
Clara sudah bersiap-siap berangkat sekolah saat jam menunjukkan pukul 06.00. Luka dilutunya sudah kering, rasanya pun tak sesakit kemarin. Manjur juga obat dari Fachri, gumam Clara.
Langkahnya ia percepat saat menuruni tangga dengan berjinjit agar tidak terdengar berisik, lalu melihat sekilas keruang tamu. Ada ayahnya yang sedang membaca koran. Clara berbelok kearah dapur. Teguran dari orang-orang yang ada didapur tak dihiraukannya. Termasuk Randi.
Clara hanya terfokus pada Fachri yang sedang menikmati teh.
"Ayo berangkat Ri, cepetan!" Clara menarik lengan Fachri. Tapi itu tak berhasil membuat Fachri berdiri dari duduknya. Lalu terdengar Fachri mengucapkan istighfar karena ulah Clara.
"Jangan istighfar mulu lo, kalau lo nggak mau nganterin sekarang gue bisa berangkat sendiri," ujar Clara mengancam.
"Ini masih pagi Non. Mau nyaingi pasukan oranye berangkat sepagi ini," sahut Randi.
"Diem lo, gue nggak ngomong sama lo ya." Suara Clara terdengar marah.
"Dih, anak singa kumat," gumam Randi.
Tanpa disangka Clara menginjak kaki Randi dengan keras. Lalu dengan cepat berlari keluar dari pintu dapur menuju mobilnya.
"Sabar Rand. Anak singa lagi cari mangsa." Fachri menepuk pundak Randi.
"Sabar-sabar dengkulmu anjlok, kakiku bisa bengkak ini," gerutu Randi sambil memegangi jari kakinya yang tadi di injak Clara.
"Innalloha ma'ashshoobiriiin."
Fachri pun berlalu karena Clara sudah menunggu.
"Pak Shobirin lagi cuti kena ambeyen Ri," teriak Randi.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang sudah berlalu.
****
Clara duduk di bangku yang berada disebelah parkiran, sambil meminum jus yang tadi ia beli dikantin. Setiap mobil yang datang tak luput dari pandangan Clara. Ia memang sedang menunggu seseorang.
Sesaat kemudian sosok yang ia cari sudah datang.
"Siska tunggu dulu, gue mau ngomong sama lo," ujar Clara saat melihat Siska hendak pergi. Siska tampak gugup saat melihat Clara.
"Tolong maafin gue Ra! Gue nggak akan ganggu lo lagi." Suara Siska seperti orang ketakutan.
"Iya gue maafin Sis, tapi tolong jelasin ucapan lo kemarin. Lo pasti tau sesuatu tentang gue," pinta Clara.
"Maaf Ra, kemarin gue cuma asal ngomong, gue nggak tau apa-apa."
Siska pun segera berlari menuju kelasnya. Clara pun merasa aneh, kenapa tiba-tiba Siska berubah.
Setelah kejadian kemaren, Randi mendatangi Siska agar tutup mulut jika ia tahu sesuatu. Kalau tidak, perusahaan ayahnya akan jadi taruhannya. Siska pun mengerti dengan ancaman Randi, karena sebagian besar saham perusahaan ayahnya dipegang oleh Steven.
"Ini beneran lo Ra?" tanya Anin yang menghampiri Clara dikantin. Terlihat ada seseorang dibelakang Anin.
"Bukan, lo salah orang," jawab Clara sambil meminum jus kedua yang ia pesan.
"Tambah cantik aja lo Ra," ucap Samuel yang datang bersama Anin.
"Lo muji apa ngledek nich?"
Samuel hanya tertawa kecil. "Gimana keadaan lo?" tanyanya kemudian sambil menyibak poni Clara, memastikan keadaan sahabatnya.
Belum sempat Clara menjawab Anin sudah heboh melihat keadaan temannya yang tidak ia ketahui.
"Ya Ampun Clara! Kenapa bisa benjol begitu? Lo habis kejedot apaan?"
"Gara-gara Siska ama si Sarinem Saritun Sariman," jawab Clara ngasal.
"Kurang Ra, Sarinah belom kesebut." Samuel menimpali.
"Ntar gue kualat ama Pak Soekarno. Dia kan pengasuh Pak Soekarno waktu kecil."
"Kok gue kagak tau ya?"
"Mangkanya belajar sejarah Sam," ujar Anin.
"Lo kemarin abis duel Ra sama mereka? masalahnya apa?hasilnya gimana? trus siapa yang menang?"
Mendengar rentetan pertanyaan Anin yang seperti kereta membuat Clara dan Samuel tepok jidat.
Kemudian Clara memperlihatkan luka dilututnya, membuat Anin semakin terkejut. Belum pernah Clara ribut dengan seseorang sampai terluka.
