
Clara terlihat menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil air minum. Disana ada bik Nani yang sedang menyiapkan sarapan.
"Non mau sarapan sekarang?" tanya bik Nani.
Clara meletakkan gelas yang sudah kosong. "Nanti saja Bik, Clara nunggu daddy."
"Ya sudah Non."
Clara menghampiri bik Nani dan memeluk dari belakang wanita paruh baya yang mengasuh dirinya waktu kecil.
"Maafin Clara ya Bik, Clara masih saja bandel," ucap Clara dengan nada menyesal.
"Iya Non, Bibi ngerti. Tapi Non Clara harus belajar patuh sama tuan. Semua demi kebaikan Non Clara sendiri. Kasihan tuan Non, beliau bekerja keras demi Non Clara." Bik Nani memberi nasehat pada Clara
Sementara itu Clara masih terdiam bergelayut manja dipundak Bik Nani. Dia agak membungkukkan badan, karena tubuh Clara lebih tinggi dari Bik Nani. Walaupun usianya baru 14 tahun, tapi dia sudah tumbuh jadi gadis yang kelihatan lebih dewasa dari umurnya. Tubuh tinggi semampai dan parasnya cantik. Mungkin ada darah blasteran yang mengalir didiri Clara. Tapi entah dari mana karena orang tuanya orang Indonesia tulen.
"Sudah dong Non lepasin Bibi, masih bau keringat ini Non."
"Nggak apa-apa Bik. Bik Nani sudah seperti ibu bagi Clara," ucap Clara yang kemudian melepas pelukannya.
Terdengar suara bel berbunyi.
"Biar Clara aja bik yang buka."
Clara pun melangkah membukakan pintu.
Terlihat seseorang dengan hem lengan panjang berwarna biru tua dan celana hitam, membawa tas ransel dipunggungnya. Ia berdiri membelakangi pintu.
"Siapa ya?" tanya Clara.
Orang itu menoleh membalikkan tubuhnya. Daaaaannnnn. . . .
"Astaghfirullohal 'adzim!" seru orang itu sambil menutup mata.
Dia kaget saat melihat ada gadis dengan pakaian yang menurutnya kurang bahan. Clara saat itu memang hanya memakai celana pendek diatas lutut dan kaos tanpa lengan. Bagi Clara itu adalah pakaian santainya. Sedangkan bagi orang itu ia seperti melihat taman neraka.
"Kenapa sih lo pake nutup mata? Lo kira gue kunti," gerutu Clara.
"Ada apa Non? Siapa yang datang?" tanya bik Nani yang datang menghampiri.
"Ini bik orang aneh." Clara yang masih kesal masuk lagi kedalam.
"Udah pergi Bik?" tanya pemuda itu sambil membuka matanya.
"Iya sudah. Ini Nak Fachri ya?"
"Iya Bik saya Fachri, maaf tadi saya kaget," jawab Fachri sambil memegang dadanya.
"Ayo masuk Nak Fachri. Saya tunjukkan kamarnya," ajak Bik Nani.
Fachri pun mengikuti langkah Bik Nani.
"Tadi itu putrinya tuan Steven ya Bik?" tanya Fachri saat sampai depan kamarnya.
__ADS_1
"Iya itu tadi non Clara. Putri tuan Stev yang akan Nak Fachri jaga. Kalau menghadapi non Clara harus sabar . Anaknya sebenarnya baik tapi sekarang susah diatur." Bik Nani sedikit memberi tahu tentang Clara.
"Iya Bik saya mengerti."
"Ya sudah silahkan istirahat dulu mungkin tuan akan datang sebentar lagi."
"Baik Bi. Tadi juga sudah ketemu waktu di panti." Fachri pun masuk kedalam kamarnya.
Fachri bersyukur telah bertemu dengan tuan Steven. Orang yang berjasa dalam hidupnya. Karena tuan Stevenlah yang selama ini menjadi donatur dipanti tempat ia tinggal.
*30 menit kemudian
Randi dan tuan Steven sudah datang. Bik Nani yang dari tadi didapur segera berlari membukakan pintu.
"Clara sudah sarapan Bik?" tanya Steven sambil berjalan masuk.
"Belum Tuan, tadi Non Clara bilang ingin sarapan dengan Tuan," jawab bik Nani yang berjalan mengikuti langkah tuannya.
"Kalau begitu siapkan sarapannya dan panggil Clara."
Lalu steven masuk kekamarnya berganti dengan pakaian santai.
