ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Hati Yang Patah


__ADS_3

Dirumah keluarga Adhitama


Pagi ini Samuel dikejutkan dengan adanya Guntur yang tiba-tiba tidur disebelahnya.


"Sejak kapan Lo disini Kak?" tanya Samuel yang baru membuka matanya.


"Tadi malam" jawab guntur malas tanpa membuka matanya. Pria itu tidur sambil tengkurap.


"Jadi habis nerima pesan gue, Lo langsung kesini?" tanya Samuel heran.


"Iya" Kini Guntur membalikkan badannya jadi terlentang. Tapi matanya masih terpejam.


"Gila Lo kak. . .!"


"Aku emang udah gila"


"Patah hati boleh kak tapi jangan gila juga."


Samuel bangkit dari tidurnya lalu menuju kamar mandi. Kakak sepupunya itu masih melanjutkan tidur, entah tidur sungguhan atau memang sedang malas bangun.


Samuel sudah selesai mandi. Ia memakai seragam sekolahnya. Walau sudah tidak ada pelajaran lagi disekolah tapi dirinya akan tetap berangkat. Tentunya agar tetap bisa bertemu dengan gadis pujaannya.


"woy. . . Bangun. . .!!!" Samuel memukul Guntur dengan bantal agar kakaknya itu segera bangun.


"Berisik banget sih kamu Sam." Guntur malah memeluk gulingnya dengan erat.


"Busyet dach. . .! Ternyata begini ya kalo Lo lagi patah hati. Jadi pemalas akut."


Terpaksa Samuel pergi meninggalkan Guntur yang tak mau bangun dari tidurnya. Ia turun kebawah untuk sarapan.


"Guntur mana Sam?" tanya sang mama. Wanita yang tampak masih cantik diusianya


yang mengijak kepala empat itu tampak menyiapkan sarapan untuk suami dan putranya.


"Kak Guntur nggak mau bangun ma." jawab Samuel. Ia menerima piring yang diberikan mamanya.


"Kamu tanya sama dia. Ada masalah apa tiba-tiba datang tengah malam. Papa tanya katanya kangen sama kamu. Tapi tidak mungkin kan kalau cuma kangen." Ujar Papa Samuel yang bernama Adam Prasetya Adhitama.


"Biasalah pa. Kak Guntur lagi pengen curhat mungkin."


"Masalah apa Sam?"


" Ya masalah anak muda lah pa."


"Terus masalahnya apa? Masalah cewek?"


"Aduh. . . Papa Adam yang ganteng. Jangan kepo sama urusan anak muda." seru Samuel sambil menggigit sandwich ditangannya.


"Papa kan juga masih muda Sam."


"Yaaaah. . . ! Papa menolak tua nih ceritanya."


"Ya kan umur papa belum genap 40."


"Ini kayaknya efek nikah muda ya ma?" kini Samuel beralih pada mamanya.


"Sudah. . .Sudah. . . ! Papa sama anak sama saja. Lanjutkan sarapannya." ujar mama Eliana.


"iya mamaku yang paling cantik."


Mereka pun melanjutkan sarapan. Lalu Samuel berangkat sekolah dan papanya berangkat ke kantor.


Sementara disekolah saat jam istirahat, Samuel dan Anin berada di kantin. Mereka membicarakan tentang Clara.


"Menurut Lo ada yang aneh nggak sih dengan Clara?" tanya Samuel.


" iya sih Sam. Tiba-tiba dia dinikahin sama Fachri. Claranya dalam keadaan nggak sadar lagi." ujar Anin sambil mengernyitkan dahi. Tangannya mengaduk jus apel dengan sedotan.


"Aldi juga sekarang tidak ada kabar. Nomornya nggak aktif Nin."


"Serius Lo Sam?" tanya Anin melotot kearah Samuel dengan muka serius.


"Serius Anin. . .!" Samuel pun meminum jus jeruknya.


"Terakhir kali Aldi mengirim pesan supaya gue kerumah Clara untuk melihat keadaannya. Lo kan tau Nin bokapnya Clara galak banget, mangkanya gue ngajak lo kemaren." lanjut Samuel.


"Bokap gue juga galak lho Sam?"


"Lo mau nakut-nakutin gue Nin? kagak bakal mundur gue." ujar Samuel yang berusaha bersikap sok berani. Padahal waktu berhadapan dengan ayahnya Clara, ia hampir jadi patung es gara-gara panas dingin karena gugup.


"Gaya Lo doang Sam. Siapa tuch yang kemaren tangannya beku saat dirumah sakit."


"Dingin doang Nin. Belum beku."