Suara bunyi bel membuat ketiganya memasuki kelas masing-masing. Saat tiba didepan pintu kelas Aldi menyapa Clara. Tapi malah tatapan sinis yang didapat Aldi.
Saat jam istirahat Aldi berusah menemui Clara. Tapi gadis itu tak ditemukannya. Samuel dan Anin juga tidak tau, setahu Anin Clara keluar kelas duluan saat terdengar bunyi bel.
Sementara itu Clara sedang berada dibalkon gedung sekolah, duduk sendiri sambil memainkan gitar yang sebelumnya ia pinjam dari ruang musik.
Sambil merasakan semilir angin yang memberi ketenangan tersendiri bagi Clara.
Tanpa ia sadari Aldi sudah duduk disampingnya. Menatap wajah Clara dari samping. Tersirat kesenduan diwajah cantik kekasihnya.
"Sorry!" Satu kata yang keluar dari mulut Aldi.
Clara menoleh lalu memberikan senyum manisnya.
"Nggak usah minta maaf, bukan salah lo juga."
"Trus tadi pagi kenapa sok cuek? kemaren juga telvon nggak diangkat, pesan nggak dibales."
" Pengen sendiri aja dulu," ujar Clara sambil memandag langit terlihat cerah.
Aldi pun mengerti bagaimana kebiasaan Clara saat sedang bad mod.
"Nyanyi yuk!" ajak Aldi.
"Lagu bollywood ya," pinta Clara. Tapi Aldi menggeleng. Clara pun memasang wajah kesalnya.
"Gue mending salto aja dech Ra dari pada lo suruh nyanyi Bollywood."
Clara hanya tertawa mendengar ucapan kekasihnya, karena memang Aldi tak bisa lagu Bollywood. "Ya udah yang lo bisa dech."
"Lagu My Love ya Ra," ujar Aldi. Clara pun mengangguk tanda setuju.
Aldi meraih gitar yang dipegang Clara, Lalu mulai memainkannya. Sesekali Clara juga ikut bernyanyi.
__ADS_1
My Love
An empty street, an empty house
Jalanan sepi, rumah terasa kosong
A hole inside my heart
Sebuah lubang dihatiku
I'm all alone, the rooms are getting smaller
Aku sendirian, ruangan terasa semakin sempit
I wonder how, I wonder why
Aku ingin tahu bagaimana, mengapa
I wonder where they are
Dimana mereka
The days we had, the songs we sang together
Hari-hari yang kita lalui, lagu yang kita
nyanyikan bersama
Oh yeah. . . !
And oh my love
Dan oh cintaku
I'm holding on forever
Aku memegangnya selamanya
Reaching for the love that seems so far
Berusaha meraih cinta yang terlihat begitu jauh
So I say a little prayer and hope my dreams will take me there
Maka kupanjatkan doa dan berharap mimpi-mimpiku akan membawaku kesana
Where the skies are blue, to see you ance again my love
ketempat dimana langit biru, tuk bertemu denganmu sekali lagi cintaku
Overseas from coast to coast yo find the place i love the most
Seberangi lautan untuk temukan tempat yang paling kusuka
Dimana tempatnya begitu hijau, untuk bertemu denganmu sekali lagi cintaku
I try to read, I got to work
Aku mencoba membaca. Aku pergi bekerja
I'm laughing with my friends
Aku tertawa bersama teman-temanku
But I can't stop to keep my self from thinking, oh no
Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku untuk berpikir, oh tidak
To hold you in my arm
Tuk mendekapmu
To promise you my love
Tuk berjanji padamu cintaku
To tell you from my heart
Tuk katakan padamu dari hatiku
You're all I'm thinking of
Engkaulah yang selalu kupikirkan
***
Saat jam pulang sekolah Clara segera menuju parkiran. Aldi sudah siap dengan motor gedenya. Sebelumnya Clara sudah berencana kabur dari Fachri agar bisa bermain bebas diluar.
Motor Aldi melaju dengan kencang keluar dari parkiran, Fachri yang melihat Clara bersama Aldi segera masuk mobil dan tancap gas. Mengejar sepasang kekasih seperti satpol PP.
Fachri kehilangan jejak. Mobilnya tak selincah motor Aldi yang bisa menerobos ramainya jalanan waktu itu.
Fachri menghubungi Randi menanyakan tempat yang biasa didatangi oleh Clara dan Aldi.
"Kamu bisa juga dikibulin anak kemaren sore Ri," ucap Randi ditelvon setelah menyebutkan tempat yang biasa Clara datangi.
"Jangan meledek Rand, kamu kan yang pernah bilang kalau Non Clara memang punya banyak cara buat kabur," ujar Fachri sambil menyetir. "Ya udah aku cari Non Clara dulu." Fachri mengakhiri panggilannya. Kembali mencari keberadaan gadis yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Sedangkan Randi yang masih berada dikantor majikannya terkejut saat Steven ada didepanya. Steven pun menanyakan apa yang dibicarakan Randi ditelvon. Setelah mendengar jawaban Randi, Steven kembali keruanganya.
