ZAHRA AKBAR

ZAHRA AKBAR
Hujan Lokal


__ADS_3

Sudah 30 menit Fachri tidur dipangkuan Clara. Dari waktu yang ia minta yang awalnya hanya 5 menit.


Udara malam berangsur-angsur mulai menyeruakkan dinginnya. Merasuk menembus pori-pori masuk kedalam tulang. Walau malam belum menunjukkan kesyahduannya, tapi hati Clara begitu syahdu saat menatap wajah pria dalam pangkuannya. Wajah yang begitu tampak damai.


Fachri membuka mata saat mendengar suara perut Clara yang meronta minta diisi.


"Kamu lapar Fa?"


Clara terkekeh malu. "Hehehe. . . kedengeran ya cacingnya minta jatah."


"Ya udah kita kebawah makan dulu." Fachri pun bangun dari rebahannya, lalu duduk.


"Nggak sholat dulu aja Ri?" tanya Clara.


Fachri mengelus lembut rambut Clara. Gadis itu mulai mengerti dengan kewajibannya.


"Sholat kan nomor 2."


Clara merasa heran. "Bukannya kamu bilang kita harus mengutamakan sholat dari pada urusan yang lain."


"Kan yang pertama Syahadat. Kedua Sholat."


"Bisa aja ya kamu!"


"Kan bener."


Clara mengulas senyum tipis mendengar penuturan Fachri. Memang benar dalam rukun Islam sholat nomor dua.


"Jadi gimana nih, kamu mau makan dulu apa sholat dulu?" tanya Fachri kemudian.


"Ehmmm, sholat dulu aja dech Ri."


"Bneran?" tanya Fachri memastikan. "Nanti pas sholat malah mikirin makan kamu."


"Nggak Fachriii. . . . Kita sholat aja dulu. Nanti kalau makannya yang duluan, habis makan kenyang, ngantuk trus malah males sholatnya. Ini mumpung hatiku lagi bolong lho Ri. Bisa ngikutin nasehat kamu yang kemaren-kemaren."


Fachri semakin gemas dengan ucapan istrinya. Damai rasanya ketika Clara perlahan mulai paham mengenai kewajibannya. Meskipun ini baru permulaan.


Ia pun mengajak istrinya untuk masuk. Akan tetapi, saat hendak berdiri Clara memekik kesakitan.


"Auwwwww!" pekik Clara.


Refleks Fachri menangkap tubuh Clara dan mendudukkannya lagi.


"Kaki kamu pasti kram," ujarnya. Tanpa diminta, Fachri menggendong tubuh Clara masuk kekamar. Menyandarkan Clara disisi tempat tidur.


"Maaf Shafa! Gara-gara aku kaki kamu sakit." Tangan Fachri memijit lembut kaki Clara.


"Nggak apa-apa Ri. Ini udah enakan kok. Peredaran darahnya udah lancar lagi."


Fachri menghentikan tangannya. Clara juga beranjak untuk mengambil air wudlu.


Selesai dengan kewajiban mereka. Keduanya turun untuk makan malam.


Setelah itu mereka kembali kekamar. Fachri menyelesaikan skripsinya lebih dulu agar besok bisa ia serahkan pada dosen.


Clara duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Ia merasa bosan karena biasanya bertukar pesan dengan orang yang ia anggap sebagai Samuel.


"Kamu kenapa?" tanya Fachri dengan lembut saat melihat istrinya tampak bosan. Tapi ia kembali fokus dengan laptopnya.


"Tidak apa-apa Ri." Clara beranjak dari duduknya. Menuju ketempat tidur. Ada yang hilang memang, rasanya aneh saat dia tidak bertukar pesan dengan sahabatnya.


"Fachri" panggil Clara. Yang dipanggil pun menoleh.


"Ada apa?"


"Nanti jangan tidur lagi dilantai. Tidur saja disini." Clara menepuk kasur disampingnya.


Fachri hanya mengulas senyum tipis sambil mengangguk. Lalu kembali fokus dengan tugasnya.


Tak butuh waktu lama Clara sudah terlelap. Dengan hati-hati Fachri naik keatas tempat tidur. Sebelum tidur ia menatap wajah istrinya.


"Maaf Shafa! Jika dengan terjadinya pernikahan ini ruang bergaul kamu terbatas. Tapi aku akan berusaha membuat masa remaja kamu lebih indah. Perjalanan panjangmu baru dimulai Shafa. Selama aku masih disampingmu, aku akan berusaha membahagiakanmu. Dan meskipun aku tak disampingmu, semoga kau tetap bahagia Shafa."


Kemudian Fachri mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


Keheningan malam mengantarkanya ketempat peraduan. Melepaskan diri rutinitas duniawi. Meregangkan saraf-sarafnya yang sudah seharian bekerja.


