ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Rayuan Malam


__ADS_3

Randi menyusul Fachri yang kekamar bawah. Terlihat Fachri sedang mengemasi barang-barangnya, memasukkan kedalam kardus.


"Perlu bantuan nggak Ri?" Tanya Randi yang bersandar dipintu sambil melipat tangannya diatas perut.


"Nggak Rand. Makasih. . .!" ujar Fachri acuh. Karena ia tahu Randi pasti hanya basa basi. "Barangku hanya sedikit tak usah repot membantuku." ujarnya lagi.


Sedangkan Randi malah tertawa mendengar ucapan Fachri. Ia sangat suka melihat Fachri yang kadang tak mempan dengan gurauannya.


Tangan Fachri masih sibuk menata buku yang diatas mejanya. Tak butuh waktu lama semua barangnya sudah ada didalam kardus.


"Udah kayak mandor aja kamu Rand. Minggir. . .!"


Tapi Randi tidak bergerak dari tempat ia berdiri. "Enak kali ya jadi mandor diproyeknya Tuan Steven."


"Nanti aku bilangin kalau kamu mau jadi mandor. Siapkan mental saja mengahdapi para kuli. Bisa-bisa kamu dilempar adonan semen sama mereka."


"La kenapa emang?"


"Mandornya anak kemarin sore. Mana percaya mereka."


"Semprol kamu Ri"


Randi yang dari tadi berdiri didepan pintu menggeser tubuhnya. Memberi jalan pada Fachri yang membawa kardus penuh dengan buku dan tas ransel dipunggungnya.


"Kamu itu kayak orang mau minggat Ri."


"Aku memang mau minggat kekamar istriku."


Fachri segera melangkahkan kakinya menuju kamar atas.


"Jiaaaahhh. . .! Yang mentang- mentang dah nikah." seru Randi. Tapi Fachri tak merespon, ia fokus dengan langkahnya.


Randi hanya bisa tersenyum bahagia menatap Fachri. Semoga Non Clara selalu bahagia bersama kamu Fachri. Gumam hati Randi.


Sesampainya dikamar, Fachri menurunkan barang bawaannya.


Clara pun membantu Fachri menata baju kedalam lemari. Dan buku-buku Fachri ia tata disamping buku pelajarannya.


"Kamu suka baca novel Ri?" tanya Clara saat menemukan koleksi novel milik Fachri.


"Kalau lagi senggang sih Ra. Aku suka baca novel."


Fachri memasukkan buku terakhir kedalam lemari. Begitu juga dengan Clara. Mereka sudah selesai beres-beres.

__ADS_1


"Kapan-kapan aku pinjam koleksi novel kamu ya Ri."


"Iya Clara. Kamu boleh baca sesuka kamu. Sekarang kamu tidur gih, besok pulang sekolah kamu ikut aku kerja kekantor ayah." Ujar Fachri sambil menuntun Clara kearah tempat tidur.


"Aku dirumah aja dech Ri. Nggak usah ikut, aku bosen suasana dikantor Daddy." ucap Clara yang sudah duduk diranjangnya.


Fachri juga ikut duduk. "Ya sudah kalau kamu belum mau ikut. Tapi kapan-kapan kamu harus ikut ya, Nanti kan kamu juga harus memimpin perusahaan ayah."


"Kan ada kamu Ri. Lagi pula masih ada kakak juga. Aku belum tertarik masuk perusahaan Daddy" Protes Clara.


"Ya sudah nggak apa-apa Ra. Sekarang kamu tidur dulu." Fachri meraih selimut untuk Clara. Lalu memberi kecupan manis dikening gadis yang sudah sah untuk dirinya. "Jangan lupa berdoa dulu." ucap Fachri kemudian.


Clara mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya. Perlakuan lembut Fachri selalu membuat Clara terbuai.


"Kamu mau kemana Ri?" Tanya Clara saat melihat Fachri beranjak dari sisisnya.


Fachri berbalik lagi. "Masih ada yang harus aku kerjakan. Kamu tidur dulu, nanti aku menyusul."


Clara menganggukkan kepalanya. Kemudian segera memejamkan mata. Ia juga sudah mengantuk.


Fachri sendiri sudah sibuk dengan layar datarnya. Ia harus mempelajari desain bangunan hotel yang akan ia tangani mulai besok. Memang cukup rumit menurutnya, tapi itu bukan masalah besar bagi dirinya yang memang menggeluti dunia arsitek. Sebentar lagi skripsinya juga sudah selesai. Ia bisa fokus bekerja membantu perusahaan ayah mertuanya.


Pandangan dan pikiran Fachri semakin fokus pada gambar yang terpampang jelas dilayar laptop. Sepertinya mendiang ayah istrinya memang seseorang yang sangat kompeten. Sehingga bisa membuat rancangan yang sempurna. Apalagi Clara juga mewarisi kecerdasan sang ayah. Tapi sayangnya gadis itu belum tertarik masuk dalam dunia bisnis.


Saat Fachri terbangun diwaktu sepertiga malam, ia merasa ada beban yang menimpa sebagian tubuhnya.Lalu tangan Clara juga ada diatas dadanya. Bagaimana bisa Clara ikut dirinya tidur dibawah? Bukankah tadi ia tidur diatas?