__ADS_1


"Ntar kalo Lo datang kerumah, gue siapin api unggun Sam."


"Buat apaan Nin?"


"Buat manggang elo. Biar nggak beku."


"Pakein bumbu barbeqiu sekalian. Jangan lupa."


"Hahahaha. . .!!!" Anin tak bisa menahan tawanya lagi.


Sesaat kemudian pelayan kantin sudah mengantarkan makanan mereka berdua.


Sesudah makan. Samuel pamitan pulang, karena dirumah ada Guntur yang sedang galau. Disekolah pun ia tak ada kegiatan. Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.


Disisi lain Clara sudah pulang dari rumah sakit. Ia disambut oleh Bik Nani dan juga dua pelayan lainnya.


"Hati saya remuk ini Siti" ujar Maya dramatis sambil duduk dikursi dapur, memegangi dadanya.


"Itu hati apa krupuk?" Sahut Randi.


"Bisa dipasangin sama tukang ketoprak dong May?"


"Tega banget sih kalian. Ini hati bukan kerupuk."


"Lagian kenapa sih kamu May?" tanya Randi.


"Hati saya remuk lihat Aa' Fachri sudah bersanding sama Non Clara sekarang."


"Terima nasib aja lah May. Nanti aku kenalin sama bang Juned."


"Siapa itu Ti?"


"Tukang gali kubur dikampung."


"Somplak. . .!" Ujar Maya yang kemudian membungkus kepala siti dengan kain lap.


*****


Samuel pulang sekolah langsung menuju kamar setelah menyalami mamanya yang sedang menyirami bunga ditaman depan.


"Allahu akbar. . . !" seru Samuel saat melihat Guntur masih tidur seperti tadi pagi.


"Bangun Kak. . .!" Samuel menarik guling yang dipeluk Guntur. Lalu menarik tangan pemuda itu. "Berat amat sih Lo."


Tanpa diduga pemuda yang hendak ia siram bangun dan mengambil alih gayung yang ia bawa.


"Selamat mandi. . .!" Ucap Guntur yang berhasil menyiram adik sepupunya.


Samuel berdecak kesal."Kak Guntuuuuurrrrr. . . !" teriaknya kemudian.


Tapi Guntur sudah masuk kekamar mandi. Samuel melepas seragamnya yang basah dan berganti pakaian.


Eliana yang berada dilantai bawah hanya bisa menggeleng heran mendengar teriakan putranya.


Setiap ada Guntur yang berkunjung suasana pasti ramai. Mereka berdua memang sudah seperti kakak adik. Tak jarang pula keduanya saling menjahili.


Setelah Guntur makan, kini dirinya duduk digazebo taman belakang rumah.


"Masih lanjut galaunya?" Samuel menghampiri dan duduk disalah satu bangku.


Tatapan Guntur terlihat kosong."Kamu belum ngerasain gimana rasanya kalah sebelum berjuang. Apalagi itu Cinta pertama."


"Salah sendiri Lo pake nama gue buat deketin Clara."


"Kemarin aku nunggu Clara putus dulu sama pacarnya." Guntur masih dengan ekspresi datarnya.


"Dan sekarang Lo mau nunggu Clara jadi janda dulu?"


"Kedengarannya jahat banget Sam. Aku tak sejahat itulah. Kalau dia bahagia, aku pun tak akan sanggup menghancurkan kebahagiannya."


"Berat juga ya jadi Lo kak.Dulu saingan Lo cuma Aldi yang seumuran gue sekarang ada Fachri. Dia alim, pinter, gantengnya sebelas dua belas juga sama Lo. Perfect lah dia kak." ujar Samuel.


Guntur pun hanya diam. Harapan cinta pertamanya ternyata harus kandas sebelum ia bisa menyatakan perasaannya.


Padahal dirinya baru sekali bertemu Clara. Itu pun diarena balapan liar. Tapi ketertarikannya pada Clara sangatlah besar.


"Ini lagi pada ngapain?" Sapa Adam, papanya Samuel.


"Lagi curcol Pa." jawab Samuel.


Adam memperhatikan raut wajah keponakannya yang masih sayu. "Om mencium bau kegundahan hati disini. Benar tidak Gun?"


Yang ditanya pun tak menyahut. Ia tahu bagaimana Omnya yang satu ini. Walau sudah berumur tapi jiwa mudanya tak pernah padam.

__ADS_1


Samuel mendekatkan tubuh kearah Papanya. "Kak Guntur lagi patah hati" ujar Samuel lirih.


"Tenang saja Gun. Gunakan kesempatan dalam kesempitan."