****


Kegiatan pagi berlalu seperti biasanya. Fachri harus bersabar membangunkan Clara.


Setelah shubuh ia mengajak Clara dan Randi jogging. Dengan menahan kantuk Randi menuruti ajakan Fachri. Begitu juga dengan Clara.

__ADS_1


Saat kembali dari jogging keduanya menelentangkan tubuh dilantai teras. Tanpa sadar mereka malah tertidur.


Fachri sendiri langsung masuk dan membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi, Fachri belum mendapati istrinya disana.


Ia pun turun kebawah. Semua tempat ia telusuri tapi Clara tak ditemukannya. Ada rasa khawatir yang mulai menghampiri. Takut terjadi sesuatu saat dirinya lengah.


Fachri teringat teras depan, dan ternyata benar. Dua anak manusia itu masih tertidur disana. Sebuah ide muncul, ia menyalakan kran dan mengambil selang air yang biasa digunakan menyiram tanaman. Kemudian mengarahkan kewajah Clara dan Randi.


"Hujan. . . hujan. . . " Randi terbangun karena kaget dengan air yang mengenai wajahnya.


Clara juga ikut terlonjak kaget. "Hujan apa Rand? hujan apa?"


"Hujan lokal," sahut Fachri yang masih memegang selang ditangannya.


Clara dan Randi pun mengerti bahwa itu semua ulah Fachri.


"Raaaannnd. . ." Clara mengerlingkan mata kearah Randi.


Randi pun tahu kode dari Clara. Ia menganggukkan kepala.


"SERBUUUUUUU!" seru keduanya.


"Eh, kalian mau ngapain?" tanya Fachri terkejut akan mendapat serangan dari dua orang yang dijahilinya.


Clara mengambil alih selang air dan Randi mendekap tubuh Fachri dari belakang.


"Kita mau mandiin kamu Fachri," ucap Clara.


Wajah Fachri pun mendapat semprotan air dari Clara. Ia berusaha menghindar tapi Randi memegangi tubuhnya.


"Aku sudah mandi tadi," seru Fachri. Tapi Clara tetap menyemprotkan air.


"Mandilah sekali lagi biar tambah bersih," ucap Clara senang bisa mengerjai balik suaminya.


Fachri tak kehilangan akal, ia balikkan tubuhnya. Sehingga yang terkena semprotan air adalah Randi. Reflek, Randi melepaskan tubuh Fachri.


"Saya jadi ikutan basah Non," omel Randi.


"Salah sendiri. Makanya yang bener megangin Fachrinya." Clara tak mau disalahkan.


Kini Fachri yang mengambil alih selang air. Menyemprotkan lagi air kearah Randi dan Clara. Aksi saling semprot pun terjadi. Suara canda gelak tawa terdengar dari mereka bertiga.


Fachri melihat tawa yang begitu natural dari Clara. Ia bisa tertawa lepas. Seakan tak ada yang membebaninya.


Hal itu juga tak luput dari perhatian kedua satpam yang menonton dari pos jaga.


"Iya Din. Kita nggak pusing lagi dengan ulah Non Clara yang dulu sering menyelinap kabur," sahut Parjo.


"Semoga saja semua bisa aman tentram seperti ini terus. Non Clara bisa mendapatkan kebahagiannya kembali."


"Aamiin Din!"


Setelah puas bermain air dipagi yang dingin, mereka membersihkan diri masing-masing.


Clara segera menyiapkan keperluan sekolahnya. Fachri juga menyiapkan keperluan kuliah dan kerjanya.


Sebelum berangkat Fachri mengajak Clara sarapan terlebih dahulu. Gadis itu sulit kalau diajak sarapan. Hanya pada Fachri ia akan menurut.


"Fa, nanti pulang sekolah ikut aku kekampus, mau?" tanya Fachri. Saat ini keduanya dalam perjalanan.


Clara tampak sumringah, baru kali ini Fachri menawarinya ikut kekampus. "Kamu beneran Fachri?"


"Iya" jawab Fachri yang fokus menyetir.


"Nanti kalau teman kamu nanya siapa aku gimana?" Clara menatap kearah suaminya. Khawatir kalau kehadirannya akan mengganggu.


"Ya jawab aja, kalau kamu istriku." Fachri menoleh sebentar pada istrinya.


"Kamu nggak malu Ri?"


"Nagapain harus malu? Kamu kan memang istri aku."


"Tapi aku kan anak SMA. Temen kamu pasti mandangnya aneh." Clara merasa tak percaya diri. Bagaimanapun ia belum pernah menginjakkan kaki dikampus. Isinya pasti orang-orang yang jauh lebih dewasa dari dirinya.


