
Clara yang ikut mobil ambulans masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk menghubungi dokter Revan. Karena rumah sakit terdekat kebetulan juga tempat dokter itu bekerja. Untung saja Clara selalu membawa ponsel disaku celananya.
Ia juga menghubungi orang rumah.
Sesampainya dirumah sakit, Fachri langsung dibawa keruang operasi oleh dokter Revan karena melihat pendarahan hebat dikepala. Tubuh Fachri juga semakin memucat. Tim dokter melakukan pertolongan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.
Clara terduduk lemas dilantai bersandar didinding. Rasa cemas dan takut mendera jiwanya. Berharap Fachri bisa terselamatkan.
Andai saja ia tidak marah pada laki-laki itu pasti hal ini tak akan terjadi. Andai saja ia mau berhenti pasti Fachri masih baik-baik saja sekarang. Andai ia mau mendengar penjelasan Fachri pasti tak akan ada situasi seperti sekarang. Dan masih banyak kata "Andai" lagi dibenak Clara. Tapi itu hanyalah sebuah "Andai" dan sekarang yang terjadi adalah sebuah kenyataan.
"Clara, bagaimana Fachri?" tanya Steven sambil tergopoh-gopoh. Dia datang bersama Randi.
Clara hanya bisa menangis dipelukan Ayahnya. Tak mampu mengeluarkan kata-kata.
"Kamu tadi hanya salah paham, Clara. Fachri tak pernah terpaksa menikahimu. Dia juga tidak pernah menginginkan harta Daddy." Steven melepas pelukan Clara. Lalu menuntun putrinya untuk duduk dibangku ruang tunggu.
"Bahkan Fachri sendiri yang kekeh menikahi kamu waktu dirumah sakit. Padahal Daddy sudah melarangnya. Fachri sangat mencintai kamu Clara," lanjut Steven.
Clara semakin tenggelam kedalam rasa bersalah yang begitu besar. Bayangan kejadian dirumah sakit seperti sebuah film dalam tayangan ulang. Bagaimana Fachri begitu menyayanginya dan selalu menopang langkahnya untuk terus bangkit dari keterpurukan. Memotivasi dirinya agar bisa melawan trauma.
Ketika emosi menguasai dirinya, semua menjadi kacau. Ia tak bisa berpikir jernih. Hingga Fachri menjadi korban.
Setelah hampir dua jam, dokter Revan baru keluar dari ruang operasi.
"Van, bagaimana?" tanya Steven penuh harap.
Revan menggelengkan kepala seperti frustasi setelah berjuang keras diruang operasi.
Clara semakin khawatir dengan keadaan Fachri. Apa yang terjadi dengan suaminya?
"Fachri koma Stev. Dia mengalami trauma parah dikepalanya. Aku sudah mengusahakan yang terbaik. Hanya keajaiban yang akan menolongnya," ujar dokter Revan yang kemudian berlalu pergi.
Perawat memindahkan Fachri keruang VVIP sesuai permintaan Steven. Tubuhnya dipasangi alat bantu yang menunjang proses pemulihan. Apapun akan dilakukan Steven demi kelangsungan hidup menantunya.
Clara terisak disamping tubuh Fachri. "Maafkan aku Fachri! Semua ini salahku. Aku terlalu egois."
Steven dan Randi berusaha menenangkan Clara. Agar ia tak menyalahkan dirinya sendiri.
Ponsel Clara berdering. Ada panggilan masuk dari Salsa.
"Hallo Clara! Apa Fachri bersamamu? Aku hubungi dari tadi tak ada jawaban," ucap Salsa dalam panggilannya.
Dalam isakannya, Clara memberitahukan keadaan Fachri. Salsa langsung menghubungi yang lain.
Tak lama kemudian semua sahabat Fachri sudah sampai dirumah sakit.
Mereka bergantian masuk menjenguk Fachri. Randi dan Steven pulang untuk mengambilkan Clara baju ganti.