Perlahan Fachri menggeser tubuhnya. Dengan hati-hati diangkatnya tubuh Clara keatas tempat tidur. Sesaat gadis itu menggeliat ringan. Mengeratkan selimut ditangannya. Seolah-olah ia sedang memeluk sesuatu.


Fachri mengambil air wudlu, lalu menyiapkan sajadah. Memenuhi seruan Ilahi. Menagih janji pada Sang Khaliq, bahwa do'a disepertiga malam akan diijabah.


Setiap desah nafas beriringan dengan bibir yang mengucap kalam indah. Menikmati setiap gerakan yang menjadi penyegar jiwa raga. Kembali pada fitrah manusia sebagai seorang hamba.


Merajut cinta dengan Sang Maha Cinta. Merayu dalam keheningan sepertiga malam.


Setiap sajak doa yang terucap menjadi senandung asmara pada Ilahi.


Berharap akan mendapat limpahan karunia dari Sang Mahabbah. Mengiringi setiap langkah dengan ridloNya.


Berharap cintanya akan mendapatkan kembali cahaya hidup. Menaunginya dengan hamparan kasih sayang. Memberi kekuatan untuk menjalani takdir hidup.


Suara adzan mendayu-dayu menyambut waktu subuh. Menyerukan panggilan pada insan yang sedang hanyut dalam nikmat kehangatan selimut. Sebagian dari mereka memenuhi panggilan itu. Sebagian lagi memilih kembali sembunyi dibalik mimpi.


Fachri mengusap lembut kepala istrinya. "Bangun Ra. Ayo kita subuhan dulu." Ujar Fachri dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Ia harus ekstra sabar membimbing istrinya yang masih dalam masa labilnya. Seperti kata pepatah yang mengibaratkan hati seorang wanita layaknya sebuah kaca. Membersihkannya harus secara lembut. Kalau diberi tekanan yang kuat ia malah akan pecah. Ketika sudah pecah maka tidak ada yang bisa merangkai lagi seperti semula. Tetap akan meninggalkan bekas walau sudah direkatkan kembali.


Clara menggeliat pelan karena sentuhan Fachri. Ia mencoba membuka matanya yang masih melekat kuat.


"Aku masih ngantuk Fachri." suara serak keluar dari bibir Clara. Ia kembali memejamkan mata.


"Ini sudah waktunya subuh Clara." Fachri masih membelai lembut kepala istrinya. "Apa kamu mau aku gendong kekamar mandi." Ujar Fachri lagi.


Clara masih tak bergeming dari selimutnya. Fachri berdiri lalu membungkuk hendak mengangkat tubuh Clara. Menyadari kalau Fachri tidak main-main dengan ucapnnya,


Clara langsung melebarkan matanya.


Sesaat pandangan keduanya bertemu. Jantung Clara tiba-tiba meronta. Seakan ingin keluar. Pagi buta ia harus senam jantung. Membuatnya hampir tak bisa bernafas.


"Aku bisa bangun sendiri Fachri." ujar Clara mencoba menguasai dirinya sendiri.


Fachri segera menegakkan tubuhnya. Memperbarui wudlunya lagi. Clara begantian masuk kekamar mandi setelah Fachri keluar.


Keduanya kini sama-sama berdiri menghadap kiblat. Lantunan kalam Fachri terdengar sangat merdu. Menyentuh relung bumi yang masih belum tersentuh oleh mentari.


Betapa beruntungnya bidadari tanpa sayap yang berhasil mengisi kalbu laki-laki sholeh seperti Fachri. Sehingga membuat para bidadari iri melihat wanita yang bersanding dengannya.


Selesai sholat, Fachri meraih Al Qur'an yang sengaja ia letakkan dimeja nakas dekat tempatnya duduk sekarang.


Clara yang belum terbiasa bangun shubuh, langsung merebahkan tubuhnya diatas sajadah tempat ia sholat. Tepat disebelah imamnya. Suara Kalam yang terucap dari bibir Fachri seperti alunan lagu penghantar tidur bagi Clara. Hingga ia terlelap dengan mukena yang masih membalut tubuhnya.


Fachri menyunggingkan senyum sambil mengusap kepala istrinya yang masih berbalut mukena. Lagi-lagi kecupan lembut mendarat dipuncak kepala wanita yang kini tertidur. Perlahan tangan Fachri meraih kepala istrinya. Menempatkan dipahanya sebagai bantalan.


Mata teduh Fachri menatap lekat wajah damai istrinya. Hatinya ikut dalam kedamaian itu. Ada ketenangan yang tercipta disana.


"Sekarang kau adalah istriku. Izinkan aku menyentuh hatimu. Izinkan aku menebar benih cinta ditaman asmaramu. Biarkan tumbuh subur. Bersemi menghiasi hatimu. Akan aku beri warna dengan cahaya kalam. Sehingga aku bisa membimbingmu menuju ridlo Ilahi." Gumam Fachri sambil tangannya terus membelai kepala istrinya.


.


.


.


.


Thanks readers masih mau menemani Fachri disini. . .!


Tinggalkan jejak kalian dikarya yang tak seberapa ini.

__ADS_1


Makasih. . . !


__ADS_2