"Tenang saja. Mereka semua baik-baik."


Percakapan keduanya terhenti saat sudah tiba disekolah Clara.


Dengan semangat gadis itu melangkah menuju kelas. Menyapa Anin dengan senyum cerianya. Teman sekelasnya yang lain juga sampai heran. Tidak biasanya Clara bersikap seramah itu.


"Hallo guys! Hari yang indah untuk jiwa-jiwa yang galau."


"Sorry ya Ra. Kita bukan jiwa yang suka galau," sahut salah satu teman laki-lakinya.

__ADS_1


Clara sudah duduk bersama Anin sambil cengengesan. "Kali aja lo baru putus dari pacar." Pandangannya beralih lagi pada Damar.


"Pacar gue cuma buku-buku dan tugas dari pak Andre. Mana sempet pacaran."


"Ngenes banget sih lo Damar," ujar Clara sok sedih tapi mengejek.


"Obat lo habis Ra. Tumben amat girang begini!" tanya Anin.


"Sahabat lagi seneng harusnya lo dukung dong Nin."


"Jangan mau dukung Clara Nin. Udah gesrek dia. Kadang diem kadang ngoceh mulu ngalahin notif grup WA," sahut Damar lagi.


Clara pun melayang sebelah sepatunya kearah Damar. "Dasar lo Damarwulan."


"Lo mau jadi cinderella? pake nglempar sepatu segala lagi," gerutu Damar.


Suasana kelas menjadi riuh dengan sorak sorai siswa yang lain.


"Awas lho Ra! Ntar lo jodoh sama Damar," sahut yang lain.


"Dih amit-amit dah!" ucap Clara.


Damar juga menyauti. "Gue juga ogah ya Ra. Nih sepatu lo gue balikin." Damar melempar kembali sepatu Clara.


Kelas kembali hening saat guru mata pelajaran sudah datang.


Saat jam istirahat keduanya berjalan menuju kantin. Clara hanya memesan jus, karena tadi ia sudah sarapan.


Candaan ringan selalu mengiringi setiap obrolan mereka. Ada saja yang menjadi bahan candaan mereka berdua.


"Nin mau gue kasih tebakan nggak?"


"Gue ogah mikir tebakan konyol dari lo."


"Nggak asyik banget lo Nin." Clara mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah apaan?" Akhirnya Anin mengalah mau meladeni ide sahabatnya.


"Dengerin ya Nin. Yang beli nggak mau pakai, yang pakai tidak beli, yang jual pun nggak mau pakai. Apaan coba?"


"Pampers"


"Bukan Anin. Cari yang laen," ujar Clara sambil mengaduk jusnya.


"Nggak ada Samuel, gue yang jadi sasaran kekonyolan lo," Anin menggerutu kesal.


"Samuel pensiun chatan sama gue. Udah jawab aja Nin!"


Anin meminum es jeruk miliknya untuk meredam kekesalan pada sahabatnya itu.


"Gue nyerah Ra. Gue kagak bakat main begituan." Anin angkat tangan.


"Jawabannya kain kafan."


"Untung ini siang ya. Jawabannya horor gitu."


Clara malah tersenyum melihat sahabatnya yang beberapa kali menggerutu kesal karena dirinya.


"Dari mana sih lo dapat tebakan begituan?"


"Dari aplikasi," jawab Clara enteng.


Tanpa disangka Anin malah menonyor kepala Clara sambil berlalu pergi. "Sempet-sempetnya lo main begituan. Padahal senin depan udah ujian."


Clara pun mengejar Anin yang lebih dulu beranjak. "Mau gimana lagi, udah terlanjur hobi." Salah satu tangan merangkul bahu sahabatnya.


"Cari hobi yang lain. Ngerjain abang Fachri misal. Kan lebih asyik!" Anin berucap kemudian kabur.


Clara pun berteriak memanggil nama sahabatnya yang sudah kabur.


"ANIIIINNN!!!"


Ia pun mengejar kembali Anin yang sudah jauh didepan.


Ketika jam pulang sekolah, Fachri sudah bersiap diparkiran. Menunggu gadisnya keluar. Ia masih memakai setelan jas hitam dengan kemeja pink. Terlihat aneh memang, tapi itu kemeja pemberian Clara. Gadis itu memesan secara online jauh-jauh hari sebelumnya.


Fachri sendiri tak keberatan. Toh, tidak terlalu buruk baginya. Cucok sih iya.



Ada yang mau kasih saran buat visualnya Fachri?


Maaf klo visualnya Fachri kurang cocok!

__ADS_1


Aku nemunya cuma itu sih 😅


.


__ADS_2