"Ada apa Stev?" tanya Andi sahabat Steven yang menjadi asisten pribadinya.
Steven menghela nafas panjang. " Aku bingung dengan sikap putriku yang suka kabur-kaburan."
"Namanya juga masih remaja, jangan terlalu dikekang. Atau dia akan terus berontak. Tapi kan dia hebat, jenius pula," tutur Andi yang kemudian duduk disofa.
"Iya aku tahu Ndi, tapi kadang aku terlalu takut kehilangan dia."
__ADS_1
"Clara akan tetap menjadi putrimu. Kamu harus lebih sabar menghadapi anak istimewa seperti Clara," ujar Andi. Kemudian ia keluar dari ruangan Steven.
Memberi waktu pada sahabat sekaligus atasannya untuk berfikir jernih. Walau bagaimanapun Andi tahu kekawatiran Steven pada putri yang selama ini dibesarkannya. Putri yang tak ada ikatan darah dengan Steven tapi sudah seperti putri kandung sendiri bagi Steven.
***
Clara dan Aldi pergi kesebuah mall dan bermain-main disana. Menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu. Sejak Clara tidak boleh membawa mobil sendiri kesekolah, waktunya dengan Aldi sangat terbatas.
Setelah puas bermain mereka berdua pergi kesebuah taman. Menikmati udara sore dengan pemandangan bunga warna warni.
"Thanks Al untuk hari ini. Gue terhibur dengan lo disamping gue," ujar Clara.
Aldi tersenyum memandang Clara yang duduk disampingnya. "Aku bahagia kalo lihat kamu bahagia Ra. Bisa nggak mulai sekarang panggilnya aku kamu, jangan Lo Gue lagi?" pinta Aldi. Clara menganggukkan kepalanya.
Kemudian Clara pun menyandarkan kepalanya dibahu Aldi. Ada sesuatu yang aneh, mengapa saat didekat Aldi ia merasa biasa-biasa saja. Padahal ia sedekat itu dengan kekasihnya. Berbeda saat dirinya didekat Fachri, walaupun Fachri selalu menjaga jarak tapi mampu membuat darahnya berdesir.
"Poni kamu cantik Ra, potong dimana?" tanya Aldi setelah mengecup singkat kening Clara yang tertutup poni.
"Fachri yang motong," jawab Clara yang masih bersandar dibahu Aldi.
"Mungkin nggak jika suatu saat hati kamu berpaling pada Fachri?"
Clara langsung mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Aldi, seakan-akan Aldi tahu gejolak isi hatinya. "Lo cemburu Al? maksud nya kamu cemburu?" Clara meralat panggilannya, ia belum terbiasa dengan aku kamu.
"Cemburu nggak cemburu lah Ra, secara setiap hari kamu bersama dia. Dia juga tampan dan lebih dewasa," ucap Aldi santai. Terbesit rasa bersalah dihati Clara.
"Dia itu cuma bodyguard yang disuruh daddy jagain aku. Nggak lebih. Pacar aku kan kamu Al." Clara menyangkal perasaanya, meyakinkan Aldi.
Aldi kembali menyunggingkan senyumanya menatap Clara. "Semoga saja begitu Ra," sambil mengusap rambut Clara. Perkataan Aldi seperti sindiran halus untuk Clara. Aldi memang bukan tipe cowok yang posesif, dia lebih santai dalam menghadapi masalah apapun. Semua bisa dibicarakan baik-baik menurut Aldi.
Clara pun bangkit dari duduknya. "Pulang yuk!"
Aldi pun mengiyakan ajakan Clara karena hari juga mulai sore. Mereka berjalan beriringan. Suara kicauan burung mengiringi langkah mereka. Langit juga mulai menunjukkan warna jingganya.
"Kenapa aku ngerasa ada yang beda dari kamu Ra, aku ngerasa hati kamu bukan buat aku lagi." Gumam hati Aldi.
Saat keduanya keluar dari taman, tiba-tiba ada beberapa orang dengan tubuh tegap menghadang. Aldi dengan sigap menyembunyikan Clara dibelakangnya. Walau dirinya sendiri tidak yakin bisa melindungi Clara.
"Mau apa kalian?"
"Kita cuma butuh gadis itu," ucap salah satu dari mereka menunjuk kearah Clara yang tampak ketakutan.
Tanpa basa basi mereka menarik paksa Clara, Aldi berusaha mempertahankan Clara hingga satu pukulan mengenai wajahnya. Lagi dan lagi hingga membuat Aldi langsung tersungkur. Kekuatannya benar-benar tidak imbang. Clara terus berusaha berontak, apalagi melihat Aldi dipukuli.