"Kenapa takdir suka sekali menggoda Fachri seperti ini?" ucap Salsa dengan air mata yang meluncur keluar.
"Semua memang salahku Kak Salsa. Aku yang salah." Clara menutupi wajahnya, dari tadi air matanya terus mengalir.
"Ini memang sudah jalan hidup Fachri. Baru saja ia bahagia bersamamu. Tapi, lagi-lagi takdir menggodanya dengan maut. Sebenarnya, apa yang membuatmu merasa bersalah?" Salsa menatap Clara yang tampak kacau malam itu.
Dengan sesenggukan, menceritakan awal mula kesalahpahaman dirinya terhadap Fachri dan sampai bisa kecelakaan.
"Sejauh ini, apa yang kamu tahu tentang Fachri?"
Clara menyeka air matanya. Berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Salsa.
"Fachri adalah laki-laki hebat dari panti asuhan yang bekerja diperusahaan daddy."
"Itu hanya bagian kecil dari kehidupan Fachri. Kehidupan suamimu sebelumnya tak sesimple itu," ungkap Salsa. Membuat Clara semakin tak mengerti.
Ditengah kebingungannya, Alam, Hasan, Fathir dan Reza mengajak Salsa pulang karena sudah larut malam. Hari itu Adiba tak bisa ikut karena sedang pergi keluar kota bersama kedua orang tuanya.
"Besok aku akan datang lagi. Kita lanjutkan obrolan tadi," ujar Salsa sebelum pergi.
Tak lama kemudian, Steven dan Randi sudah datang dengan membawa pakaian ganti untuk Clara.
Malam itu mereka tidur ditempat yang sudah tersedia diruang VVIP. Clara berusaha memejamkan mata dipangkuan ayahnya.
Pagi harinya, dokter Revan memeriksa kondisi Fachri yang belum sadar.
__ADS_1
"Kalian ikutlah keruanganku! Ada yang harus aku katakan," ucap dokter Revan dengan serius.
Clara dan ayahnya segera mengikuti langkah dokter. Entah demi apa, hati Clara semakin merasakan ketakutan.
Diruangannya, Revan menyodorkan foto hasil pemeriksaan luka dikepala Fachri.
"Ini adalah retakan dibagian belakang kepala Fachri. Tidak terlalu parah sebenarnya. Tapi..."
Revan ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa Van?" Steven tampak tak sabar.
Lalu Revan memperlihatkan lagi foto selanjutnya. "Ada penggumpalan darah didalam otaknya. Ini sangat membahayakan Fachri."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan dokter?" Clara buka suara.
"Kita harus siap menerima kenyataan jika hal buruk terjadi pada Fachri." Revan berusaha berkata dengan tegas. Ia tak mau menyembunyikan kenyataan buruk yang mungkin terjadi.
"Apakah kau tidak bisa melakukan operasi untuk Fachri Van? Kau kan dokter, selamatkan hidupnya." Steven berucap dengan nada tinggi.
"Aku hanya seorang dokter Stev, aku bukan tuhan yang bisa mengubah takdir hidup seseorang." Revan menghela nafas berat lalu melanjutkan kalimatnya. "Untuk keadaan Fachri saat ini, aku tidak bisa menjamin operasi berjalan lancar. Bisa saja hal itu malah membuat Fachri tiada."
Clara kembali menitikkan air matanya. Tak sanggup jika harus kehilangan Fachri secepat ini.
"Fachri sangat kuat bisa bertahan sampai sekarang dengan keaadaan seperti ini. Semangat hidupnya sangat besar. Dia berjuang agar tetap hidup sampai sekarang. Kalau tidak, dia sudah tiada sejak kemarin." Dokter Revan berucap lagi.
Steven terkejut, ia membawa Clara dalam rengkuhannya. Ia teringat dengan seseorang yang hampir mati konyol karena ingin menabrakkan diri direl kereta. Apakah kali ini dia bisa lolos dari maut?