Tak lama kemudian putri dan sang ayah sudah ada dimeja makan. Mereka hanya sarapan berdua, sedangkan yang lain sarapan di ruang belakang.
"Apa Daddy tidak salah orang?" Clara membuka percakapan setelah selesai makan.
"Maksud kamu Fachri?" tanya Steven sambil mengelap mulutnya.
"Dia itu pemuda sholeh Clara. Dia bisa mengajari kamu banyak hal. Daddy yakin Fachri yang terbaik untuk menjaga kamu."
"Dia aja ketemu Clara langsung nyebut, kayak ketemu kuntilanak."
"Makanya mulai sekarang kamu harus belajar berpakaian tertutup supaya Fachri tidak nyebut tiap ketemu kamu," ujar Steven sambil terkekeh.
"Apa Daddy mau aku jadi seperti Aisyah?" Clara tampak mulai kesal.
"Ya kalau kamu mau seperti Aisyah, Daddy akan sangat bahagia," ucap Steven dengan nada mulai menggoda.
"Iiiiihhhh. . . Daddy nyebelin!" Clara merajuk dengan melipat tangan didada sambil cemberut.
"Kan bagus, kalau misalnya kamu bisa menjadi Aisyahnya Fachri." Steven masih lanjut menggoda putrinya.
"Daddy. . . !!!" Clara malah melotot, lalu bangkit dari duduk dan hendak melangkahkan kakinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Stevan masih belum puas menggoda putrinya.
"Ke kamar. Clara sebel."
"Jangan manyun gitu! Ayo kita main badminton, sudah lama daddy tidak bermain dengan putri daddy yang cantik ini." Steven bangkit dari duduknya dan mencubit hidung Clara yang memang mancung, walau tak semancung artis India.
"Daddy sih! Sibuk terus."
"Kamu ganti baju dulu, Daddy tunggu di belakang."
__ADS_1
Clara berlalu melangkahkan kakinya. "Ingat pakai kaos olahraga lengan panjang Clara." Steven masih saja menggoda Clara.
"Clara tidak punya."
Steven tersenyum melihat Clara yang sudah menaiki tangga. Jarang sekali ia punya waktu untuk putrinya. Dunia bisnis membuatnya sibuk, ada alasan mengapa ia akhir-akhir ini jarang dirumah.
Steven mengambil perlengkapan olahraga lalu menuju lapangan yang ada di belakang rumah. Ada pintu dari ruang santai yang menghubungkan kelapangan belakang.
Disebelahnya ada kolam renang dan taman kecil dengan bunga warna warni. Serta kolam ikan kecil.
Disana juga ada ayunan yang menjadi tempat favorit Clara dan Randi. Mereka sering bercerita dan bercanda diayunan itu.
Sementara itu Clara dan ayahnya sudah memulai permainannya. Kadang terdengar teriakan Clara kemudian suara gelak tawa.
Fachri dan Randi hanya memperhatikan dari kejauhan.
Saat melihat Randi, Clara mengajaknya untuk bermain basket, karena sang ayah sudah kelelahan. Lapangan itu memang bisa digunakan untuk serba guna.
Sedangkan Steven mengajak Fachri berbicara menjelaskan tugasnya.
Hari sudah mulai terik mereka pun menyudahi permainan dan beristirahat.
Seperti biasa saat langit senja mulai menampakkan langit jingga, Clara sudah berdiri dibalkon kamarnya. Memejamkan mata dengan tangan dieratkan kedada. "Tuhan terimakasih untuk cinta daddy hari ini tapi cinta dari mama belum juga datang. Aku rindu kakak. Tuhan, berikan juga aku cinta yang tulus dari seseorang."
Waktu maghrib telah tiba, Steven mengajak semua orang untuk shalat berjamaah di kamar yang digunakan khusus untuk mushalla. Fachri di tunjuk sebagai imam. Setiap bacaan kalamullahnya menenangkan hati yang mendengar. Terutama bagi Clara, hatinya berdesir. Entah perasaan apakah itu?
.
.
.
Dibawah langit senja
Diatas bumi sang khaliq
Diantara syajaroh dan al azhar
Mendengar seruan sang mahabbah
Bidadari tanpa sayap
Berbondong-bondong memenuhi seruan
Bersujud untuk muthma'innal quluub
Yaa Muqollibal Quluubi, Tsabbit Qalbii 'alaa Diinika
Hai para readers jangan lupa like n votenya. Thanks.
__ADS_1