"Sudah tidak ada kesempatan Pa. Cewek yang dia suka dah nikah kemaren."


Ini yang ditanya siapa yang jawab siapa?. Guntur memandang kearah Samuel dan Om Adam.


"Ngenes kan Pa. Kak Guntur kalah sebelum berjuang."


Bersamaan dengan Eliana datang membawa minuman dan cemilan. "Berjuang untuk apa Sam?" tanyanya kemudian.


"Perjuangin Cinta lah ma."


Eliana kini ikut bergabung duduk bersama mereka.


Adam merangkul bahu Guntur"Kamu mau Om kasih tahu do'a patah hati?"


"Memang ada Om?" Guntur mengernyitkan dahinya. Ada-ada saja omnya yang satu ini.


Adam pun mengangkat kedua tangannya sambil berucap. " Ya Tuhan cabut saja cinta pasangannya. Ku tunggu jandanya juga Ya Tuhan"


Hal itu membuat mata Guntur melotot tak percaya. Sementara Samuel dan mamanya tak bisa menahan tawa.


"Astaghfirullohal 'adzim. . .!" ujar Guntur kemudian sambil mengusap dadanya.


"Pacar mama dulu juga dido'ain gitu sama papa?" Tanya Samuel sambil menahan tawanya.


"Wah lebih parah Sam. . .! Papa malah do'ain pacar mama biar dia kecebur rawa dan dimakan buaya."


Adam yang mendengar hal itu juga ikut tertawa. Masa mudanya dulu juga penuh dengan kekonyolan. Tapi justru dengan adanya candaan itulah keluarganya sekarang selalu harmonis.


"Terus kenapa mama sampai bisa milih papa sekarang?"


"Mama dipelet mungkin sama papa kamu. Padahal pacar mama lebih keren dari papamu." ujar mama Eliana dengan melirik sang suami.


"Samuel bisa belajar dari papa nih. . .! Pake jaran goyang apa semar mesem Pa?" Samuel malah makin heboh menanggapi candaan mamanya.


"Ngawur aja. Jangan dengerin mama kamu."


Guntur sendiri jadi pusing sekarang. Maunya pengen cari solusi malah dapat drama keluarga.


Samuel mengambil minum, haus karena lelah tertawa. "Papa kenapa siang-siang begini dah pulang?"


"Terserah papalah kan kantor juga kantor papa sendiri. . .!" ujar Adam santai sambil mencomot cemilan yang disediakan sang istri.


"Karyawan papa ikutan bosnya somplak nggak tuch."


"Kalau mereka begitu. Kantor papa dah jadi penampungan orgil Sam."


"Kalau kamu pengen ngrasain jadi karyawan papa kamu bisa Sam. Asal siapin mental." ujar Guntur. Dia tahu bagaimana Omnya kalau sudah berada dikantor. Hitler saja mungkin akan kalah.


"Dan untuk kamu Guntur. Sedih boleh tapi jangan berlebihan. Malu sama Allah dikira kamu tidak terima dengan ketetapanNya. Banyakin bersyukur. Pasti ada rencana yang lebih indah untuk kamu." Adam menepuk bahu keponakannya lalu beranjak pergi. Ia harus kembali lagi kekantor. Eliana juga bangkit mengantar suaminya sampai kedepan.


Guntur mencoba mencerna nasehat Om Adam. Memang benar, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Pasti akan tiba saat yang indah untuknya. Tapi bagaimanapun Cinta pertamanya telah kandas.


Guntur mengacak frustasi rambutnya. "Aaaarrrggghhhh. . . !!!" Guntur mengerang keras.


Samuel sampai terlonjak kaget. "Udahlah kak. Kalau memang jodoh pasti kembali. Yang sayurnya digunung garamnya dilaut aja bisa ketemu dirumah makan."


Guntur beranjak dari duduknya, berlalu tanpa berkata apapun.


"Kemana Lo?" teriak Samuel.


"Tidur" jawab Guntur singkat.


"Mati aja sekalian Lo." Teriak Samuel lagi. Sebuah sandal melayang ke arahnya.


"Dari pagi dah tidur, sekarang mau tidur lagi. Orang patah hati bisa juga ya berubah jadi anak beruang." Gumam Samuel sendirian.


.


.


.


.


~Terkadang tanpa kita sadari, Saat kita bahagia ada jiwa yang tengah merana~


Jika kau merasa bahagia tertawalah. Bisa jadi tertawa adalah bentuk rasa Syukurmu.


Thanks untuk readers semuanya. . .!

__ADS_1


__ADS_2