Sesuai yang Salsa katakan tadi malam, ia akan datang lagi kerumah sakit.
Steven pamit sebentar untuk kekantor, ada berkas yang harus ia tandatangani. Ia menyuruh Randi tetap menemani Clara.
Kini Salsa dan Clara duduk disofa ruang rawat Fachri.
Randi juga ada disana menyimak obrolan dua wanita itu.
"Apa keadaan Fachri ada perkembangan hari ini?" tanya Salsa membuka percakapan.
"Kita harus siap dengan kemungkinan yang terjadi Clara. Kita pun suatu saat pasti akan berpulang ketempat asal kita. Hanya saja kita tak tahu kapan dan jalannya bagaimana." Salsa memegang bahu gadis yang terus saja bersedih. Mencoba membesarkan hatinya.
"Kau ingin dengar kan kisah tentang Fachri majnun. Aku akan menceritakan padamu."
Clara mengangguk. Ia pun ingin tahu bagaimana kehidupan Fachri sebelum bertemu dengannya.
Salsa mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Lalu membuka kotak itu. Ada banyak foto didalam kotak yang dibawa Salsa.
"Lihat ini Clara!" Salsa menunjukkan foto seorang pemuda dengan seragam sekolah sedang memajat pagar. Suasana latar foto itu agak gelap dan dibelakangnya ada sebuah rumah yang kelihatan mewah.
"Ini adalah Fachri saat masih SMP. Foto itu aku ambil secara diam-diam ketika Fachri baru pulang dari balapan. Karena takut dimarahi mamanya, dia masuk rumah secara diam-diam seperti pencuri. Dia itu bandelnya minta ampun saat SMP." Salsa tersenyum mengingat masa-masa itu.
"Kak Salsa kok bisa tau kebiasaan Fachri? Apa kalian satu sekolah?" tanya Clara penasaran.
"Kami tidak satu sekolah. Tapi, kami bertetangga. Kita juga sering belajar bersama meski tak satu sekolah. Orang tua Fachri menyuruh kami berteman, agar kadar kebandelan putranya berkurang.
Fachri bukanlah dari keluarga biasa. Dia putra tunggal seorang pengusaha sukses. Apa pun bisa ia dapatkan. Hal itu membuat Fachri sangat manja dan seenaknya sendiri. Takut putranya tidak bisa mandiri, orangtua Fachri memanggil guru les agama atau lebih tepatnya ustadz yang datang setiap sore. Berharap Fachri memahami hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Mengerti akan tanggung jawab pada dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu seperti biasa, tak jarang pula Fachri berusaha kabur dari lesnya, dan aku adalah orang yang selalu menggagalkan rencana kaburnya. Karena, aku juga datang setiap sore kerumah Fachri. Ikut belajar ilmu agama."
Salsa diam sejenak sambil tersenyum mengingat masa sekolahnya bersama Fachri. Bagaimana bandelnya Fachri dulu. Hingga membuat orang tuanya pusing.
"Lalu bagaimana tentang Earlyta?" Clara juga penasaran dengan sosok mantan Fachri.
"Kami mengenal Earlyta saat memasuki SMA. Fachri sudah berubah menjadi sosok yang lebih agamis. Tak lagi manja seperti dulu.
Aku dan Fachri memutuskan sekolah ditempat yang sama. Disitulah kami mengenal Earlyta. Gadis berjilbab yang sangat sederhana. Kecantikannya mampu menyeret Fachri dalam samudera cinta tak bertepi. Dia cinta pertama Fachri. Disinilah kisah Fachri dimulai.
Aku dikelas yang sama dengan Earlyta. Karena itu, Fachri memintaku mendekati Earlyta. Kami bertiga pun berteman. Fachri dan Earlyta semakin hari semakin dekat. Walau tak pernah ada kata cinta diantara mereka. Tapi, aku tahu mereka saling memendam cinta. Bagi Fachri cinta butuh bukti bukan janji. Dia memberikan segalanya pada Earlyta.
