ia paksakan.


"Wah ini yang namanya Non Clara. Cantik sekali." puji ibu panti.


Clara pun tersenyum mendengar dirinya dipuji. Lalu Fachri mengajak Clara berkeliling melihat setiap sudut bangunan di panti. Sambil menjelaskan setiap kamar yang mereka lihat. Clara tak menyangka ternyata begini kehidupan Fachri sebelumnya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup serba mewah.


Kemudian Fachri mengajak Clara bergabung dengan anak-anak yang sedang membuat bunga dari kertas warna. Ia mengajari Clara membuat bunga seperti yang lain. Setidaknya kegiatan yang dilakukan Clara sekarang bisa mengalihkan rasa sedihnya.


Fachri beranjak saat ibu panti memanggilanya. Clara masih asyik membuat bunga bersama para makhluk kecil yang menurutnya cukup menyenangkan.


"Fachri apa kamu sudah mengambil keputusan atas permintaan Tuan Stev tempo hari?" Tanya ibu panti.


Mereka saat ini ada diruangan yang tak jauh dari tempat Clara dan anak-anak yang lain.


" Belum Bu."


"Kamu mau menunggu apalagi Fachri, lihatlah gadis itu dia sangat sempurna untuk kamu." ujar ibu panti sambil menatap kearah Clara yang terlihat jelas dari balik jendela.


" Dia juga bisa berbaur dengan kita. Hanya dengan kamu menyetujui permintaan Tuan Stev kita bisa membalas budi baiknya selama ini." Lanjutnya.


"Iya Bu saya mengerti. Tapi saya tidak mau hubungan itu terjalin tanpa Cinta."


"Ibu do'akan saja semua bisa berjalan sesuai keinginan saya. Dan hubungan kami nantinya benar-benar karena Allah yang telah menyatukan kami dalam ikatan suci."


Ibu panti pun mengangguk mencoba memahami pemikiran Fachri. Dia percaya Fachri bisa melakukan yang terbaik untuk masa depannya.


Lalu Fachri kembali bergabung dengan Clara lagi. Ia membuat satu buket bunga dengan kertas yang berwarna merah muda, setelah jadi Fachri menyimpannya. Clara mengira bunga itu untuk dirinya. Tapi ternyata dugaannya salah.


"Non mari ikut saya, ada yang ingin saya tunjukkan."


Clara pun mengikuti langkah Fachri. Setelah berjalan memutari panti sampailah mereka pada sebuah danau kecil dibelakang panti tersebut.


Ada bunga warna warni yang tumbuh disekitar danau. Sehingga danau kecil itu tampak asri. Fachri mengajak Clara duduk dibangku yang tersedia disana.


"Ini yang menanam bunga anak panti Ri?" Tanya Clara terlihat sumringah dengan pemandangan yang ada didepan matanya sekarang.


"Iya Non. Dulu saya dan pengurus panti yang lain dibantu juga sama anak-anak kemudian jadilah danau ini seperti sekarang."


Clara terlihat mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan yang ada.


Tanpa sadar Fachri tengah menatap Clara. Melihat gadis itu ceria lagi, membuat hatinya merasa lega.


"Ngapain lihatin gue kayak gitu Ri?" ucapan Clara membuat Fachri tersadar dari lamunannya.


"Seneng aja bisa lihat Non ceria lagi."


"Gue kan cuma manusia biasa Ri. Yang bisa merasakan sedih dan bahagia."


"Non tau nggak kenapa hidup kita selalu beriringan dengan kesedihan dan kebahagiaan?" Tanya Fachri tanpa menatap Clara.


Karena gadis itu kini tengah menatap dirinya. Fachri tak ingin terlibat adu pandang.


Pandangannya kini hanya lurus kedepan.


Tanpa Fachri sadari ternyata Clara memotret dirinya secara sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


"Kenapa coba?" tanya Clara kemudian.


"Karena kalau setiap cerita dalam hidup kita indah.


Hati kita tak akan pernah mengenal yang namanya sabar dan ikhlas.


Kalau setiap keinginan kita maunya dikabulkan.


Maka kita tak akan pernah merasakan indahnya mendekati Allah bersama jutaan doa dan harapan.


Sedangkan, ketika yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, yang menurut kita buruk belum tentu buruk menurut Allah. Bisa jadi yang bertentangan dengan keinginan kita adalah yang terbaik.


Kalau setiap harapan kita selalu berjalan sesuai rencana.


Maka kita tak akan pernah belajar bahwa kecewa itu akan menguatkan jiwa kita."


Clara mendengarkan kalimat yang diucapkan Fachri dengan seksama. Setiap ucapan Fachri seperti menjadi penyembuh luka dalam hatinya. Kalimat yang selalu bisa memberi ia kekuatan. Memberinya ketenangan jiwa. Memberi kesejukan dalam hatinya.


Hari sudah semakin siang. Fachri mengajak Clara kembali kepanti untuk sholat dhuhur. Lalu mengajaknya pulang.


Mereka berpamitan pada ibu panti dan anak-anak disana. Salah satu gadis kecil mendekati Clara.


"Kakak cantik kapan-kapan kesini lagi ya. Kita buat bunga kertas bareng-bareng." ujar gadis kecil itu.


"Iya nanti kakak minta sama kak Fachri buat nganter kesini lagi." Clara mengusap lembut rambut gadis didepannya.


Fachri tampak mengambil oleh-oleh yang tadi dibelinya. Memberikannya pada anak-anak yang sangat antusias menerima pemberian sederhana itu.


Clara dan Fachri masuk kemobil.


Mobil pun mulai melaju perlahan meninggalkan halaman panti. Clara masih menatap penghuni panti yang telah mengajarkan ia bagaimana hidup dalam kesederhanaan. Seharusnya ia bersyukur masih mempunyai ayah dan orang-orang yang menyayangi dirinya.


***


Tak terasa mereka sudah sampai dihalaman rumah. Sebelum turun Fachri memberi Clara sesuatu.


"Ini buat Non" Fachri memberikan bunga kertas yang tadi ia rangkai. Clara tampak tak percaya. Karena ia mengira itu untuk orang lain.


"Maaf saya hanya memberi bunga kertas. Bunga ini tak akan layu asalkan Non tidak mencucinya." ujar Fachri yang kemudian diiringi tawa. Untuk pertama kali hal konyol itu ia lakukan.


Clara pun ikut tertawa. "Nggak akan gue cuci Fachri."


Mereka pun masuk kedalam rumah, masih diiringi dengan tawa ringan dari keduanya.


Randi yang sudah ada dirumah pun merasa heran melihat Clara sudah kembali ceria.


"Kamu kasih obat apaan Non Clara? Bisa langsung berubah gitu dalam setengah hari" Tanya Randi.


Clara sudah lebih dulu naik kekamarnya.


"Aku kasih obat abit" jawab Fachri sekenanya. Ia pun juga menuju kamarnya.


"Obat abit apaan Ri. Memangnya angin yang bisa mobat mabit." Teriak Randi melihat Fachri sudah menjauh.


"Obat abit apaan maksud Fachri. Kagak nyambung dech perasaan." Gumam Randi sendirian.


Kemudian ia meraih kunci mobil diatas meja. Berangkat kekantor untuk menjemput Tuannya.


.


.


.


.


Hallo. . . Hallo. . .!


Jangan lupa tinggalin jejak kalian para readers. . ..!


.

__ADS_1


__ADS_2