Clara dipaksa masuk kesebuah mobil tapi terhenti saat pria yang membawa Clara merasa ada yang menepuk pundaknya. Pria itu menoleh dan langsung mendapat pukulan dari orang yang menepuk pundaknya. Clara pun bisa melepaskan diri.
"Fachri" ucap Clara saat tahu Fahri telah datang.
Orang-orang yang tadi masih memukuli Aldi berpaling membantu teman mereka yang dihajar oleh Fachri.
Clara segera menghampiri Aldi yang tengah kesakitan. Clara membantu Aldi untuk duduk. Wajah Aldi memar, dari sudut bibirnya keluar sedikit darah.
Fachri bertindak cepat saat tahu lawanya bertambah. Dia langsung memukul titik fital mereka. Agar tidak menghabiskan banyak tenaga. Fachri memukul bagian rahang dan tulang rusuk lawannya. Meskipun begitu ia sesekali masih terkena pukulan karena jumlah yang tak imbang, 1 lawan 7.
Dengan berbekal ilmu karate yang selama ini ia pelajari, Fachri bisa memenangkan pertarungan yang tak imbang itu sendirian. Orang-orang itu berlari menuju mobil mereka dan pergi.
Clara yang dari tadi tegang melihat perkelahian didepan matanya mulai merasa lega. Ia tak menyangka Fachri sehebat itu. Orang yang selama ini terlihat kalem ternyata memiliki jiwa ksatria. Sisi lain dari seorang Fachri yang baru Clara ketahui.
"Non tidak apa-apa?" tanya Fachri, menghampiri Clara yang duduk bersama Aldi.
"Gue baik-baik saja, tapi Aldi terluka."
Fachri memperhatikan keadaan Aldi yang memang cukup memperihatinkan.
Kemudian Fachri menata posisi dibelakang Aldi. Fachri meraba tubuh Aldi lalu menarik kedua bahu Aldi hingga terdengar bunyi seperti kayu patah di iringi teriakan kecil Aldi. Clara melihat apa yang dilakukan Fachri membuat dirinya ikut meringis. Pasti sakit. pikir Clara.
Fachri melanjutkan dibagian tulang punggung Aldi, bagian tangan dan kaki.
"Tadi bisa sedikit mengurangi rasa sakit kamu nantinya," ucap Fachri.
Setelah selesai meregangkan otot Aldi yang tegang akibat pukulan yang diterimanya.
Sebelum pulang terlebih dahulu mereka mengantar Aldi kerumahnya.
Dalam perjalanan Clara tampak diam.
"Masih kepikiran kejadian yang tadi Non?" tanya Fachri memecah keheningan.
"Gue bingung aja siapa mereka sebenarnya. Apa yang mereka mau dari gue?"
"Kelihatannya mereka cuma orang bayaran non, pasti mereka bekerja untuk seseorang." ujar Fachri sambil fokus menyetir.
" Mungkin sih. Bisa saja mereka saingan bisnis daddy."
"Bisa jadi Non."
"Ternyata lo jago juga ya, keren banget lho tadi, berasa kayak lihat Tom Cruise beneran gue. Bag big bug. . . ! KO dech musuhnya. " Ujar Clara sambil mengepalkan tangannya memperagakan seperti orang tinju.
Fachri hanya tersenyum melihat tingkah Clara.
"Jiaaaaaaahhhh! Cuma senyum doang. kalo mau ketawa, ketawa aja. Sebelum tertawa itu dilarang," ujar Clara.
Candaan Clara tak mampu menjebol pertahanan Fachri. Laki-laki itu hanya memperlihatkan ekspresi datar. Mungkin dia lupa cara tertawa, cuma bisa mesem doang. Kayak semar mesem. Pikir Clara.
Sesampinya didepan rumah Clara meminta Fachri agar tidak memberi tahu ayahnya tentang kejadian bahwa dirinya hampir diculik. Kalau sampai ayahnya tahu, mungkin Clara akan stres dengan ulah ayahnya yang super protectif.
Benar saja saat memasuki rumah, sang ayah sudah ada diruang tamu.
Clara hanya menurut saat ayahnya memintanya duduk. Omelan yang lebih menjurus kesebuah nasehat mulai terdengar di telinga Clara.
"Jangan anggap Daddy diam karena Daddy tidak tahu apa-apa. Daddy tahu kamu kemarin berkelahi disekolah. Jangan mencoba mengelabuhi Daddy," ujar Steven saat putrinya hendak melangkah pergi.
Clara tak menanggapi, sesaat dia lupa kalau dirumah maupun diluar ada mata yang memantau kegiatannya.
Kemudian ia meneruskan langkahnya. Karena lelah Clara tertidur setelah membersihkan diri.
.
Hai readers don't forget like n coment. . . !
Thanks. . . !
__ADS_1