Cinta, perhatian, kasih sayang bahkan materi. Earlyta memang dari keluarga pas-pasan. Sedang Fachri punya segalanya.
Earlyta sering menolak bantuan dari Fachri. Ia tak mau disebut cewek matre. Fachri pun selalu memaksa Earlyta agar menerima pemberiannya.
Hari-hari terus bergulir. Sampai suatu kejadian naas menimpa orang tua Fachri. Mereka kecelakaan dan meninggal. Ditengah keterpurukannya, aku dan Earlyta yang selalu ada untuknya. Apalagi saat adik dari ayahnya mengambil alih seluruh harta orang tuanya. Dunia Fachri seperti jungkir balik. Ia tak punya apa-apa lagi. Bahkan ia dijadikan pembantu oleh om dan tantenya. Karena tak tahan, Fachri memilih keluar dari rumah. Ia tinggal disebuah kontrakan kecil. Jauh dari kata layak. Ia tak mau menerima bantuan dari keluargaku. Fachri bekerja serabutan sambil sekolah. Ia tak pernah menyerah. Earlyta lah sumber semangat Fachri saat itu."
__ADS_1
Salsa menghela nafas, ia menatap Clara yang mendengar ceritanya dengan serius.
"Kuharap kau tidak cemburu mendengar kisah Fachri dan Earlyta. Walau mereka seperti orang pacaran tapi tak sekalipun mereka melakukan kontak fisik. Mereka sangat menjaga batasan itu."
Clara tersenyum kecil. "Pantas saja Fachri selalu istighfar waktu pertama kita ketemu."
Salsa juga menyunggingkan senyum manisnya. Semenjak Fachri mendalami ilmu agama, laki-laki itu memang selalu berada dalam batasan syari'at. Salsa pun melanjutkan ceritanya.
"Akhirnya Fachri bisa hidup mandiri. Ia juga sering bergaul dengan anak jalanan. Lalu ada seseorang yang mengajaknya kepanti asuhan. Fachri pun menurut, ia pikir kehidupan disana lebih layak dan ia akan mempunyai banyak teman.
Hingga akhirnya, kami lulus sekolah. Fachri mengajak Earlyta ketaman belakang sekolah. Disanalah Fachri mengatakan cinta. Mereka saling mengutarakan isi hati masing-masing. Tak tahu bahwa jurang pemisah akan membentang suatu hari nanti. Keduanya terbuai dalam romansa virus merah jambu. Hingga tak memperdulikan hal lain kecuali cinta.
Kemudian, Fachri daftar kuliah dengan uang tabungannya yang masih ada. Kami bertemu dengan Adiba, Hasan, Alam, Reza dan Fathir. Mereka juga mengajak kami gabung diperguruan beladiri.
Disisi lain, Fachri terus berusaha mencari penghasilan untuk hidupnya dan juga anak-anak panti. Dia juga menawarkan rancangannya keberbagai perusahaan. Tak semua mau menerimanya, kalau pun ada. Mereka membayar dengan harga murah.
Puncaknya saat pertengahan semester pertama. Fachri dikejutkan dengan ucapan Earlyta bahwa ia dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Fachri berusaha mendatangi orang tua Earlyta, tapi ia ditolak mentah-mentah oleh ayah Earlyta. Alasannya karena Fachri tak punya apa-apa lagi dan masa depannya suram.
Fachri benar-benar sakit saat itu. Aku berusaha menenangkan Fachri yang sudah seperti orang tak punya harapan hidup. Dunia memang serasa tak adil baginya. Semua direnggut dari sisinya. Orang tua meninggal, harta direbut oleh omnya sendiri, dan cintanya pun harus kandas. Ia benar-benar berada pada titik lemah saat itu.
Hari itu, Fachri pulang kuliah tanpa berpamitan kepadaku dan juga yang lain. Aku pun merasa ada yang aneh dengan Fachri. Karena khawatir, kami mencari Fachri keberbagai tempat.
Hingga akhirnya, kami datang kemakam orang tuanya. Dan yang kami lihat adalah Fachri berdiri diatas rel kereta yang berada tak jauh dari pemakaman. Kereta melaju dengan kencang dari arah berlawanan. Kami berlari sekuat tenaga untuk bisa mencapai arah Fachri. Tapi, laju kereta lebih kencang kami tak bisa menjangkau Fachri."
Salsa menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir ketika teringat saat-saat menegangkan hari itu.
Clara masih menyimak cerita Salsa seksama. "Lalu?" tanyanya dengan mengerutkan kening. Clara tak sabar mendengar kelanjutan cerita tentang suaminya.
"Fachri masih selamat hari itu. Ada seorang pria yang mendorong tubuh Fachri keluar dari rel kereta."
Clara menghembuskan nafas lega mendengarnya. Ia kira Fachri akan benar-benar celaka.
"Dan orang itu juga yang kemudian membuat Fachri bangkit. Fachri diberi pekerjaan dikantornya. Setiap bulan orang itu juga memberi santunan kepanti. Fachri tak lagi kesulitan mencari biaya hidup.
Biaya kuliah juga ditanggung oleh perusahaan.
Sejak kejadian itu kami menjuluki Fachri sebagai Fachri majnun. Kerena ia sempat dibuat gila karena cinta. Seperti kisah Laila Majnun. Cintanya juga terhalang oleh restu orang tua.
Keduanya tenggelam dalam nestapa cinta. Fachri juga sering menulis puisi cinta. Kata-kata yang keluar dari bibirnya selalu nasihat tentang cinta. Dia benar-benar majnun."
Salsa terkekeh kecil mengingat kegilaan Fachri majnun. Sedangkan Clara juga ikut tersenyum.
Kini perlahan ia mulai mengerti alasan Fachri belum mau mengatakan cinta. Cinta memang butuh bukti bukan hanya sekedar janji-janji manis. Dan Fachri selalu memberinya bukti sebuah cinta.
"Apakah orang yang menolong Fachri adalah daddy?" tanya Clara kemudian.
"Kamu benar Clara. Tuan Steven adalah orang yang menyelamatkan hidup Fachri saat itu. Lewat ayahmu, hidup Fachri semakin membaik. Tuan Steven membebaskan Fachri dari kemelut ekonomi dan kamu membebaskan Fachri dari nestapa cintanya."
Salsa kembali membuka lembaran foto lama Fachri.
Clara semakin tak mengerti dengan jalan hidup yang selalu menciptakan sebuah kebetulan.
"Clara lihatlah! Ini foto Fachri saat SMA. Dia juga aktif ikut band sekolah." Salsa menunjukkan foto Fachri yang berada diruang musik sekolah.
"Kak, apa aku boleh menyimpan foto-foto ini?" pinta Clara.
"Tentu saja Clara. Aku masih punya banyak dirumah. Kau bisa menggoda Fachri jika dia bangun nanti." Salsa tersenyum ramah. Tangannya merapikan lagi foto yang ada dimeja dan memasukkan kedalam kotak. Memberikannya pada Clara.
"Semoga cintamu bisa membawa Fachri kembali!" ujar Salsa sebelum pulang.
Semua memang sudah direncakan oleh takdir. Ia menyamar menjadi sebuah kebetulan-kebetulan yang jarang disadari oleh manusia. Tuhan punya cara unik untuk mempertemukan dua hati yang merindukan belahan cinta.
Tuhan pun mematahkan hati Fachri agar bisa bertemu dengan Clara.
.
.
.
Berikan semangatnya buat penulis! 😉
Thanks. . .
__ADS_1